
Girinata akhirnya dinyatakan sebagai seorang laki-laki setengah baya yang gila oleh warga dusun Pon. Wardhani, anak perempuan dan Marni, istrinya hilang, yang anggap saja pergi meninggalkannya, minggat. Hampir separuh lebih warga dusun padahal mengerti bahwa Marni dan Wardhani terlibat semacam lingkaran sihir di sekitar kehidupan mereka. Entah Girinata menjadikan mereka tumbal, atau anak istrinya itu yang menjadikan suami dan bapak mereka korban. Namun,warga dusun lebih baik menerima kenyataan bahwa Girinata menjadi tak waras. Lebih gampang. Toh, dusun mereka kini telah terbuka dan mulai menunjukkan kemajuan sejak insiden perusakan lima benda keramat yang disebut Pancajiwa di empat tempat berbeda di Dusun Pon beberapa waktu yang lalu.
Kejadian vandalisme dan tidak hormat itu menyumbangkan korban nyawa yang tidak sedikit. Korban nyawa adalah sebuah hal yang seyogyanya menjadi sebuah cerita yang tak bisa gampang saja dilupaka dan cenderung diceritakan terus-menerus. Namun setelah kejadian itu, anehnya, warga Dusun Pon sudah malah tidak terlalu sering membahasnya lagi. Kini tempat ini memaksa dengan cepat melupakan kejadian masa lampau dan terus maju demi perkembangan. Apalagi tak lama, dusun Pon mendadak menjadi sebuah tempat tujuan wisata unik: wisata spiritual.
Warga yang masih kasihan dengan Girinata yang jumlahnya masih cukup banyak itu, setiap hari selalu mampir ke rumah besar itu untuk meletakkan makanan. Girinata akan berjalan bungkuk perlahan untuk mengoret-ngoret makanan yang diberikan, sekadar sebagai respon perutnya yang kelaparan. Esok harinya dengan kesadaran pribadi, warga datang, membersihkan sisa-sisa makanan dan kadang menyapu beberapa bagian di rumah itu agar tidak terlalu lusuh dan kotor.
Namun, Girinata hampir selalu ada di dalam dunianya, sebuah dimensi yang menyerap jiwa dan raganya. Maka dari itu, hari ini, malam ini, mendadak ia tersenyum. Mata batinnya menerobos lapisan dunia gaib. Girinata telah tahu bahwa Wardhani telah menemukan inangnya. Wardhanisengaja mengambil perempuan bernama Kusuma Dewi itu bukan tanpa alasan. Rambut kemerahan dan kulit putihnya seakan mengingatkan akan sang kakak, Kinanti, yang mengambil bentuk kuntilanak berambut kasar kemerahan oleh tanah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Soemantri Soekrasana terkejut setengah mampus ketika wajah kuntilanak merah berada tepat di depan wajahnya. "Bangsat, sundal! Apa maumu kali ini?!" sumpah serapah Soemantri Soekrasana.
Ia sedang terlentang membaringkan tubuh di atas tempat tidur kamar sebuah penginapan murah ketika Chandranaya, sang kuntilanak merah, mengambang di atas tubuhnya. Kedua matanya hampir seluruhnya merah oleh darah. Rambut setengah disanggul dan setengah acak-acakannya beterbangan, seakan melawan gravitasi bumi. Ia sedang tersenyum lebar mengerikan dan menatap tajam sang dukun muda.
Bagaimana Soemantri Soekrasana tidak terkejut dibuatnya? Kuntilanak merah itu selalu saja berkomunikasi dengan cara yang masih sama sekali tidak pemuda itu pahami, padahal entah sudah berapa lama ia dikutuk untuk ditempeli arwah perempuan berkebaya merah itu.
"Minggir, atau kubakar tubuhmu dengan keris ini!" ancam Soemantri Soekrasana sembari pura-pura merogoh tas selempangnya untuk mengambil Mpu Gandring.
__ADS_1
Sontak sosok hantu perempuan itu menghilang kemudian muncul mengambang di pojok ruangan dekat jendela. Ia menyeringai dan menunjuk ke luar jendela dengan jarinya yang panjang, kurus dan berkulit pucat itu.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Soemantri Soekrasana yang kali ini lebih kepada dirinya sendiri. Ia menutup mata namun membuka mata batinnya. "Wardhani ...," gumamnya.
Ia memandang si kuntilanak merah yang meringis mengerikan. Orang biasa pasti sudah akan lari terbirit-birit mendapati muka menakutkan itu, tapi Soemantri Soekrasana memicingkan mata dan menemukan sesuatu dibalik air muka yang tak tertebak selain horor itu. "Kau menemukan sesuatu? Kau boleh berbagi denganku," ujar sang dukun muda.
Chandranaya si kuntilanak merah memandang tajam ke arah Soemantri Soekrasana kemudian mengambur maju. Tubuh astralnya masuk ke dalam tubuh Soemantri Soekrasana, membuat sang dukun muda tersentak ke belakang hingga kembali ke posisi tertidur terlentang kembali.
Jiwanya serasa keluar dari raga, melayang menembus langit-langit kamar penginapan murah itu, kemudian meluncur menembus lapisan kala, lembaran waktu dan dimensi, terus tersedot ke dalam lingkaran memori dan masa lalu, di tempat dan masa berbeda.
Dusun Pon di masa lampau.
Sial, pikir Soemantri Soekrasana. Ia tertipu lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pancajiwa ada bukan semata-mata usaha para tetua dusun untuk menahan kekuatan gelap, kekuatan hitam, atau kekuatan jahat yang hendak menghancurkan tempat mereka.
__ADS_1
Memang Dusun Pon diberkahi dengan aura dan atmosfir yang berbeda. Tempat ini merupakan sebuah lorong ruang dan waktu antar dunia dimana mahluk-mahluk serta kekuatan gaib mendapatkan tempat untuk beraktifitas: berkomunikasi, bertransportasi dan unjuk diri. Namun, para tetua desa menggunakannya demi keuntungan pribadi.
Sepasang pohon beringin kembar adalah lambang dari kesuburan. Unsur penting yang membuat kehidupan terus berlanjut. Keturunan dan generasi adalah syarat mutlak manusia tetap ada di dunia.
Gapura desa adalah lambang pintu ke tempat atau waktu yang lain, simbol masa depan. Ketika kaki melangkah memasuki dan melewatinya, itulah tanda manusia siap menghadapi apapun yang ada di depan,
sebuah harapan.
Tugu batu di persimpangan jalan dusun adalah sebuah monumen. Catatan sebuah pencapaian akan kekuasaan, wibawa dan kekayaan. Tugu itu adalah unsur dalam kehidupan manusia yang berusaha dicapai oleh hampir siapapun.
Yang terakhir, tunggul kayu di tepi sungai sebagai lambang hasrat dan nafsu manusia. Tunggul kayu itu adalah sebuah phallus, simbol maskulinitas. Tak heran ia diletakkan di tepi sebuah sungai, lambang feminitas. Seperti pasangan lingga dan yoni. Tak heran pula Wardhani dan sang siluman ular keluar dari dunia gaib tempat dimana mereka tersedot dengan menggunakan situs Pancajiwa yang ini. Keduanya menawarkan berahi yang juga merupakan unsur penting dalam kehidupan manusia.
Para tetua hidup dalam lingkaran yang menguntungkan mereka selama bertahun-tahun, sampai pada keturunan mereka. Mereka sengaja menggunakan kekuatan gaib untuk mengunci kekuatan gaib lainnya. Tujuannya sederhana, agar Dusun Pon akan selalu dalam status quo, mandeg, ajeg dan tak berubah.
Para tetua menahan unsur-unsur alami dalam kehidupan manusia tersebut selama puluhan bahkan ratusan tahun. Padahal, mereka bisa saja menjadikan dusun mereka 'ramah' terhadap elemen nafsu, hasrat, kesuburan, kekayaan dan harapan dan memperlakukannya dengan wajar. Namun, mereka mengekangnya sedemikian rupa sehingga unsur-unsur alami yang disertai unsur-unsur gaib itu menjadi semakin liar dan garang.
Para tetua adalah superego yang menekan id secara brutal. Tidak ada keterlibatan ego di dalam prosesnya.
__ADS_1
Sebagai akibatnya, ketika Pancajiwa dihancurkan, kekuatan gelap yang tersembunyi dan dimusuhi terlalu lama itu langsung berpendaran, berletupan dan bermunculan secara berangasan, buas dan tak terkendali.
Para tetua bukan orang-orang suci nan bijaksana. Mereka adalah para megalomania, narsistik, dan pecinta kuasa. Mereka merasa diri mereka agung dan besar, serta istimewa. Mereka menjadi hakim penegak hukum di atas dunia, dunia kecil yang mereka ciptakan.