Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Gapura


__ADS_3

Empat orang beragam usia sedang mendapatkan giliran beronda di malam berkabut ini. Sarung mereka selempangkan di bahu, satu orang melingkarkannya di pinggang sembari menyelipkan sebilah golok yang masih nyaman berada di dalam warangkanya disitu.


Gapura desa serasa menyala dalam gelap karena bata merahnya meski hanya berbalut cahaya lemah. Kain putih dan kuning yang diikat di sudut-sudut tinggi berkibar pelan oleh angin malam yang malas namun terasa sedikit dingin.


Empat warga Dusun Pon itu berjaga di pos keamanan kecil yang terbuat dari papan tepat di samping gapura desa. Sesap demi sesap kopi terasa memikat rasa bagi para penjaga. Asap kopi terikat oleh kabut dan mengabur bersama. Tak ada seorang pun yang bakal tahu apa yang sebenarnya akan terjadi malam ini.


Tanpa ada tanda dan aba-aba, mendadak, tiga sosok misterius menyibak tirai kabut. Tubuh mereka dibaluri cahaya temaram lampu jalan yang tak begitu terang.


Yang paling depan adalah Wardhani. Ia dibalut busana yang minim, berjalan melenggok di malam hari bersama dua pemuda dusun yang mengikutinya bagai dua orang budak yang terikat hasrat. Ini adalah sebuah pemandangan yang sama sekali tidak biasa, apalagi terjadi di malam hari seperti ini. Keempat peronda bingung harus berpikir dan bersikap seperti apa melihat kemunculan tiga orang secara tiba-tiba tersebut.


Wardhani berhenti beberapa langkah di depan pos keamanan yang lebih nampak sebagai sebuah pondok kayu reot, doyong ke salah satu sisi namun enggan rubuh. Lekukan tubuhnya terekspos nyata di depan mata.


Tanpa dikomando, Dua pemuda yang mengikutinya, Juned dan Waluyo, memisahkan diri dan langsung menuju gapura. Juned memanjat gapura bata merah dengan cepat dan melepas simpulan kain putih kuning yang belasan jumlahnya. Sedangkan lainnya, Waluyo,mulai mengangkat batang linggis dan memukulkan ke salah satu sisi gapura. Kotak-kotak bata kuno itu rompal, berhamburan pecahannya.


"Hei, apa yang kalian lakukan?" teriak pemuda yang beronda, tersentak dengan kejadian aneh ini. Walaupun tidak banyak yang masih percaya dengan kekeramatan gapura itu, tetap saja, gapura tersebut merupakan bagia dari sejarah dusun dan merupakan peninggalan masa lalu. Bila tak bisa menjaga, paling tidak jangan merusak. Begitu mungkin pikir sang pemuda peronda.


Dua laki-laki yang lebih tua juga langsung mendadak berdiri menyaksikan kejadian lancang tersebut. Salah satunya, yang melingkarkan sarung di pinggangnya, melepaskan golok yang masih menempel di sarungnya. "Berhenti! Aku bilang, berhenti!" serunyadengan ancaman sembari mengangkat goloknya yang masih berada di dalam sarungnya.

__ADS_1


Juned dan Waluyo tentu tak menggubris seruan para peronda yang sebenarnya cukup mereka kenal sehari-hari di dusun ini.


Si pemegang golok meloloskan bilah tajam itu dari sarungnya dan hendak melaju ke arah dua pemuda yang sedang melakukan tindakan vandalisme itu. Namun mendadak tubuhnya terlempar sedemikian rupa oleh kekuatan tak terlihat. Ia menubruk keras gubug reot pos penjagaan tersebut.


Wardhani tertawa lepas. Satu tangannya menjulur ke arah laki-laki yang terlempar tadi.


"Wardhani? Apa-apaan ini, nduk? Kenapa ... Bagaimana ...?" peronda yang paling tua dari keempatnya terkejut setengah mati sekaligus bingung mampus dengan apa yang barusan terjadi. Ia bahkan sulit mendapatkan pilihan kata untuk bertanya. Bagaimana tidak, dua pemuda yang ia kenal sebagai warga dusun ini tiba-tiba datang dan merusak gapura lama yang meski tak mereka percayai sebagai tempat keramat dan bertuah, tetap saja mereka hormati sebagai bagian dari sejarah dusun.


Belum lagi, Wardhani, gadis putri Girinata dan Marni yang didesas-desuskan memiliki gangguan kejiwaan itu muncul dengan tubuh nyaris bugil di malam berkabut. Dan, bila mereka tak salah melihat, gadis itu baru saja melempar rekan ronda mereka dengan kekuatan misterius, tanpa menyentuhnya sama sekali.


Para peronda merasakan bulu kuduk mereka merinding. Udara magis berbau sihir menyergap tiba-tiba dari segala arah bersamaan dengan bermunculannya mahluk-mahluk mengerikan dari balik kabut. Mereka merayap melata, melayang, datang menghilang, kayang, serta tinggi menjulang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Soemantri Soekrasana menggertakkan gigi, merasakan denyut di belakang kepalanya menyebar sampai ke leher dan bahu. Ia sama sekali tak menyangka bahwa ia akan dipukul dari belakang dan disekap di sebuah bangunan gudang lama dengan dua pemuda berotak ngeres, yang melakukan segala tindakan didasarkan pada dorongan berahi mereka yang menyentak-nyentak kasar.


Ia berjalan cepat, ingin berlari, namun ilmu Lembu Sekilan yang ia amalkan tadi membuatnya cukup kelelahan karena harus menghindari semua serangan dua pemuda yang hendak membunuhnya dengan pisau dan golok. Akhirnya ia kembali berajalan cepat sembari mengatur kembali nafasnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Marni merasakan peluh menghiasai seluruh tubuhnya. Cairan keringat dirinya dan suaminya, Girinata, sudah bergabung menjadi satu meminyaki seluruh tubuh telanjangnya dan memantulkan cahaya lemah di kamar tidur tersebut.


Marni menarik nafas, merasakan setiap inci kenikmatan dan meletup-letup di ruas-ruas syarafnya. Bahkan puncak kedua dadanya yang merah masih berdiri hidup oleh kepuasan.


Sudah lama rasanya terakhir ia bercinta begitu dahsyat dengan Girinata. Sudah terlalu lama ia tersiksa oleh tubuh renta yang menggerogoti hari-hari dan semangatnya.


Tubuhnya yang ramping, molek, berlekuk indah, berkulit kuning langsat mulus, rapat dan sempit di bagian bawah sana dengan rimbunan gelap yang subur, serta beraroma keringat muda dan bukannya berbau tanah, membuat semangatnya timbul membabibuta.


Marni memandang Girinata yang juga basah oleh peluh. Tubuhnya membentuk tonjolan-tonjolan otot yang rapat dan keras. Kulit gelapnya menggeliat ketika laki-laki itu bergerak untuk memungut celana bagian dalamnya. Kejantanannya menunduk lemas namun puas setelah memuntahkan cairan berahi yang sudah lama tak sederas itu.


"Ayo, Bu, bangun. Kita masih banyak kerjaan malam ini. Jangan biarkan Wardhani bekerja sendirian. Kita bantu dia mengumpulkan segala macam demit, lelembut, peri dan jin," ujar Girinata.


"Baik, baik, Pak. Aku juga perlu memanen ilmu sihir yang melewati dusun ini," tukas Marni. Ia berdiri, masih belum berbusana. Marni berjalan ke sudut ruangan, ke depan cermin oval besar yang menempel di lemari pakaian kuno. Marni menikmati ketelanjangannya. Seakan ia baru lahir kembali dan mencoba menjalankan fungsi-fungsi tubuh yang terlupa. Girinata memandang tubuh Marni kemudian menepuk bokongnya lembut. Bukan hanya Girinata yang menikmatinya, bahkan Marni si empunya badan merasa enggan untuk menutupi keindahan tersebut. Ia berdiri di depan cermin, mengangkat kedua lengannya untuk membenahi rambut panjang tanggungnya.


Marni tersenyum, bukan hanya karena melihat pantulan seluruh bentuk tubuhnya dari cermin, namun ia tersenyum pada sosok renta ibu mertuanya yang berdiri bungkuk di sisi lain ruangan. Seringai kebanggaan hantu perempuan tua renta itu melintas di bibirnya dari balik kegelapan.

__ADS_1


__ADS_2