
Puri melihat sosok cowok yang bersandar di tembok, dia adalah Ethan. Puri tidak tahu, untuk apa cowok itu ingin menemuinya.
Jika Vani sampai lihat, bisa-bisa dia akan di katai cewek gatel sama cowok orang. Padahal cowok itu sendiri yang ingin bertemu dengan nya..
"Ngapain nyariin gue?"
Suara milik Puri membuat Ethan melirik ke samping, lalu cowok itu memperbaiki posisinya.
"Gue cuman mau minta maaf," jelas Ethan. "Gue--"
"Gue udah maafin, lo. Jadi nggak usah minta maaf," potong nya dengan cepat, "cuman itu doang yang mau lo bilang? Gue buru-buru," bohongnya.
Ethan diam, cowok yang selalu beradu mulut dengan Izam itu diam, dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Dia hanya ingin minta maaf saja, namun mengapa sesingkat ini.
"Gue mau neraktir lo sama sahabat lo, sebagai bentuk permintaan maaf gue."
Pute terkekeh, lalu kemudian gadis itu mengibas rambutnya, "nggak perlu kali. Tanpa makan-makan gue udah maafin lo kok. Santai aja kali."
Ethan menatap gadis itu.
"Kalau udah nggak ada lagi, gue masuk kelas dulu." Puri membalikkan tubuhnya untuk segera pergi dari Ethan. Takut-takut jika Vani memergoki nya.
"Gue sama Vani putus."
Langkah kaki Puri tertenti, lalu gadis itu kembali membalikkan tubuhnya, menatap Ethan. Dia tidak tahu apa maksud Ethan. Namun ia cukup terkejut dengan ucapan Ethan barusan.
Baru beberapa hari mereka balikan, mereka kembali putus?
"Lebih tepatnya gue yang mutusin, Vanu." Ethan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
Bibir Puri tertarik keatas berbentuk senyum, "oh... Jadi, karna lo putus sama Vani, lo nyariin gue?" Puri manggut-manggut dramatis. "Enak banget ya jadi cowok. Kalau cewek yang kayak gitu pasti di hujat. Dan pastinya dia bakalan di katain cewek gatel. Tapi lain lagi ceritanya kalau cowok." Puri terkekeh.
__ADS_1
"Lo nggak mau tahu kenapa gue mutusin, Vani?" tanya Ethan.
Vani merapikan rambutnya, "gue nggak mau cari tahu. Lagian...Nggak penting juga kalau gue tahu," balasnya dengan mantap.
"Gue putusin Vani karna gue sadar. Gue suka sama lo." Meski Puri tidak mau mendengar nya, Ethan tetap mengatakan.
Ucapan Ethan barusan sukses membuat Vani diam, namun beberapa detik kemudian dia tertawa renyah..
"Gue serius. Gue pikir, saat gue balikan sama Vani, gue bakalan bahagia sama dia kayak dulu. Ternyata dugaan gue salah. Baru beberapa hari gue balikan sama dia, gue terus-terusan keingat sama lo. Gue nggak bohong, meski kita baru dekat, nggak tahu aja kenapa aura positif lo nyebar ke gue. Hati gue bisa milih, mana yang gue perjuangan sekarang." Ethan mengatur nafasnya panjang, sementara gadis di depannya masih diam. "Lo mau nggak, jadi perempuan kedua yang gue cintai, setelah mama?"
Jleb...
Hati Puri langsung berubah menjadi jeli.
"Bcot banget lo jadi cowok!" Izam datang, dia mendekati kedua nya lalu cowok itu menatap Puri. "Nggak usah di dengerin, Ri. Mulut nih anak isinya omong kosong doang."
Ethan memutar bola matanya malas, "ganggu banget deh lo, nggak lihat situasi aja lo kalau mau ganggu!" dumel Ethan pada cowok itu.
"Gue lagi nembak Puri, lo malah muncul kayak setan!" kata Ethan.
"Mendingan lo pergi, rusak suasana aja lo!" Ethan mengibaskan tangannya mengusir sahabatnya itu.
"Lo kalau beneran cowok, cari tempat yang bagus dikit buat nembak cewek."
Ethan menghentakkan kakinya kesal, "kalau lo kesepian mendingan lo cari cewek. Nggak usah nyamperin gue di kelas IPA!" geramnya pada Izam.
"Belagu lo ya, gue di tinggal sendiri. Leo nggak tahu kemana, main ninggalin aja. Sekarang lo ninggalin gue. Untung aja gue lihat lo di sini. Sih Rafael cabe juga nggak ke sekolah. Ardian juga nggak. Dan lo malah ninggalin gue sendiri!" dumelnya panjang kali lebar.
"Lo emang cocok buat di tinggali," ejek Ethan membuat Izam langsung melepaskan sepatunya, siap untuk melemparkan nya pada Ethan.
Dengan sigap, Ethan menghindari lalu cowok itu lari karna Izam mengejar nya.
__ADS_1
"BESOK KITA OMONGIN LAGI, RI!" teriak Ethan tanpa melihat ke belakang, karna Izam sedang mengejarnya.
Puri menggelengkan kepalanya pelan, melihat Ethan dan Izam sedang kejar-kejaran di lapangan sekolah.
Gadis itu kembali masuk kedalam kelas.
"Ethan ngomong apa sama lo, Ri?" tanya Pute penasaran saat gadis itu kembali duduk di tempat duduknya.
Cika dan Pute mendengar jelas teriakan Ethan tadi, namun mereka tidak tahu apa yang mereka bahas.
"Lo tahu nggak, Ethan ngomong apa sama gue tadi?" Puri ingin membuat penasaran kedua sahabatnya.
"Nggak. Kan lo belum kasi tahu," kata Pute.
"Ethan nembak gue, cuy!" heboh gadis itu mmbuat Cika dan Pute terkejut. "Andai Salsa ada, mungkin dia ikutan seneng dengerin berita bahagia ini."
"Nembak lo? Bukanya dia pacaran sama Vani?" kata Cika bingung, tanda-tanda sahabatnya akan kembali galau jika kembali seperti ini.
"Mereka udah putus. Kata Ethan, dia mutusin Vani karna gue. Karna dia baru sadar sama perasaannya itu." Pipi Vani bersemuh merah menceritakan hal ini pada sahabatnya, meski Ethan sudah menyakitinya, namun di dalam lubuk hatinya paling dalam, masih ada rasa untuk cowok itu. "Terus Ethan bilang ke gue. Dia mau jadiin gue perempuan kedua yang dia cintai." Puri mengingat ucapan Ethan yang itu. Karna ucapan yang tadi membuat nya bersemuh begini.
"Perempuan pertama siapa?" tanya Cika dan Pute penasaran.
Puri memutar bola matanya malas, "semua juga orang tahu kali. Kalau perempuan pertama yang kita sayang itu, mama kita sendiri," jelas Puri membuat Pute tertawa, dia tidak menyangka dengan kata-kata manis Ethan. Pantas saja jika Puri sampai sebahagia ini.
Sementara Cika hanya tersenyum tipis. Melihat kebahagiaan sahabatnya membuat nya ikutan bahagia. Kalau sahabatnya di sakiti sama cowok membuat nya ikutan geram sama cowok itu. Apa lagi ini Ethan.
"Jadi, lo Terima dia?" tanya Pute setelah meredakan tawanya.
Puri menggeleng, "belum. Gue kesal sama Izam. Dia datang di waktu yang nggak tepat," cemberut nya, lalu ke lima detik kemudian, gadis itu mengibaskan rambutnya, "tapi Ethan bilang, besok kembali di omongin soal tadi." Jelasnya panjang kali lebar..
"Semoga aja tuh anak nggak main-main," celetuk Cika dan dibalas anggukan kepala oleh Pute.
__ADS_1
"Salsa udah di ikat sama Rafael. Puri bentar lagi jadian sama Ethan. Sementara gue masih di gantung sama Leo," kata Pute lesuh, Puri tertawa lalu kemudian tawa gadis itu redah saat mengingat sesuatu.
"Gue inget. Gue lihat Leo sama Nita tadi."