
Ardian tersenyum simpul melihat Nanda tidur di sofa panjang, lalu cowok itu berjalan menuju lemari untuk mengambil selimut, lalu ia menyelimuti tubuh gadis itu.
Boy masuk kedalam ruangan Gina, dia melihat Ardian menyelimuti adik nya dengan telaten, lalu senyuman terbit di wajah nya.
"Udah mau pulang lo?" tanya Boy dan dibalas anggukan kepala oleh Ardian.
"Gue pulang duluan. Gue titip Nanda. Kalau ada apa-apa langsung telfon gue ya," pintah nya membuat Boy menggeleng.
"Tanpa lo suruh jagain, gue bakalan jagain adik gua. Ada-ada aja lo," kata Boy dan hanya dibalas acuh tak acuh oleh Ardian. "Hati-hati lo," ujar Boy lagi saat Ardian mulai melangkah keluar.
"Tanpa lo kasi tahu, gue bakalan hati-hati," balas Ardian lalu melenggang pergi, meninggalkan pria itu.
Boy melotot kan matanya, padahal niatnya sudah baik, untuk mendukung hubungan nya dengan adik nya. Namun cowok itu hanya membalas perhatian nya dengan ejekan.
Ardian sudah berlalu pergi, lalu Boy berjalan mendekati bansal milik Gina. Tempat wanita itu berbaring sudah di gantikan oleh bansal, karna Gina mulai kesusahan jika tidak bersandar.
Ardian menggengam tangan sang mama, membuat Gina membuka matanya itu, lalu melirik anaknya.
"Boy," panggil Gina dengan suara pelan.
"Mama lanjut aja tidur nya," kata pria itu.
"Mama udah nggak ngantuk," tolak nya, "adik kamu mana, Boy?" tanya Gina lagi...
Boy melirik Nanda yang tengah tidur di sofa, sehinnga Gina melirik kearah yang di lirik oleh Boy. "Nanda lagi tidur, ma," kata Boy.
"Ardian udah pulang?" tanya Gina lagi, karna tidak melihat anak itu ada di sini.
Boy mengangguk sebagai jawaban, "baru aja pulang."
"Jangan lupa pindahin adik kamu tidur di tempat tidur," peringat Gina dengan suara pelan. Ruangan Gina memang mewah.
__ADS_1
"Iya, Ma. Mama istirahat ya," pintah Boy.
"Apa Ara udah tahu?" tanya Gina, tanpa mengalihkan pandangan nya dari sofa tempat Nanda tidur..
Boy menghembuskan nafas berat, "Ara udah tahu, Ma. Kita nggak bisa sembunyiin sesuatu dari Ara lama," jelas nya membuat wajah Gina semakin sedih, dia yakin anak nya pasti menangis lagi, saat tahu penyakit yang ia derita. "Mama nggak perlu mikirin itu. Mama harus fokus dengan kesehatan Mama. Biar kita bisa kumpul bareng lagi. Mama nggak lupa, 'kan, kita bakalan ke Swiss liburan. Liburan yang sempat tertunda. Boy mau Mama cepat sembuh, biar Boy bawa mama sama Ara ke Swiss," jelas nya dengan senyuman merekah di wajah nya yang tampan itu.
"Boy.... " Gina balik menggengam erat tangan anak sulung nya itu. Menatap manik mata anak nya, "Senin adik kamu udah UAS, 'kan?" Gina memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Boy. "Mama mau, setelah Greta UAS, kamu menikah ya. Kamu nikahan nya di ruangan ini."
Boy meneguk salivanya susah payah, mereka memang akan menikah dalam waktu dekat ini. Namun menikah di ruangan tempat Gina di rawat, tidak pernah masuk dalam list Boy.
Gina tersenyum kearah anak nya, "kamu mau rahasiain pernikahan kamu dari orang-orang. Nanti kalau Greta udah lulus sekolah, kalian baru boleh bisa rayain pesta seperti pernikahan pada umumnya," jelas Gina lagi membuat Boy mengangguk mengerti.
"Kamu mau 'kan, Boy?"
"Iya, Ma. Asal 'kan, Mama cepat sembuh," kata Boy dan dibalas anggukan lemah oleh Gina dengan senyuman tipis.
Besok, Boy akan bertemu dengan Greta. Mengatakan jika mereka akan menikah setelah gadis itu menjalankan UAS mulai senin depan.
Pukul sepuluh malam, Ardian tiba di markas. Dia melihat motor sahabat nya sudah terparkir rapih di depan markas.
Ardian yakin, jika sahabat nya sedari tadi menunggu nya. Andai saja ponsel nya tidak mati, dia yakin sudah ada puluhan panggilan dari sahabat nya, karna membuat nya menunggu tanpa kepastian. Ardian mana peduli akan hal itu, asal bukan dia yang menunggu para sahabat nya.
Ardian berjalan masuk kedalam markas, melihat ke empat sahabat nya sedang bermain kartu.
"Akhirnya yang di tunggu nongol juga," celetuk Izam. Mereka sudah kering menunggu Ardian di sini, andai mereka tidak dibuat penasaran, mungkin menunggu itu tidak akan lama.
"Mana HP nya nggak nyala lagi," timpal Ethan dengan tawa, membuat Leo tertawa pelan.
Rafael mulai memungut kartu tersebut, saat Ardian mulai bergabung dengan mereka.
"Mau ngomong apa lo tadi?" tanya Rafael membuat yang lain menunggu jawaban dari cowok itu.
__ADS_1
"Kita udah penasaran nih," kata Ethan lagi.
"Apa ada hubungannya sama lo yang berantem sama Veer?" Izam menyipitkan mata nya, membuat Ardian memutar bola mata nya malas.
"Nggak usah bahas cowok sialan itu," kata Ardian membuat Izam langsung kicep, sementara sahabat nya tertawa melihat Izam.
"Makanya, jangan sok tahu," kata Ethan pelan, yang masih di dengar jelas oleh mereka.
"Jadi mau ngomong apa?" tanya Leo.
"Nggak jadi. Gue bahas nya entar, kalau kita udah UAS senin depan," jawab Ardian santai, lalu cowok itu melenggang pergi membuat sahabat nya melotot. Mereka sudah menunggu cowok itu berjam-jam, dan Ardian mengatakan nggak jadi, dan memindahkan nya setelah mereka UAS.
"Astagah," keluh Izam, saat punggung Ardian sudah menjauh, menaiki anak tangga menuju kamar nya. "Kita udah nunggu lama, dan dia bilang nggak jadi," kesal nya. Andai saja bukan Ardian, mungkin Izam sudah mengoceh panjang kali lebar. Namun ini Ardian, dia tidak berani.
"Kalau berani ngomong, di depan Ardian sana," celetuk Ethan membuat Izam langsung memukul kepala cowok itu menggunakan bantal sofa.
"Kurang ajar lo!" Izam semakin gencar memukul Ethan menggunakan bantalan sofa, sementara Ethan hanya tertawa pelan saja.
"Tunggu habis UAS aja, Ardian bukan pelupa," sosor Rafael.
"Iya, Raf, iya," balas Izam, lalu menyandarkan tubuh nya di sandaran sofa.
"Pada mau tinggal di markas nggak nih?" tanya Leo.
"Iya dong, karna seminggu kedepan kita bakalan tinggal di rumah masing-masing. Jangan lupa pada belajar, karna kita bakalan naik kelas tahun ini," peringat Izam membuat sahabat nya mengangguk paham..
Sementara Ardian langsung menghempaskan tubuh nya, di tempat tidur milik nya di markas ini.
Cowok itu menatap langit-langit kamar nya, sembari berpikir keras. Sebenarnya, dia ingin mengatakan pada sahabat nya mengenai Gerald, namun niatnya langsung ia urungkan, karna ia lupa senin nanti mereka akan mengadakan UAS untuk naik kelas 12. Ardian tidak mau, jika konsentrasi sahabat nya akan pecah, karna memikirkan Gerald.
Makanya, Ardian akan mengatakan yang sebenarnya, jika mereka selesai UAS. Sahabat nya berhak tahu mengena Gerald yang sebenarnya.
__ADS_1