Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Laki-Laki Setengah Baya


__ADS_3

Soemantri Soekrasana kembali ke warung dan sedang melahap nasi putih dengan bothok dan tempe dan tahu bacem ketika ia melihat seorang laki-laki setengah baya datang ke warung Mak Romlah, berjalan pelan, cenderung terseok.


"Mak, kopi satu ya," ujarnya.


Para pemuda mendadak diam. Suasana terlalu aneh dan jelas-jelas terpengaruh atas kedatangan sang bapak tersebut.


"Capek, pak hari ini? Piye kabar anak istri?" ujar Mak Romlah sembari menghidangkan secangkir kopi. Aroma kopi yang ditebarkan asapnya membuat lubang hidung Soemantri Soekrasana terbuka lebar.


"Yah, namanya kerja ya pasti capek, Mak. Bune si Wardhani sudah sampai rumah duluan. Tadi sempat ketemu di sawah," jawabnya pelan. "Mak, aku tak pinjam WC-nya ya sebentar," tambah sang bapak. Mak Romlah mengangguk paham. Bapak itu pun berdiri dan berjalan pelan ke belakang.


Soemantri Soekrasana melihat jelas, ada sosok perempuan berambut panjang kasar sedang menaiki punggung sang bapak. Ada tetes-tetes air dari rambut sekasar ijuk itu.


Desas-desus para pemuda langsung terdengar ketika sang bapak tak terlihat lagi.


"Ah, tidak usah penasaran dan didengarkan ucapan anak-anak muda itu, nak. Di dusun ini, bapak itu dikenal sebagai keluarga yang dulunya kaya raya. Setelah putri pertama mereka wafat, mereka mendadak jatuh miskin. Orang-orang dusun bilang kalau mereka menjadi agak ... Hmm ... tidak waras, nak. Putri mereka yang kedua katanya sering lihat hantu dan berteriak-teriak sendiri. Ya, meski Mak sudah tua, tapi selama ini mak belum pernah melihat begituan di dusun ini. Maklum kalau warga menganggap sang anak agak ... Hmm ... Gila ... Ah, tapi hidup mereka sudah susah sekarang. Kalau Mak dulu kaya, terus kemudian kehilangan anak dan kekayaan sekaligus, ya Mak juga bakal gila ya to nak?" Mak Romlah kembali tersenyum memperlihatkan deretan gigi merah kehitamannya.


Setelah selesai menghabiskan makanan, tak lama Soemantri Soekrasana menatap punggung menekuk sang bapak meninggalkan warung. Ia pun segera membayar makanan yang ia telah habiskan kepada Mak Romlah, berpamitan cepat dan menyusul kepergian sang bapak.


Soemantri Soekrasana lekas menjajari sang bapak, kemudian menyapanya. "Maaf, bapak. Nama saya Soemantri, Soemantri Soekrasana. Kebetulan saya bekerja sebagai tukang pijat keliling. Tadi, kita sempat bertemu di warung Mak Romlah," Soemantri Soekrasana setelah berhasil menyusul sang bapak yang berjalan tertatih. Ia menyapa sang bapak di sebuah jalan setapak sempit dan gelap dengan rimbunan pepohonan bambu di bahu jalan. Sosok arwah perempuan itu masih menempel di punggung sang bapak. Kedua tangannya yang kotor dan selusuh pakaian putihnya melingkar di leher bapak tersebut.

__ADS_1


Sang bapak memalingkan wajah ke Soemantri Soekrasana kemudian tersenyum. Ia melambaikan tangannya ke udara. "Bapak tidak punya uang untuk membayar jasamu, nak. Bapak juga sudah biasa pulang kerja dalam keadaan lelah begini. Namanya juga sudah tua," ujar sang bapak. "Tapi, terimakasih atas penawarannya," lanjut sang bapak.


Soemantri Soekrasana kembali melirik ke arah arwah perempuan yang menempel erat di punggung sang bapak tersebut. "Maaf karena lancang, pak. Tapi bukan begitu maksud saya. Sebenarnya saya sedang berlatih mempraktekkan ilmu pijat saya. Saya melihat punggung, bahu, lengan atas dan leher bapak sering pegal seperti sedang mengangkat beban, terutama di sore dan malam hari, bukan?"


Sang bapak terperanjat, kemudian tersenyum, "Ah, kamu benar, nak."


Soemantri Soekrasana membalas senyuman sang bapak. "Nah, kalau boleh dan bapak menginginkan, biarlah saya coba urut dan sembuhkan rasa lelah bapak, tanpa dipungut biaya sama sekali, gratis. Anggap saja bapak saya jadikan ... ehm, sarana latihan," ujar Soemantri Soekrasana tersenyum malu-malu.


"Lah, kamu sungguh-sungguh, nak? Bapak benar tak punya uang lho ya. Tapi bapak percaya denganmu, buktinya kamu tadi bisa menebak dimana letak sakit dan pegal bapak hanya dari melihat," wajah sang bapak langsung bersinar ceria.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rumah itu luar biasa besar, apalagi bila dibandingkan dengan rumah-rumah warga dusun ini yang sedari tadi mereka lewati. Tapi, jelas cerita Mak Romlah mengandung kebenaran. Rumah dengan pelataran lebar, lantai ubin Belanda, bahkan pilar-pilar besar yang megah ini sama sekali tidak terawat. Lusuh dan tua.


Tak lama istri sang tuan rumah muncul dari dalam. Bekas-bekas kecantikan masih tertinggal di wajah dan rupanya. "Wah, ada tamu," ujar sang ibu pendek.


"Jangan repot-repot, bu. Saya sudah makan dan minum tadi di warung sama bapak ini," balas Soemantri Soekrasana.


"Sudah ... Sudah. Sana buatkan teh, bu. Cah bagus ini mau mijatin aku gratis. Katanya buat latihan. Beruntung sekali aku hari ini. Wong mau minta kamu yang pijat, malah kamunya nanti yang capek," ujar sang bapak bercanda.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Soemantri Soekrasana memandang sekeliling ruang tamu tanpa kursi yang lebar dan luas tersebut sembari duduk bersila.


"Maaf, pak, itu foto-foto siapa ya?" tanya Soemantri Soekrasana menunjuk kumpulan foto yang menempel di satu sudut dinding.


Sebenarnya pertanyaannya lebih ditujukan pada sebuah foto yang paling jelas: wajah seorang gadis berusia belasan dengan rambut tergerai yang sekasar ijuk, diantara foto-foto lama yang ia pastikan adalah wajah-wajah keluarga dan orangtua atau generasi sebelumnya.


"Nah, kalau yang itu ... Itu, itu ... Foto anak gadis bapak yang pertama. Namanya Kinanti. Kebetulan, dia sudah meninggal lama, nak."


"Ah, maaf sekali pak. Saya turut berduka cita," ujar Soemantri Soekrasana menunjukkan rasa prihatinnya. Sosok perempuan yang bisa dipastikan adalah Kinanti yang selalu menempel di punggung sang ayah itu telah menghilang sedari tadi.


"Tidak apa-apa. Kamu 'kan tidak tahu. Lagipula kejadiannya sudah lama lewat, kok."


Tak lama terdengar langkah kaki dan bunyi gelas kaca berkelintingan di atas nampan besi.


Wardhani, putri kedua keluarga ini berjalan pelan membawa teh tawar tanpa gula. Namun mendadak paras gadis belia yang ayu itu terperanjat. Sepasang mata dengan bulu mata lentik terpasang oleh semesta itu membeliak. Nampan besi dengan gelas-gelas kaca di atasnya terjatuh dan pecah di permukaan lantai. Wardhani melihat sosok perempuan berkebaya merah melayang di belakang tubuh Soemantri Soekrasana yang sedang bersila menatapnya. Sosok perempuan itu bersanggul separuh dan separuh lagi rambutnya tergerai acak-acakan. Kedua matanya yang terlihat sedih dan menderita mengalirkan darah, begitu juga dengan mulutnya yang membuka lebar.


Sang bapak tentu terkejut, sedangkan Soemantri Soekrasana langsung berdiri dan berkata pelan kepada sang gadis, "Kamu juga dapat melihat kuntilanak merah itu?

__ADS_1


__ADS_2