ARDIAN

ARDIAN
Lo nggak bohong `kan?


__ADS_3

Ardian membalas tatapan Boy, Ardian tidak suka di ancam oleh siapapun itu, andai saja Boy bukan kakak dari gadis yang dia cintai, mungkin Ardian langsung menghajar pria di depanya ini, tidak peduli jika Boy lebih tua darinya.


"Perlu lo tahu, gue nggak suka di ancam. Lo udah tahu itu 'kan," kata Ardian penuh dengan penekanan.


Tentu saja Boy tahu itu, siapa yang tidak mengenal ARIGEL, yang di ketuai oleh sosok Ardian. Banyak yang memuja ketampanan anak ARIGEL, wajahnya yang tampan penuh kharisma membuat kaum hawa menjerit-jerit dan kaum pria yang rugi, karna pacar mereka malah mengagumi mereka semua, mereka juga tahu cowok tampan seperti ARIGEL adalah sosok seperti iblis, begitu bengis. Namun begitu, tidak mengurangi kadar kepopuleran anak ARIGEL.


Ardian langsung pergi meninggalkan dokter Boy, sementara pria itu menatap punggung kokok Ardian yang sudah menjauh, jujur saja Boy hanya mendengar samar-samar obrolan sang adik dengan Ardian. Tapi yang jelas, Boy tahu jika Nanda dan Ardian membuat perjanjian sebelum mereka pacaran.


Boy juga penasaran, bagaimana bisa Ardian dengan mudahnya mendapatkan adiknya, jujur saja Boy sangat penasaran akan hal ini.


Huft....


Boy menghembuskan nafas berat, setelah punggung kokoh milik Ardian telah menghilang, lepas itu ia langsung masuk kedalam ruangan Nanda membuat gadis yang tadinya menatap kearah jendela dengan tatapan kosong, langsung beralih menatap pintu di buka oleh sang abang.


Nanda menaikkan alisnya sebelah melihat wajah Boy nampak kusut, "dari mana lo bang?" tanya Nanda, dia tidak bertanya kenapa wajah Boy nampak kusut menahan sesuatu.


Boy lebih dulu duduk di samping bansal sang adik, "jenguk mama," jawab Boy jujur.


"Gimana kondisi mama? Mama baik-baik aja `kan?"


Boy diam beberapa detik, lalu kemudian Boy mengangguk mengiyakan ucapan Nanda, membuat gadis cantik itu bernafas legah dengan jawaban yang diberikan oleh sang abang.

__ADS_1


"Gue udah bisa kelur rumah sakit `kan? Gue mau jenguk mama, gue kangen," kata Nanda dengan nada suara penuh dengan kerinduan terhadap sang mama.


"Lo istirahat dulu di rumah, Ra," ujar Boy membuat Nanda menggelengkan kepalanya tanda dia menolak ucapan sang kakak.


"Gue ma--"


"Lo bilang nggak mau buat mama khawatir, lo pikir mama nggak curiga kalau lihat muka pucat lo itu," potong Boy membuat Nanda diam, lalu kemudian gadis itu menghembuskan nafas berat, jadi hari ini dia tidak bisa menjenguk sang mama, karna ucapan Boy ada benarnya juga.


Jika Nanda tetap kekeh ingin menjenguk mama, mungkin mama nya makin khawatir dengan dirinya.


"Mending lo istirahat dulu di rumah, Ra. Besok lusa kita jenguk mama," ujar Boy lagi.


"Besok lusa?" beo Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh sang kakak, "kenapa nggak besok aja sih bang?" suara  Nanda nampak kesal, dia pikir besok dia akan menjenguk sang  mama.


"Ok, besok lusa. Tapi sebelum gue keluar dari sini, gue mau minta sesuatu dari lo bang," kata Nanda, suara gadis nampak serius di indra pendengaran Boy. Serta tatapan mata Nanda menatap Boy serius, membuat pria seperti ingin di kuliti oleh adiknya sendiri.


"Apa?" tanya Boy penasaran.. "Asal jangan yang aneh-aneh, kalau aneh-aneh gu--''


"Gue mau jenguk Gerald, Bang."


Jleb.....

__ADS_1


Boy terdiam, mulutnya bahkan kaku untuk mengucapkan sepatah katapun, dia pikir Nanda tidak akan mengajukan permintaan ini, karna sebelumnya Boy sudah mengatakan jika Gerald tidak bisa di jenguk oleh siapapun untuk sekarang    ini, apa lagi fakta sebenarnya mereka tutupi dari Nanda.


Boy beberapa menit terdiam, bola matanya tidak lepas menatap sang adik, Boy sangat mengerti perasaan Nanda saat ini, adiknya merindukan sosok sahabatnya, andai saja Nanda tahu fakta yang sebenarnya tentang Gerald.


"Ra\, lo nggak lupa `kan\, apa yang gue bilang tentang kondisi Gerald saat ini?" Boy kembli mengingatkan adiknya\, Nanda menggeleng tanda dia tidak lupa apa yang kemarin Boy bilang. "Dokter Ivan sama om Raga udah bilang ke lo juga `kan\, jadi untuk sekarang nggak ada yang bolh jenguk Gerald\, kecuali dokter yang menangani Gerald\," jelas Boy dengan berbohong.


"Tapi bang, lo `kan dokter di sini juga, gue yakin lo pasti di kasi izin, gue pengen ketemu Gerald bang. Bantu gue kali ini aja, please." Nanda menelengkupkan kedua tanganya, memohon pada Boy.


Boy lagi-lagi menarik nafasanya panjang, "nggak bisa, Ra," ucap Boy  lagi dengan suara rendah, "dokter yang nanganin Gerald nggak akan kasi izin sama siapapun, termasuk keluarga Gerald dengan dokter sekalipun. Yang boleh lihat kondisi Gerald cuman dokter yang nanganin Gerald."


"Sampai kapan, bang?" tanya Nanda dengan suara lirih, lalu kemudian dia menatap keluar jendela, dia pikir Boy bisa membantunya untuk bertemu dengan Gerald secara  diam-daim. Ternyata dugaaanya salah, "sampai kapan gue nggak bisa ketemu sahabat gue, bang."


Sampai selamanya, Ra.  hanya bisa membatin mengatakan itu. Tidak mungkin juga dia mengatakan yang sebenarnya untuk sekarang ini, ada banyak masalah yang mereka hadapi, Boy tidak mau jika adiknya semakin down, cukup kondisi Gina saja dan permasalahan sang papa yang membuat Nanda down untuk saat ini.


"Gue nggak tahu, Ra, ini semua demi kebaikan Gerald," bohongnya, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Boy takut jika Nanda tahu jika dia membantu orang tua Gerald untuk membantu menyembunyikan ini semua dari orang-orang, termasuk Nanda dan para sahabatnya.


Ini yang ketiga kalinya Boy menyembunyikan hal besar dari Nanda, cepat atau lambat Nanda akan tahu apa saja yang Boy sembunyikan dari adiknya itu. Entah itu Nanda tahu daro orang lain, atau dia sendiri yang mengetahuinya sama seperti kasus sang papa, Nanda sendiri yang mengetahui kebohongan yang mereka sembunyikan itu.


Boy melihat adiknya menghela nafas berat, tentu saja ini hal berat untuk Nanda, dia kangen ingin bertemu Gerald, dia ingin melihat wajah sang sahabat yang terbaring koma, Nanda yakin jik dia mengajak Gerald ngobrol cowok itu akan mendengarnya.


" Lo harus nerima keputusan dokter  dan orang tua Gerald untuk kebaiakn Gerald, Ra, orang tua Gerald saja setuju soal ini, kita nggak punya hak lebih atas Gerald, Ra. Orang tua Gerald udah mikirin ini semua sebelum ngambil tindakan," ucap Boy panjang kali lebar. "Kita cuman bisa dukung keputusan orang tua Gerald, Ra." Nanda hanya diam, tidak membalas ucapan Boy lagi, tapi entah mengapa Nanda merasakan Gerald  sedang berjauhan denganya, Nanda merasakan keberadan Gerald sudah jauh dari rumah sakit ini.

__ADS_1


Nanda kemudian melirik Boy dengan lamat-lamat, sehingga kakak beradik itu beradu pandang, Boy melihat bola mata adiknya menyimpan banyak kesedihan membuat pria itu menjadi kasihan dengan sang adik. "Lo nggak bohongin gue `kan, bang?"


Deg....


__ADS_2