
Anggalarang bangun dari pembaringannya. Kusuma Dewi tersenyum melihat sosok laki-laki berbadan ramping, berotot liat tertatah goresan luka itu tanpa penutup. Anggalarang berjalan ke kamar mandi, menutupi bagian bawah tubuhnya dengan selembar handuk untuk berangkat membuka pintu kamar apartemennya tersebut. Kusuma Dewi sebetulnya merasa enggan membiarkan Anggalarang pergi dari sisinya. Ia masih ingin bermain-main dengan sentuhan dan pandangan bermakna tersebut. Namun, bel hotel mana bisa menunggu. Entah siapa gerangan yang datang mengganggu kemesraan mereka ini.
Anggalarang yang telah berdiri memandang Kusuma Dewi. "Pakai baju,gih. Aku tidak rela membiarkan siapapun di depan pintu mengintip sedikit saja keindahan tubuhmu," ujarnya.
Kusuma Dewi tertawa renyah kemudian meloncat ringan dari tempat tidur, membuat sepasang dada jatuh penuhnya bergetar. Anggalarang tak melepaskan pandangannya sedikitpun dari tubuh indah yang sepertinya tak pernah bosan untuk ia nikmati berkali-kali sekalipun.
Kusuma Dewi meraih bathrobe alias handuk kimono berwarna abu-abu dan segera menutupi tubuhnya penuh. Ia bahkan mengencangkan tali baju handuk itu erat. "Puas?" ujarnya pendeksembari melotot jenaka ke arah Anggalarang.
Anggalarang tersenyum dan mengangguk.
“Puas,” ujar Anggalarang pendek.
Laki-laki muda itu lanjut berjalan dan membuka pintu kamar apartemennya.
Ada seorang laki-laki asing di depan pintu. Anggalarang tak mengenal pria dengan wajah tirus dan sepasang mata yang melirik liar kemana-mana itu.
“Maaf, ada keperluan apa, Pak?” tanya Anggalarang penasaran.
Jawabannya sama sekali tak diduga Anggalarang. "Bangsat! Kau sudah tidur dengannya? Kau tahu bahwa jiwamu bakal diperbudak oleh perempuan sundal itu, anak muda?!" seru sosok yang ternyata adalah Pak Guru Johan itu demi melihat Anggalarang berdiri di depan pintu yang dibukanya dengan berbalut selembar handuk saja.
Anggalarang mengernyit tak paham.
"Mana perempuan itu?"bentak Pak Guru Johan.
__ADS_1
Pikiran Anggalarang langsung mencari-cari alasan atas apa yang diucapkan laki-laki asing tersebut.
"Tunggu, Pak. Saya tidak paham apa maksud Bapak," jawab Anggalarangtak mampu menemukan jawaban yang cepat.
Sepasang mata Pak Guru Johan yang menyelidik liar itu mendadak membulat penuh amarah ketika tiba-tiba menangkap sosok Kusuma Dewi di belakang Anggalarang yang telah bertutup bathrobe.
Kusuma Dewi yang penasaran dengan nada keras dari sang tamu dan melihat Anggalarang kebingungan akhirnya mencoba melihat siapa gerangan yang datang. Sepasang matanya ikut membulat sama seperti sang tamu misterius tersebut.
"Mas ... Mas Johan?" ujar Kusuma Dewi pelan, terkejut.
Anggalarang berpaling ke arah Kusuma Dewi. "Kamu kenal orang ini, Kusuma Dewi?"
Saat itulah perhatian Anggalarang tak terfokus. Tiga orang laki-laki berbaju serba hitam, kaos berlengan panjang atau jaket kulit, menyeruduk masuk dari belakang Pak Guru Johan. Dua orang memegang kedua lengan dan bahu Anggalarang, satunya mengunci lehernya dari belakang.
Anggalarang bahkan hanya bisa melihat tak berdaya ketika Pak Guru Johan yang tak dikenalnya sama sekali itu menghambur masuk dan langsung menampar wajah Kusuma Dewi, kekasihnya. Tamparan keras yang nampaknya lahir dari rasa dendam kesumat itu membuat Kusuma Dewi terjungkal dan jatuh terlentang di atas tempat tidur.
"Kau lihat dia, Kusuma Dewi? Kau lihat hantu sepupumu merangkak menempel di dinding?"ujar Pak Guru Johan dengan suara bergetar sembari menunjuk ke arah dinding.
Memang, ada sosok hantu Ratih sang Belibis yang merayap menempel di dinding apartemen bergaya monokrom itu. Tentu saat ini hanya Pak Guru Johan yang dapat melihatnya.
"Bunuh ... Bunuuhhh ...," desau Ratih lamat-lamat. Suaranya bagai bunyi air jatuh di atas dedaunan.Hanya Pak Guru Johan yang mendengarnya.
Kusuma Dewi memegang pipinya yang terasa memar serta merasakan rasa karat darah di bibirnya yang pecah. Ia tak melihat apapun yang dimaksudkan oleh Pak Guru Johan.
__ADS_1
"Kau menggodaku dahulu bagai seorang pelacur murahan, kemudian membunuh saudara sepupu perempuanmu sendiri dengan kekuatan laknat di dalam tubuhmu itu. Perempuan sundal macam apa kau ini, hah?" seru Pak Guru Johan terbakar amarah.
Anggalarang memberontak sekuat tenaga melihat kejadian di depan matanya tersebut tetapi tak kunjung berhasil. Meskipun ia bukan laki-laki lemah, tiga orang pria yang memegangnya sama sekali bukan orang biasa. Cara mereka mengunci lengan dan tubuhnya serta kekuatan yang mereka perlihatkan menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah berpengalaman. Siapa mereka sebenarnya?
Baru kali ini Anggalarangsangat berharap sang harimau putih, Maung, memunculkan dirinya.
Pak Guru Johan berpaling ke belakang, memandang ke arah Anggalarang. Sebelum ia berjalan ke arahnya, Pak Guru Johan mengancam Kusuma Dewi, "Diam kau disitu!"
Pak Guru Johan memandang wajah Anggalarang lekat-lekat. "Apa yang begitu istimewa darimu, anak muda? Aku tak melihat ada yang tewas di sekitarmu. Serahuku, orang-orang terdekatmu hanya terluka, takut dan ngeri. Apa itu karena kau sungguh tak memiliki orang yang kau cintai?" ujarnya.
Anggalarang berontak. "Bangsat! Apa maumu sebenarnya? Lepaskan aku dan gadis itu, atau kau akan menyesal seumur hidup!"
"Ah, sebuah ironi," ujar Pak Guru Johan tak mengacuhkan ancaman Anggalarang. Ia menggaruk-garuk kepala dan mengusap keningnya seakan mendapatkan sebuah pemikiran yang brilian. "Jangan-jangan, kau jatuh cinta dengan perempuan itu?” Pak Johan terkekeh aneh. “Jadi, bila teoriku benar, aku tak perlu menyelamatkanmu sama sekali. Karena, kau adalah laki-laki yang dicintai Kusuma Dewi, begitu pula sebaliknya. Bila kekuatan iblis di dalam tubuh perempuan itu hendak membunuh orang yang Kusuma Dewisayangi, berarti sama saja bunuh diri, bukan?" kata-kata Pak Guru Johan ditutup dengan tawa histerisnya.
Ketiga orang bayaran yang sedang memegangi Anggalarang tak benar-benar paham dengan situasi ini, dan sesungguhnya mereka tak peduli. Sialnya, Anggalarang juga tak paham dengan apapun yang dikatakan orang asing ini.
"Nah, kita lihat bagaimana bila kau yang harus menjadi korbannya sendiri. Aku pikir itu sangat adil," Pak Guru Johan menghunus keris dari balik pinggangnya kemudian tanpa basa-basi membenamkan bilah berlekuk itu ke sisi lambung Anggalarang.
Teriakan keras menggema. Jeritan rasa sakit Anggalarang dan kepedihan Kusuma Dewi.
Anggalarang merasakan benar bilah keris melengkung itu mendobrak masuk menyobek kulit dan dagingnya dengan begitu gampangnya. Rasa sakit menyerang titik syaraf dan mengirim dengan kejutan ke otaknya.
Pak Guru Johan tak terlihat menawarkan emosi di wajahnya dan malah mencabut keris itu cepat. Darah menyembur bagai air terjun dari rongga luka di sisi tubuh Anggalarang yang bergetar hebat.
__ADS_1
Pak Guru Johan berbalik setelah mencabut keris itu dengan kasar, melihat Kusuma Dewi dan langsung memburu ke arah perempuan itu. "Sekarang saatnya kau yang harus mampus, perempuan sundal!"