Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Suluk Keduapuluh Delapan Kusuma Dewi


__ADS_3

Pak Guru Johan tersentak mendengar suara yang keluar dari mulut sang preman.


"Wardhani? Apakah itu kau?" Pak Guru Johan menyipitkan mata menyelidik dan memang melihat tubuh serta wajah Wardhani membayang menempel di tubuh sang preman bagai badna kedua. Perempuan berilmu hitam itu ternyata merasuk ke dalam tubuh sang preman ketika siluman ular betina mengambil alih kuasa akan tubuh Kusuma Dewi untuk melawan Maung sang siluman harimau putih.


"Kau benar-benar tak mencoba mendengar apa yang sedang berusaha disampaikan Mbak Ratih, bukan? Ia tak ingin kau membunuh Kusuma Dewi, Mas. Bukan salah Kusuma Dewi memiliki pesona sehebat itu. Tapi salah dirimu menuruti hawa nafsu kemudian mengkhianati istrimu sendiri sehingga mengakibatkan kematiannya,"ujar Wardhani lembut melalui suara laki-laki sang preman.


"Bangsat! Diam kau Wardhani! Jangan memainkan kata-kata dan memutarkan fakta. Bila bukan karena ilmu sihirmu, mana mungkin aku tergoda. Lagipula, kaulah yang jelas-jelas membunuh Ratih. Kekuatan iblismu yang membuatnya tewas."


"Mas Johan, kau yang sebenarnya membohongi dirimu sendiri. Sedari awal kau adalah laki-laki jenis brengsek dan ganjen. Itu sudah ada dalam darahmu. Selama ini kau hanya menyembunyikannya baik-baik dari istrimu sehingga yang ia tahu hanya segala kesempurnaanmu. Kau hanya menunggu waktu dan keadaan agar jiwa asli dan alamimu yang terkekang itu lepas. Kusuma Dewi adalah kesempatanmu itu, bukan begitu, Mas Johan?"balas Wardhani  dengan suaranya yang bernada mengesalkan itu.


Sebagai responnya, Pak Guru Johan berteriak kencang. Dadanya penuh bergemuruh dengan perasaan yang saling bertentangan. Benci atas hidup, benci atas kenyatan, benci atas segalanya.


Ratih mendekat ke arah Pak Guru Johan dan kembali berkata lirih, "Bunuhhh diriiii ... bunuhhhh ... diriii ....," berkali-kali.


"Kau bisa menggunakan keris bapakku itu, Mas Johan. Lakukan, berhenti menyangkali atas segala kesalahan dan dosa yang sudah kau buat serta hidupmu yang tak berguna ini, Mas," ujar Wardhani di balik tubuh sang preman.

__ADS_1


Air mata mengalir deras dari mata Pak Guru Johan. Wajahnya mengeras dan tubuhnya bergetar hebat. Ia memandang tajam ke arah arwah gentayangan istrinya dengan menumpahkan segala perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya selama ini, terutama setelah tewasnya sang istri.


Pak Guru Johan menatap keris yang ia genggam itu lamat-lamat. Ia mengangkat tangannya dan tak lama bilah logam tajam berlekuk itu dilesakkan dari mata kanan langsung menembus ke otak.


Pak Guru Johan tewas di tempat dengan menusukkan kerisnya sendiri ke matanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anggalarang tak bisa menjilat ludah sendiri. Di dalam sana ia setengah mati menahan penyesalan dan kekesalan. Maung sudah mengambil alih kuasa atas tubuhnya dan ia yang meminta itu, bahkan memohonnya. Jelas bukan tanpa alasan Maung hadir dan memenangkan kuasa atas tubuh inangnya. Luka robekan besar di sisi lambungnya hanya akan membuatnya mati perlahan dan dengan tersiksa. Maung jelas harus datang dan membuat Anggalarang kembali sembuh dengan cepat.


Paling tidak itulah yang ia duga semula.


Tapi demi apapun di muka bumi ini, ia sama sekali tak menyangka dengan apa yang akan terjadi. Ada kekuatan gaib di dalam tubuh Kusuma Dewi yang mendadak muncul dengan bentuk yang sangat mengancam dan mengerikan. Ada sosok tubuh ramping tak berbusana, berkulit gelap dan berpucuk dada merah merekah darah menempel bagai bayangan di tubuh Kusuma Dewi. Di wajah mahluk gaib itu tergambar aura kelicikan dan manipulasi. Ada pula Sosok siluman ular yang tidak sekadar membayang dan merasuki tubuh Kusuma Dewi, ia bahkan telah berubah dan mengambil alih jiwa raganya. Hampir bisa dikatakan serupa dengan Maung dan dirinya.


Tubuh kedua siluman itu bergumul di udara dan meluncur jatuh dengan deras dari lantai tiga apartemen yang bisa dikatakan terbilang cukup mewah tersebut.

__ADS_1


Ekor siluman ular dengan sisik kehijauannya membelit erat sang Maung sedangkan kedua tangannya mencoba mencekik leher tebal harimau putih itu. Desisan dan auman bersahutan silih berganti sampai keduanya jatuh di atas kap sebuah mobil milik penghuni apartemen yang diparkirkan di bawah sampai ringsek habis-habisan dan kacanya


pecah berderai.


Maung menggigit bahu sang siluman ular, menanamkan taringnya dalam-dalam kemudian meencatut tubuh panjang musuhnya dari belitannya itu dan melemparkannya jauh. Tubuh sang ular betina menubruk sisi body mobil lain dan menghancurkannya.


Anggalarang hidup berkecukupan. Ia seorang penabung yang disiplin. Gajinya mungkin tak terlalu tinggi, akan tetapi segala keperluan dan gaya hidupnya dipenuhi oleh para wanita yang berada di sekitarnya. Ia memiliki satu buah mobil yang tak terlalu mewah, namun lebih dari cukup dan fungsional - dihadiahkan oleh Jenni Tansi gadis metropolitan nan tajir melintir sedari lahir dan yang kerap menyelipkan sebatang rokok ramping khusus wanita di bibirnya itu sebagai hadiah tiga malam penuh Anggalarang memuaskannya di atas ranjang. Syukurnya, mobilnya diparkirkan di posisi yang jauh dari tempat pergumulan Maung dan sang siluman ular, karena masih ada dua tiga mobil lagi yang menjadi korban keganasan kekuatan keduanya.


Sang perempuan ular menampar tubuh harimau Anggalarang, menyeruduk, membelit dan melemparkannya. Sebaliknya, sang Maung berusaha menyakar dan membongkar tubuh panjang bersisik bak baju zirah lawan, menggigit leher dan terus melakukan serangan. Tubuh keduanya saling terdorong, saling terpental, saling terlempar.


Tak bisa dielakkan bahwa puluhan pasang mata menatap dan mengintip menyaksikan kejadian ini dengan ngeri. Bukanlah sebuah pemandangan memukau melihat dua sosok mahluk asing yang tak bisa dinalar saling gumul saling serang, mencakar, menggigit, membelit, melempar, mengaum dan mendesis. Lima buah mobil hancur berantakan, belum termasuk beberapa pohon taman yang sobek batangnya oleh cakaran dan gigitan. Cahaya terang dari sumber-sumber lampu di apartemen mewah itu menyenteri dan membuat pertarungan ini bagai pertunjukan di atas sebuah panggung drama dan hiburan.


Namun memang pertempuran yang luar biasa cepat dan ganas ini terlalu mengerikan untuk direspon. Maka, para penonton memutuskan untuk menyaksikan dalam diam mencari aman sekaligus memenuhi rasa penasaran mereka sendiri.


Tubuh kedua mahluk itu terluka parah. Sobek disana sini, terkelupas dan terbeset. Namun, hanya membutuhkan sedikit waktu saja untuk semua jenis luka tersebut sama-sama menghilang. Sang Maung dan sang ular betina sembuh dan pulih hampir sempurna. Bulu-bulu putih kasar Maung kembali muncul mencuat dari pori-porinya, sedangkan sisik ekor ular sang siluman betina kembali tumbuh dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2