Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Duapuluh Satu


__ADS_3

Irawan memegangi telinga kanannya. Darah mengalir dari sela-sela jemarinya di tempat dimana tadi seharusnya telinga itu berada; telinganya hilang digigit salah satu mayat hidup yang menyerangnya. Handoko sudah tewas dengan wajah hancur tak dapat dikenali lagi. Marwan tak sadarkan diri, ia dilindungi Lutfi yang tiga jari kirinya patah. Hanya Pakde Narto yang masih prima. Entah sudah berapa banyak mayat hidup yang ia penggal dan hancurkan kepalanya. Tapi itu semua belum cukup. Pakde Narto tak mungkin menyelamatkan mereka semua yang kini terdesak ke pepohonan di seberang kompleks kuburan itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sosok perempuan yang pernah dilihat Pakde Narto di sungai Pratama tengah malam beberapa waktu yang lalu, kini muncul menyeruak dari belakang mayat-mayat hidup yang tiba-tiba berhenti dan tak menyerang mereka lagi. Rupa-rupanya kehadiran sang perempuan paruh baya ini seakan sebagai sebuah perintah agar mereka berhenti. Kemunculan agung sang sosok seakan menghentikan waktu pula.


Pakde Narto mencium bau busuk itu lagi.


Irawan dan Lutfi yang masih sadar merasakan tubuh mereka bergetar hebat. Tidak hanya karena rasa takut yang luar biasa, tapi juga kelelahan dan kesakitan yang menyerang otot serta tulang belulang mereka. Udara menjadi serasa terbakar, langit gelap tanpa retakan sedikitpun seperti ditutupi kelambu raksasa dalam kelam.


Sang perempuan iblis itu sekarang terlihat jelas dalam gelap malam, seperti ada kekuatan gaib yang menyinarinya. Rambutnya panjang menggapai tanah, dengan hiasan bebungaan di kepalanya. Pinggang dan perutnya terbelit kain selendang yang sisanya berlapis-lapis menutupi bagian bawah tubuhnya, sedangkan dadanya telanjang, menunjukkan sepasang tonjolan dada yang menggantung panjang. Kalung dengan hiasan gigi dan pecahan tengkorak manusia membebat lehernya.


Ia menatap Pakde Narto dengan sepasang matanya yang membakar, kemudian tersenyum, menunjukkan deretan gigi yang menghitam. Darah kental keluar melalui sela-sela giginya dan menetes ke lehernya. Pakde Narto merasakan tubuhnya meregang, buku kuduknya meremang ngeri.


"Narto, anakku," sapa sang perempuan.


Suaranya lembut namun membekukan darah. Membuat siapapun yang mendengarnya akan merasakan lututnya melemas, detak jantung menjadi cepat, dan darah berdesir berlomba-lomba menyerang otak.


"Kau menguasai ajian brajamusti rupanya. Bagaimana bila kutambahkan ilmu kanuraganmu itu sampai taraf tertinggi? Kau tidak sekadar bisa menghancurkan kepala-kepala tak berharga ini, bukit pun bisa kau bobol," suara sosok itu menembus otak Pakde Narto.

__ADS_1


"Perempuan jahanam, iblis laknat, penghuni kerak neraka! Jangan coba goda aku dengan bujukan murahanmu itu. Kepalamulah yang akan kuhancurkan dengan brajamustiku," balas Pakde Narto dengan suara keras.


Sang sosok dapat membaca pikiran Pakde Narto, bahkan jauh lebih dalam ke perasaannya. Pakde Narto sadar bahwa hidupnya dan pemuda-pemuda yang bersamanya sekarang sedang di ujung tanduk. Rasa takut yang menggumpal di ujung jiwanya sengaja dipaksa tunduk oleh nyali yang dipaksakan.


Sosok mengerikan itu nyatanya mampu membacanya dengan gamblang sehingga ia tertawa, melengking.


"Anakku, Narto. Maafkan kelancanganku. Aku baru sadar, bukan ilmu yang kau inginkan. Bagaimana bila aku berikan kau perempuan?" ujar sang sosok dengan pandangan mata selidik, penuh goda dan misteri.


Tak lama, sosok perempuan paruh baya yang mengerikan itu perlahan berubah menjadi sosok yang sama sekali lain, seorang gadis muda.


Pakde Narto mencelos.


kecil.


Pakde Narto menelan ludah, jakunnya naik turun, keringat membasahi wajah, memedihkan matanya. Sosok itu benar-benar dapat masuk ke pikirannya dan membuka semua yang tersimpan di lubuk hati terdalam dan tergelapnya. Ia ingin sekali menyibak kain di pangkal paha sang sosok tersebut untuk melihat ada apa di baliknya.


"Kau tidak hanya bisa memiliki istri muda keempat, aku bisa menyediakan yang lebih dari itu," sosok itu kini berbicara dalam tubuh seorang gadis yang luar biasa memesonakan Pakde Narto. "Kau hanya perlu


menyerahkan desa ini. Berikan pemuda-pemuda itu. Berikan warga desa ini. Lupakan ketiga istrimu, kau akan berdiri di sampingku dan katakan saja kuat-kuat apa maumu, aku pasti berikan," sang gadis masih menggodanya.

__ADS_1


Suara itu begitu lembut, begitu sesuai dengan apa yang ada di dalam otak kotor Pakde Narto. Sang guru silat itu juga sempat membayangkan bunyi ******* dan jeritan sang gadis ketika tubuhnya melesak dalam-dalam ke tubuh mungil itu.


"Pakde ..., pakde ..., jangan lengah. Pakde tahu iblis perempuan ini sedang menggoda pakde, ‘kan? Jangan sampai terjebak. Nyawa seluruh desa ini menjadi taruhannya," Irawan yang awalnya paling penakut, kini yang berusaha menyadarkan Pakde Narto setelah melihat pemandangan gaib di depannya tersebut.


Sang sosok berwujud gadis muda itu tertawa, "Sudah terlambat, Narto, anakku. Desa ini sudah tak akan mampu kau selamatkan. Selamatkanlah dirimu sendiri. Tawaranku ini tak akan bertahan selamanya."


Pakde Narto memandangi lekat-lekat seluruh tubuh gadis itu dengan berahi. Giginya bergemeretak, membuat Irawan menjadi khawatir dan ketakutan sang guru tergoda.


Pakde Narto melirik ke arah Irawan, menggeleng pelan, kemudian berseru kepada sang sosok yang kini menjadi seorang gadis cantik itu, "Sayang sekali kau adalah seorang iblis," katanya kemudian.


Pakde Narto berpaling ke arah Irawan dan Lutfi, "Pergi sekarang ke balai desa. Minta semua warga untuk pergi dari Kaliabang. Bawa senjata tajam. Potong kepala setiap mayat hidup yang mengejar kalian seperti perintahku tadi,"


ujarnya.


Pakde Narto kemudian mengambil satu kepala mayat hidup yang tergeletak di tanah dan memberikannya kepada Irawan, "Bawa ini sebagai bukti tentang apa yang kalian hadapi."


Irawan bertatapan dengan Lutfi kemudian mengambil potongan kepala yang diberikan Pakde Narto. Tanpa menunggu lagi, Irawan berlari sekencang-kencangnya diikuti Lutfi ke dalam kegelapan. Sang pemuda sudah tenang Pakde Narto mampu melawan gairahnya sendiri. Bukan main-main godaan yang ditawarkan sang iblis betina tersebut.


Di sisi yang berlawanan, sosok iblis perempuan purba dalam tubuh seorang gadis muda tanpa busana yang menutupi dadanya memandang Pakde Narto dengan amarah. Tokek dan cicak di pohon dan di dinding tembok pagar kuburan berjatuhan mati. Ular beludak tiba-tiba muncul beserta rombongan tikus tanah, kalajengking, kecoa dan kodok. Bau busuk mengambang di udara. Tubuh gadis muda sang iblis mengendur dan berubah reyot menjadi sedia kala. Mayat-mayat hidup kembali bergerak mendekati Pakde Narto. Bahkan jasad Handoko yang wajahnya telah hancur perlahan berdiri dan pergi ke arah Pakde Narto bersama kerumunan mayat hidup lainnya.

__ADS_1


__ADS_2