ARDIAN

ARDIAN
Permintaan


__ADS_3

''Kalau lo nggak suka kita kesini, kita bakalan pulang.'' Cika yang sedari tadi diam angkat bicara, ucapan Cika dibalas anggukan setuju oleh Puri.


''Niat kita baik kesini, tapi sikap lo kayak mau usir kita aja,'' sahut Puri lagi, sehingga Kesya langsung menatap gadis itu dengan tatapan tajamnya.


''Nggak ada yang suruh kalian kesini!'' bentak Kesya membuat Salsa lansung menberikan kode kepada Puri dan Cika untuk tidak angkat suara.


''Kalau kalian masih mau di sini, gue tungguin kalian didalam mobil.'' Cika beranjak dari kursi yang dia duduki, lalu melenggang pergi meninggalkan ketiga sahabatnya.


''Gue juga.'' Puri juga berjalan mengikuti Cika, dia memilih menunggu Salsa dan Pute didalam mobil. Daripada harus tetap di sini, di suguhkan wajah tidak suka Kesya.


''Sya...'' salsa memanggil gadis itu.


''Kalian pergi juga. Gue nggak butuh teman palsu!'' usir Kesya, menunjuk kearah pintu keluar.


''Tapi—''


''Kita pulang aja, tuan rumah udah ngusir kita.'' Pute menarik tangan Salsa untuk segera pergi dari sini.


‘’Pergi kalian semua! Gue nggak butuh teman palsu kayak kalian!'' teriak Kesya dengan histeris. ‘’Sial!'' Kesya membuang vas bunga ke lantai, sehingga pecahan vas itu berserahkan.


Pecahan vas bunga itu dan suara Kesya yang keras, membuat Raisa buru-buru turun ke lantai bawa.


''Astgah Kesya! Kamu kenapa?'' Raisa panik saat mendengar suara pecahan dari bawah. Raisa melihat kebawa lantai, pecahan vas bunga berserahkan dibawah lantai.


Raisa menatap Kesya kembali dengan tatapan bertanya-tanya. ''Kamu ini kenapa?'' tanya Raisa melihat Kesya begitu emosi sampai-sampai memecah vas bunga.


Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Raisa, dia langsung berjalan pergi, menginjakkan kakinya di pecahan vas membuat Raisa terlonjak kaget. Bagaiamana tidak, jika anaknya itu tanpa rasa sakit menginjak pecahan vas dibawa lantai.


Lantai tempat Kesya berjalan, di penuhi dengan jejak kaki gadis itu yang berdarah.


''Bibi!'' panggil Raisa.


‘’Iya, nyonya.'' Bibi datang tebirit-birit saat mendapatkan panggilan dari Raisa.


''Bereskan pecahan ini, selesai bereskan pecahan ini, kamu ke kamar Kesya buat obatin kakinya.'' Raisa memberikan tugas pada Bibi lalu melenggang pergi.

__ADS_1


''Baik, nyonya.''


Bibi mulai membereskan pecahan vas yang berserahkan, lalu mengepel lantai yang ada bekas darah pijakan kaki Kesya.


‘’Gue benci kalian semua!''


PRANG...


Itu adalah bunyi barang yang di buang Kesya kebawa lantai.


Kesya membuang seluruh buku-buku di dalam kamarnya, boneka dan barang lainya yang berada di kamar. Kamar gadis itu berantakan, jauh dari kata rapih.


Vas bunga kecil yang menjadi hiasan kamarny, dia lempar kebawa lantai hingga menciptakan suara keributan dari kamar gadis itu.


Tok...Tok...Tok


''Kesya! Kamu buat apa di dalam!'' Raisa mengetuk pintu kamar Kesya dengan panik, memanggil anaknya dengan rasa cemas, dia pikir Kesya ke kamar untuk istirahat namun tenyata dugaannya salah, karna saat lewat di depan kamar anaknya, suara pecahan dari dalam terdengar.


‘’Kesya lebih baik mati aja, Ma! Kesya capek! Hikssss!'' Suara isakan tangis Kesya dari dalam terdengar piluh.


Suara isakan tangis Kesya membuat Raisa jadi panik, dia takut jika anaknya akan melakukan sesuatu diluar dugaannya.


''Kesya benci semuanya! Nggak ada yang sayang sama Kesya, Ma. Papa lebih sayang sama Nanda, ketimbang sama Kesya. Sahabat Kesya juga udah pergi ninggalin Kesya, Ma. Mereka lebih memilih Nanda ketimbang aku sahabat lama mereka. Jadi percuma aja kesya hiudp, Ma!'' teriak kesya dari dalam.


''Sayang. Kamu dengerin Mama, ya. Masih ada mama yang sayang sama kamu. Papa juga sayang sama kamu, nak. Buktinya dia lebih memilih tinggal bersama kita daripada sama Nanda.'' Raisa menjelaskan dari luar.


Kesya semaki mengeraskan tangisnya, ‘’percuma, Ma. Papa nggak akuin kesya di depan publik. Kalau Kesya ini anak papa juga. Bukan cuman Nanda sama Boy anak papa!'' teriak kesya.


Gadis itu mengusap air matanya kasar, rambutnya sudah basah karna keringat dan juga air mata. Bahkan, matanya memerah karna air matanya itu.


Dadahnya sesak, dia seperti orang yang kehilangan arah. Dia berjalan mendekati balkon kamarnya, gadis itu melihat kearah bawa, kamarnya berada di lantai dua, dia memejamkan matanya melihat kebawah, jika dia terjun dari sini ke bawa, maka di pastikan dia akan mati.


''Kesya!'' panggil Raisa, karna dia sudah tidak mendengar isakan dan suara milik Kesya dari dalam.


''Kesya dengerin mama. Kamu jangan lakuin hal bodoh!'' teriak Raisa. Seakan-akan tuli, Kesya tidak mendengar apa yang mamanya barusan katakan.

__ADS_1


Raisa dengan cepat mencari kunci cadangan kamar anaknya itu. Namun dia tidak menemukannya. Lalu wanita cantik itu menelfon suaminya untuk segera pulang, dia yakin Iksan akan bisa menangani Kesya.


Mendapatakan Telfon dari Raisa, membuat Iksan langsung melajukan mobilnya apa lagi saat Raisa menjelskan kondisi Kesya saat ini.


Tidak butuh waktu lama, Iksan sudah smpai di rumah, dengan langkah cepat pria itu naik ke lantai dua ke kamar Kesya.


''Pa,'' panggil Raisa, saat melihat suaminya itu sudah datang.


''Kesya! Ini papa sayang!'' panggil Iksan dari luar.


Kesya baru saja menginjakkan kakinya sebelah di pagar balkon kamarnya, namun suara Iksan membuatnya diam.


''Papa,'' gumam Kesya dengan suara parau, saat mendengar suara milik papanya.


Gadis itu tersenyum kemenangan, dia akan menggunakan cara ini agar Iksan menuruti permintaanya.


''Papa nggak sayang sama aku lagi!'' teriak Kesya dari dalam.


''Papa sayang sama kamu, nak. Sekarang kamu buka pintu kamar kamu. Papa sama mama khawatir sama kamu!'' kata Iksan.


‘’Lebih baik Kesya mati. Kalau aku udah mati, udah nggak ada yang merengek sama papa lagi!''


''Kesya bakalan lompat dari sini!'' ucap Kesya lagi, seraya melihat kebawah sana, dia gemetar melihat kearah bawa.


Iksan menghembuskan nafas beratnya.


''Papa mohon keluar, Kesya,'' kata Iksan lagi. Pria itu memejamkan matanya sebelum melanjutkan perkataanya. ''Apa yang kamu mau dari papa? Papa akan nurutin permintaan kamu. Asal kamu keluar dan jangan melakukan hal aneh-aneh di dalam!''


Kesya tersenyum kemenangan, ini yang Kesya harapkan dari papanya. Sebuah permintaan, jika Iksan sudah mengajukan permintaan, maka seluruh permintaan Kesya tidak akan di tolak.


Kesya yakin, papanya nggak akan menolak jika dia meminta pengakuan di depan publik, agar dia bisa menjalankan hari-harinya seperti dulu lagi.


Dia tidak mau di bully. Makanya dia tidak ke sekolah beberapa minggu ini.


''Kesya mau pengakuan papa di depan publik. Kalau Kesya ini anak kandung papa, bukan anak haram. Bilang ke semua orang, kalau Kesya bukan anak haram, mama Kesya bukan pelakor!''

__ADS_1


__ADS_2