Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Empat Puluh


__ADS_3

Soemantri Soekrasana akhirnya memutuskan untuk tak mau membiarkan Anggalarang bertanya-tanya.


Ujarnya, "Kita ditipu iblis itu. Namaku Soemantri Soekrasana. Aku juga kebetulan bertemu Wong Ayu di Kaliabang. Kami berusaha mengusir mahluk itu, namun ia terlalu kuat. Wong Ayu lah yang sebenarnya paham seluk-beluk si perempuan iblis itu dan kemungkinan besar cara melawannya. Dari ceritamu, berarti kau dan Sarti juga ditarik kekuatan aneh untuk menghentikannya. Kita berempat entah bagaimana memiliki tanggung jawab untuk melawan dan menghadang sang mahluk mengerikan itu. Sialnya, iblis betina itu paham ini dan berusaha mengadu domba kita dengan berubah menjadi Wong Ayu. Paling tidak ia membuat kau dan Sarti mengincar orang yang salah, sedangkan dia bisa melaksanakan rencana-rencana jahatnya."


Anggalarang mengepalkan jari-jarinya dengan geram, "Sial ... Sial!" Ia menyumpah ketika sadar dengan apa yang telah terjadi.


Soemantri Soekrasana paham perasaan laki-laki itu, kemudian menggenggam bahu Anggalarang. "Biarkan aku membebaskan sang Maung. Kita akan bebaskan warga desa dan melawan perempuan iblis itu."


Anggalarang mengangguk mantap.


Namun ia langsung jatuh terduduk ketika mendadak melihat sosok yang mengambang di belakang Soemantri Soekrasana. Seorang perempuan berwajah pucat, menangis darah dan berbaju merah yang menatap kosong ke arahnya.


"Maaf, ini sudah menjadi tabiat perempuan sundal itu, muncul dengan tiba-tiba. Bukan hanya kau yang dikutuk dikuntit mahluk gaib selamanya, Anggalarang," ujar Soemantri Soekrasana.


Anggalarang tak sempat protes lagi ketika sang kuntilanak merah terkikik dan merasuk ke dalam tubuhnya.


Soemantri Soekrasana memang telah memerintahkannya untuk masuk ke tubuh Anggalarang dan menjemput si Maung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Perempuan sundal murahan, gundik setan! Apa yang ditawarkan iblis itu kepadamu sebagai ganti darah yang tercurah?" teriakan Wong Ayu menembus bilah-bilah hujan. Tubuh basah kuyupnya masih mengambang di udara.


Sarti bergelantungan di palang bambu siap menyerang kembali. "Aku tak tahu apa yang kau bicarakan. Kau sendiri yang harusnya bangga menjadi simpanan iblis. Aku disini hanya bertugas mengirimmu langsung ke neraka untuk bertemu tuan-tuanmu itu."


Wong Ayu kini menjadi sedikit bingung dengan ucapan balasan sang lawan. Ia tak paham mengapa malah ia yang dituduh sebagai bagian dari kelompok iblis. Mengapa perempuan itu tak berterus terang saja bahwa ia mengabdi pada kegelapan.


Namun, Wong Ayu tak sempat lagi berpikir ketika lawannya itu sudah kembali menyerangnya. Sarti meluncur membabat mengarah ke leher Wong Ayu menggunakan celuritmya. Yang diserang kembali menghilang dan muncul lagi secara ajaib di belakang tubuh Sarti.


Hantaman keras di punggung Sarti membuat tubuh sang perempuan berumur ratusan tahun tersebut jatuh berdebum di aspal berair.

__ADS_1


Tepat ketika Wong Ayu memutuskan untuk menghabisi Sarti yang telungkup di bawah sana, sesosok hewani berwarna putih mencelat ke arahnya. Wong Ayu tak sempat menghindar sehingga cakar mahluk itu berhasil mencengkram jubahnya dan melemparkan tubuhnya menubruk sebuah kios rokok kecil.


Kios itu hancur berantakan. Wong Ayu melihat sosok siluman harimau putih dengan bulu-bulunya yang meneteskan air menyeringai ke arahnya.


Wong Ayu menggelengkan kepalanya. "Luar biasa. Mahluk-mahluk mengerikan ini sedang digunakan dengan baik sebagai budak," ujarnya.


Namun lagi-lagi, sebelum Wong Ayu melemparkan bola-bola api yang menyala dari kedua telapak tangannya, Soemantri Soekrasana berteriak sekuatnya di bawah hujan.


"Tunggu, mbak!!"


Laki-laki itu ngos-ngosan.


"Perempuan yang menyerangmu bernama Sarti. Orang di dalam tubuh harimau ini adalah Anggalarang," katanya.


Kemudian Soemantri Soekrasana melihat ke arah Sarti yang sudah berdiri. Ia melemparkan tombak Baru Klinthing yang ada di tangannya ke arah sang empunya.


"Namaku Soemantri Soekrasana. Perempuan yang kau serang itu memang bernama Wong Ayu, tapi dia bukan iblis betina dalang kekacauan ini. Ia berubah menjadi sosok Wong Ayu untuk mengelabui kita, membuat kita berempat saling serang!"


Sarti dan Wong Ayu bukan dua orang perempuan biasa. Selain memiliki ilmu kanuragan yang mumpuni, mereka juga cerdas.


Sarti yang sudah menggenggam Baru Klinthing di tangannya menatap ketiga orang yang berdiri di hadapannya. Wong Ayu juga sudah memahami apa yang terjadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tawa menggelegar terdengar.


Marsudi turun dari langit secepat kilat, menghantamkan kedua kakinya di tanah.


Aspal, tanah, pasir, bebatuan dan air terlempar, berhamburan dan hancur berantakan akibat kekuatan kedua kakinya.

__ADS_1


"Empat orang manusia rendah akhirnya bertemu. Semuanya memiliki ketersesatan dan dosa besar di dalam dirinya. Soemantri Soekrasana, apakah dengan tidak membunuh sesama membuatmu suci? Apakah kutukan siluman harimau membuatmu semakin menyadari jati dirimu yang sesungguhnya, Anggalarang, liar dan haus darah? Tidakkah kau bosan hidup terlalu lama dan terus mengumpulkan dosa, Sarti? Dan kau ... Wah ... Wah ... Wah ..., anak gadisku tercinta. Kau lah yang sebenarnya paling bertanggungjawab disini. Aku tidak menipu mereka bertiga. Aku hanya menyampaikan kebenaran," ujar Marsudi.


Aura dan suaranya bukan hanya miliknya. Si perempuan iblis jelas berada di dalam tubuhnya.


Keempat orang ini saling tatap. Masing-masing merasakan bahwa sang iblis yang bernaung di tubuh laki-laki itu sedang mempermainkan pikiran dan jiwa mereka.


"Aku kenal kau, Marsudi. Akhirnya kau mendapatkan juga apa yang kau mau, yaitu budak setan. Semakin bulat niatku untuk menghabisimu disini, saat ini juga!" teriak Sarti.


Yang diteriaki membalas dengan tawa. "Empat orang dengan kejahatan dan amarah yang disimpan dalam-dalam. Angkara murka. Merasa benar dan suci. Empat jiwa yang siap kupanen. Catur Angkara."


Tubuh Marsudi melayang. Di belakangnya berdiri beberapa orang laki-laki; warga desa Pancasona yang mengabdi pada iblis perempuan itu, rajah Kalacakra tergores di dada mereka; Affandi dan anak buahnya yang setengah kerasukan dan setengah sadar.


Marsudi kembali tertawa. "Sampai ketemu di desa selanjutnya, Catur Angkara. Pekerjaanku disini sudah selesai."


Sehabis mengucapkan kalimat tersebut, Marsudi dan para pengabdinya menghilang dari pandangan menyisakan gema tawa mengerikan Marsudi.


Soemantri Soekrasana meninju udara. "Bangsat! Ia menuju ke desa Prajuritan. Desa itu akan menjadi lautan darah. Warga Kaliabang dan Pancasona ada di sana pula," ujar Soemantri Soekrasana geram.


Wong Ayu memandang sekeliling. "Mayat-mayat hidup itu sudah menjadi lambat karena ditinggal oleh dalang mereka, perempuan iblis itu. Hantu-hantupun ikut serta iblis tersebut. Sebagian besar warga berhasil selamat dari kejaran mayat hidup dan melarikan diri ke desa Prajuritan. Tapi warga sama sekali tak tahu apa yang menunggu mereka di sana."


"Ia menyebut kita Catur Angkara, maka itulah kita. Kita akan lakukan apapun untuk mencegah iblis itu menguasai dunia kita." Ujaran Sarti ini direspon sang Maung dengan geraman.


Soemantri Soekrasana pun mengangguk setuju. "Desa ini sudah tak terselamatkan. Kita nanti akan kembali menghancurkan para mayat hidup setelah kita berhasil menyelamatkan desa Prajuritan. Kali ini kita tidak bisa membiarkan Prajuritan jatuh seperti Kaliabang dan Pancasona," ujarnya.


Wong Ayu maju mendekat ke arah ketiga anggota Catur Angkara lainnya. "Aku tahu kau bisa bergerak dengan cepat, Sarti. Begitu pula si Maung Anggalarang. Tapi kita tak punya waktu untuk itu. Aku bisa membawa kalian langsung berpindah ke Prajuritan saat ini juga, menyusul mereka."


Soemantri Soekrasana protes. Ia tahu bagaimana keadaan Wong Ayu bila ia harus membawa serta tiga orang sekaligus. "Mbak yakin mbak bisa? Membawaku berpindah sangat berbeda dengan membawa kami bertiga sekaligus."


Wong Ayu tersenyum, "Aku rasa aku akan kehilangan banyak tenaga. Tapi aku masih bisa mengumpulkan kekuatan sebentar selagi kalian yang melawan iblis itu. Aku yakin kalian memiliki kekuatan dan kemampuan yang mumpuni. Kita berempat akan jauh lebih baik dibanding sendiri-sendiri."

__ADS_1


Api terus membakar rakus bangunan tanpa mengacuhkan air yang masih berjatuhan dari langit. Mayat hidup berjalan perlahan ke arah desa Prajuritan. Mungkin butuh waktu lama bagi mereka sampai di tempat. Namun, mereka tak tahu dan tak mau tahu itu. Mereka hanya boneka yang dikendalikan kekuatan iblis.


Empat orang yang disebut Catur Angkara itu sudah lenyap, menghilang dari desa Pancasona yang sudah separuhnya luluh lantak.


__ADS_2