
Sepasang mata nyalang Maung tak melihat dua orang yang sedang ia cari meski aroma keduanya sangat jelas terbaui.
Maung melompat menubruk dinding di sebelah kanannya, membuat beberapa orang terpelanting karena tersenggol tubuh harimau putih yang besar itu.
Sekali tabrak saja, Maung membobol tembok dan mendapati kedua orang yang ia cari berpelukan ketakutan di sebuah pojok ruangan. Dua orang laki-laki dewasa. Satu bergaya kebanci-bancian, satu lagi terlihat cukup jantan dengan kacamata hitam dan jaket kulit yang lengannya digulung. Hanya saja ini tak menjadi perbedaan, keduanya menangis ketakutan melihat mahluk mengerikan itu mengangkat kedua kaki depannya yang berkuku hitam melengkung menyerbu menderu ke arah mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bangsat! Hanya aku yang tak bisa berpindah tempat secepat mereka," gumam Soemantri Soekrasana yang berlarian ke gedung bertingkat tiga di samping hotel dimana mereka tinggal.
Hatinya luar biasa kalut. Dentuman musik yang menyala nyaring sejak ia membuka pintu gedung itu terdengar membawa serta teriakan-teriakan orang-orang yang ketakutan dengan suara tipis.
"Sial! Sial! Sial!" Pikir Soemantri Soekrasana. Ketiga rekannya kembali terbawa nafsu mereka sendiri-sendiri. Mereka benar-benar luput dan sudah berkubang dalam angkara murka.
***
Wajah serupa binatang sang Maung berlepotan darah. Ia melompati lobang di dinding dan melihat beberapa orang tak kuat berdiri apalagi melarikan diri karena begitu takutnya atau karena teler masih terpengaruh alkohol atau narkoba yang mereka tenggak.
Maung memacu tubuhnya yang berupa kucing raksasa itu melewati tubuh-tubuh lemah selonjor di lantai, menuju ke lantai atas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Soemantri Soekrasana sedang menaiki tangga ke lantai dua ketika ombak manusia menubrukinya. Kepanikan, ketakutan dan rasa teror menghiasi wajah-wajah mereka. Begitulah ciri-ciri ketika manusia takut mati.
Soemantri Soekrasana berusaha menyelip diantara tubuh-tubuh berpeluh berbau minuman keras dan sisa libido yang mereda tersebut. Kadang ia harus sedikit mendorong atau menarik agar mendapatkan jalan.
Ia heran dengan kekuatan tubuh orang yang ketakutan. Tak disangka, otak mereka berlaku seratus persen. Ketakutan bisa membuat mereka lemas dan pasrah, atau membuat mereka semakin kuat dan memperjuangkan segala pontensinya. Soemantri Soekrasana serasa menabrak bebatuan.
"Apa yang kalian lakukan di atas sana, teman-teman?" desah Soemantri Soekrasana terpacu adrenalin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jantung Satria Piningit bersetak sama kencangnya dengan sang istri, bedanya wanita itu sama sekali tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, sedangkan, walaupun belum memahami secara utuh, Satria Piningit jelas memiliki bimbingan bahkan perintah untuk paling tidak segera menyebrangi jembatan.
Manusia berkepala buaya dan ular, sedangkan meski tubuh mereka terlihat seperti manusia biasa namun tetap saja terlihat aneh dan menakutkan. Bagaimana gerak mereka merambati lempengan dan balok baja itu tidak wajar sama sekali.
Satria Piningit memalingkan wajahnya, berfokus ke depan untuk melewati jembatan tol tersebut. Sang istri mencuri pandang ke arah Satria Piningit dengan cemas namun sengaja tak berkomentar. Ia menghargai sang suami. Entah apapun yang ada di dalam pikiran Satria Piningit atau sedang dialaminya, pastilah sesuatu yang begitu menakutkan dan menyiksa. Ia tak ingin menambahkan pikiran dan masalah lagi.
Sang istri pun akhirnya merasa sedikit lega ketika mobil mereka berhasil melewati jembatan tol. Kelegaan ini juga terlihat dari raut muka sang suami yang menghembuskan nafas cukup keras tanpa disengaja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lantai tiga banjir darah. Sarti berjongkok di atas sebuah meja bilyar. Wong Ayu melayang di sampingnya. Sepasang matanya membara dan kedua tangannya masih memercik api. Tak lama pintu berbeludru merah terlempar ke tengah ruangan, copot dari bautnya. Sosok mahluk berciri binatang masuk, berjalan dengan keempat kakinya yang berbentuk tidak wajar. Bulu-bulu putih mahluk serupa harimau itu bernoda darah. Bahkan ada darah yang masih menetes berlendir di sela-sela mulut lebarnya yang menampakkan taring.
__ADS_1
Di depan ketiga anggota Catur Angkara ini, ada sekitar dua puluh orang yang berkumpul ketakutan. Bukan saja ngeri melihat dua sosok manusia misterius dengan kekuatan ajaib atau mahluk jadi-jadian yang mengerikan itu, tapi juga demi melihat kawan dan rekan kriminal mereka yang tubuhnya berserakan di lantai, di atas sofa, di atas meja bar dan bilyar dan darah yang menggenang di lantai atau terciprat ke dinding, langit-langit bahkan perangkat DJ.
Ada satu pentolan kriminal yang dikelilingi anak buahnya. Semua pengawal tersebut mengacungkan pistol, senjata tajam atau apapun yang bisa digunakan sebagai senjata. Semuanya sadar bahwa kemungkinan besar perlawanan mereka tak begitu berarti melihat sepak terjang kedua sosok yang membantai rekan-rekan mereka. Belum lagi ditambah siluman harimau putih yang terlihat beringas tersebut.
Sarti melemparkan celuritnya yang berdarah ke arah perangkat DJ dan menghancurkannya. Bunyi dentuman musik langsung senyap. "Aku ingin mendengar dengan jelas teriakan kalian sebelum nyawa kalian lepas dari tubuh!" ujar Sarti dingin.
Namun tanpa diduga, sang pentolan kelompok preman dan penjahat, mengenakan kaos oblong putih, berkalung rantai emas dan blazer hijau mentereng, menyibak tubuh-tubuh anak buahnya. Ia meludah ke lantai, "Kau pikir aku takut? Aku sudah bertemu ratusan sun*dal dan anak-anak setan seperti kalian. Siapa yang menyuruh kalian, hah? Penjahat mana yang punya uang sebanyak ini untuk menyewa begundal penyihir dan siluman macam kalian? Pengecut mana yang berpikir dengan membantai para kelompok penguasa di daerah ini bisa otomatis mengambil alih kuasanya?"
Tak pelak Wong Ayu dan Sarti tertawa. Bahkan Maung menggeram, bahasa hewani yang juga menunjukkan kegelian hati.
Ternyata ucapan sang ketua penjahat alias si bos tersebut malah membuat anak buahnya terangkat moralnya. Mereka menjadi sedikit lebih berani karena melihat orang yang mereka hormati tak memperlihatkan rasa takut walau betapa konyol ucapan itu bagi ketiga mahluk mengerikan di depan mereka.
Satu pengawal bahkan langsung memutuskan maju dan menembakkan pistolnya ke arah Wong Ayu, sasaran tembak yang sangat jelas karena melayang di udara. Mungkin keputusan si pengawal itu untuk menyerang Wong Ayu berlandaskan alasan tadi, sasaran tembak yang paling memungkinkan.
Suara ledakan terdengar jelas, terutama karena musik sudah tak diputarkan lagi. Namun Wong Ayu masih melayang di atas, bukan karena mimis timah panas tak berhasil menembus tubuhnya, namun karena tembakan itu meleset, mengenai tumpukan sofa yang berantakan. Lengan sang penembak sekarang sudah ada di mulut Maung dengan taring dan gigi melesak ke dalam daging dan tulang, sedangkan cakar hitam tajam nan melengkung menancap masuk ke pinggul dan dadanya.
Sekali sentak, tubuh itu sobek dan terbelah hampir menjadi dua bagian.
Teriakan campuran ketakutan, amarah dan tindakan nekad kepalang basah para penjahat menggema di ruangan tersebut.
Gemuruh para penjahat ini dibalas sang Maung dengan meraung, membuka mulutnya yang penuh darah selebar mungkin. Wong Ayu menyalakan api dari kedua tangannya, sedangkan Sarti menggenggam Baru Klinthing di tangan kanannya mempersiapkan kuda-kuda untuk mencelat menyerang.
__ADS_1