
SIAL!!!" Entah sudah keberapa kalinya Rafael melontarkan ucapan kasar itu dengan menggebu-gebu.
Sepanjang langkah menuju parkiran, cowok itu terus-terusan mengumpat. Rafael langsung memakai helm fullfec miliknya, memutar kunci motor lalu melenggang pergi dari parkiran sekolah.
Untung saja satpam yang menjaga di gerbang sedang berada di toilet, di tambah lagi gerbang lupa ia kunci, sehingga membuat Rafael dengan mudah keluar.
Rafael langsung melajukan motor sport miliknya menuju bandara, setelah berperang dengan pikirannya cukup lama, akhirnya cowok itu memutuskan menuju bandara menyusul Salsa.
Rafael tidak munafik, di lubuk hatinya yang paling keras, dia berharap pesawat yang mengantar Salsa belum Take Off.
Rafael melajukan motornya seperti orang kesetanan, dia menerobos lampu lalu lintas yang berubah warna menjadi merah, membuat pengendara lain mengumpat pengendara berseregam SMA itu.
Rafael tidak peduli umpatan itu, tujuannya sekarang bandara sebelum pesawat yang Salsa tumpangi lepas landas.
Mata yang selalu menatap sinis orang-orang itu, kini menatap fokus jalan di depannya, menikung berbagai motor dan mobil yang menghalangi jalanya, ingin sekali Rafael mengumpati dirinya sendiri.
"BERANI LO NGUSIK HIDUP GUE! DAN LO MAIN PERGI GITU AJA!" teriak cowok itu dengan suara keras, untung saja suaranya yang keras itu di tenggelam 'kan oleh angin.
Rasa-rasanya perjalanan Rafael menuju bandara begitu lama, padahal motornya sudah melewati angka seratus.
Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya motor cowok itu sudah sampai di bandara, Rafael menyimpan helm mahalnya diatas motor, lalu berlari masuk bandara.
Mata cowok berseragam SMA itu menatap sekelilingnya, mencari sosok gadis yang berhasil membuatnya merutuki dirinya sendiri.
Rafael frustasi, mencari gadis yang ia cari. Air wajahnya makin memerah, dia merasa sedang di permainkan oleh makhluk yang selama ini ia hindari.
"ACCA!!! KELUAR LO!!"
Suara milik Rafael yang begitu keras membuat seluruh pasang mata menatap cowok itu dengan tatapan tanda tanya, Satpam datang tertatih-tatih menghampiri anak berseragam SMA itu.
Satpam berwajah garang itu menatap Rafael dengan mata memicing.
"Disini buka tempat cari musuh!" bentak satpam itu pada Rafael membuat Cowok itu berdecih.
"Keluar atau saya seret kamu dari sini!" ancam satpam itu lagi.
"Kalau lo berani ngusir gue!" bentak Rafael membuat satpam itu makin geram.
"Tidak punya sopan santun kamu, sama orang tua! Kamu pikir bandara ini milik nenek moyang kamu!" seloroh pak satpam.
__ADS_1
Rafael mengatur nafasnya lebih dulu, dia tahu jika ia yang salah karna beteriak di bandara mencari Salsa.
Dia harus mengontrol emosinya, lalu menatap satpam itu. "Penerbangan menuju Jepang." Rafael mengatur nafasnya lebih dulu, sebelum melanjutkan ucapannya. "Saya kesini mencari.... " Rafael menggantung ucapannya, dia tidak tahu harus mengatakan jika ia sedang mencari sahabatnya atau orang yang mencintainya?
Satpam itu menunggu lanjutan ucapan Rafael. Dia penasaran dengan anak berseragam SMA itu datang langsung beteriak keras.
Rafael memejamkan matanya, "tunangan saya kabur ke Jepang."
Satpam itu terdiam, lalu beberapa detik ia tersenyum penuh arti. Sekarang ia tahu kenapa anak SMA tempramen itu emosi dan berteriak di bandara.
Rafael menaikkan alisnya sebelah, melihat satpam itu.
"Saya tahu, kenapa dia kabur dari laki-laki pemarah seperti mu."
Rafael berdecih, "jangan sok tahu. Katakan pesawat menuju Jepang belum Take Off 'kan?"
Satpam itu menepuk-nepuk pundak Rafael sok akrab.
"Kamu lambat, penerbangan menuju Jepang sudah Take Off 30 menit yang lalu."
Deg...
Satpam itu berlalu pergi meninggalkan Rafael, setelah dia memberikan ancaman pada cowok untuk tidak berteriak lagi, karna sangat mengganggu.
"Kita nggak salah dengar 'kan, kalau lo ngakuin Salsa tunangan lo yang lagi kabur ke Jepang?"
Deg....
Jantung Rafael semakin menggila, dia kenal suara ini. Suara ini adalah suara milik sahabat Salsa.
Itu berarti, sahabat Salsa sedari tadi di belakang, dan mereka mendengar apa yang ia katakan pada satpam.
Rafael membalikkan tubuhnya, ia melihat tiga gadis berseragam yang sama dengannya. Ia pikir, Salsa ada di sana, namun tebakanya salah.
Rafael menatap ketiga gadis itu bergantian, jarak mereka tidak terlalu, jauh namun masih bisa mendengar ucapan mereka satu sama lain.
"Salsa mana?" tanya Rafael to the point.
Puri mengangkat bahunya acuh, "lo nggak dengar jelas apa kata satpam tadi? Apa perlu kita ulangin ucapan satpam tadi?"
__ADS_1
"Gue nggak percaya kalau Salsa udah pergi. Gue tanya sekali lagi, Salsa mana!" suara Rafael naik beberapa oktaf, karna kesabaran cowok itu setipis tisu.
Cika bersedekap dadah, menatap Rafael dengan tatapan tajam, "mau ngapain lagi lo nyari Salsa? Mau nyakitin dia lagi pake kata-kata sadis lo itu?"
Rafael tidak mengelak dengan pernyataan yang diberikan Salsa. Niat dia baik untuk kali ini.
Lalu mata Rafael menatap Pute, karna sedari tadi gadis itu hanya diam saja. Pute melihat Rafael menatap nya dengan tatapan menuntut jawaban, karna Pute saja yang positif vibes kali ini.
Pute tersenyum kearah Rafael, "lo nyari Salsa 'kan?"
Rafael reflek mengangguk, sementara kedua sahabat gadis itu langsung menatap Pute.
"Salsa lagi... "
"Puttttt!" tegur Cika dan Puri bersamaan membuat Pute terkekeh.
"Kalian minggir gih!" perintah Pute membuat gadis itu mendengus, lalu kedua gadis itu bergeser sehingga menampakkan sosok gadis yang tadinya terhalang punggung sahabatnya.
Deg...
Rafael merasa di permainkan, saat melihat Salsa masih ada di sini. Antara ingin mengamuk dan bernafas legah, karna gadis itu masih ada di sini.
"Emang boleh se-suprise ini!" celetuk Puri membuat Pute terkekeh.
"Kita tinggal dulu, Sal." Pute langsung menarik tangan Puri dan Cika, agar menjauhi Rafael.
Cika dan Puri sempat menolak meninggalkan Salsa dan Rafael di sana, ia khawatir jika cowok itu kembali berulah di detik-detik Salsa ingin pergi.
Namun Pute memastikan jika Rafael tidak akan melakukan hal itu, entah kesimpulan dari mana yang Pute dapatkan itu. Dengan berat hati Puri dan Cika di tarik oleh Pute.
Salsa masih diam di tempat, menundukkan kepalanya dengan tangan bergetar hebat.
Salsa susah menjelaskan perasaanya saat ini. Apa yang ia rasakan sangat sulit untuk ia utarakan, dia seperti mimpi di kondisi ini.
Rafael melangkah maju mendekati Salsa, langkah kaki cowok itu terdengar jelas di indra pendengaran Salsa, jika Rafael semakin mendekati nya.
Rafael sudah di depan Salsa, gadis itu masih setia tertunduk, seakan-akan lantai dibawa sana lebih nyaman ia pandang.
Rafael mencengkram dagu Salsa lembut, sehingga mata mereka bertemu.
__ADS_1
"Lo bohongin gue."