Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Enampuluh Dua


__ADS_3

Dua puluh orang anggota satuan pasukan khusus anti teror dibawah komando Brigjen. Pol. Nursaidi Said sudah sampai di sisi lain Kampung Pendekar. Mereka menyebar perlahan dengan begitu tertata dan disiplin di balik rerimbunan pepohonan kelapa sawit.


Dua helikopter milik kepolisian dan tim SAR berputar-putar di angkasa, terbutakan oleh kabut yang berlapis-lapis melingkupi pandangan di bawahnya.


Brigjen. Pol. Nursaidi Said mendadak menyumpah serapah di dalam hati. Alat vision mereka tak bekerja sama sekali untuk melihat apapun, apalagi secara kasat mata. Praktis mereka buta bagai helikopter di atasnya. Bahkan sinyal komunikasi tak berlaku di sini, mereka tak bisa menghubungi anggota dan markas besar di seberang sana. Mereka paham kini mengapa anggota Polisi di pos daerah ini sudah lama tak bisa dihubungi.


"Bangsat! Tempat bedebah apa ini?" kutuk Brigjen. Pol. Nursaidi Said di dalam hati.


Kode tangan dan bisikan pelan adalah satu-satunya cara. Pasukan GEGANA, dan satuan khusus anti teror lainnya bekerja di seberang, sibuk mengurusi bagian jembatan tol yang sama sekali terputus serta korban-korbannya. Pasukannya terlepas sama sekali di sini. Tak ada perencanaan untuk kembali serta tak ada pembatalan misi. Ia mengangkat tangan kirinya, memberikan aba-aba kepada anak buahnya untuk merengsek maju.


Tanpa mereka sadaeri, belasan pemuda bersenjatakan bahan ledak buatan tangan, pistol dan senapan rakitan serta senjata api selundupan sudah menanti dua ratus meter di balik beberapa bangunan lama dan terbengkalai setelah perkebunan kelapa sawit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Affandi mencelat ringan tanpa terdengar, sedikit lebih gesit dibanding seekor bajing. Ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai kesempurnaan.


Celana jins dan kemeja lengan panjang hitamnya bahkan tak ternoda peluh barang sedikit pun. Tak perlu usaha besar meloncat dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa terlihat anggota satuan pasukan khusus anti teror yang mengendap-endap mendekat ke kematian mereka sendiri, bagai ikan berenang ke jebakan jala. Affandi menahan keinginannya untuk ikut dalam pembantaian anggota Polisi yang selalu menjadi antitesis kegiatan dan kehidupannya sebagai seorang preman dan kriminal dahulu.

__ADS_1


Affandi merasa dirinya yang baru serta misinya jauh lebih besar dari apapun. Ia sudah naik kasta, melompat kelas. Ia adalah tokoh penting dalam lakon ini, seorang karakter pemegang jalan cerita bukan sekedar kurir pesan.


Affandi kembali melenting dan menyelip di antara serat-serat dan bulir-bulir kabut, tidak mengacuhkan kumpulan pemuda yang siap menjamu para tamu bersenjata api yang datang tak diundang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bandi merasakan energi-energi asing berdatangan di daerah kekuasaannya. Mungkin orang-orang bodoh yang mencoba mengganggu keinginan dan rencananya. Mungkin orang-orang dungu dan sombong yang usil mencobai kehebatannya. Ia sungguh tak peduli karena semua telah direncanakan matang-matang, dan ia sudah mereguk kekuatan seperti yang diinginkannya. Namun, sampai satu energi itu, khusus yang satu itu, seperti begitu akrab sekaligus membahayakan.


Ia memandang ke arah sepuluh tengkorak yang ditempeli tanah dan cacing. Bandi mengangkat tangannya. Sepuluh jerangkong tersebut bergetar. Tanah dan cacing berjatuhan dari rongga-rongga kosong melompong di tubuh tulang belulang mereka.


Penduduk yang menyaksikan peristiwa ajaib dan gaib tersebut jatuh berlutut, terkesima, takjub bahkan terharu, bagai melihat penampakan dan keajaiban suci.


Ibu-ibu menangis tersedu-sedu. Bapak-bapak mencelos berbangga hati. Mereka melihat dengan dada membumbung penuh, menjadi saksi kebangkitan para pendiri desa, legenda dan sesepuh desa, peletak dasar falsafah kehidupan dan kebanggaan kampung ini.


Para warga menunduk-nunduk memberikan pakaian yang pantas bagi kesepuluh tengkorak yang telah menjadi manusia seutuhnya itu, berdiri berderet telanjang bulat dengan segala keagungan dan kesaktian mereka.


Seragam silat berwarna merah, hitam dan abu-abu, mewakili perguruan silat yang diwariskan kesepuluh sesepuh pendekar ini telah dikenakan. Para keturunan para pendekar yang memberikan pakaian tersebut dengan bergetar karena kagum dan tak menyangka mereka bertemu dengan kakek moyang mereka sendiri.

__ADS_1


Datuk Mayang Merah, pemilik ilmu silat kuno yang menguasai kelenturan tubuh sehingga sulit diserang musuh, memandang sekeliling. Wajahnya yang lembut menyembunyikan kehebatan ilmu kanuragannya.


Pak Sulung Hitam, Pak Tengah Kuning dan Pak Kecik Putih, saudara kembar tiga berwajah hampir tak dapat dibedakan sampai ke gaya rambut dan bentuk kumis, adalah pemilik ilmu cakar macan yang tersohor di masa lalu. Kesepuluh jari mereka dilatih sedemikian rupa sehingga menjadi sekuat kawat baja.


Datuk Rajawali Tua, sesuai namanya, adalah anggota tertua para pendekar. Rambut ubannya kembali utuh mencuat dari tengkorak kepalanya yang sudah berbentuk wajah itu, sama seperti masa kejayaannya dahulu. Kedua tangannya berwarna hitam, penuh racun mematikan, walau mimik wajahnya seperti menggantung senyuman ceria kekanak-kanakan.


Si Bajing Laut, pendekar pelaut bertubuh ramping yang hijrah dari Makassar, berdarah Bugis, bertahun-tahun menjadi perompak di laut dan perampok di darat, memiliki ajian yang membuatnya selincah tupai dan kera serta mampu mencelat ke udara bagai seekor katak.


Sepasang pendekar dari tanah Jawa bergelar Elang Timur dan Elang Barat, pemilik ilmu kebal dan dikabarkan mampu menghilang, adalah sisa-sisa prajurit Mataram yang enggan pulang setelah berhasil menundukkan Sukadana pada abad ketujuhbelas Masehi. Meski bukan kembar, hampir tak terlihat sama sekali perbedaan fisik keduanya: kumis tipis, wajah tirus, ekspresi dingin, namun mata yang menyimpan gelora nafsu membunuh.


Pendekar selanjutnya adalah seorang laki-laki Cina berambut panjang terurai, berwajah putih pucat, berbibir merah: membuatnya sangat kontras dengan warna kulitnya. Ia membuka mulut dan merasakan lidahnya sudah kembali utuh. Ia menjilati deketan giginya yang laksana diasah dan dikikir membentuk mata gergaji. Sudah dipastikan dalam keadaan hidup pun, lelaki Cina bernama Wan ini terlihat bagai hantu.


Nama Banteng Amuk terlalu pas untuk pendekar terakhir yang dibangkitkan Bandi dari kematian mereka ratusan tahun yang lalu. Tubuh kekar dan besarnya menjulang diantara yang lainnya. Otot-otot mencoba mendesak keluar dari pakaian silat yang ia baru saja kenakan. Jambang lebatnya mengamini kesangaran penampilannya. Dengan satu tangan saja, mudah baginya untuk meremukkan kepala seseorang semudah membuka kulit kacang tanah.


Bandi memandang kesepuluh pendekar legenda kampung ini. Sekarang mereka adalah pasukannya. Mereka adalah orang-orang mati yang kembali ke dunia setelah ratusan tahun bergelantungan di kerak neraka. Tonjolan sebesar kepala bayi menggelegak dan menyundul-nyundul kulitnya. Bandi tersenyum puas kemudian mengangkat salah satu tangannya.


Hantu segala jenis berteriak dan menggeram. Tubuh-tubuh gaib mereka berkelebatan di balik kabut kemudian menghujam masuk ke tubuh sepuluh jawara yang baru bangkit dari kematian. Tubuh mereka mengejang keras, terangkat ke udara sejengkal dari atas tanah.

__ADS_1


__ADS_2