
Ken Arok sudah merasa suatu hari dirinya akan menjadi seorang yang besar, disegani, dihormati bahkan ditakuti. Ia sudah malang melintang mengenyangkan dirinya dengan pengalaman dan mimpi. Merampok dan mambunuh adalah modal dasar untuk dapat menghadapi beragam syarat dan tantangan di depan sana.
Ambisinya akan kekuasaan puncak ini diperkuat dengan adanya pesona Ken Dedes. Perempuan itu dianugerahi kecantikan surgawi yang membuat birahinya meletup-letup. Suatu saat, dimana ia terpaksa harus bersujud ketika rombongan putri itu lewat, Ken Arok mengangkat kepalanya. Jarit Ken Dedes tersibak begitu lebar dari atas tandu. Ken Arok melihat keindahan yang luar biasa terpancar dari lekukan pangkal paha terus menerobos ke dalam.
Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, begitu kata pepatah yang searah dengan ucapan pendeta Lohgawe bahwa siapapun yang dapat menikahi Ken Dedes akan menjadi seorang raja besar. Namun, saat ini Ken Dedes adalah istri seorang akuwu bernama Tunggul Ametung dari sebuah daerah di bawah kekuasaan kerajaan Kadhiri, Tumapel.
Dasar Ken Arok yang adalah seorang perampok terkenal dan buronan kerajaan Kadhiri, sifat memaksakan kehendaknya ini digunakan untuk membuat rencana besar membunuh Tunggul Ametung dan menikahi Ken Dedes yang cantik jelita. Rencana besar yang tertata nantinya ini dimulai dengan keinginan Ken Arok membuat sebuah keris sebagai senjatanya. Ayah angkatnyalah yang bernama Bango Samparan yang menyarankan agar ia memesan keris kepada kawan karibnya yang bernama Mpu Gandring. Mpu ini adalah seorang pembuat keris yang ampuh di wilayah Lulumbang.
Keris buatan Mpu Gandring yang merupakan pesanan Ken Arok tersebut dibuat dari bahan logam dari langit, lintang kemukus yang jatuh ke bumi. Dengan kata lain keris itu dibuat dari logam yang terkandung dalam meteorit. Dengan kesaktian sang Mpu, logam meteorit tersebut tidak hanya ditempa menjadi sebuah keris yang indah, namun juga 'dimasukkan' segala macam kekuatan dan energi spiritual dan gaib.
Ken Arok meminta keris itu untuk diselesaikan dalam jangka waktu lima bulan, padahal sang Mpu membutuhkan waktu sampai setahun. Sifat tak sabaran dan keras kepala serta ambisius Ken Arok membuatnya menancapkan keris yang belum selesai dibuat itu ke tubuh sang mpu karena dianggap lalai mengerjakan tanggung jawabnya. Sebelum Mpu Gandring tewas, ia telah memberikan kutukan kepada Ken Arok, bahwa ia dan keturunannya akan tewas dengan cara yang sama, ditikam oleh keris buatannya.
Waktu berlalu, Ken Arok berhasil membunuh Tunggul Ametung, memperistri Ken Dedes dan menjadi raja di tanah Jawa dengan mengalahkan raja Kadhiri, yaitu Dandang Gendis atau Kertajaya dan mendirikan kerajaan baru bernama Singasari pada tahun seribu dua ratus dua puluh dua. Namun, kutukan Mpu Gandring menjadi nyata, enam orang tewas oleh keris tersebut, termasuk Ken Arok sendiri yang dibunuh oleh Anusapati, anak Ken Dedes dan Tunggul Ametung. Untuk meredam hawa jahat dari kutukan keris Mpu Gandring dan memutus rantai pertumpahan darah dan dendam kesumat antara keturunan Ken Arok dan Tunggul Ametung, putra Anusapati yang menjadi raja Singasari bergelar Wisnuwardhana, melemparkan keris tempaan Mpu Gandring itu ke kawah gunung Kelud.
__ADS_1
Legenda terus berjalan, dugaan datang silih berganti mengenai keberadaan sebenarnya keris itu. Oleh sebab itu, Marsudi yang sebenarnya sudah mulai paham bahwa keris Mpu Gandring sudah muncul kembali di bumi, tak akan mau melepaskan kesempatan ini. Keris itu dapat menjadikannya seorang pemimpin dan penguasa yang berdiri di atas langit melihat dunia di bawah kakinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiga mobil berjenis MPV berwarna abu-abu dan putih, dua SUV hitam dan dua truk pickup double cab berbarengan berhenti di lahan parkiran tanah di depan warung makan yang juga sekaligus berfungsi sebagai losmen di desa Prajuritan meninggalkan debu yang membumbung ke udara. Suasana desa yang teduh dan cenderung sedang mendung itu tak bisa menutupi ketertarikan para penduduk terhadap kedatangan rombongan ini.
Satu persatu sosok-sosok pria berwajah sangar, dingin dan tidak bersahabat keluar dari kendaraan. Ada sekitar tiga puluh orang asing menenteng tas berwarna gelap dan langsung menuju warung makan.
Orang-orang yang melihat mereka saling berbisik dan curi-curi pandang. Bunyi pintu mobil ditutup yang saling susul-menyusul menggema di tengah kesunyian yang tiba-tiba tersebut. Tak lama hujan perlahan turun. Saat itu pukul dua siang, beberapa jam setelah Affandi memutuskan untuk menghubungi mereka.
"Aku akan benar-benar gila kalau disuruh menghadapi hantu sundal itu lagi," balas Affandi dengan memasang wajah tegang.
"Tapi ini berlebihan. Ada berapa mereka? Dua puluh, tiga puluhan orang preman? Dan mereka bukan sekadar preman, Af. Kau memanggil para pasukan pembunuh."
__ADS_1
Tak terlihat perubahan mimik wajah Affandi dengan pertanyaan Kardiman Setil tersebut. "Kau selalu bekerja sendirian, jadi aku maklumi kalau kau merasa tidak nyaman bekerja bersama kelompok. Tapi aku dan abang Marsudi adalah ketua preman, Kar. Ini cara kerja kami, menggunakan kekuasaan dan anak buah. Tidak hanya preman dan cecunguk bermodal kenekatan saja yang kami kerahkan. Para pembunuh bahkan pasukan penyerang profesional pun harus berada di dalam kekuasaan kami."
Kardiman Setil menghela nafas. "Kau tidak berpikir Marsudi akan murka?"
"Aku berpikir sebaliknya, Kar. Lagipula, apa kau mau ambil keris itu sendiri? Atau membangunkan abang dari semedinya selama berjam-jam ini?"
Kardiman Setil terdiam. Tubuhnya yang besar itu serasa menciut mengingat ngerinya kuntilanak merah yang menyerangnya tadi pagi atau bayangan terpaksa membangunkan abang angkatnya itu.
Affandi menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, "Kar, abang kemarin sempat mati. Ia dibacok dan dipotong kepalanya. Ia memang sakti, tapi membayangkan rasa sakit yang ia terima, memulihkan kekuatan adalah hal yang mutlak baginya. Kalau kita mau ini segera berhasil, kita lakukan sendiri. Kita rampok laki-laki muda itu hari ini. Kita paksa pemilik losmen, warung makan dan desa ini kalau perlu supaya mengikuti mau kita dan tidak mencampuri urusan kita. Dan untuk melaksanakannya, sepuluh orang tidak cukup, Kar, apalagi dua."
Kardiman Setil mengangguk-angguk cepat mendengar penjelasan Affandi. Ia sudah memahami semuanya dengan baik.
"Baik, baik. Kita lakukan segera, dengan cepat. Aku tak tahu apa yang bakal dilakukan kuntilanak itu bila kita bekerja ramai-ramai seperti ini," ujarnya.
__ADS_1
Kardiman Setil menatap Affandi dengan malu-malu. "Kau tahu, Af. Aku merasa konyol bisa ketakutan dengan hantu," Kardiman Setil tertawa lirih.
Affandi menepuk bahu saudara angkatnya itu dan mendengus, "Kau pikir mengapa aku memanggil mereka semua? Karena mungkin aku lebih takut dibanding kau. Jadi tak perlu merasa malu, Kar."