Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Empatpuluh Delapan


__ADS_3

Suara sirine mobil polisi menggema. Kelap-kelip biru rotaror atau lampu strobo kepolisian memantul di pepohonan di bawah bukit mendekat ke pusat aktifitas warga Prajuritan yang kini sedang dihiasi api yang membakar di sana-sini.


Ada dua kendaraan polisi dengan pasukan khusus di dalamnya. Tidak disangka-sangka bahwa polisi dapat diyakinkan oleh tiga orang warga Prajuritan yang melapor ke kota agar bersedia datang ke desa Prajuritan. Entah apa yang disampaikan atau diceritakan ketiga warga itu sehingga polisi menganggap serius dan mengirimkan pasukan khususnya.


Ada dua 4x4 Armored Personnel Carrier (APC) Police yang setiap kendaraannya mampu mengangkut sampai dua belas anggota. Berarti ada kurang lebih dua puluhan personil kepolisian khusus yang dikerahkan kepolisian untuk menangani masalah ini.


Warga sebenarnya bingung juga harus merasa lega karena bantuan datang, atau tidak. Masalah ini bukan perkara sederhana, bukan perihal tindakan kriminal atau terorisme. Ini masalah gaib. Bagaimana bila si pemimpin gerombolan jin, hantu dan mahluk-mahluk astral serta pembawa pagebluk serta kematian itu ternyata lebih kuat dari desingan mimis timah panas?


"Mas Marsudi. Kami menunggu perintahmu," ujar salah satu anggota tin khusus kepolisian yang ketika sampai di lapangan pertempuran langsung menghadap sosok Marsudi yang berdiri tegak bersama para pemuda kebal di depan empat orang anggota Catur Angkara.


"Kalian sudah jauh-jauh sampai kemari. Cita-cita kita akan tercapai malam ini. Kalian tidak perlu bersembunyi main-main dalam gelap. Tak akan ada yang dapat menandingi kita," ujar Marsudi dingin.


Tubuhnya kemudian melayang, mengambang di udara.


Anggota kepolisian yang melihat ini langsung berlutut. Wajah mereka khidmat oleh keterpesonaan, kebanggaan dan hormat. Moncong senjata api laras panjang mereka menghadap ke bawah.


Para warga dibuat bingung setengah mati dengan hal yang mereka lihat di depan kedua mata kepala mereka ini. Bukankah harusnya kepolisian membantu para warga dan paling tidak menangkap Marsudi dan para pengikutnya? Bukannya malah menjadi mengikuti Marsudi. Atau, jangan-jangan para anggota kepolisian ini adalah antek-antek Marsudi? Para anggota kepolisian korup dan kotor yang berpihak pada kuasa dan uang Marsudi, salah satu kepala preman paling penting di beberapa area di nusantara.


Kelak para warga tahu bahwa ketiga warga mereka yang diberi tugas melapor kepada kepolisian di kota sudah tewas dihabisi para anggota polisi korup ini di perjalanan mereka kembali ke desa Prajuritan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anggalarang tanpa Maung di dalam tubuhnya hampir bisa dikatakan hanya seorang manusia biasa. Namun tekad, niat, keberanian dan instingnya sama sekali tidak bisa disepelekan. Ia berlari sekencangnya dan membopong Sarti sekaligus merengkuh pinggang Wong Ayu ketika para anggota kepolisian mulai menembaki mereka.

__ADS_1


Kerumunan bubar. Mereka melarikan diri bersembunyi dan berlindung di beragam bangunan dari serangan membabibuta dan tiba-tiba ini. Irawan, Hamdan dan Dul Matin menarik Soemantri Soekrasana cepat dan bersembunyi di sebuah bangunan mini swalayan.


Hujan tembakan memecahkan kaca, menghamburkan beragam barang dagangan di bangunan itu. Walau keempatnya terluka karena pecahan kaca dan terserempet mimis timah panas, pada dasarnya mereka masih selamat, tiarap di balik meja kasir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sarti tertembak di bagian perutnya. Darah mengalir tanpa bisa dicegah. Anggalarang tak bisa mencegah Wong Ayu yang bangun dengan penuh amarah melihat Sarti, rekan barunya, terluka.


Ia berteriak keras dan merentangkan kedua tangannya. Api yang berkobaran di beragam bangunan semakin besar dan membara.


Bagai mengendalikan kumpulan kerbau liar, Wong Ayu mengibaskan kedua tangannya. Api-api itu memanjang bagai lidah-lidah naga dan membakar para anggota polisi yang menembaki dirinya serta warga.


Teriakan kesakitan terdengar dari empat anggota polisi yang mendapatkan diri mereka dimakan kobaran api.


Wong Ayu nampaknya sedang dalam kondisi yang luar biasa penuh amarah. Tubuhnya melesat ke angkasa. Dari sana ia memerintahkan api untuk membakar para musuh bagai seorang konduktor orkestra mengatur para pemain instrumen musik.


Marsudi nampak tak bisa membiarkan hal ini terjadi dengan seenaknya. Ia menghentakkan kaki ke tanah, kemudian menggunakan semacam ilmu menggerakkan benda dari jauh tanpa disentuh - telekinesis - dan melemparkan sekaligus lima mayat yang berserakan di tanah.


Kelima mayat itu beterbangan mengarah ke Wong Ayu yang masih mengambang di udara.


Tiga mayat berhasil ia hindari, tapi dua sisanya menubruk tubuhnya sehingga ia pun jatuh ke bumi.


Ketika ia berdiri, tubuhnya dihantam satu kendaraan tempur pembawa pasukan kepolisian, 4x4 APC Police, yang dikendarai salah satu personil tim kepolisian anak buah Marsudi itu. Tubuh Wong Ayu terlempar jauh, menubruk rak barang di sebuah mini swalayan dimana Anggalarang, Irawan, Hamdan dan Dul Matin berada.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sarti hampir lupa rasanya sekarat dan mati. Darah terus mengalir dari lambungnya, kepalanya pening dan pandangannya melayang ke ratusan tahun yang lalu di setiap kehidupan lamanya. Anggalarang di smapingnya mencoba menolongnya sebisa mungkin, melakukan hal-hal yang tak Sarti ketahui, toh memang ia sedang sekarat.


Bau dan bunyi deburan ombak menggapai-gapai indra pendengaran dan penciumannya. Sudah saatnya ia mati. Hidupnya terhenti sampai tahap ini. Kali terakhir ia matipun ia tak begitu merasakan sakit atau ketakutan yang berlebihan. Hanya satu hal yang ia tunggu, sosok perempuan cantik, anggun, penuh pesona namun agung itu untuk datang kepadanya.


Segala sesuatu di sekitarnya tak terasa dan tak menjadi soal. Oksigen yang tersendat masuk ke lubang hidungnya tidak menjadi syarat utama lagi. Segala syarafnya juga telah lumpuh. Pandangannya semakin kabur melihat dunia sekitar namun satu titik perlahan membentuk sesuatu, menjelma sosok yang Sarti tunggu-tunggu.


Perempuan itu berjalan anggun, serasa melayang. Tubuhnya yang ramping berbalut kemben hijau dengan jalinan sulaman benang emas. Jarit dan selendang di pinggangnya berkelim-kelim rumit, panjang, mewah dan megah. Rambut bergelombangnya bersaing panjang dengan jaritnya menyapu tanah. Sebuah mahkota bertahta batu manikam berkelap-kelip di atas kepalanya yang sempurna.


Untaian kalung, gelang lengan dan pergelangan tangan yang berpendar keemasan senada dengan warna kulitnya yang juga bercahaya. Wajah ayunya menyimpan kekuatan. Pesona wajah yang membuat pria manapun bertekuk lutut. Bukan hanya karena berahi, namun ada rasa takut dan takluk yang tak bisa digambarkan. Ada rasa kekalahan dan pasrah yang mutlak.


"Nyi Roro Kidul," ucap Sarti dalam kesekaratannya.


"Ah, Sarti, Sarti. Setelah sekian lama, kau masih belum bisa membedakan mana aku, mana Blorong atau Kandita, nduk," ujar sang perempuan.


Suaranya penuh wibawa dan ketenangan yang luar biasa. Hampir mustahil keluar dari mulut seorang manusia.


"Kanjeng Ratu Kidul," Sarti mengoreksi ucapannya tadi ketika paham yang datang adalah sang roh penguasa laut Selatan.


Sarti terkejut luar biasa.


Selama ratusan tahun dan entah berapa kali ia hidup dan mati, ini kali kedua sang Kanjeng Ratu datang langsung ke hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2