
Tengah malam mobil van Kardiman Setil melaju di jalan berkelok di kaki gunung menuju ke desa Obong. Lampu di kiri kanan jalan yang lemah tak mampu benar-benar memberikan penerangan pada jalan. Rombongan ini memutuskan untuk berangkat tengah malam agar bisa sampai pagi hari, mengingat menurut para warga desa Obong, butuh tiga, empat jam atau bisa lebih perjalanan ke desa Obong melewati tiga desa lain.
Keempat warga Obong tersebut terlihat kelelahan. Dua diantaranya malah sudah menutup mata, sedangkan sisanya lebih banyak diam. Marsudi mencoba maklum melihat perbedaan mencolok dibanding seharian kemarin. Dari pagi sampai malam, keempatnya begitu bersahabat dan banyak bercerita.
Awalnya, satu hari penuh Marsudi dibuat tak enak hati menghadapi mereka yang ia anggap sebagai orang-orang yang terlalu baik. tetapi malam ini di dalam mobil, mereka bagaikan orang asing. Ada sedikit rasa kecewa yang aneh di dalam lubuk hati Marsudi. Ia tersenyum sendiri. Mereka benar-benar lelah, pikirnya.
Setelah sekitar satu jam perjalanan dan melewati sebuah desa, Setiawan si jangkung yang berkumis dan berjenggot membangunkan teman-temannya yang tertidur, kemudian menepuk bahu Kardiman Setil yang duduk di depannya mengemudikan van, "Mas Kardiman, kita berhenti sebentar, ya. Nanti setelah belokan itu ada rumah. Ada yang perlu kami ambil di sana," ujarnya.
Kardiman Setil mengiyakan saja. Memang benar setelah sebuah belokan, di tepi jalan, di bawah pepohonan, ada sebuah bangunan yang lebih tepat disebut gubuk dibandingkan rumah. Mereka berhenti di depan pekarangannya. Gubuk ini gelap, tak ada lampu sama sekali. Hanya lampu jalan temaram yang menyinarinya dengan tak jelas. Pepohonan lebat ada di sekelilingnya. Marsudi bahkan melihat sebuah pohon beringin lebat agak ke belakang gubuk itu.
"Kalian mau ambil apa? Perlu saya bantu?" tanya Marsudi.
"Wah, tak perlu repot-repot mas. Tidak banyak yang diambil, kok. Minta tolong tunggu sebentar, ya," ujar Ngadi.
Marsudi mengiyakan meski cukup heran. Bila barang yang akan diambil tidak banyak, mengapa harus keempat orang itu yang turun?
Namun ia pun tetap turun, menuju ke salah satu sudut dan kencing di sana tepat ketika keempat warga Obong itu menghilang dari pandangannya dan masuk ke dalam gubuk gelap tersebut.
__ADS_1
Affandi menyusul Marsudi dan ikutan buang air kecil di sampingnya, "Bang, kau tak merasa curiga?" bisiknya pelan.
Marsudi mengangguk pelan.
"Kardiman bahkan sudah menyiapkan UZI-nya," tambah Affandi.
Marsudi tersenyum, "Apa perlu serepot itu? Kalau memang mereka mau macam-macam, salah satu dari kita saja sudah cukup buat menghadapi mereka rasanya," ujar Marsudi sembari menuntaskan buang air kecilnya.
"Tapi aku merasa ada yang aneh, bang. Seharian mereka terlalu ramah, tidak mungkin ada manusia sebaik itu. Lagipula, harusnya ketika aku bentak tadi pagi, mereka berpikir seratus kali untuk cari masalah dengan kita," ujar Affandi yang memiliki harga diri dan kepercayaan diri yang tinggi, berhubung ia juga adalah pemimpin sepasukan preman di area kekuasaannya.
Mesin mobil sudah dimatikan, tapi lampu depan mobil masih dibiarkan menyala. Lampu itu menerangi empat sosok laki-laki berdiri berjajar dengan menggenggam parang panjang. Mereka adalah keempat warga Obong yang ikut serta dalan van tiga sekawan Marsudi tadi. Rupa-rupanya mereka minta berhenti dan turun di gubuk di tengah jalan yang gelap itu untuk mengambil senjata tajam yang entah sudah dari kapan mereka siapkan.
Melihat hal tersebut, Kardiman Setil tertawa terbahak-bahak, "Cecurut-cecurut seperti kalian ini memang tak tahu diuntung, tidak tahu diri dan cari mati," ujarnya ditimpali tawa. "Kalian benar-benar tak tahu siapa kami. Jadi anggap saja kalian apes hari ini. Aku tidak berniat membunuh orang yang bukan bagian dari pekerjaan, tapi melihat kalian membawa parang berkarat itu, membunuh kalian bisa menjadi kesenanganku," tambahnya.
Keempat laki-laki bergeming walau melihat Affandi memamerkan sepasang karambit yang dicabut dari pinggang bagian belakangnya dan Kardiman Setil mengelus UZI-nya. Tindakan ini di dalam hati Affandi dan Kardiman Setil diharapkan membuat keempat calon perampoknya itu sadar bahwa mereka mencari masalah dengan orang yang salah dan lari terbirit-birit ke dalam hutan di balik gubuk. Tapi yang terjadi, sebagai respon ucapan Kardiman Setil tadi, Sujono dan Anwar melangkahkan kaki mereka serempak melaju cepat menyerang ketiganya dengan membabatkan kedua parangnya.
Serangan yang tak terduga ini dapat dibaca Marsudi dan Affandi yang sudah lama akrab dengan ilmu silat. Marsudi ikut menyerang maju menyambut serangan Sujono dan menghantam dagu Sujono bahkan sebelum parang terayun. Sujono menggelosor di tanah. Affandi juga berhasil menghindari bacokan Anwar dengan menunduk rendah, dan dengan bagian belakang bilah karambit yang tidak tajam, ia memukulkannya ke punggung sang lawan sehingga ia jatuh tersungkur. Untuk orang biasa, kedua serangan ini cukuplah untuk melumpuhkan mereka, sehingga masih ada dua orang yang bisa memutuskan menyerang serta menerima resikonya seperti yang kedua rekan mereka dapatkan, atau malarikan diri mencari aman.
__ADS_1
Sujono dan Anwar ternyata berdiri. Wajah mereka tak menunjukkan rasa sakit. Mereka bahkan mengangkat parang mereka lagi dan memberikan aba-aba bagi Ngadi dan Setiawan untuk ikutan menyerang.
"Sialan, kalian benar-benar cari mati, ya? Masih untung kami sengaja menahan diri untuk tidak melukai kalian ...," kalimat Affandi terpotong oleh sabetan parang dan dilakukan berkali-kali dengan ganas oleh Anwar ditambah Setiawan. Ia terpaksa mundur jauh dan berguling ke belakang dengan menggunakan jurus-jurus Silek Harimaunya.
Ketika Sujono hendak menyerang Marsudi dibantu oleh Setiawan, Kardiman Setil meraih tubuh Sujono dari belakang dan melemparkannya ke bangunan gubuk. Lemparan yang seharusnya dapat meremukkan tulang manusia normal. Marsudi juga berhasil dengan cepat menendang tubuh Setiawan, menghajar wajahnya beberapa kali dan bahkan kembali menendang dada sang penyerang sebagai serangan penutup. Setiawan jatuh terjengkang.
Ketika semua musuh seperti sudah kalah, jeritan tertahan Marsudi menyadarkan dua rekannya bahwa mereka harus mengambil tindakan drastis. Setiawan seperti rekannya yang lain sudah kembali bangun dengan keadaan bugar dan membacokkan parangnya dua kali ke bahu dan kepala Marsudi. Darah meluncur deras dari luka menganga Marsudi. Tubuhnya jatuh berdebum ke bumi.
Affandi mendekati tubuh Marsudi yang ditutupi darah kental, "Bang, bangun cepat," ujarnya agak panik. Walau sudah pernah berkali-kali menjadi saksi mata keampuhan ilmu rawarontek Marsudi, tetap saja Affandi tetap merasa cemas terhadap keadaan abangnya itu.
Hanya dalam hitungan detik, tubuh Marsudi bergetar hebat. Ia bangun berdiri. Luka-luka menganga di bahu dan kepalanya menutup cepat dan menghilang. Marsudi menjilati darahnya sendiri yang mengalir di wajahnya, "Bunuh keparat-keparat ini!" perintahnya.
Affandi menghela nafas tenang melihat sang abang sudah kembali hidup dan berdiri. Ia meraung nyaring, menyerang Setiawan sekaligus Sujono dengan karambitnya tanpa ragu. Kecepatan serangannya diatas rata-rata. Ujung tajam sepasang karambitnya menyobek celana dan baju Setiawan dan Sujono menjadi serpihan. Mungkin belasan luka harusnya membelah kedua tubuh itu seperti semangka.
Setiawan dan Sujono bergeming. Baju mereka memang terkoyak tak beraturan, namun Affandi merasa menggores batu pualam dengan karambitnya.
Marsudi tertawa, "Ilmu kebal," katanya sembari masih tertawa.
__ADS_1