Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Obong - Jahat


__ADS_3

Satria Piningit tak bisa menghindari merasa egois dan tak pedulian karena kondisinya yang menguntungkan. Ia datang dari keluarga mbah Carik Darwen yang dihormati di desa sehingga hanya hal-hal baik yang ia dapatkan seperti perlakuan orang-orang tua dan anak-anak sebaya yang selalu baik dan welcome kepadanya.


Ia memperhatikan sekeliling dan mendadak merasa malu dengan perilaku orang-orang desa ini. Ia merasa perlu menanyakan kebenaran berita dari orang-orang kampung tersebut langsung kepada Wong Ayu mengenai bahwa apakah benar adanya warga mengusir ia dan keluarganya dari desa Obong.


Ayah Wong Ayu mengenakan baju kaus putih yang melekat ke tubuhnya karena basah oleh peluh. Rambutnya yang panjang menyembul keluar dari iket batik di kepalanya. Wajahnya, meski ditutupi oleh tumbuhnya kumis dan jenggot yang cukup liar malah sama sekali tidak menunjukkan kegarangan di air mukanya. Sebaliknya ada kesan keramahan dan, sedikit kesedihan di sana. Ia tersenyum, "Nak Satria. Wong Ayu sedang di dalam, beres-beres. Masuk saja, nak," ujarnya ketika melihat kedatangan Satria Piningit yang berdiri di depan pintu rumah mereka.


Satria Piningit mengangguk dan membalas senyuman sang tuan rumah. Sang ayah rupa-rupanya telah mengetahui dan mengenal Satria Piningit cukup baik. Itu mungkin sekali karena tak banyak orang, termasuk teman Wong Ayu dari desa ini yang berteman dengan keluarga tersebut.


Tanpa sungkan, Satria Piningit masuk ke dalam rumah serta membuka tirai kamar tengah. Wong Ayu melihat ke arah Satria Piningit yang baru datang. Berbeda dengan sang ayah, Wong Ayu tidak tersenyum menyambut Satria Piningit. Sedangkan sang ibu, seorang perempuan Bali yang membuat Satria Piningit paham darimana kecantikan Wong Ayu berasal, terlihat sedang membungkus kardus-kardus. Sama seperti suaminya, ia terlihat ramah dengan tersenyum ke arah Satria Piningit dan berdiri, "Ada nak Satria rupanya. Ibu tinggal dulu bersama Wong Ayu, ya nak. Ibu mau bantu bapak di depan. Maaf berantakan sekali, namanya juga mau pindahan," katanya sembari pergi meninggalkan Satria Piningit dan Wong Ayu berdua.


"Maaf mengganggu, bu," kata Satria Piningit kepada sang ibu. Ibu Wong Ayu kembali tersenyum.


"Kenapa kamu harus pergi?" kata Satria Piningit cemas tanpa basa-basi lagi sejenak setelah ibu Wong Ayu meninggalkan mereka berdua.


"Mengapa kamu kemari? Apa kamu tak melihat berapa banyak warga desa yang mengerubuti rumah ini seperti semut?" tanya Wong Ayu. Nadanya dasar, cenderung menahan gumpalan amarah di dalam sana.

__ADS_1


"Mereka tidak seperti semut di mataku, lebih seperti orang-orang yang menonton layar tancap," jawab Satria Piningit.


"Atau pergelaran wayang," balas Wong Ayu.


Keduanya saling berpandangan beberapa saat, kemudian tertawa. Keras sekali. Seakan meledakkan segala hal yang ada di dalam pikiran mereka.


Bapak dan ibu Wong Ayu membuka tirai dan masuk dengan cepat seakan terkejut dengan apa yang sedang terjadi di dalam.


Namun, sesampaianya di ruangan yang terpisah oleh tirai itu, keduanya menggelengkan kepala dan tersenyum ke arah kedua anak remaja tanggung yang masih tertawa terpingkal-pingkal itu. Keduanya pun kembali meninggalkan pasangan sahabat berdua itu.


Di sudut sana Satria Pianingit bersumpah melihat sepasang mata lebar Wong Ayu berkaca-kaca. Sebelumnya, ia tak pernah melihat Wong Ayu seemosional ini, bahkan ketika ia berkata bahwa ia melihat hantu dan gendruwo sekalipun. Wong Ayu setahu Satria Piningit dalam pertemanan mereka yang belum terlalu lama ini adalah seorang anak perempuan yang tenang. Namun, Wong Ayu sama sekali berbeda hari ini.


"Aku tahu itu semua tidak benar. Mengapa kalian harus mendengarkan orang-orang itu. Aku pikir tidak semua warga desa Obong punya pikiran sejahat itu," protes Satria Piningit.


Wong Ayu menatap tajam ke arah teman laki-lakinya itu, tetapi bukan berupa pandangan marah atau benci, melainkan tatapan prihatin dan mengandung secercah kesedihan di sana. "Kamu memang masih polos, Satria. Kamu hanya melihat hal-hal yang baik di dalam setiap hal dan di dalam setiap orang. Itu juga sebabnya kamu mau berteman denganku ketika semua orang menganggap bahwa aku adalah anak perempuan kecil penyihir, anak tukang teluh dan dukun ilmu hitam. Nanti, kalau kamu sudah berani membuka pikiran untuk melihat keburukan-keburukan di dunia, maka hatimu juga akan terbuka dan memperlihatkan semuanya."

__ADS_1


Satria Piningit mendadak teringat bahwa ucapan ini serupa dengan yang sempat Priyam katakan kepadanya dulu. Ia tak tahu benar apa maksud dan maknanya.


"Apa sih maksudmu, Wong Ayu? Priyam juga mengatakan aku harus membuka pikiran. Membuka untuk apa dan tentang apa?" tanya Satria Piningit tak sabaran.


"Bahwa orang-orang desa ini munafik, bahwa merekalah yang sebenarnya penuh dengan tipu daya," jawab Wong Ayu masih menahan amarah.


"Aku tahu, aku tahu. Mereka juga membuatku kesal dengan semua hal yang sudah dilakukan kepadamu," ujarku menyetujui.


Namun Wong Ayu menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak, Satria Piningit, kamu tidak tahu. Itu karena kamu belum membuka pikiranmu seutuhnya."


Satria Piningit kehilangan kata seperti seorang tentara kehabisan amunisi. Ia bersenjata tapi tak bisa menembak, ia memiliki banyak hal di dalam kepalanya untuk diungkapkan kepada Wong Ayu bahwa tidak semua orang desa jahat. Ia bahkan belum pernah mengetahui sama sekali warga desa Obong yang berciri seperti itu, apalagi sampai anggapan mempraktekkan ilmu sihir segala seperti yang Priyam dan Wong Ayu katakan. Namun, Satria Piningit diam saja karena toh ia juga tak bisa mengungkapkannya.


Meskipun ia masih belum bisa percaya dengan apa yang dianggapkan Wong Ayu mengenai warga desa ini, yang jelas ia gagal menghalangi kepergian Wong Ayu. Ia tak punya kekuatan atas hal ini, ia tak bisa mengubahnya.


Satria Piningit melihat bagian belakang truk yang membawa perabotan dan barang-barang Wong Ayu dan keluarganya pergi meninggalkan debu sampai hilang di belokan jalan keluar desa. Orang-orang yang berkumpul di luar rumah Wong Ayu mulai perlahan bubar. Beberapa orang terlihat seperti lega, beberapa lagi seakan kecewa karena film atau pertunjukan wayang yang mereka tonton telah usai. Hiburan berhenti, penonton kecewa. Satria Piningit patah hati. Itulah pertemuan terakhirnya dengan Wong Ayu.

__ADS_1


Sejak hari itu, sejak detik itu, Satria Piningit menyadari ada segumpal rasa amarah yang ditujukan kepada desa ini beserta warganya, yang diam-diam tumbuh dan tersirami dengan subur. Ia tak bisa menjelaskan alasan perasaan amarah itu dengan gamblang, namun rasa itu itu terus tertuang dan mengalir perlahan namun pasti memenuhi rongga dadanya.


__ADS_2