ARDIAN

ARDIAN
Kita di jodohin


__ADS_3

"Marah-marah mulu. Yuk ke kelas!" Pute langsung menarik tangan Cika dan Puri dari parkiran.


Mereka bertiga berjalan santai, padahl bel jam pelajaran sudah bunyi. Banyak pasang mata menatap gadis itu dengan tatapan takjub.


Di sekolah ini, mereka memang di kenal, dari adik kelas mereka hingga kakak kelas. Satu geng mereka cantik-cantik semua, di tambah lagi dengan kehadiran Nanda.


Berita mengenai pertengkaran antara mereka bersahabat sudah tersebar luas, jika mereka sudah tidak sama lagi dengan Kesya.


"Perasaan ini udah jam masuk, kok masih berkeliaran di luar kelas," kata Pute seraya melirik jam di pergelangan tangannya.


"Palingan guru-guru pada rapat," jawab Puri.


Sekali-kali mereka membalas sapaan dari adik kelas mereka, saat berpapasan di Koridor.


Mereka bertiga berjalan di Koridor menuju kelas, dengan posisi Pute berada di tengah.


"Gue denger-denger pensi batal ya?" tanya Pute dengan lesuh, acara itu setahun sekali namun mengapa tahun ini batal? Sangat di sayangkan. "Padahal OSIS udah nyiapin semuanya dua bulan yang lalu. Kok main batal aja."


"Nggak ada ketua OSIS, mana bisa berjalan mulus," timpal Cika santai, "tahun lalu pensi berjalan mulus karna ketua beserta jajarannya OSIS. Guru-guru mana mau terjun buat kegiatan pensi? Mereka semua cuman serahkan semuanya pada OSIS."


Puri mengangguk mengiyakan ucapan Cika, "bener tuh kata Cika. Semenjak Gerald koma, guru-guru nggak ada yang ngurus acara pensi. OSIS lainnya juga pada malas gerak."


"Bukan malas gerak. Mereka cuman bingung mau mulai dari mana. Kalian tau sendiri, kan. Otak yang jalanin kegiatan sekolah ini otak siapa?" kata Cika lagi.


Gadis itu sudah sampai di depan pintu kelas.


"Kalau Gerald nggak cepet pulih, bisa stuck anak-anak OSIS lainya," kata Puri.


Mereka bertiga langsung masuk kedalam kelas, mendudukkan bokongnya diatas kursi. Hanya mereka bertiga saja di dalam kelas, sementara murid lainya masih berada di luar kelas.


"Ini ketua kelas mana sih, nggak nyuruh teman kelas nya pada masuk!" dumel Puri.


"Pulang sekolah nanti, kita jadi 'kan, jengukin Nanda?" tanya Pute seraya menyalakan ponselnya.


"Jadi dong, gue kasihan sama tuh anak. Akhir-akhir ini dia sakit. Mana nggak bilang-bilang lagi. Sebenarnya tuh anak anggap kita sahabatnya nggak sih?" tanya Puri bingung, pasalnya Nanda sangat tertutup.

__ADS_1


Sampai-sampai ia sakit, salah satu dari mereka tidak ada yang tahu.


Pute duduk bersebelahan dengan Pute, sehingga Puri memutar tubuhnya kedepan agar bisa menghadap kedua sahabatnya.


"Kita harus ngertiin dia. Lo nggak lupa 'kan, masalah yang dia hadapi itu lumayan rumit. Mulai dari papa nya yang nikah diam-diam, Nanda juga saudara sama Kesya, di tambah lagi mereka musuhan. Lebih tepatnya lagi Kesya yang ngibarin bendera perang," kata Pute bijak, tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel miliknya.


Sementara Cika sibuk membaca bukunya, namun telinganya mendengar seksama obrolan sahabatnya.


Puri bertopang dagu, "masalah tuh anak makin sulit. Pantas aja akhir-akhir ini dia jarang masuk. Apa lagi masalah Gerald, mereka udah sahabatan dari orok. Jadi wajar juga kalau Nanda tertekan sama masalah yang dia hadapi sekarang."


Pute menatap Puri, "nah, itu lo tahu."


"Puri, lo di cariin sama Ethan!"


Suara milik Saga ketua ketua kelas. Ketiga gadis itu menatap Saga.


"Ngapain dia nyariin gue?" tanya Puri dengan air wajah penasaran.


Buat apa coba Ethan mencari nya?


"Gue temuin Ethan dulu," pamit Puri kepada kedua sahabatnya.


Ia melangkah kan, kakinya keluar kelas.


Cika melirik Pute, dari ekor matanya dia melihat gadis itu sedang meng scroll ig. Tidak seperti biasanya, jika jam kosong seperti ini ponsel gadis itu akan miring. "Tumben lo nggak nge-game," celetuk Cika.


"Nggak tau nih, Leo nggak on sama sekali. Gue malas mabar sama yang lain," ucap Pute.


Cika diam sejenak, sekarang ia tahu. Kenapa Leo tidak on. Karna di parkiran tadi ia melihat cowok itu bersama Nita.


"Lagi sibuk kali," ucap Cika basa basi.


Gadis itu menyimpan buku nya diatas meja. "Gue mau nanya serius sama lo."


"Apa?"

__ADS_1


"Lo beneran suka sama Leo?" tanya Cika.


Pute terkekeh, "lo napa nanya hal yang udah lo tau jawabannya, Ci? Udah jelas kalau gue suka Leo. Bukan sekedar teman mabar doang."


***


"Sebenernya mau ngomong apa sih, Nit?" tanya Leo, karna mereka sudah berada di rooftop. "Udah sepuluh menit kita di sini, tapi lo malah diam."


Kemarin Nita menunggu Leo di rooftop sepulang sekolah, namun cowok itu tidak datang.


"Soal kemarin gue minta maaf. Gue lupa," kata Leo. "Pulang sekolah kemarin gue ngantar Pute buat jalan-jalan. Jadi gue lupa kesini." Jujurnya.


Nita membalikkan tubuhnya, menatap Leo. Rambut cowok itu bersorak-sorai kesana kemari karna angin rooftop.


"Jujur, Nit. Gue penasaran lo mau ngomong apa," kata Leo lagi, karna Nita hanya menatap nya.


"Kerja sama." Ada jeda jeda di ucapan Nita. "Antara gue sama lo," lanjutnya membuat Leo tersenyum, membuat cowok itu makin menawan.


Pantas saja banyak betina menyukai Leo.


"Lo mau ngajakin gue kerja sama, dengan deketin lo sama Gerald?" Leo menggeleng kan kepala nya pelan. "Gue nggak masalah kalau lo nyuru gue buat bantu lo deket sama sahabat gue," lanjut Leo dengan santai. "Tapi sekarang, lo harus berpikir. Bukan waktunya buat itu. Lo nggak tahu, Gerald sedang berjuang antara mati dan hidup."


"Gue rasa obrolan kita nggak bermutu. Gue pamit dulu, Nit. Ada banyak pesan cewek yang belum gue balas, terutama pesan Pute," ujarnya dengan senyuman memukau.


"Gue belum selesai ngomong sama lo. Jangan asal main pergi aja," tegur gadis itu. "Yang jelas, nggak ada urusannya sama Gerald."


Leo menaikkan alisnya sebelah, air wajannya berubah serius. Apa yang sebenernya yang ingin Nita katakan padanya.


"Langsung intinya, gue nggak suka dibuat penasaran," pintah Leo tanpa ingin berbasa-basi lagi. "Nit... Kalau lo nggak ngomong. Gue langsung pergi," ancam nya.


Ia dan Nita memang tidak akrab, ini pertama kalinya mereka mengobrol secara tertutup. Apa lagi, akhir-akhir Nita sering melamun. Bukan nya Leo memperhatikan gadis itu, hanya saja di setiap pelajaran dia selalu melamun di dalam kelas dan di tegur langsung oleh guru.


Nita memberanikan diri menatap Leo, sehingga tatapan kedua nya tekunci. Nita bisa menatap secara intens cowok yang terkenal playboy itu.


"Kita di jodohin, karna bisnis orang tua kita."

__ADS_1


Jlab..


__ADS_2