Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Sepuluh


__ADS_3

Si gadis yang melayani para pembeli melenggak-lenggokkan pinggulnya yang dibalut kebaya, sedangkan siulan dan kata-kata cabul berhamburan dari para tamu yang sudah pasti kesemuanya laki-laki. Warung kopi dan kedai makan yang memang mendapatkan keuntungan dari persinggahan para sopir truk dan kendaraan antar kota ini memiliki lokasi yang strategis, tepat di pinggir jalan namun dengan lahan parkir yang begitu luas, cukup untuk dua puluh sampai tiga puluh truk dan bis penumpang.


Si gadis yang sama berjalan pelan mendekati meja Marsudi dan kedua kawannya. Mata Kardiman Setil tak bisa lepas menelanjangi pelayan itu. Sang gadis pun paham bahwa ia sedang diperhatikan, toh memang itu pekerjaannya.


Sang gadis tersenyum genit pada Kardiman Setil, "Mau minum apa kangmas-kangmas sekalian?" tanyanya kepada ketiga orang yang duduk di meja tersebut, namun pandangan nakalnya tetap menempel pada Kardiman Setil.


"Saya kopi ya, mbak," ujar Marsudi. "Kau mau minum apa, Af? Kar?"


"Sama, kopi. Hitam, pahit, ya ...," ujar Affandi. Ia kemudian memandang Kardiman Setil yang hanya diam dan pandangan tak lekang dari si gadis pelayan semacam terbius dan terhipnotis, "Woi, Kar. Kau mau minum apa?" Affandi menyodok rusuk Kardiman Setil dengan sikutnya.


Yang disikut mengaduh, "Ah, aku bir saja ya cah ayu," ujarnya segera.


"Weleh, pagi-pagi udah ngebir aja kangmas ini," sang gadis mengedip manja. "Ada yang lain? Mau sarapan apa gitu?"


"Kamu saja jadi sarapanku apa gimana?" Kardiman Setil tak bisa menahan keganjenannya.


Sang gadis sudah terlalu terbiasa dengan godaan berbagai jenis dari laki-laki. Untuk soal inipun tentunya perihal yang gampang baginya, "Ah, kangmas. Kalau saya boleh dijadikan sarapan, kangmas harus nunggu sampai minggu depan. Banyak yang antri, kangmas," ia terkikik. Kemudian pergi sembari melenggak-lenggokkan pinggulnya.

__ADS_1


Kardiman memukul mejanya gemas, "Kampret, genit banget anak itu. Jaman sekarang dia masih pakai kebaya untuk bekerja sebagai pelayan. Kalau bukan sengaja menggoda, apalagi, bukan? Aku mau tahu harganya."


"Kau ini, Kar. Macam tak ada perempuan lain saja," jawab Affandi. Marsudi tersenyum, "Kalau memang mau perempuan itu, Kar, kita datang lagi kesini setelah urusanku selesai."


Kardiman Setil menepuk bahu saudara angkat tuanya itu, "Nah, itu baru saudaraku. Kau benar-benar tahu apa mauku," jawab Kardiman Setil sembari terbahak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua orang supir dan dua orang kernet bis antar kota yang duduk di satu meja tidak jauh dari meja Marsudi dan kedua saudaranya mencuri dengar percakapan mereka mengenai desa Obong dan pusaka sakti berupa sebuah keris yang mereka bicarakan sedari tadi.


"Dari yang kita dengar beberapa kali ketika bertanya dengan orang-orang di sekitar tempat ini, desa Obong itu letaknya tak terlalu jauh. Cuma lucunya, tidak ada yang benar-benar bisa menunjukkan dimana tepatnya tempat itu. Kalau penjelasannya tidak muter-muter ya terlalu singkat," ujar Kardiman Setil.


"Aku pikir wajar tempat ini susah dicari, mungkin semacam tempat pusaka yang sengaja disembunyikan dari orang awam," balas Marsudi.


"Maaf, mas-mas sekalian. Apakah kalian mencari sebuah desa bernama Obong?" tiba-tiba seorang laki-laki mendekati meja mereka. Ini membuat Affandi menggebrak meja, berdiri dan menyumpah,


"Bangsat. Siapa kau berani-beraninya kurang ajar?!" tindakan ini membuat orang-orang di warung kopi terperanjat dan memandang ke arah mereka.

__ADS_1


Marsudi memegang pelan lengan saudara angkatnya itu dan memandang sekeliling seakan meminta maaf. Affandi sadar akan perintah sang saudara tua dan perlahan duduk sembari menarik nafas panjang. Marsudi memandang sang laki-laki yang datang dengan berusaha sesopan mungkin meminta maaf, "Maafkan saudara saya. Dia memang kasar, mas," ujarnya.


Sang laki-laki mengangguk kikuk. Affandi perlahan menyadari apa yang ia lakukan tadi memang tidak dapat diterima. Di daerah kekuasaannya, sebagai salah satu pemimpin preman ia adalah orang yang disegani dan ditakuti. Tidak ada orang yang seenaknya saja berbicara dengannya tanpa berpikir. Tapi sekarang mereka berada di sebuah negeri antah berantah, jadi mau tidak mau perilakunya harus sedikit diubah, walau sama sekali bukan berarti ia takut berada di daerah orang. Merantau jauh dari kampung halamannya butuh keberanian dan sudah dilakukan dan dibuktikannya bertahun-tahun lalu.


"Saya yang minta maaf mas-mas sekalian. Saya juga minta maaf karena sudah mencuri dengar mas-mas membicarakan tentang desa Obong," ujarnya. "Kebetulan saya dan ketiga teman saya di sana," ujar sang laki-laki sembari menunjuk dengan jempolnya ke arah tiga orang laki-laki di meja seberang yang mengangguk sopan dengan serentak, "...adalah warga desa Obong."


Marsudi memandang tajam ke arah Affandi. Yang dipandangi merasa bersalah karena sudah bertindak tidak menyenangkan.


"Kebetulan sekali, mas. Memang kami berencana untuk ke desa Obong. Hanya saja informasi soal desa ini susah sekali didapatkan. Ini keberuntungan buat kami bisa langsung bertemu dengan warga Obong. Apakah jauh dari sini desa mas itu?"


"Kurang lebih tiga atau empat jam dari sini, mas. Bisa juga lebih, tergantung banyak faktor. Maklum, namanya saja jalan desa, mas. Sebenarnya kami juga mau pulang ke desa setelah beberapa lama bekerja. Biasalah, mas, supir bis macam kami selalu lama tidak pulang ke rumah," tambah orang itu.


Marsudi melihat ketiga orang di meja seberang, "Mas, duduk bersama kami saja di sini. Kita ngobrol sebentar," ujarnya.


Berkumpullah tujuh orang di satu meja. Keempat orang yang mengaku warga desa Obong ini memang sudah jadwalnya untuk pulang kampung. Biasanya mereka menginap sehari dua sembari menunggu teman mereka lagi yang dapat membawa mereka pulang. Bukan mengapa, jalan yang menuju ke desa Obong cukup kecil dan yang jelas tidak mungkin dilewati oleh bis-bis besar yang mereka sopiri. Dengan menunggu satu teman mereka yang memiliki mobil pribadi, berlima mereka bisa pulang bersama.


"Kalian pergi bersama kami saja. Kami punya van yang cukup besar untuk kita semua, tapi tetap bisa melewati jalan yang kalian maksud," sang empunya mobil, Kardiman Setil kali ini berbicara menawarkan jasanya. Bahkan Affandi yang tadinya kasar pun mengaku bahwa ide ini bagus. Bukankah sebuah kebetulan yang bagus dimana mereka tidak perlu lagi susah-susah mencari lokasi desa itu, sudah ada empat orang yang bisa diandalkan.

__ADS_1


Sembari berbicara panjang lebar, Marsudi menraktir keempat warga Obong itu makanan dan minuman dengan cukup royal. Kardiman Setil senang sekali karena mereka terus memesan makanan dan minuman. Ini berarti si gadis pelayan kenes itu akan selalu datang ke meja mereka, "Aku tak sabar lagi. Kau harus menepati janji untuk datang kemari lagi setelah urusan ini selesai ya," bisik Kardiman Setil kepada Marsudi.


Marsudi tersenyum, "Berapapun perempuan itu minta, aku yang bayar, walau aku tahu duitmu lebih banyak. Anggap saja ucapan terimakasihku," balas Marsudi. Kardiman Setil terkekeh dan menenggak birnya.


__ADS_2