
Nanda pamit duluan meninggalkan, Leo. Membuat cowok tampan itu senyum menatap kepergian Nanda.
Kelima sahabat Leo menghampirinya.
''Dasar Playboy!'' sembur Ethan membuat Leo tersenyum kearah sahabatnya.
''Dia sulit di dapatkan,'' ujar Leo.
''Cewek angkuh dan sombong emang gitu, sulit buat di dapat,'' lanjut Izam mengingat bagaiamana sosok gadis yang waktu itu menumpang di motornya.
''Ingat, Pute. Lo mau Puri ngelabrak lo?'' ngeri Ethan mengingat bagaimana jika Puri marah, dampaknya ke mereka semua.
Apa lagi suara gadis itu sangat cempreng, akan membuat telinga mereka akan tuli dengan suara Puri.
''Lo tau, kan, gue cuman suka mabar sama dia.'' Leo memperjelas.
''Modus lo ke cewek, emang dari game!'' Izam dan Ethan mengucapkannya hampir bersamaan.
''Kita balik ke markas ,'' ajak Ardian yang sedari sibuk dengan pikiranya.
''Ok.''
‘’Kalian duluan,'' ucap Gerald yang tidak ingin balik bersama dengan kelima sahabatnya. ''Ada yang mau gue urus sebentar, kalau udah kelar, nanti gue nyusul,'' lanjutnya dengan suara dingin khas miliknya.
Kelima sahabatnya hanya mengangguk, lalu kemudian mereka meninggalkan Gerald untuk kembali ke markas.
Kelima sahabtanya sudah pergi, Gerald mengambil ponselnya mengirimkan pesan kepada Nanda.
“Kamu dimana, Ra?”
Ting…
Nanda yang sudah sampai, di ruangan cowok yang semalam ia tolong langsung melirik ponselnya yang bunyi, menandakan adanya pesan masuk.
Nanda membaca pesan dari Gerald, tangan lentiknya segera membalas pesan dari sahabatnya itu.
“Aku ada urusan bentar di rumah sakit.”
Lepas membalas pesan dari Gerald, Nanda meletakkan ponselnya diatas nakas, lalu gadis itu berjalan masuk kedalam kamar mandi untuk buang air kecil.
Kata Boy, cowok yang dia tolong semalam, akan segera sadar, karna kondisinya sudah lumayan membaik dari pertama saat Nanda membawanya.
Cowok yang semalam Nanda tolong, perlahan-lahan membuka matanya. Cowok itu membuka matanya perlahan-lahan, yang pertama ia lihat langit-langit rumah sakit dan bau obat memasuki indra penciumannya.
''Gue masih hidup?'' gumam cowok itu mengingat bagaimana kejadian semalam, Ardian memukul dirinya tanpa ampun.
Dia pikir, dia sudah tidak ada di dunia ini.
Huft
Hembus nafas berat cowok itu keluarkan, hari ini dia selamat dari tangan Ardian. Namun dia tidak bisa menjamin pada dirinya sendiri, jika ia bisa selamat yang kedua kalinya dari tangan Ardian.
Cowok itu harus bersyukur, karna ia masih hidup dan selamat dari iblis bernama Ardian.
__ADS_1
''Yang bawa gue kesini siapa?'' gumamnya seraya berpikir, siapa yang sudah membawanya kesini, dan menyelamatkan nyawanya.
Cowok itu tersenyum, ia yakin jika yang membawanya kesini adalah para sahabatnya, anak VAGOS.
Ceklek
Bersamaan dengan itu, pintu kamar mandi terbuka. Cowok itu memperhatikan gadis cantik keluar dari kamar mandi.
Nanda melihat kearah bansal, dia sudah melihat cowok yang semalam ia tolong sudah sadar.
“Siapa cewek itu? Ia hanya bisa membatin melihat Nanda keluar dari kamar mandi, lalu berjalan menghampirinya.
''Udah sadar lo?'' Meski sudah tau, gadis itu tetap bertanya.
Dia tersenyum miris, dia pikir teman-temanya yang membawanya kesini, ternyata dugaannya salah.
Cowok itu mengangguk lemah, dia yakin gadis yang mengajukan pertanyaan padanya merupakan orang yang menolong dirinya.
Nanda tersenyum tipis kearah cowok itu, terlihat bibirnya masih sedikit pucat, bibirnya terluka serta kepalanya di perban. Serta tanganya yang lecet dan dia merasakan kesakitan jika menggerakkan tanganya.
''Dia udah sadar, Ra?'' Boy masuk kedalam saat mendengar adiknya sedang mengobrol dengan seseorang.
''Iya,'' jawabnya.
Boy langsung memeriksa kondisi cowok itu.
''Siapa namamu?'' tanya Boy setelah memeriksa kondisi cowok itu.
''Dika,'' jawabnya dan dibalas anggukan kepala oleh Boy.
Nanda mendekat kearah Boy , ''tuh,'' tunjuknya pada obat, yang berada diatas nakas.
''Minum obatnya,'' perintah Boy kepada cowok bernama Dika.
''Nyuruh anak orang minum obat, tapi nggak di kasi makan.'' Nanda memutar bola matanya malas membuat Boy terkekeh kecil.
Suster datang membawa makanan, khusus untuk pasien. ''Bisa makan sendiri?'' tanya Boy, melihat kondisi cowok itu membuat Boy tidak yakin, jika cowok bernama Dika itu bisa makan sendiri.
Tulang tanganya bergeser sedikit, sehingga menciptakan rasa sakit saat ia, mulai menggerakkan tanganya.
''Biar gue yang suap.'' Nanda mengambil nampan berisi bubur itu.
Mengambil kursi lalu mulai menyendok bubur itu untuk Dika.
''Mau gue tunggu, atau gue pergi duluan?'' tanya Boy.
''Bang Boy pergi duluan aja, banyak pasien yang nungguin lo,'' ucap Nanda membuat Boy tersenyum kecil, lalu mengacak rambut Nanda dengan gemas.
''Ok.''
''Lo harus ingat, pulang jangan kesorean. Kalau nggak...mamah bakalan mengoceh.''
Boy pergi meninggalkan adiknya berdua dengan Dika.
__ADS_1
''Lo yang nolongin gue?'' tanya Dika dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.
''Makasih.''
''Lo berantem malam itu?'' tanya Nanda membuat Dika tersenyum tipis.
Dika mengunyah makanan yang Nanda suapkan untuknya.
Dika tersenyum miris, ''iya,'' jawab Dika masih dengan mengunyah bubur yang di suapkan Nanda.
Nanda tersenyum tipis.
''Kenapa lo ketawa?'' tanya Dika, perasaan tidak ada yang lucu saat ia menjawab pertanyaan gadis di hadapanya.
''Gue kasihan lihat lo kemarin malam.'' Nanda memberikan air mineral untuk Dika.
''Gue nggak bisa gerak, badan gue bakalan sakit. Meski bergerak sedikit,'' ucap Dika.
Nanda mengambil pipet didalam laci, kamar vvip pastinya sudah tersedia hal kecil seperti itu.
Dika menatap Nanda, lalu kemudian tersenyum. ''Minum.'' Nanda menyodorkan minuman itu untuk Dika.
Dika meminumnya, lepas itu Nanda membuka tablet obat, lalu menuntun Dika untuk meminum obat.
''Makasih udah bantuin gue,'' ujar Dika.
''Sama-sama.''
''Keluarga lo belum datang atau apa?'' tanya Nanda.
Dika tersenyum tipis. ''Gue anak jalanan,'' jawab Dika membuat Nanda langsung mengucapkan kata maaf.
Sudah satu jam Nanda menemani Dika di sini, waktunya dia pulangk. Karna jam sudah menunjukkan pukul 14:40.
Nanda berdiri dari kerisnya, ‘’gue pulang duluan, udah sore,'' pamit Nanda.
''Hati-hati.''
''Jangan lupa minum obatnya.'' Lepas itu Nanda pergi.
Nanda berhenti di ambang pintu, lalu membalikkan badanya melihat kearah Dika.
Dia tersenyum tipis, ''cepat sembuh.'' Nanda langsung pergi dari depan ambang pintu, membuat Dika tersenyum tipis.
''Manis,'' gumam Dika mengingat senyuman Nanda, meski hanya senyuman terpaksa saja. Namun mampu membuat Dika mengatakan kata manis.
Nanda berjalan di koridor rumah sakit, dia berjalan begitu cepat. Jika dia pulang kesorean, maka mamahnya akan mengoceh panjang kali lebar.
Langkah kaki gadis itu berhenti di koridor rumah sakit, karna seseroang dari belakang mencekal pergerakan tanganya.
Nanda membalikkan badanya, melihat siapa yang mencekal jalanya, padahal dia buru-buru.
Deg
__ADS_1
Matanya dengan mata cowok itu bertemu, matanya yang tajam menatap Nanda penuh dengan selidik.
''Ardian.''