Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Tujuh


__ADS_3

“Maryam adalah istri anak laki-laki paling bungsu Carik Darwen. Ia adalah tuanku sang pemilik rumah. Nama anak laki-lakinya itu adalah Jati. Maka Maryam dan Jati adalah sepasang suami istri. Mereka tinggal di bangunan rumah ketiga di kompleks rumah Carik Darwen yang memang besar ini.


“Awalnya aku berusaha tidak terlalu ambil pusing dengan perasaan ini. Apalagi Maryam tidak benar-benar pernah memperhatikanku. Setiap berpapasan, wajahnya memang menyunggingkan senyum, tapi aku yakin senyum itu memang adalah bagian dari air mukanya yang menawan itu, bukannya khusus ditujukan buatku.


“Hal inilah yang membuat lidahku selalu kelu. Layaknya tak mengenal bahasa manusia aku bahkan tak mau mencoba membuka mulut untuk menyapa, takut-takut malah geraman yang keluar dari kerongkonganku bukannya kata-kata dan kalimat. Diam-diam dan lama-lama aku sadar bahwa ada sesuatu yang tumbuh di dalam jiwaku. Itu adalah rasa cinta yang bersemi di hatiku, membesar bagai penyakit manusia yang disebut tumor. Kadang aku bahkan tak kuasa menahan gejolak itu lagi, seperti mau meledak dan menghancurkan tubuhku ini saja rasanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Sudah lima tahun, atau lebih (entahlah, aku tak pernah pandai dalam menghitung waktu), sejak pertama aku melihat Maryam. Ia tak berubah sama sekali. Jati belum dapat memberikannya anak dan waktu seperti berhenti berputar karena kerutan yang biasa terjadi pada manusia normal tak pernah hinggap di wajah ayunya. Tapi perlakuan Maryam kepadaku perlahan berubah sampai berubah sama sekali. Tak ada lagi semburat senyum di wajahnya. Pertama terlihat rasa risih, kemudian rasa takut. Padahal aku sudah berusaha sesopan mungkin ketika berpapasan dengannya. Atau mungkin memang aku mengerikan di matanya?


“Lama kelamaan aku mulai menyadari ini semua karena kami belum saling mengenal dengan baik. Rasa cinta yang bersemi dalam dadaku ini memerlukan panggung agar dapat ia lihat. Memang cinta ini terlarang. Aku harus sadar siapa aku di dalam keluarga dan rumah ini, apa pekerjaan dan tanggung jawabku. Aku juga paham bahwa Maryam adalah istri sah Jati, anak bungsu Darwen. Tapi aku perlu membuatnya tahu. Aku tak mau rasa ini melecut hatiku sesuka hati sendirian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“’Apa yang ada di pikiranmu sebenarnya? Maryam, menantuku, mulai risih dengan segala tindak tandukmu. Harusnya kau pandai-pandai menyimpan mukamu itu,’ ujar Darwen kepadaku suatu hari. Ia sudah cukup berumur, walau hampir tak terlihat usia aslinya.


“Tubuhnya masih cukup berisi dan tegap. Rambut putihnya seakan berusaha menutupi kejanggalan ketuaannya di usia ini yang mana tak terlihat kerutan yang berarti di wajahnya. Rupa-rupanya Darwen sudah mulai melihat gerak-gerikku yang aneh terhadap Maryam.


“’Apa maksudmu, Darwen?’ kataku mencoba berpura-pura tidak tahu.


“’Jangan kau bersandiwara lagi. Tak ada seorang anakkupun yang tahu orang macam apa bapakknya ini. Jadi tak perlu kau menambah-nambahi dan membuat semuanya runyam,’ katanya.

__ADS_1


“Terlihat sekali Darwen mulai kelelahan dengan hidupnya. Tubuhnya boleh menolak tua, namun jiwanya sudah keropos.


“’Maksudmu, aku harus meghilang jauh-jauh dari anak-anakmu?’


“’Ya! Tapi kau tahu yang kumaksud bukan itu. Maryam, menantuku, sudah sangat terganggu denganmu selama beberapa tahun terakhir ini. Aku minta jangan lagi kau berani-berani menampakkan batang hidungmu dengan cara apapun di depannya. Ia adalah istri anakku yang tentu saja sudah menjadi anakku sendiri.’


“Aku merasa tak perlu lagi menutupi ini semua dari tuanku ini, “’Aku jatuh cinta dengan Maryam, Darwen.’


“’Bangsat! Kau harus sadar bahwa kau ini siapa!’ Darwen meledak. Tak pernah selama ini aku melihatnya semarah ini.


“’Mengapa aku tak diperbolehkan mencinta, Darwen? Sebegitu hinakah keadaanku di hadapanmu? Apa karena aku sudah lama mengabdi pada keluargamu sehingga aku tak pantas mendapatkan perhatian seseorang apalagi cinta?’


“’Mahluk macam apa kau ini?! Bukan hanya tak tahu diri, kau juga dungu, keras kepala dan ...,’ Darwen kehabisan kata-kata.


“”Cukup, aku tidak mau bersengketa denganmu.’


“’Kenapa kau menghindar, Darwen? Bukankah benar apa yang kukatakan kepadamu?’


“’Aku bilang diam kau!’


“’Kenapa kau tidak pernah memanggilku dengan namaku?’

__ADS_1


“Darwen terdiam. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan, ‘Baiklah, jin penjaga. Kau memang tak bernama, tapi nenek moyangku memanggilmu Jin Obong! Aku pikir sudah saatnya kau disadarkan kembali pada tanggung jawab dan wewenangmu itu.’


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Aku memandang tubuhku yang besar dan tinggi sampai ke langit-langit rumah, kedua tangan dan hampir seluruh tubuh telanjangku yang dipenuhi bulu, serta cakar tajam di kelima jariku. Kedua bibirku juga merasakan taring-taring yang mencuat dari dalam mulutku. Perlahan aku berkata, “Berikanlah Maryam padaku, Darwen. Ia adalah hakku, seperti perjanjianku pada leluhurmu.”


“’Tidak. Tidak Jin Obong. Perjanjianmu tak pernah berlaku bagi orang lain, hanya bagiku dan keturunanku.’


“’Perjanjian itu meminta keturunanmu dihitung dari leluhurmu, atau seorang perempuan dari lingkaran kekeluargaanmu untuk dijadikan pendampingku.’


“’Tidak akan pernah Maryam.’


“’Ayolah, Darwen. Berikanlah Maryam kepadaku, dan akan kubebaskan perjanjian ini untuk selamanya. Kulihat kau sudah lelah bekerjasama denganku. Kekayaan yang telah aku berikan ini tak akan habis sampai tujuh turunan.’


“’Leluhurku sampai pada diriku sekarang sudah memeluk ilmu hitam. Aku pun memang tak terhindar dari kutukan itu. Aku tak mau mencari pembenaran atas dosa-dosaku selama ini. Tapi sudah cukup bagiku. Aku tak akan membawa-bawa keturunanku masuk ke neraka. Semua harus berhenti di sini,’ ujarnya menatap tajam mataku.


“Aku menggeleng, ‘Darwen, kau sadar dengan apa yang kau omongkan ini? Aku tak meminta banyak. Aku hanya minta Maryam dan kau serta anak-anakmu akan sehat walafiat.’


“’Tidak. Tidak ada yang sehat walafiat bila aku menyerahkan Maryam. Itu tindakan bejat. Aku minta kau ambil nyawaku sekarang dan pergi tinggalkan keluargaku selamanya,’ sepasang mata Darwen itu membakar tubuhku.


“Aku tahu niatnya sudah bulat. Tidak akan ada yang dapat mengubahnya. Selama ratusan tahun aku menjaga keluarga ini, aku hanya meminta agar dapat memiliki Maryam. Aku juga tak tahu mengapa rasa cinta yang dimiliki manusia itu bisa masuk ke dalam jiwaku. Mungkin aku terlalu lama berada di bawah kekuasaan keluarga Darwen. Aku juga ingin lepas dari rasa yang menyiksa ini. Bila tidak bisa mendapatkan Maryam, satu-satunya jalan yang paling mungkin adalah melepaskan ikatan perjanjian ini selamanya.

__ADS_1


“Aku menatap lagi kuku-kuku panjang dan tajam di ujung keselupuh jariku. Kuku-kuku hitam itu memanjang perlahan. Kulihat Darwen berdiri tegak. Ia menarik nafas, membusungkan dadanya dan menutup mata, “Lakukan Jin Obong, lakukanlah. Aku membebaskanmu.”


__ADS_2