
"Ingsun amatek ajiku si lembu sekilan, Rasulku lungguh, Brahim nginep babahan, Kep-karekep barukut kinemulan wesi kuning, wesi mekangkang, Sacengkang, sakilan dsadempu, Sakabehing braja tan ana nedasi, Bedil pepet, mriyem bunyu, ..."
Soemantri Soekrasana merapal ajian lembu sekilan, sebuah ilmu yang membuatnya hampir mustahil untuk diserang. Setiap serangan lawan yang ditujukan padanya pasti dapat terelakkan meski hanya terpaut sejengkal saja.
Wong Ayu sudah menghilang entah kemana meski keduanya paham bahwa ada bahaya lain yang juga mengancam, bukan hanya dirinya, namun seisi desa Pancasona. Sang ratu iblis nampaknya sudah menjejakkan tanahnya di desa ini, lebih cepat dari perkiraan mereka berdua. Jadi, Wong Ayu meninggalkannya begitu saja. Sedangkan ia tahu bahwa beberapa orang bersenjata api sudah berjejer di lorong losmen lantai dua, beberapa meter dari kamarnya. Ternyata mereka menunggu keadaan untuk segera menyerangnya. Kebetulan sekali, warga Kaliabang dan beberapa orang warga Pancasona juga telah memutuskan untuk pergi dari desa ini untuk mencari perlindungan di desa lain. Saat yang tepat bagi para rombongan begundal itu untuk menyelesaikan aksinya.
Soemantri Soekrasana meraba hulu keris di dalam tas selempangnya, kemudian memandang si kuntilanak merah yang duduk di atas lemari pakaian di kamarnya menggoyang-goyangkan kedua kakinya sembari terkikik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Affandi berdiri di belakang lima orang bawahannya yang tiga orang diantaranya bersenjatakan pistol semi otomatis HS-9 dan dua orang lainnya menggenggam Sub Machine Gun atau SMG Sa Vz 61 Skorpion yang kerap digunakan dalam misi pertempuran jarak dekat atau Close Quarter Battle.
Meski semua anak buahnya bersenjatakan senjata api, Affandi masih percaya diri mempersenjatai dirinya dengan sepasang karambit. Ia lebih nyaman seperti itu. Ia berdiri paling belakang dari pasukan penyerbu.
Kardiman Setil di lantai bawah sudah lebih dahulu meminta pemilik losmen untuk mengetuk pintu semua tamu dan meminta mereka keluar, kecuali kamar Soemantri Soekrasana. Dengan kemampuan dialognya dan karisma aparat yang masih ia miliki, ia dapat meyakinkan pemilik losmen bahwa mereka adalah polisi preman yang hendak menangkap seorang terduga *******. Tidak terlalu susah untuk meyakinkan sang pemilik losmen, mengingat sudah terlalu banyak hal mengerikan terjadi hari ini, termasuk kedatangan para warga Kaliabang yang mengungsi. Semua hal ini seperti bercampur aduk, sehingga lebih baik untuk mencari hal yang aman saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Dobrakan pintu kamar Soemantri Soekrasana dibalas dengan sambutan tendangan keras dari dalam. Satu penyerang terlempar jauh menabrak pintu kamar di seberang. Melihat rekannya terlempar sedemikian rupa bahkan tanpa sempat menembakkan pistolnya, semua anggota preman menjadi kalap. Mereka masuk bersamaan dan menembaki sosok laki-laki yang berdiri di dalam kamar.
Secara logika, harusnya tubuh Soemantri Soekrasana hancur tercabik muntahan mimis timah panas. Namun yang terjadi sebenarnya adalah Soemantri Soekrasana bergerak cepat di ruangan yang tidak begitu besar itu dengan keluesan luar biasa. Seakan ada tali ajaib yang menggerakkannya sehingga tubuhnya meloncat, berguling, bersalto dan melipat sedemikian rupa sehingga tak satu mimis timah panas pun berhasil bersarang di tubuhnya.
Sebaliknya para penyerang menjadi kesulitan karena ruangan yang tidak begitu luas dan gerakan objek yang cepat membuat mereka sulit membidik dan tak bisa memberondongnya dengan leluasa, terutama tanpa melukai rekan mereka sendiri. Akibatnya, mimis timah panas menyasar tempat tidur, lemari, dinding bahkan lampu. Membuat ruangan menjadi gelap dan tersinari hanya oleh sinar di luar ruangan serta lecutan api dari moncong senjata mereka.
Semua penyerang menghentikan tembakan mereka dan terdiam, tak begitu yakin apakah ada hasil dari rentetan mimis timah panas mereka ini. "Bangsat! Sudah mampus kau?!" teriak salah satu preman. Tentu tak ada balasan. Mereka mulai melangkah masuk lebih ke dalam dengan perlahan. Mereka memasang kuping baik-baik dan menajamkan pandangan mereka di dalam ruangan gelap dengan penerangan terbatas ini.
Tiba-tiba satu sosok mengagetkan salah satu preman, tepat di depan wajahnya. Perempuan berbusana merah, berwajah pucat dengan rambut acak-acakan dan sepasang mata mengalirkan darah muncul entah darimana. Sang preman berteriak keras dan menembakkan pistolnya ke arah kemunculan sosok itu.
"Bangsat! Kenapa kau tembak aku, bodoh?!" ujar sang korban terlihat di sinar temaram berlutut memegang bahunya yang berdarah.
"Kun ... Kun ... Kunti ... Lanak," ujar sang penembak terbata-bata.
Yang lainnya tak sempat protes ketika satu persatu melihat sendiri kemunculan mahluk itu yang sedang merayap di dinding, menghilang ketika ditembak dan muncul lagi tepat di atas kepala mereka, berjalan terbalik dengan kaki menempel di langit-langit dan rambutnya yang acak-acakan terurai menggantung.
Sontak secara serentak semua menembaki langit-langit, menghancurkan plafon dan praktis merusak isi ruangan. Namun yang mereka dapatkan hanyalah rasa takut yang mencekam dan berkepanjangan. Bagaimana tidak, suara kikikan sang kuntilanak merah terus bergema di dalam ruangan.
__ADS_1
Saat seperti inilah Soemantri Soekrasana muncul dari kegelapan, membalas serangan. Ia melucuti senjata lawan dengan menghajar dagu, menendang ulu hati, memelintir lengan lawan, bahkan menghempaskan kepala musuh ke dinding. Serangan cepat ini tak terduga, bahkan para preman lupa bahwa mereka harus kembali mengisi mimis timah panas. Hanya saja semuanya sudah sangat terlambat. Mereka semua berhasil dilumpuhkan dan tak sadarkan diri.
Soemantri Soekrasana keluar ruangan yang penuh dengan asap serta bau mesiu. Ia mendapati bahwa ada seorang laki-laki lagi berdiri di ujung koridor sudah dengan menggenggam karambit di kedua tangannya.
"Kardiman benar. Kau pasti punya pusaka di balik bajumu itu. Bila kau cuma cecunguk busuk, tak mungkin kau bisa melawan lima anak buahku, bahkan mengalahkan mereka. Aku siap jajal kemampuanmu anak muda," ujar Affandi sembari mempersiapkan kuda-kudanya.
Soemantri Soekrasana menggelengkan kepalanya sedikit sebal. "Aku juga yakin orang semacam kau yang bertindak sedemikian jauh pastilah berjiwa busuk. Tanpa diminta pun, aku akan ladeni kau."
Affandi tersenyum dan menyerbu cepat ke arah targetnya. Ia berputar-putar menyabetkan karambitnya ke arah kaki, paha, perut, dada dan leher Soemantri Soekrasana. Semua serangannya luput, sejengkal jauhnya. Setiap Affandi yakin bahwa paling tidak ada satu atau dua sabetannya bisa menggores tubuh musuhnya, saat itu pulalah ia diherankan dengan lolosnya serangannya yang hanya membentur udara kosong.
Soemantri Soekrasana tak mau berlama-lama mempermainkan musuhnya ini. Ketika Affandi masih nekad menyerangnya, menyasar pada tenggorokannya, Soemantri Soekrasana bergeser sedikit dengan pengaruh ajian lembu sekilannya, kemudian meraih tangan Affandi, mengunci dan mematahkan dua jarinya. Teriakan kesakitan Affandi tersengar bersamaan dengan lepasnya salah satu karambitnya.
Belum sempat sadar betul dengan kondisinya, Soemantri Soekrasana sudah maju dan mendaratkan jejakan kakinya ke tempurung lutut Affandi dan membuatnya retak parah. Affandi bahkan kali ini belum sempat berteriak ketika Soemantri Soekrasana menghajar wajahnya beberapa kali, mematahkan tulang hidungnya dan membuat pandangannya kabur.
Tulang pipi dan pelipis Affandi remuk.
Darah kental menutupi wajah dan membuatnya hampir tak sadarkan diri. Nasib sial bagi ketua preman satu ini berhadapan dengan orang yang salah. Sebelum ia sama sekali tak sadarkan diri, satu matanya yang tak tertutup darah masih sempat melihat wajah pucat sang kuntilanak merah mengambang di atas lantai koridor dan tersenyum mengerikan ke arahnya.
__ADS_1