
Kesya duduk di kursi kursi kayu, kursi yang letaknya di meja makan. Dengan botol air mineral di tanganya, yang baru saja diia ambil dari kulka. Gadis itu meneguk air mineralnya, hingga hanya menyisahkan setengah. Ia meletakkan botol itu diatas meja lalu menghembuskanya dengan kasar.
Andai saja kedua orang tuanya tidak keluar kota, mungkin ia tidak akan tinggal di rumah ini. Ikut-ikutan dengan Pute, Puri dan juga Cika, karna ketiga gadis itu memutuskan untuk tinggal di rumah Nanda malam ini.
Yah, setengah jam yang lalu Raisa mengirimkan nya pesan, jika mereka akan keluar kota sekarang, karna perusahaan sang papa tengah di landa masalah, jadi Iksan harus turun tangan di dampingi Raisa. Sehingga Kesya ikut-ikutan tinggal di sini juga, dari pada ia harus pulang kerumah dan dia akan sepi, hanya ada pekerja di rumahnya yang luasa itu.
Kesya selalu di temani oleh Raisa, hingga wanita itu memutuskan keluar kota untuk mendampingi Iksan sang suami. Untung saja ada Pute, sehingga ia tidak akan menjadi gadis bodoh di sini. Karna Puri selalu saja menyindirnya sementara Cika hanya diam saja, Nanda hanya menatapnya tanpa mengucapkan sepatah katapun, namun begitu Kesya melihat senyuman tipis Nanda untuknya. Dan gadis bernama Pute yang mengjaknya mengobrol di sini.
Kesya sempat meminta pada sang mama, agar dirinya ikut keluar kota. Namun Raisa melarangnya,karna ia tidak tahu sampai kapan mereka diluar kota, mengatasi masalah perusahaan, sementara dirinya harus sekolah. Sudah banyak izin gadis itu di sekolah sehingga Raisa dan Iksan tidak mengizinkan Kesya untukikut.
Meskipun Raisa sempat membujuk Iksan, agar anaknya ikut saja. Namun Iksan menolaknya dengan tegas.
Kesya tersenyum nanar, melihat pergelangan tanganya yang merah dan menciptakan bekas yang jelas, harum masakan dari dapur ini membuat Kesya lapar, namun ia harus menunggu jam makan malam tiba,
"Loh, non Kesya kok di sini. Ada yang mau di ambilin? Biar bibi yang bawa," kata Bibi mengambil duduk di samping Kesya. "Itu juga tanganya kenapa non Kesya?" Bibi nampak terkejut melihat tangan Kesya yang memerah.
"Nggak apa-apa Bi."
Bibi itu bergerak mengambil handuk kecil dan mangkuk berisi air dingin, lalu dia kembali duduk di dekat Kesya. "Sini bibi bantu kompres, biar lukanya nggak nyeri," kata bibi dan dibalas anggukan kepala oleh Kesya.
Setelah mendapatkan izin dari Kesya, wanita itu mulai mengompres tangan Kesya.
"Bi, Kesya kenapa?" tanya Nanda membuat Kesya dan bibi tersentak kaget.
Pasalnya mereka tidak mendengar derap langkah kaki menuju dapur, dan tiba-tiba saja Nanda ada di sini.
"Ini non, tanganya non Kesya memar. Makanya bibi kompres," jawab bibi.
__ADS_1
"Yaudah bi, biar Nanda aja yang obatin, bibi bisa lanjut masaknya," kata Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh sang bibi.
Nanda mengambil duduk di samping Kesya, bersiap kembali mngompres tangan Kesya.
"Sin--"
"Nggak usah. Udah di obatin," cetus Kesya membuang muka ke samping.
Dia merasa iri dengan Nanda, meskipun dia mendapatkan sang papa sepenuhnya saat ini, namun entah mengapa rasa cemburu itu masih ada.
Nanda menghembuskan nafas berat, "lo kenapa mau musuhin gue? Segitu bencinya lo ke gue, Sya? Gue berusaha buat benci lo juga, tapi rasa benci gue nggak bisa ngalahin rasa kekeluargaan gue ke lo. Karna bagaimanapun lo saudara gue, lo kakak gue juga, meskipun usia kita cuman beda beberapa minggu. Kita masih punya hubungan dara, papa kita sama." Nanda bicara panjang kali lebar, sehingga Kesya menatap gadis itu setelah dia berhenti mengoceh.
"Munafik kalau lo nggak benci sama gue," cercah Kesya.
"Gue udah bilang, rasa benci gue buat lo, ngalahin rasa kekeluargaan gue ke lo. Sebenci apapun gue ke lo, nggak bakalan ngubah apapun.''
Nanda melihat luka memar Kesya lumayan parah, ia tidak tahu kenapa tangan gadis itu bisa memar.
"Berhenti benci gue. Gue udah nerima semuanya dan berusaha damai dengan masalah yang gue hadapi. Gue nggak mau musuhan sama saudara gue sendiri," kata Nanda dengan tegas.
Kesya menatap Nanda, "lo mau kita baikan?" tanya Kesya membuat Nanda diam sejenak, lalu kemudian Nanda mengangguk mengiyakan ucapan Kesya barusan. "Ada syaratnya."
"Apa?"tanya Nanda penasaran.
"Putusin Ardian buat gue. Lo udah tahu `kan, kalau gue cewek yang selama ini perhatian sama Ardian."
Deg....
__ADS_1
Kesya tersenyum jenaka kearah Nanda, "itu syarat gue buat lo."
Nanda diam sejenak sebelum membalas ucapan Kesya.
"Bukan cuman lo yang kesepian, Sya. Lo udah ngambil semua kasih sayang papa, dan lebih milih tinggal sama lo. Lo udah rebut kasih sayang papa dari gue, sampai buat gue kesepian," jelas Nanda. "Gue nggak akan mutusin Ardian buat lo," lanjut Nanda dengan suara yang tidak seramah tadi, ''Gue butuh Ardian, setelah gue di tinggalin sama orang yang gue sayang.''
"Lo macarin Ardian karna lo kesepian?" tanya Kesya dengan sinis, "lo iitu nggak kesepian. Memangnya lo hidup sendiri? Lo nggak nganggep mama sama kakak lo itu?" Kesya mengetuk-ngetuk meja makan, mengabaikan rasa sakit di tanganya, "gue rasa kita impas, gue punya mama Raisa dan papa Iksan. Dan lo punya mama Gina dan kakak lo itu. Udah seimbang bukan?"
Ucapan Kesya sukses membuat Nanda terdiam, "lo nggak akan ngerti." Ada jeda di ucapan Nanda. "Karna kita impas, gue nggak akan mutusin Ardian," lanjut gadis itu dengan mantap.
"Lo bilang, lo nerima Ardian karna lo kesepian. Sementara lo nggk kesepian sama sekali," beber Kesya dengan menggebu-gebu.
"Lo juga nggak kesepian, jadi ngapain gue harus mutusin Ardian demi lo.''
"Asal lo tahu, gue minta lo putusin Ardian bukan karna gue kesepian sialan!" geram Kesya, suaranya naik satu oktaf. " Karna gue cinta sama dia, bukan karna kesepian . Alasan gue jelas, nggak kayak alasan lo itu yang nggak jelas!" Kesya menatap Nanda dengan tatapan garang.
Nanda berdiri dari kursinya, "gue bakalan nyuruh Bang Boy buat obatin luka lo itu.'' Nanda langsung pergi meninggalkan Kesya dalam keadaan emosi.
"Gue belum selesai ngomong sama lo. Lo yang mancing gue ngomong dan mancing emosi gue." Kesya berusaha menahan emosinya, jika emosinya meledak saat ini maka Boy akan menyeretnya dari sini.
Nanda menghentikan langah kakinya sebelum menaiki anak tangga, dia membalikkan tubuhnya, lalu mereka berdua saling menatap. Nanda tahu, jika emosi Kesya saat ini sudah diatas puncak, siap untuk meledak.
"Gue bakalan ninggalin Ardian, kalau lo kesepian. Dan nggak punya siapapun di dunia ini,'' kata Nanda dengan senyuman tipis ia lemparkan Kesya.
Nanda melanjutkan langkah kakinya, menaiki anak tangga. Dia meninggalkan Kesya di dapur dengan pikiran kalut. Apa benar dia membutuhkan Ardian bukan karna kesepian? Apa karna dia mulai nyaman dengn Ardian.
Kesya mengepalkan tanganya, ''sialan lo, Nanda!"
__ADS_1