
Angin malam berhembus begitu kencang, Ardian masih setia menunggu kedatangan seseorang.
Lama menunggu diatas motor, membuat Ardian memutuskan turun dari motornya lalu berjalan menuju kursi yang di sediakan di jalan trotoar ini.
Ya, Ardian tengah mengajak seseorang bertemu di sini, dijalan trotoar. Memang tidak romantis, tapi tentunya terkesan.
Ardian duduk di kursi besi yang panjang, yang di sediakan di jalan trotoar tersebut.
Huft...
Ardian menghembuskan nafas berat, dia tidak yakin jika gadis itu akan datang menemuinya. Apa lagi kondisi mama nya sedang sakit saat ini. Apa lagi saudaranya tengah berada di rumah sakit.
Ardian melihat seseorang tengah berdiri di depanya, membuat cowok itu mendongakkan kepalanya, dia tidak percaya jika seseorang di hadapanya adalah gadis yang dia tunggu.
‘’Gue senang lo datang, gue pikir lo nggak akan datang,'' kata Ardian.
Nanda memilih duduk di dekat Ardian, menatap jalan di depan, dimana pengendara mobil dan motor sedang berlalu lalang malam ini.
‘’Ngapain ajak gue ketemuan di sini?'' tanya Nanda seraya melirik Ardian, sementara cowok yang dia lirik tengah fokus menatap kedepan.
''Mama gue kemarin kerumah lo'kan?'' tanya Ardian memastikan tanpa melihat kearah Nanda.
''Iya. Dia kerumah gue. Dia juga teman mama gue sejak mereka SMA,'' jawab Nanda seraya menatap kedepan lagi. Gadis itu setia mengunyah permen karet, padahal satu minggu yang lalu, dia mulai berhenti untuk Mengkonsumsi permen karet.
Namun karna sedang di landa masalah, Nanda butuh permen karet agar otaknya bisa berpikir jernih.
''Mama gue bahas hubungan kita?'' tanya Ardian melirik Nanda, bersaman dengan itu, Nanda juga melirik Ardian, sehingga mereka berdua beradu tatapan.
Nanda mengangguk sebagai jawaban. ''Iya.''
''Lo jawab apa?'' tanya Ardian lagi.
''Gue bilang kalau hubungan gue sama lo baik-baik aja, mama lo kerumah gue karna udah lama gue nggak kerumah lo. Dia nungguin gue buat bikin kue bareng lagi,'' jelas Nanda membuat Ardian bernafas legah dengan ucapan Nanda.
Sebenarnya Nanda ingin mnegatakan untuk Ardian, agar dia mengaku pada mamanya, agar dia berkata jujur, jika mereka berdua nggak pacaran sama sekali.
Namun niatnya dia urungkan, dia kasihan kepada orang tua Ardian jika dia tahu yang sebenaranya. Apa lagi orang tua Ardian begitu baik padanya.
''Gue mau ngomong serius sama lo,‘’ kata Ardian menatap manik Nanda begitu dalam.
''Apa?'' tanya Nanda, dari tatapan mata Ardian Nanda bisa melihat keseriusan cowok itu.
''Gue mau lo jadi pacar gue,'' kata Ardian serius.
Melihat Nanda diam membuat Ardian mengusap wajahnya, lalu kembali menatap kedepan. Diamnya Nanda sebagai jawaban, kalau gadis itu kembali menolaknya.
''Ini yang kesekian kalinya gue nembak lo, Na. Mungkin jawaban lo masih sama. Gue minta maaf, kalau gue nembak lo lagi di waktu yang nggak tepat,'' kata Ardian, lalu cowok itu tersenyum tipis. ‘’Gue jujur sama lo, kalau gue benar-benar suka sama lo.''
Hening.
Nanda dan Ardian sama-sama diam, baru kali ini ada cewek yang menolak pesonanya, padahal di sekolah banyak yang mengejarnya, namun kali ini terbalik, Ardian yang mengejar Nanda.
Nanda melirik Ardian, sementara cowok itu menatap kedepan, melihat motor dan mobil berlalu-lalang malam ini.
''Kalau misalnya gue terima lo tanpa perasaan sama sekali, apa lo mau?''
Sontak saja Ardian melirik Nanda, pertanyaan yang diluar dugaan menurut Ardian, pertanyaan simpel namun sulit untuk di jawab.
Ardian diam, dia tidak tahu harus menjawab seperti apa. Meski ini hanya ‘misalnya' tetap saja dia buntu untuk menjawab.
''Ar,'' panggil Nanda, karna Ardian hanya diam saja, tidak menjawab pertanyaannya.
''Kalau misalnya juga, lo nerima gue tanpa perasaan suka. Apa alasan lo nerima gue?'' Sebelum menjawab, Ardian melayangkan pertanyaan itu pada Nanda.
Nanda diam, pertanyaan Ardian itu simpel untuk di jawab, namun membutuhkan jawaban yang sesungguhnya, buka hanya asal menjawab saja.
Mereka berdua sama-sama diam.
''Lo butuh jawaban yang sebenarnya?'' tanya Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh Ardian.
Nanda lebih dulu menghembuskan nafas nya kasar. ''Kalau gue bilang, gue terima lo karna gue kesepian. Apa lo mau?''
Deg...
Jawaban yang diluar dugaan ya mampu membuat jantung cowok itu berdetak tidak karuan.
__ADS_1
Hening.
Mereka berdua sama-sama diam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
‘’Gue bakalan terima, meskipun lo terima gue tanpa cinta.'' Jawaban yang Ardian begitu mantap dan tegas, ‘’karna gue yakin, cinta bakalan tumbuh seiring berjalanya waktu.''
Jleb...
Ucapan Ardian membuat Nanda tersenyum tipis.
''Apa yang buat lo suka sama gue?'' tanya Nanda lagi.
Mereka berdua sama-sama menatap kedepan, tanpa melihat satu sama lain.
''Lo itu unik,'' jawab Ardian santai, ''gue nggak pernah ketemu cewek kayak lo sebelumnya,'' terang Ardian seraya mengingat awal pertemuan mereka yaitu di lampu merah. ''Gue juga nggak punya alasan yang jelas, kenapa bisa gue langsung suka sama cewek yang lebih dulu sahabat gue temui. Mungkin ini yang dibilang, cinta nggak butuh alasan.''
''Lihat gue,'' perintah Nanda, sehingga Ardian menatap Nanda.
''Kalau misalnya gue nerima lo, dengan alasan gue kesepian dan butuh seseorang, apa lo mau?'' tanya Nanda menatap manik mata Ardian.
Ardian mengangguk mantap. ''Iya, gue mau.''
Drt...
Ponsel milik Ardian berdering, dia melihat nama yang terterah yaitu nama mamanya.
''Halo, ma,'' sapa Ardian setelah dia mengangkat Telfon dari mamanya.
''Ar, kamu dimana, nak?'' tanya Tari di ujung Telfon membuat Ardian diam sejenak.
''Ardian lagi di jalan trotoar, ma,'' jawab Ardian membuat Tari menaikkan alisnya di ujung Telfon, dia heran saja kenapa Ardian berada di jalan trotoar.
Buat apa coba anaknya kesana?
''Kamu ngapain kesana, Ar?'' tanya Tari. ''Kamu sama siapa di situ? Karna mama Telfon sahabat kamu, mereka semua lagi markas kalian, cuman kamu nggak ada. Makanya mama langsung Telfon kamu, mama khwatir. Karna sahabat kamu juga nggak tahu, kamu kemana,'' kata Tari yang nampak khawatir.
''Kamu siapa di sana, Ar?'' tanya Tari lagi, Nanda bisa mendengar setiap inci obrolan antara anak dan mama itu, Nanda bukan menguping, hanya saja suara Tari di ujung Telfon begitu jelas.
Ardian dan Nanda saling melirik satu sama lain, karna Tari bertanya Ardian sama siapa.
''Ar...Kamu kok ajak anak orang ketemuan di jalan trotoar? Kayak nggak punya uang aja, Ar. Mama sama papa ada, berapapun kamu minta, bakalan mama kasi untuk tempat yang layak untuk kalian ketemu,'' oceh Tari panjang kali lebar membuat Nanda tersenyum tipis.
Nanda tidak bisa menahan senyumanya mendengar mama Tari mengoceh panjang kali lebar.
''Udah bosan ketemuan di tempat estetik,'' balas Ardian pada Tari.
Sekarang Tari meminta video call, sehingga Ardian langsung mengalihkan panggilannya pada video call.
Sekarang Tari bisa melihat wajah tampan anaknya di layar ponselnya.
''Kalau kamu bosan ketemuan di tempat estetik. Yaudah kamu bawa aja Nanda kerumah, Ar. Pintu rumah mama terbuka lebar untuk pacara kamu,'' balas Tari lagi di sambungan video call itu.
Jleb...
Rasanya seperti kesetrum saja, saat Tari dengan lantang mengatakan pacar yang di dengar jelas oleh Nanda dan juga Ardian.
''Iya, Ma.'' Hanya kata itu saja yang mampu Ardian katakan.
‘’Hp kamu kasi ke Nanda dulu, Ar,'' pintah Tari, wanita itu memperbaiki duduknya diatas sofa empuk miliknya.
''Buat apa, Ma?'' tanya Ardian lagi.
''Mama mau ngomong. Masa sama calon menantu mama nggak ajak ngobrol,'' balas Tari , lebih dulu Ardian melirik Nanda kemudian Nanda mengangguk sebagai jawaban, karna dia sudah tahu dari tatapan Ardian, meminta persetujuan gadis itu.
''Ok.'' Ardian langsung menyerahkan ponselnya kepada Nanda, lalu gadis itu menatap layar ponsel Ardian, dia bisa melihat wajah wanita yang sangat gembira di layar ponsel milik Ardian.
Melihat mama Ardian bahagia membuat Nanda mengingat mamanya.
''Hai, Tan,'' sapa Nanda membuat Tari sangat bahagia.
''Nanda, kenapa mau di ajak ketemuan sama Ardian di jalan trotoar?'' Tari mulai mengoceh karna Ardian mengajak Nanda ketemuan di jalan trotoar. ''Padahal bisa aja kamu kerumah Mama. Ngobrol di rumah mama.''
Saat Nanda kerumah Ardian, Tari mengatakan pada Nanda untuk memanggilnya dengan sebutan 'Mama' mungkin gadis itu belum terbiasa, jadi Tari memakluminya saja.
Nanda tertawa, tawa yang membuat siapapun yang melihatnya akan jatuh dalam kedamaian tawa gadis itu. Termasuk Ardian, terpanah melihat nanda yang nampak bahagai mengobrol dengan mamanya.
__ADS_1
''Nggak apa-apa, Tan. Nanda juga suka kok ketemu di tempat seperti ini,'' balas Nanda membuat Tari mengangguk pasrah saja.
Sekitar sepuluh menit mengobrol dengan Tari di panggilan video call, akhirnya panggilan berakhir dengan Ardian yang mengambil ponselnya, dengan alasan sudah tengah malam, Ardian harus mengantar Nanda pulang.
''Gue yang antar lo pulang,'' kata Ardian seraya memasang helmnya.
''Nggak us—''
''Ini perintah mama buat gue, dia nyuruh gue antar lo balik,'' kata Ardian seraya naik keatas motornya.
Nanda bersedekap dadah, posisi gadis itu pas di depan motor milik Ardian, berdiri di depan motor Ardian sehingga matanya dengan Ardian kembali beradu.
‘’Gue nggak dengar tuh tante Tari ngomong kayak gitu, kalau dia nyuruh lo buat anterin gue balik,'' songong Nanda, karna dia mendengar jelas setiap ucapan Tari di panggilan. Namun Nanda tidak mendengar sama sekali dengan kalimat itu.
''Kalau lo nggak denger, telinga lo yang bermasalah,'' balas Ardian membuat Nanda memutar bola matanya malas.
Dia tidak ingin berdebat dengan Ardian, jadi Nanda lebih dulu mengirimkan pesan kepada pak Budi. Agar tidak menjemput dirinya karna dia akan pulang bersama dengan Ardian.
Setelah mengirimkan pesan kepada pak Budi, Nanda melangkah mengambil helm yang Ardian berikan padanya.
''Sini gue pasangin.'' Ardian langsung menyita helm di tangan Nanda, karna dia melihat gadis itu belepotan hanya ingin memasang helm saja.
‘’Nggak usah, gue bisa sendiri,'' tolak Nanda.
''Diam, nggak usah banyak protes!''
Jeleb...
Nanda langsung mematung, bagaimana tidak jika Ardian mampu menghipnotisnya menggunakan suaranya itu.
Ardian langsung memasangkan Nanda Helm, lepas itu dia menyuruh gadis itu untuk naik, namun Nanda masih tidak bergeming di tempatnya.
''Buruan naik, katanya lo buru-buru mau pulang,'' kata Ardian lagi membuat Nanda langsung sadar, karna dia langsung mengingat mamanya.
''Gue megang pundak lo. Motor lo tinggi,'' lebih dulu Nanda meminta Izin dari cowok itu. Lalu dia naik keatas motor sport Ardian.
Nanda sudah naik keatas motor Ardian, seraya memegang pundak itu sebagai pelindung, jika dia tidak memegang pundak Ardian, dimana dia harus berlindung, jika tiba-tiba Ardian rem mendadak atau sebagainya?
Ardian memutar kepalanya sedikit, sehingga dia bisa melihat Nanda dan tangan gadis itu memegang erat pundaknya.
''Nggak usah minta persetujuan. Apapun itu, kalau lo yang minta gue bakalan iyakan, kalau lo mau peluk gue, boleh juga,'' kata Ardian, lalu cowok itu kembali menatap kedepan menyalakan mesin motornya lalu menjalankan motornya membelah malam.
Nanda tidak membalas ucapan Ardian, dia hanya tersenyum tipis saja. Naik motor bersama Ardian membuat Nanda mengingat Gerald.
Dalam hidupnya, baru kali ini Nanda sedekat ini dengan cowok, karna dia hanya dekat dengan Gerald saja.
Nanda tersenyum tipis, kala mengingat momenya pertama kali bertemu dengan Ardian. Sekuat apapun momenya dengan Ardian, tidak akan terkalahkan oleh momen yang sudah lama Nanda ciptakan bersama dengan Gerald.
Rald, maafin gue ya. Gue dekat sama cowok lain selain lo. Padahal kita pernah berdua pernah janji, nggak boleh dekat sama cowok lain, meskipun kita berdua nggak pacaran. Apa lagi sampai boncengan kayak gini. Rald, cepat bangun. Besok gue jengukin lo lagi. Semogah aja lo besok bangun.
Nanda memejamkan matanya kembali mengingat Gerald, tanpa terasa air mata gadis itu lolos di pelupuk matanya. Rald…Maafin gue ya. Gue ingkar janji gue ke lo
Nanda mengusap air matanya dengan kasar, itu semua dapat dilihat Ardian dari kaca spion motornya.
Untung saja Ardian membawa motor santai, sehingga tidak akan terjadi teriak-teriakan.
''Lo nangis?'' tanya Ardian, matanya fokus pada kaca spion melihat Nanda.
''Nggak,'' dengan cepat Nanda membalas, Nanda langsung membuang wajahnya ke samping, agar Ardian tidak melihat wajahnya di kaca spion.
‘’Nggak usah bohong, gue tahu kalau lo lagi nangis,‘’ kata Ardian lagi yang tidak di gubris oleh Nanda.
Nanda tidak tahu, jika kaca spion motor cowok itu fokus pada wajahnya, bukan pada jalan raya, membuat Nanda telah menyesal menangis di atas motor tanpa melihat arah kaca spion motor cowok itu.
Ardian hanya tersenyum dibalik helm fullfecnya itu.
Nanda setiap keluar memang jarang mengenakan motor, di rumahnya hanya ada mobil saja, tidak ada motor. Boy tidak suka menggunakan motor, sementara Nanda, gadis itu tidak tahu bawa motor.
Sehingga, saat Gerald mengajaknya kekuar, Gerald akan menggunakan motor, Gerald sangat jarang mengajaknya keluar meggunakan mobil, kecuali dalam kondisi terdesak.
Semenyenangkan itu naik motor di pikiran Nanda.
Ardian melirik kaca spion motornya. Sudah tidak ada wajah Nanda di dalam, karna gadis itu memalingkan wajahnya membuat Ardian tidak bisa menahan senyum.
Momen ini nggak akan gue lupain. Meskipun gue nggak bisa milikin lo, Na. Lo orang pertama yang buat gue bakalan kenang momen ini. Love You To.
__ADS_1