Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Empatpuluh Tujuh


__ADS_3

Keadaan sudah sulit terkendali. Bagaimana tidak, para mahluk halus sudah semua berhasil merasuk ke tubuh warga. Korban yang terluka menjadi bertambah jumlahnya. Bahkan sudah satu orang lagi tewas dan langsung menjadi mayat hidup.


Para warga yang selamat harus bertempur dengan cara yang aneh. Mereka mempertahankan diri tanpa berusaha untuk membalas. Mereka hanya sedikit melukai orang-orang yang menyerangnya karena paham bahwa mereka hanya kerasukan. Membunuh para penyerang mereka sama saja dengan membunuh sesama warga. Apalagi warga yang kerasukan adalah orang-orang yang cukup mereka kenal dengan baik di kehidupan keseharian mereka.


Soemantri Soekrasana jelas kepuyengan.


Soal mayat hidup, mau tak mau ia atau warga yang lain pasti berani untuk memenggalnya, namun bagaimana dengan orang-orang yang kesurupan?


Di bagian lain wilayah, Lutfi dan Fadlan membabati semua orang dengan acak dan membabi buta. Kedua mata mereka memerah bagai matahari senja. Dua roh halus menguasai diri mereka sehingga mereka tak ingat lagi siapa kawan siapa lawan, bahkan diri mereka sendiri.


Maung dan Sarti pun sesungguhnya tak bisa berbuat banyak pada warga yang kerasukan.


Santi berteriak pada Soemantri Soekrasana, "Soemantri, apa yang harus kita lakukan? Aku dan Maung tak mungkin membunuh mereka."


Soemantri Soekrasana tak bisa menjawabnya. Ia merapal mantra, namun tak sempat menyelesaikan ketika Fadlan dan Lutfi tiba-tiba sudah mendekatinya dan melayangkan parang sekuat mungkin.


Tubuh Soemantri Soekrasana berkelit.


Bilah parang lolos sejengkal dari tubuhnya. Bahkan ketika serangan kelima, keenam, sampai kesepuluh memburu tubuhnya, Soemantri Soekrasana dapat bergerak dengan lincah bagai selembar wayang yang digerakkan seorang dalang. Ilmu Lembu Sekilan masih menjadi benteng utamanya.


Sarti tak bisa berdiam diri. Ia tak bisa sekadar menunggu dukun muda itu untuk mengeluarkan para roh dari dalam tubuh warga baru kemudian bisa menyerang para mahluk adikodrati itu. Bila begitu, bisa-bisa seluruh desa akan saling bunuh. Belum lagi mayat-mayat hidup yang bisa menyasar siapa saja.


Dengan sangat terpaksa, Sarti memutuskan untuk mengorbankan beberapa warga yang kesurupan agar tak mendapatkan lebih banyak warga yang menjadi mayat.

__ADS_1


Baru saja ia hendak mencelat, Anggalarang dari dalam tubuh Maung berseru, "Sarti. Kita harus membantu Wong Ayu."


Sarti melihat wajah Maung yang berlumuran darah. Anggalarang berbicara dari dalam tubuh siluman harimau putih itu tanpa menggerakkan mulutnya yang penuh dengan taring.


Sarti kemudian melihat ke arah Wong Ayu yang sudah tiga kali terlempar jatuh ke tanah. Di atasnya, sedang mengambang terbang di udara, Marsudi melecutkan api serupa petir yang menyengat Wong Ayu. Tubuh perempuan itu menegang dan rubuh akibat serangan sosok Marsudi tersebut.


Sarti memindahkan fokusnya kepada Wong Ayu. Ia menjejak tanah keras tanpa diperintah. Tubuhnya mencelat bagai kilat ke arah Marsudi. Baru Klinthing siap menusuk. Di sisinya, begitu juga dengan Maung yang melompat dengan kuku jari-jari tungkai kaki depannya serta taring di mulut siap merobek.


Mendapatkan serangan mendadak tersebut, Marsudi meledakkan energi dari tubuhnya. Langit menjadi terang bagai terkena kembang api. Maung dan Sarti terlempar menghantam tanah akibat dorongan kekuatan Marsudi ini.


Marsudi dan perempuan setengah baya di dalam tubuhnya tertawa bersamaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keris Mpu Gandring yang bersinar redup kebiruan sudah berada dalam genggamannya. Melihat ini air muka si kuntilanak merah yang sudah mengerikan itu berubah menjadi semakin lebih mengerikan. Kulit putih pucatnya retak. Sepasang matanya yang mengalirkan darah melotot. Ia berteriak keras dan menangis pilu.


"Aku tak punya pilihan. Ini hanya sebentar. Kita berdua memiliki resiko yang sama besarnya, tapi tak ada yang bisa kulakukan," ujarnya kembali kepada kuntilanak merah yang tiba-tiba menghilang dan muncul kembali sama secara mendadaknya di belakang Soemantri Soekrasana.


Hantu perempuan itu memeluk Soemantri Soekrasana dari belakang dengan menggunakan kedua tangannya yang kurus pucat dan berkuku panjang hitam.


Soemantri Soekrasana memang tak punya pilihan. Fadlan dan Lutfi masih mengincarnya sedangkan warga sudah beberapa tewas dan entah berapa lagi yang luka parah. Kalau ia membiarkan ini, seluruh desa bisa bersimbah darah. Para mahluk astral akan berpesta pora. Menjilati darah manusia, menggerogoti daging, menghirupi rasa takut dan kematian.


Menggunakan keris sakti ini akan menguras habis tenaganya. Bahkan legenda mengatakan bahwa umur si pengguna pusaka ini akan berkurang, sesuai dengan kutukan keris yang sudah terbukti selama ratusan tahun.

__ADS_1


Tapi apa arti hidupnya yang panjang bila ia membiarkan pembantaian ini terjadi?


Soemantri Soekrasana mengangkat keris Mpu Gandring tinggi-tinggi, meneriakkan lantang mantra berbahasa Jawa Kuno. Api biru dari keris Mpu Gandring yang semula redup langsung bersinar terang menyilaukan.


Fadlan dan Lutfi terdorong mundur. Para mahluk halus yang bergentayangan maupun berada dalam tubuh warga berteriak-teriak dan berontak. Bila biasanya mereka yang membuat manusia ketakutan, kali ini mereka yang ketakutan.


Soemantri Soekrasana menancapkan keris itu ke tanah. Aspal tercongkel, genangan air terciprat, energi biru memecah ke segala penjuru arah bagai gelombang laut.


Segala pocong tercabik-cabik. Kuntilanak, sundel bolong, wewe gomel, gendruwo, hantu perempuan cina, buto ijo bertubuh ular, segala jin dan roh-roh mengerikan dan menjijikkan lainnya tersobek-sobek. Tubuh astral mereka memudar dan menghilang perlahan bagaikan lukisan kapur yang dihapus dengan meninggalkan teriakan, desisan dan geraman memilukan.


Para mayat hidup seperti kehilangan perintah dan kuasa. Mereka roboh ke tanah bagai balok-balok domino, tanpa nyawa, sedangkan para pemuda jagoan kebal yang tinggal beberapa namun masih bugar dan berbahaya mendadak juga terperanjat dan menjadi awas.


Kuntilanak merah masih menempel di punggung Soemantri Soekrasana. Ia menangis tersedu-sedu. Darah mengalir keluar dari selangkangannya melewati jarit dan kakinya. Ia melepaskan pelukan, mengambang di udara dan menghilang dari pandangan.


Semua warga yang kesurupan rubuh terbaring di tanah tak sadarkan diri, termasuk Fadlan dan Lutfi. Maung dalam tubuh Anggalarang kembali menghilang, meninggalkan Anggalarang yang jatuh berlutut.


Sarti dan Wong Ayu masih bergelimpangan di tanah beraspal yang basah.


Marsudi berdiri dengan sepasang mata yang melotot melihat budak-budak astralnya menghilang. Kekuatan keris Mpu Gandring membuat roh-roh halus musnah, beberapa terluka dan menghilang, beberapa lagi terlepas dari belenggu gaib sang iblis betina dan melarikan diri, lainnya bersembunyi entah dimana.


Dengan sadar, para warga yang masih berdiri dengan prima menolong teman-teman mereka yang terluka dan lemah maupun tak sadarkan diri setelah terasuki sebelumnya. Mereka memberikan penanganan terbaik mereka serta sedikit mundur dari area pertarungan.


Tiba-tiba Marsudi terkekeh, "Benar-benar lawan yang tangguh."

__ADS_1


Kumpulan para pemuda jagoan yang kebal berdiri berkumpul di belakang Marsudi, siap kembali menyerang. Pedang panjang terhunus, wajah garang terpasang, angkara murka meraja.


__ADS_2