Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Suluk Keduabelas Kusuma Dewi


__ADS_3

Anggalarang mencoba memejamkan mata. Tidak seperti biasanya, dimana ia selalu kesulitan tidur, hari ini perasaannya tentram dan sepasang matanya nampaknya mau saja diajak menutup. Ini mungkin dikarenakan sudah beberapa lama harimau di dalam tubuhnya tak bertingkah dan tak ingin keluar dari kandangnya. Mahluk itu tidak menggeram dan meraung sebagaimana biasa terjadi di hari-harinya.


Maka, mungkin sekali ia bisa saja tidur nyenyak malam ini.


Hanya saja, saat-saat seperti ini malah membuatnya khawatir. Ketakhadiran sang Maung biasanya membawa hal lain yang sama menyebalkannya kalau tidak sama-sama mengganggu saja.


Sofa di dalam kamarnya menahan lelehan tubuhnya yang sudah sama sekali lelah dan malas serta membeleber bagai cairan. Satu kakinya tertahan di sisi lengan sofa, satunya lagi jatuh terkulai ke lantai berkarpet indah di sisi yang berlawanan. Dua kancing kemeja teratasnya terbuka. Satu botol bir telah kosong tergeletak di meja kaca bundar di sampingnya.


Sang harimau adalah wakil dari segala kemarahan, agresifitas dan dendamnya. Kini sang Maung tak terlihat, maka hal yang Anggalarang takutkan akhirnya datang menyergap.


Sepasang mata sang pemuda akhirnya membuka lebar. Jiwa dan pikirannya dibawa kembali jauh ke masa lalu di sebuah sebuah wilayah di otaknya yang tak ingin ia kunjungi lagi selama-lamanya


Saat itu, seorang tokoh bernama Braja Wisesa yang baru berusia di awal tiga puluh tahun sudah berhasil memegang dan menguasai area yang lumayan luas dalam bisnis prostitusinya. Laki-laki ini mengetuai sekitar seratus preman yang bekerja siang malam mengamankan aset dari serangan kelompok lain. Mereka juga memasok perempuan-perempuan muda yang akan dipekerjakan di bar, hotel, tempat karaoke, atau rumah-rumah bordil tertentu di area kekuasaannya.

__ADS_1


Ia telah memiliki pengalaman dalam banyak bisnis kegelapan tersebut. Segala jenis kekerasan pun pernah ia alami dan lakukan. Penjara bukanlah sebuah hal yang menakutkan bagi dirinya, sebaliknya malah menjadi semacam sarananya untuk pulang kampung semata, dimana ia bisa bernostalgia dengan kekerasan dan suasana gelap di tempat itu. Di penjara pun ia masih selalu menjadi idola dan memiliki kekuasaan di sana. Para tahanan masih hormat dan segan pada dirinya.


Hanya saja, ada satu hal yang menjadi ciri kuat dari seorang Braja Wisesa. Ia suka dengan anak laki-laki muda. Baginya, mereka adalah kegemarannya yang paling utama dan tak bisa disangkal lagi. Bukan sekadar hobi, perilakunya yang satu itu adalah bagian dari hidup dan nafasnya. Biasanya ia menggoda dan menjebak anak laki-laki berusia di bawah lima belas tahun. Semakin muda anak itu semakin Braja Wisesa senang.


Bertahun-tahun yang lalu, tiga anak laki-laki berusia sebelas tahun berhasil dibawa Braja Wisesa ke pertokoan dan minimarket. Mereka dibelikan makanan dan minuman serta baju, sebuah senjata yang manjur untuk menarik mangsa untuk melahap umpannya. Braja Wisesa kemudian membawa mereka ke sebuah hotel, untuk istirahat sejenak katanya. Anak-anak seperti apa yang tidak suka dengan kemewahan semacam ini. Apalagi bila yang diajak adalah anak-anak yang berada di bawah garis kemiskinan yang tidak pernah melihat apalagi menyentuh kasur empuk sebuah hotel dengan pendingin ruangan yang membuat mereka meringkuk membeku tetapi girang.


Tak lama, nyatanya ketiga anak laki-laki itu berhasil dibius dan dibawa ke rumah pribadinya. Rumah milik Braja Wisesa, sang ketua perhimpunan kejahatan adalah sebuah rumah yang besar, penuh dengan ruangan rahasia dan penjagaan ketat oleh penjaga dan preman bawahannya.


Selama lebih dari sebulan Braja Wisesa melakukan kekerasan seksual kepada mereka. Ia tidak hanya melecehkan dan merudapaksa ketiga anak laki-laki itu, Braja Wisesa juga memukuli mereka bila mereka tidak melakukan hal yang ia perintahkan. Tidak terbayangkan kekerasan dan kejahatan apa saja yang terjadi pada ketiga anak-anak bau kencur di dalam rumah itu.


Puncaknya adalah ketika kekerasan yang dilakukan Braja Wisesa semakin memucak sehingga menyebabkan dua orang anak akhirnya tewas karenatak mampu lagi menghadapi dan menerima segala bentuk kekejian diluar nalar manusia normal.


Hanya ada satu orang anak yang berhasil melarikan diri dengan berpura-pura bersedia menurut dan menjadi 'kekasih' sang om. Dengan berat hati, melihat kedua temannya sekarat, ia mengorbankan dirinya sendiri untuk menjadi makanan nafsu syahwat bejat Braja Wisesa. Anak yang pemberani ini meminta untuk dibawa ke kamar tidur Braja Wisesa agar dapat beristirahat yang nyaman, bukannya di gudang atau ruang rahasia ini. Ia meminta untuk diistimewakan bila memang Braja Wisesa ingin menikmatinya dengan baik.

__ADS_1


Dalam satu kesempatan, anak laki-laki itu kabur meloncat dari jendela di malam hari. Kakinya patah, namun berhasil menjauh ke dalam hutan sebelum semua orang di rumah Braja Wisesa sadar bahwa anak itu telah pergi. Sendirian di tengah malam dengan terluka, anak laki-laki itu pingsan di dekat sebuah bukit berbatu yang penuh dengan rerumputan dan pepohonan yang tinggi.


Dengan sebuah cara yang misterius, sang anak laki-laki selamat. Namun karena rasa takut dan trauma, ia memutuskan untuk tidak kembali ke kampung dimana ia tinggal dan malah pergi jauh-jauh mengembara seorang diri, bertahan hidup di jalanan. Sekali dua ia masih bertemu dengan orang-orang sejenis om Braja Wisesa. Namun walau masih kecil, ia sudah tak bisa membiarkan orang-orang tersebut menyentuhnya lagi. Pengalaman hidup dari masa muda yang keras menempanya. Dendam dan perasaan sakit tercabik-cabim membentuk siapa dirinya di masa sekarang.


Nama anak laki-laki muda itu adalah Anggalarang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anak yang menjadi korban kejahatan seksual bisa berubah menjadi pemarah dan sensitif pada segala sesuatu. Seorang pedofilia menciptakan dan membentuk sesosok mahluk agresif di dalam jiwa sang anak. Dalam hal ini, amarah, dendam, kecenderungan menghancurkan diri sendiri dalam Anggalarang ini diwakilkan oleh sang Maung, si harimau.


Sang harimau mengambil hampir semua bentuk kekacauan dan kecemasan dengan cara menyalahkan orang lain, berfirasat buruk selalu serta ketidakstabilan perasaan dan emosi. Bila sudah begini, Anggalarang akan merasa pusing dan mual, tanda sang harimau di dalam tubuhnya hendak keluar membawa angkaramurka, dendam dan keinginan untuk membunuh.


Sang Maung menjadi semacam penjaga diri jiwa maupun raga Anggalarang. Anak-anak korban kekerasan seksual yang di waktu dewasa juga biasanya mengalami masalah dalam hal itu karena trauma masa lalunya, dibalik, dengan bantuan sang Maung, membuat Anggalarang menjadi laki-laki yang memiliki pesona diri dan sensualisme yang meruap membabi-buta dari pori-pori kulitnya.

__ADS_1


Namun begitu, malam ini, ketakhadiran sang harimau telah membawa masa lalu memedihkan itu ke hadiratnya kembali. Anggalarang merasakan dendam dan kebencian yang menusuk-nusuk tulangnya seakan-akan hendak mencabutnya dari kehidupan.


__ADS_2