ARDIAN

ARDIAN
Mendingan lo pergi


__ADS_3

''Gue nggak bisa.'' Nanda menekan setiap perkataanya, ingin segera pergi dari sini, namun tanganya langsung di cekal oleh Ardian.


‘’Kenapa?'' tanya Ardian, tanpa berniat melapaskan tangan milik Nanda.


‘’Lepasin tangan gue, Ar,'' pintah gadis itu dan dibalas gelengan kepala oleh Ardian.


‘’Jawab dulu pertanyaan gue, baru gue lepas,'' ucap Ardian seraya menatap manik mata gadis itu.


''Lo masih nanya alasanya apa? Gue lagi nungguin Gerald bangun.'' Nanda menekan setiap perkatanya membuat Ardian langsung menatap Nanda dengan tatapan yang sangat sulit dia artikan.


''Lo beneran suka sama Gerald?'' tanya Ardian membuat Nanda diam sejenak. ''Gue tahu lo nggak suka Gerald, lo cuman ngomong gitu buat nebus kesalahan lo sama sahabat kecil lo,'' lanjut Ardian.


''Sok tahu lo,'' balas Nanda datar membuat Ardian menatap manik mata gadis itu.

__ADS_1


''Kalau emang lo suka sama Gerald, lo nggak bakalan nolak dia,'' ucap Ardian dingin menekan setiap perkataanya itu.


''Gue baru sadar sama perasaan gue ke sahabat gue sendiri, Ar. Jadi, lo stop campuri perasaan gue ke Gerald. Lo nggak punya hak apapaun itu.'' Nanda langsung melenggang pergi meninggalkan Ardian.


''Nanda!'' panggil Ardian yang hanya di abaikan oleh Nanda.


''Gue suka sama lo!'' lanjut Ardian, dia tidak mampu menghentikan langkah kaki Nanda, gadis itu terus melanjutkan langkah kakinya.


Ucapan suka Ardian dia dengar dengan jelas, bahkan sudah yang kesekian kalinya Nanda mendengar ungkapan suka cowok itu. Sekarang Nanda tahu, jika Ardian benar-benar menyukai dirinya.


Ucapan Ardian selalu dia pikirkan, belum ada satu minggu cowok itu mengatakan, jika dia rela melihat sahabatnya berpacaran dengan dirinya, karna Ardian sadar jika dia yang masuk diantara Gerald dan Nanda, namun cowok itu kembali putar haluan.


Nanda memesan minuman dan bakso, lalu dia duduk di kursi paling pojok. Tempat duduk itu adalah tempat anak ARIGEL makan yang di tempati Nanda.

__ADS_1


Nanda menghembuskan nafas berat, saat mendudukkan bokongnya diatas kursi, seraya menunggu pesanannya datang.


''Gerald,'' gumam Nanda, dia memikirkan kondisi sahabatnya saat ini, sudah seminggu lebih Gerald tidak bangun dari komanya, bukan seminggu lebih, bahkan sudah mencapai dua minggu, cowok itu tak kunjung bangun dari tidurnya. ''Lo Nggk tahu ya, Rald. Kalau gue nungguin lo bangun.'' Nanda tersenyum tipis, mengingat momennya bersama Gerald, muai dari cowok itu tidak mau jika mereka saling kenal di sekolah, tidak ingin orang tahu, jika dirinya adalah orang istimewa Gerald.


''Gue rindu, Rald.'' Nanda mengusap air matanya kasar, bersaman dengan pesanannya yang datang.


Hanya ada beberapa murid-murid di kantin ini, mungkin mereka belum ke kantin karna masih sedikit pagi.


Nanda mulai menyantap makananya, hingga seseorang menggeser kursi di depan gadis itu, membuat Nanda menghentikan makanya, lalu melihat kearah depan, siapa yang menggeser kursi di hadapanya.


Nanda terdiam, melihat siapa yang berada di hadapnya, dia tidak tahu mengapa sahabat Ardian ada di sini, duduk di hadapnya seperti tidak ada kursi kosong saja.


‘’Emangnya salah kalau gue duduk di sini.'' Cowok itu memberikan pernyataan pada Nanda, membuat Nanda membalas tatapannya.

__ADS_1


''Rafael, mending lo pergi dari sini. Gue nggak mau kalau Salsa jdi salah paham sama gue.''


__ADS_2