Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Tumbal


__ADS_3

Girinata melangkahkan kakinya bak sesosok raksasa menyibak orang-orang kerdil. Ia begitu percaya diri. Keagungannya terpancar membabibuta. Angin dingin yang menusuk bagai jarum-jarum halus di lipatan kabut sama sekali tak berpengaruh apa-apa pada tubuh gelap nan berotot liat telanjangnya itu. Sebaliknya, kemudaannya membuat badannya serasa panas terbakar oleh semangat dan niat yang membara di dalam sana.


Hawa dan energi gaib serta sihir dapat ia rasakan dengan nyata menembus masuk ruang dunianya, bahkan bisa dikatakan aliran deras kekuatan itu menerjang Dusun Pon tanpa penahan lagi. Girinata yakin, sang putri, Wardhani,pastilah sudah berhasil menyelesaikan penghancuran lima benda keramat di empat tempat berbeda itu, pikirnya.


Kini sudah sempurna nan paripura waktu baginya utnuk melahap sampai kenyang dan mereguk sampai puas energi yang sudah ia idam-idamkan sedari lama. Ini adalah waktunya untuk menutup masa lalu dengan masa depan yang sesuai dengan segala impiannya. Gerbang gaib dari angkara murka telah terbuka lebar. Tiada seseorang atau sesuatupun yang mampu mencegah, apalagi menghadangnya.


Sesungguhnya dulu, dulu sekali, Girinata memang skeptis dengan kepercayaan tetua warga Dusun Pon mengenai hal-hal gaib. Ia sama saja dengan banyak pemuda dan warga dusun yang haus akan modernitas dan pemujaan akan uang. Kepercayaan yang bersifat spiritual dan supranatural dalam bentuk apapun adalah imajinasi dan delusi semata baginya. Hanya pemuas psikologis dan penghangat jiwa manusia-manusia yang selalu menempatkan harapan di atas segalanya. Seakan-akan dengan percaya pada ritual dan hal-hal tertentu yang tak tampak oleh mata dan tak teraba oleh logika dapat membuat mereka semua mendapatkan masa depan yang lebih baik dan terjamin.


Ironisnya memang kedua orangtuanya, terutama sang ibu, Dasimah, dekat sekali dengam aktifitas supranatural dan ilmu gaib. Ibu dari Girinata tersebut bahkan terang-terangan mengatakan kepadanya suatu saat, "Girinata, kau pikir kekayaan kita seluruhnya dari hasil kerja keras? Tidak, cah lanang, itu semua berkat ilmu sihir Ibu."


Girinata tak bisa membedakan apakah sang ibu sedang bercanda atau menggodanya, meski bebauan bunga, kemenyan atau dupa bagaikan parfum pewangi rumahnya. Ketidakpedulian Girninata perlahan hilang meruap ketika hubungannya dengan sang kekasih ayu nan binal anak dalang Sapar Nataprawira, Marni, ditolak mentah-mentah oleh bapak sang pacar tersebut. Yang paling membuatnya sakit hati adalah ia merasa dihinakan. Anak laki-laki kaya dan penuh kuasa di Dusun Pon itu dihajar dan ditampar dengan selop ketika ia dan Marni sedang bercinta di samping salah satu tempat keramat dusun.


"Bu, kalau Ibu benar bisa melakukan ilmu sihir, aku ingin Ibu membunuh Sapar Nataprawira!" ujarnya malam itu dengan wajah terluka dan terhina. Ia sendiri tak tahu mengapa harus melaporkannya kepada ibunya. Mungkin karena putus asa dan tak merasa ada ruginya mengutarakan kekecewaannya kepada sang ibunda, atau sejatinya jauh di lubuk hatinya, ia sudah terikat dengan garis darah gaib keluarga. Hanya menunggu waktu saja agar Girinata untuk akhirnya memercayai ilmu gaib yang diturunkan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Sang ibu hanya tersenyum dan mengatakan, "Ibu tahu cepat lambat kau akan datang kepada Ibu, cah lanang. Anggap saja pekerjaan ini telah selesai. Ambil perempuan itu, jadikan istrimu. Bapaknya tak akan dapat menghalangimu lagi. Tunggu dua atau tiga hari lagi dan akan kau lihat apa yang akan terjadi pada dalang itu."


Ketika hal yang dikatakan sang ibu sungguh terjadi, Girinata tak mungkin dapat mengelak atas kemungkinan tersebut, kemungkinan bahwa sang calon mertua sungguh mati akibat diguna-guna sang ibu.


Hanya saja setelahnya Girinata masih setengah hati mempelajari ilmu sihir yang diberikan sang Ibu hari demi hari. Apalagi ketika sang ayah wafat, perlahan kekayaan mereka menghilang. Tanah dan tempat usaha mulai dijual.


"Bukankah ibu bilang kekayaan kita berasal dari ilmu sihir Ibu? Namun setelah Bapak wafat, kita mulai perlahan miskin. Apa itu bukan berarti bahwa Bapak yang selama ini adalah seorang pekerja keras, sedangkan aku dari kecil menjadi pemanja yang tak dapat bekerja?" protesnya kepada sang Ibu terus terang, sedikit lancang, tanpa tata krama.


Seperti biasa, sang ibu tersenyum, kemudian tertawa. "Tumbal, cah lanang, jawabannya. Tumbal."


"Ketika Bapakmu meninggal, ilmu Ibu harus dilapisi kembali, harus diturunkan kepadamu, cah lanang. Dan, kau, harus mengorbankan anak pertamamu kelak ketika ia telah menginjak usia remaja," lanjut sang Ibu santai.


"Ibu sadar bukan dengan apa yang Ibu katakan barusan? Mengorbankan anak sebagai tumbal? Lalu, apakah Ibu dan Bapak dulu yang megorbankan mendiang Mas Anggara? Bukankah ia wafat karena sakit ketika aku masih sangat kecil?"

__ADS_1


Sang Ibu tertawa kembali dengan misterius. Ia tak menjawab. Sebaliknya perempuan tua itu mengucapkan hal yang lain lagi, "Pelajari mantra ini, cah lanang. Separuhnya akan aku ajarkan setelah kau menjadikan anak pertamamu tumbal."


Keadaan ekonomi yang morat-marit plus gaya hidup hedonisme luar biasa Girinata dan Marni setelah mereka menikah, apalagi untuk ukuran di sebuah dusun miskin nan terasing, membuat Girinata dan Marni yang kini sudah menjadi istrinya untuk sepakat perlahan-lahan belajar ilmu sihir dengan serius dan tekun pada Dasimah.


Mereka mulai mendapatkan bukti dengan dapat melihat segala jenis mahluk gaib mengerikan di sekitar mereka. Tapi kekuatan ini membuat mereka ketagihan. Teluh dan santet rupa-rupanya menjadi bagian dari ketertarikan pasangan ini. Termasuk memusuhi para tetua dusun pelindung tempat-tempat keramat yang selalu menjadi lawan ilmu gaib mereka bahkan sejak masa mendiang Bapak, Kakek, Kakek Moyang dan Leluhur keluarga Girinata beratus tahun sebelumnya.


Malam Rabu Pon saat itulah yang menjadi saksi bisu pembantaian para penjaga empat tempat keramat oleh ilmu teluh Girinata, Marni dan Dasimah. Kekuatan Dasimah ditambah Girinata dan Marni menjadi berkali-kali lipat dahsyatnya, membuat keteterang para tetua dusun. Ilmu mereka sejatinya tak bisa dibandingkan dengan Dasimah yang telah berpengalaman serta Girinata dan Marni yang masih muda, bernafsu dan kuat.


Sialnya, beberapa tahun kemudian Dasimah wafat sebelum Kinanti tewas bunuh diri dan menjadi tumbal, sebelum mereka mendapatkan penuh ilmu pesugihan.


Bakat Wardhani, anak kedua, cukup mengagetkan keduanya. Perlahan mereka mulai mengajari sang putri ilmu sihir yang mereka ketahui. Arwah sang nenek, Dasimah, perlahan hadir di rumah tersebut. Mengabarkan bahwa bakal ada seorang dukun muda yang memiliki ilmu kesaktian dan sihir yang luar biasa yang kelak akan mengembalikan mereka pada masa kejayaan. Bukan hanya kekayaan dan kekuasaan, namun juga kembalinya kemudaan dan datangnya kekekalan. Sosok tersebut menjadi titik kepuasan yang berkali lipat dibanding apapun yang pernah


Girinata, Marni dan seluruh keluarganya ingin dan dambakan.

__ADS_1


Untuk itu, satu langkah terakhir bagi Girinata, darah harus kembali ditumpahkan.


__ADS_2