Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Suluk Kesembilan Kusuma Dewi


__ADS_3

Ada ular di dalam tubuh Kusuma Dewi.


Awalnya ia sama sekali tak menangis ketika sepupu perempuannya, Ratih, kedapatan tewas dengan tragis di dalam rumah. Kepalanya terbentur lantai, pecah dan berdarah. Perempuan itu mati kehabisan darah selama ia dan Pak Guru Johan, suami sang sepupu, sedang asyik masyuk bertukar ludah, keringat dan air cinta.


Namun, beberapa saat kemudian, seakan kesadaran jatuh menimpanya bagai air hujan. Tubuh Kusuma Dewi melemah dan kedua lututnya seakan tak mampu menopang badannya. Ia akhirnya menangis jua meski tak seperti Pak Guru Johan yang meraung bagai orang gila. Laki-laki yang sebelumnya memamerkan keperkasaan di atas tubuh Kusuma Dewiitu terlihat bagai seorang anak laki-laki yang kehilangan mainan favoritnya, menangis tersedu tak henti bahkan di dalam tidurnya.


Kusuma Dewi tak tahu harus berbuat apa. Ia tersadar dalam keadaan gamang, seperti baru saja terbangun tiba-tiba dari sebuah mimpi buruk. Ia menghabiskan beberapa hari di Dusun Pon, meminta izin dari kantornya untuk berduka serta mengurusi segala pernak-pernik perihal pemakaman dan segala ritual, upacara dan acarasang sepupu. Ia diam selama itu, ia tak mampu berpikir dan berkata. Semua warga menganggap wajar atas kesedihan yang dialami keluarga ini, padahal Kusuma Dewi sendiri tak tahu apa yang terjadi pada dirinya.


Ada ular di dalam tubuh Kusuma Dewi.


Itu sebabnya sosok itu mendesis senang ketika akhirnya sang inang sudah bisa pergi meninggalkan Dusun Pon, dilepas oleh tatapan kehilangan para pria remaja dan pemuda dusun yang sadar akan kemolekan tubuh dan daya pikatnya selama berada di tempat itu.


Kesedihan dan kegamangan yang ada di dalam hatinya, perlahan luntur dan menguap hilang. Beginikah rasanya menjadi silau dunia? Semua orang memandangnya tetapitak kuat terlalu lama. Kusuma Dewi membawa tubuhnya dengan segenap kepercayaan dan cinta diri.


Ketika Pak Guru Johan sedang menikmati ketelanjangan dan kepasrahannya, sebenarnya Kusuma Dewi-lah yang sedang berkuasa. Tubuhnya kini telah menjadi sebuah berhala pemujaan. Pak Guru Johan telah melakukan ritual pemujaan itu sampai ke tahap ekstase, dan Kusuma Dewi yang memanen jiwanya.


Ada ular di dalam tubuh Kusuma Dewi.


Sehingga, gemerisik sisiknya terdengar jelas oleh para pria di kantornya beberapa hari kemudian. Otak mereka telanjang, terlihat dengan gamblang, terdengar dengan lantangoleh jiwa Kusuma Dewi yang girang.

__ADS_1


"Mereka menginginkan tubuhku," desah Kusuma Dewi. Sosok ular mendesis sepakat, sedangkan sosok gaib bugil berkulit gelap berpucuk dada merah merekah darah terkekeh mufakat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sama seperti Pak Guru Johan, sebagai seorang laki-laki, bukan Dani yang menang, bukan dia yang berkuasa, sebaliknya dialah korban atas kegelapan.


Dani mungkin berpikir dengan berada di atas, membenamkan tubuhnya ke dalam tubuh Kusuma Dewi berarti ia adalah sang tuan yang superior.


Salah besar!


Kusuma Dewi menghisap semua saripati jiwa dan kesadaran Dani, nasib dan takdirnya, serta hidup dan matinya. Dengan membuka diri sepenuhnya kepada berahi, Dani melowongkan pertahanan diri. Kekuatan gaib mengambil alih dirinya. Kusuma Dewi dan dwi entitas di dalam dirinya berebut makan, mengunyah inti hidup pemuda malang yang sudah bertunangan itu.


Si malang Dani bukanlah siapa-siapa, meski menurut Kusuma Dewi, pria itu masih lebih dikenal dan baik nasibnya di kantor dibanding dirinya. Dani memiliki posisi pekerjaan yang lumayan, baru saja membayar uang muka rumah


Kehidupan normal sang pria ini memiliki hawa lezat bagi kedua sosok gaib yang terjebak di dalam lapisan dunia lain dan hanya bisa menyeruak masuk ke dunia nyata melalui tubuh manusia benci diri namun ladang berahi macam Kusuma Dewi ini.


Tak terlalu susah membuat Dani mabuk kepayang lupa ingatan. Kusuma Dewi mencoba kembali menggunakan pesona yang ia miliki untuk menjebak naluri berahi Dani. Kusuma Dewi membiarkan pandangan sang lelaki menelusuri belahan dadanya yang begitu lebar bagai sebuah ngarai, untuk kemudian kelak lidahnyalah yang berada di sana.


Menggoda Dani yang sudah bersiap hidup mapan dengan pasangannya tersebut bahkan tidak menjadi tantangan buat Kusuma Dewi, ia hanya memerlukan sebuah bukti bahwa sungguh apa yang ada padanya adalah sebuah pesona nyata. Kusuma Dewi mendatangi Dani di meja kerjanya berkali-kali. Saban dan Ranu Inten, dua rekan kerja Dani yang duduk di seberang saja harus menelan lidah melihat lenggak-lenggok bokong membulat Kusuma Dewi, apalagi Dani yang secara langsung dijadikan sasaran.

__ADS_1


Kusuma Dewi menawarkan hubungan suka-suka, tanpa ikatan. Dani adalah kucing yang diberi makan ikan asin dalam hal ini. Mereka bercinta di sebuah kamar hotel. Hanya sekali. Namun, Dani merasakan tubuh bidadari yang turun ke muka bumi tepat di bawah himpitan tubuhnya. Dengan liar Dani memeras dada jatuh nan penuh Kusuma Dewi bergantian, kadang berbarengan. Kulit putih pucat bercak-bercak tak berbusana milik Kusuma Dewi itu tak diberikan kesempatan untuk tak tersentuh.


Hanya saja, tanpa sepengetahuannya, tubuh Dani akhirnya tak menjadi miliknya sendiri. Sang ular membelit badan tanpa busananya, terus memacu sampai tenaga dan rasa terkuras habis. Ledakan demi ledakan kepuasan nyatanya tak berhenti sebelum jiwanya kering.


Di balik bilik cinta mereka, Kusuma Dewi mengintip dari sela-sela bahu Dani yang menimpanya, sosok-sosok tak utuh berjalan pincang dan merangkak menembus dinding.


Sosok gaib satunya, menempel di langit-langit kamarnya dengan muka menatapnya degil dengan sepasang dada mungil menggantung jatuh. Ia terkekeh ke arah Kusuma Dewi, kemudian merayap pergi. Menghilang dari pandangan.


Tak lama, perempuan tunangan Dani, di sudut kota yang lain, terbangun dari tidurnya pada pukul tiga subuh.


Butuh waktu dua detik bagi perempuan malang itu untuk menyadari dan melihat sosok tubuh utuh perempuan telanjang menempel di atas langit-langit kamar, tepat di atasnya. Sosok itu menyeringai mengerikan dengan barisan gigi tajam-tajam bak mata gergaji.


Tunangan Dani tak mampu berteriak ketika sosok perempuan itu melompat turun ke atas tubuhnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Harimau merespon kehadiran sang ular. Tapi Anggalarang tak menggubris dan tak mengacuhkannya. Ada kalanya sang harimau harus tunduk pada kehendaknya. Sudah terlalu lama ia menahan rasa pada Kusuma Dewi. Selama ini, hanya pada Kusuma Dewilah ia paling menginginkan kedekatan lahiriah tersebut, bahkan melebihi kenikmatannya pada sentuhan perempuan-perempuan lain. Sang harimau lah yang membuatnya tertahan sampai pesona Kusuma Dewi mendadak disadari oleh rekan-rekan sekantornya.


Runyam!

__ADS_1


"Diam kau!" ujar Anggalarang dalam hati ditujukan kepada sosok seekor harimau yang ada di dalam tubuhnya. "Kali ini kau tak akan bisa menahanku, Maung, aku akan mendekatinya tak peduli apa maumu," serunya.


Di depan cermin, Anggalarang melihat sosok mahluk besar bertaring sedang menggeram. Bulu-bulu di wajah, kepala dan tubuhnya kasar berwarna putih. Otot-otot lengan Anggalarang mengeras ketika sang harimau yang disebutnya Maung itu menyodok dadanya hendak keluar.


__ADS_2