
Wong Ayu berdiri di sebuah padang dengan rumput dan bebungaan berwarna-warni. Ia mengenakan pakaian yang wajar, tetapi ia merasa telanjang. Tidak hanya tubuh, tapi hati, pikiran, perasaan bahkan kehidupannya di masa lalu semua terbuka lebar. Ia merasa rentan dan lemah.
Ia melihat pepohonan dan berjalan kesana. Buah-buahnya segar yang tak ia tahu namanya bergantungan di dahan-dengan dengan ranum, meminta dipetik. Di bawah pepohonan ternyata ada banyak orang, laki-laki dan perempuan mungkin seusia kedua orangtunya. Mereka mengenakan baju berwarna tenang dan lembut seperti putih, abu-abu, biru laut atau jambon. Mereka tersenyum ramah ke arahnya, kemudian lanjut bekerja menyiangi rerumputan di sekitar pepohonan. Angin sepoi-sepoi sejuk menerpa rambut ikalnya.
Wong Ayu melihat semakin banyak orang. Tapi walau tadinya ia merasa telanjang, sekarang ia tidak malu lagi, malah sebaliknya ia merasa begitu nyaman. Mereka tersenyum karena memang begitulah adanya, tidak palsu atau berpura-pura. Mereka melakukan apa yang harus dilakukan sehingga semuanya menjadi alamiah semata. Ia merasa tak ingin pergi dari tempat ini. Bahkan wajah orang-orang ini sangat kebapakan dan keibuan. Mengingatkan ia kepada kedua orangtuanya sendiri yang ... Sudah tewas.
Wong Ayu terhenyak, tak siap dengan kejutan ini. Jantungnya berdebar begitu keras sampai rasanya akan meloncat keluar menembus tulang dadanya. Kedua matanya berkaca-kaca. Rahangnya mengatup, gigi bergemeretak, kedua tinjunya mengepal bahkan kuku-kuku jarinya serasa akan menembus telapak tangannya.
Orang-orang yang ada di situ menengadahkan kepala mereka. Semua pasang mata memandangnya. Sepertinya mereka mengetahui apa yang ada dalam hati dan pikiran Wong Ayu.
"Aku tahu apa yang kau rasakan, Nak," suara teduh keibuan menyapa gendang telinganya.
Ia belum pernah melihat perempuan ini selama hidupnya, tapi entah bagaimana ia bisa mengenalnya dengan sangat baik. Suara itu seperti kain yang direndam air hangat dan diletakkan di luka tubuhnya.
Di sana ia berdiri. Seorang perempuan paruh baya yang walau kerutan terlihat di wajahnya, terlihat semangat kehidupan memancar terang dari kedua bola matanya yang lebar. Rambutnya disanggul dengan hiasan bebungaan. Kalung emas dan bebatuan melingkar di lehernya dan menutupi dadanya yang telanjang. Kain yang menutupi bagian bawah tubuhnya sangat lebar bahkan sampai terseret di belakangnya.
Wong Ayu mengharubiru. Ia tak dapat membendung perasaannya lagi, air matanya tumpah ruah. Ada kerinduan yang tak terperi, ada kasih yang tak terbendung melihat perempuan bernama asli Dayu Datu, sang Rangda Nateng Girah yang bergelar Calonarang.
__ADS_1
"Ibuu ... Ibu Calonarang ...," ujar Wong Ayu dengan perasaan yang campur aduk.
"Anakku, kau harus dapat perlahan melupakan segala yang terjadi. Jiwamu terlalu berharga untuk ini," sang Calonarang membalas.
"Apa yang terjadi denganku, Ibu? Apa yang sedang kualami ini? Kedua orangtuaku tewas mengenaskan di depan mataku, sedangkan aku berada di dunia yang aneh dan mengerikan ini," jawab Wong Ayu sembari terus menangis.
"Kau sangat istimewa. Dalam umurmu yang masih sangat muda ini, kau mampu menembus lapisan beragam dunia."
"Apa maksudnya, Ibu? Apa guna keistimewaan ini bagiku bila kedua orangtuaku tewas juga ketika berkutat dalam kehidupan mereka yang penuh kegaiban?"
"Ibu Calonarang, biarkan aku pergi dari dunia ini. Aku belum siap dengan keramahan dan cinta karena hatiku penuh dengan dendam kesumat. Aku tidak ingin mati. Aku mau hidup lima ratus tahun lagi untuk melukis bumi dengan darah," Wong Ayu seperti kerasukan. Entah darimana ia bisa mendapatkan kata-kata kejam semacam itu. Atau mungkin kekejaman sudah ada jauh di dalam lubuk hati dan jiwanya menunggu untuk dapat dilepaskan?
"Kau tak tahu apa yang kau ucapkan, anakku. Jangan biarkan mereka menguasaimu," Calonarang membentangkan kedua tangannya, menawarkan pelukan untuk Wong Ayu.
"Tapi Ibu, bukankah kau adalah ibu dari semua kesengsaraan? Bukankah kau mampu memahami kehancuran hati anak-anakmu dan engkaulah yang membantu anak-anakmu mendapatkan keadilan? Kau hancurkan siapapun yang menyakitimu dan anakmu sampai luluh lantak? Ijinkan aku memiliki kekuatanmu, ibu," Wong Ayu merasakan kehancuran jiwanya sampai ke ubun-ubun dan serasa ingin meledak.
Angin semakin membabi buta. Buah dan dedaunan berjatuhan. Orang-orang yang semula ramah tadi mulai menunjukkan bentuk aslinya. Mereka mendekat ke arah Wong Ayu dengan merangkak, melompat bagai katak, melata, bahkan ada yang berguling-guling di tanah. Mereka seakan-akan berkata, "Yah, benar. Kami akan membantumu, gunakan kami, Anakku. Tuntutlah balas atas kematian mereka. Warnai langit merah."
__ADS_1
Calonarang menaikkan suaranya di tengah-tengah angin yang kencang, "Karena aku tahu apa yang kau pikirkan dan rasakan itulah sebabnya aku minta kau melupakan semua yang telah terjadi. Perlahan, anakku, perlahan ... ."
Wong Ayu menggeleng. Ia tak habis pikir dengan apa yang diucapkan sang ibu. Orang-orang masih mendekatinya, merayap, melompat, berguling. Perlahan rupa-rupa mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeda, tidak manusiawi.
"Mereka hanya menginginkan jiwamu, Anakku. Mereka akan melakukan apapun yang kau inginkan dengan imbalan jiwamu," kembali ujar sang ibu.
Wong Ayu dengan tubuhnya yang masih muda sekarang terlihat matang dan dewasa. Ia terkikik, "Bila memang mereka mau melakukan apa yang aku inginkan, maka terjadilah," Wong Ayu merentangkan kedua tangannya. "Kemarilah kalian semua ... Datanglah kepadaku ... ."
Bagai anak-anak ayam yang mengejar induknya, tubuh-tubuh itu semakin mempercepat pergerakannya. Mereka melepaskan diri dari bungkus tubuh profannya. Sekarang terlihatlah tubuh tanpa kepala, manusia kadal, perempuan bersayap, laki-laki bertanduk, anak kecil melata, pria-pria berekor kera dan bentuk-bentuk mengerikan lainnya. Semuanya memeluk Wong Ayu muda.
Ibu Calonarang mendesah, "Dewi Durga memberikan keseimbangan pada yang putih, pada yang baik dan benar. Apakah Durga adalah jalanmu, Nak?" ujarnya perlahan. Ibu Calonarang menutup kedua matanya. Mulutnya terbuka lebar, mengoyak pipi dan wajahnya. Dari dalam kerongkongannya merangkak keluar sesosok entitas lain. Seorang perempuan yang rambutnya panjang menggapai tanah, dengan hiasan bebungaan di kepalanya. Pinggang dan perutnya terbelit kain selendang yang sisanya berlapis-lapis menutupi bagian bawah tubuhnya, sedangkan dadanya telanjang, menunjukkan sepasang daging yang menggantung. Kalung dengan hiasan gigi dan pecahan tengkorak manusia membebat lehernya. Kedua mata lebarnya membayang kobaran api. Ketika ia membuka mulutnya, dari semua deretan gigi hitamnya mengalir cairan darah merah kental.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wong Ayu, berambut ikal panjang sehitam jelaga, kontras dengan kulit kuning bersihnya. Rupanya ayu nan memikat namun menunjukkan citra dan kesan berbahaya. Berjubah panjang tak mampu menutupi sepasang dada yang padat dan pinggul yang kuat padahal usianya telah menginjak kepala tiga.
Keperawanan membuat kekuatannya terjaga, termasuk bentuk tubuhnya yang seakan tak termakan usia. Lagipula laki-laki macam apa yang berani mendekati seorang perempuan yang berjalan mengendarai kematian di bawah rembulan berwarna darah? Hanya dukun tua bangka yang berani mencoba menyentuhnya untuk dijadikan perempuan budak selayaknya memperbudak sundel bolong. Itupun sudah pasti mereka akan berakhir mati di tepi sawah, gua atau hutan, begitu hinanya kematian mereka sehingga tak seorangpun peduli dan mencari kemana gerangan jasad mereka berada.
__ADS_1