
Marsudi membuang begitu saja kepala Kardiman Setil yang sudah terlepas dari tubuhnya. Tindakan jahat ini dilakukan di depan kedua mata kepala Affandi.
"Aku tidak mau dia menjadi mayat hidup," ujar Marsudi pada Affandi pendek.
Suara Marsudi berlapis, seakan ada dua orang yang berbicara berbarengan. Satu suara Marsudi, satunya suara seorang perempuan.
Wajah Affandi bisa dikatakan hancur. Ia hanya bisa memandang Marsudi dengan satu mata. Jari-jarinya yang patah membengkok dengan bentuk yang aneh sedangkan tempurung lututnya yang retak berdenyut nyeri luar biasa.
Akhirnya Affandi jatuh tersungkur. Tubuhnya melemah, bukan sekadar karena luka-luka yang dideritanya diakibatkan serangan Soemantri Soekrasana, akan tetapi juga karena aura gaib yang disebarkan sang abang angkatnya.
Ia merasa nyawanya sudah diujung tanduk.
Marsudi terkekeh. "Aku masih bisa menggunakanmu, Affandi," ujar dua suara secara bersamaan. "Selama ini kau setia terhadapku. Lagipula aku sedang tidak ingin terlalu banyak membunuh manusia hina hari ini," tambahnya.
Marsudi kemudian mengangkat satu tangannya. Telapaknya diarahkan ke Affandi. Sekejap saja tubuh Affandi terangkat ke udara. Teriakan pilu menggema dari mulut Affandi ketika tulang-tulang di tubuhnya menyembuhkan diri, kembali ke keadaan semula.
Namun proses ini menyebabkan rasa sakit yang bukan kepalang. Belulangnya yang retak dan patah menempel dan menyambung kembali. Urat-urat yang putus jalin-menjalin dan daging yang sobek kembali merapat.
Tubuh Affandi kembali menyentuh bumi. Affandi merasakan badannya kembali prima seratus persen.
Ia mengusap darah di wajahnya yang sebelumnya hancur. Kini dengan kedua matanya ia bisa melihat Marsudi dengan jelas.
Affandi berlutut. "Aku akan melakukan perintahmu, bang. Apa saja keinginanmu akan aku turuti," ujarnya dengan takzim kepada sang abang.
Marsudi tertawa keras. Sosok mahluk gaib dalam bentuk perempuan setengah baya tertawa membarengi sang inang.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Api membumbung tinggi di bawah hujan yang mulai berubah menjadi rintikan. Beberapa bangunan terbakar akibat kekacauan yang terjadi. Mayat-mayat hidup berseliweran mencari mangsa walau tak sedikit yang habis terpanggang atau berhasil dibunuh kedua kalinya oleh warga yang mempertahankan diri.
Soemantri Soekrasana melihat hantu-hantu segala jenis beterbangan, mengambang di udara dan melayang di atas tanah. Kekuatan yang luar biasa besar membuat mereka kadang terlihat oleh mata telanjang manusia yang tak memiliki kemampuan khusus.
Di antara orang-orang yang sibuk melarikan diri dan mencari aman, ia melihat laki-laki yang tadi datang bersama sosok sakti berbaju merah. Laki-laki itu terlihat kebingungan di tengah hiruk-pikuk meski memegang sebuah tombak untuk menjaga dirinya. Keadaannya bisa dikatakan memprihatinkan. Bajunya compang-camping dan ia terlihat kelelahan. Satu hal lagi yang paling berbahaya bagi laki-laki itu yang mungkin tak ia sadari, Soemantri Soekrasana merasakan ada roh gaib yang terkunci jauh di dalam tubuhnya.
Roh itu meraung, memberontak ingin keluar.
Ya, roh harimau, siluman dengan sifat ganas, liar dan hampir tak dapat dikendalikan. Soemantri Soekrasana merasa harus menyelamatkan orang itu sebelum roh yang terkurung di dalam tubuhnya keluar dan mengambil alih tubuhnya.
Soemantri Soekrasana merapal mantra untuk memancing roh gaib itu, " ... paneluhan tan ana wani, niwah panggawe ala gunaning wong luput geni atemahan tirta maling adoh tan ana ngarah ing mami guna duduk pan sirna."
Ia kemudian mencelat ke arah sang laki-laki dan memegang kepalanya.
"Ada mahluk gaib berbentuk harimau di dalam dirimu. Ia sedang terkurung. Aku akan membantumu," ujar Soemantri Soekrasana.
Anggalarang menarik nafas lega. "Benarkah kau bisa melepaskannya dari kurungan itu? Bila memang bisa, segera lakukan."
Soemantri Soekrasana yang kini malah terkejut. Ia mengernyit tak menyangka bahwa laki-laki ini sudah paham bahwa di dalam tubuhnya bersemayam sesosok mahluk ganas.
Namun, tetap saja Soemantri Soekrasana melanjutkan tindakannya.
"Baiklah. Mohon tenang. Aku akan membebaskanmu dari mahluk itu. Ia akan kulepaskan dari badanmu sehingga kau tak akan terus dirasukinya."
__ADS_1
Wajah Anggalarang yang semula terlihat lega kini malah menjadi panik.
"Tunggu, tunggu! Bukan itu maksudku. Aku tidak mau dan tidak bisa lepas dari sang Maung. Ia memang sedang terpenjara, maka dari itu aku akan senang sekali bila kau bisa membantuku melepaskan dirinya, bukan mengusirnya," protes Anggalarang.
"Tapi ... Siluman itu akan menguasai tubuhmu," ujar Soemantri Soekrasana makin bingung.
"Ya, ya ... itu tujuan utamanya. Maung akan memakai tubuhku untuk melawan budak-budak iblis perempuan itu."
Kening Soemantri Soekrasana mengkerut. Orang ini menyebutkan iblis perempuan sebagai sebuah referensi. Sosok yang ia hadapi bersama Wong Ayu.
Anggalarang menggerak-gerakkan tangan dan kepalanya, "Baik ... Baik. Aku tahu kau bingung. Begini saja. Aku akan cerita dengan cepat. Kau harus dengarkan tanpa protes. Kita tak punya waktu lagi," kata Anggalarang sembari menatap kedua mata lawan bicaranya lekat-lekat.
"Aku tak kenal siapa kau, tapi aku yakin kau adalah orang berilmu karena bisa melihat Maung di dalam tubuhku. Namaku Anggalarang. Aku adalah harimau jadi-jadian. Panjang ceritanya, tapi intinya bila salah satu dari kami mati, dua-duanya mati. Bila Maung lepas dari tubuhku, kami berdua juga akan sirna. Itu sudah kutukan," Anggalarang berbicara tanpa jeda.
"Tapi Maung berubah ketika ada kejahatan dan musuh berada di sekitarku. Intinya ia mahluk baik-baik, paling tidak itu menurutku. Lalu, aku dan Maung dipanggil kekuatan misterius untuk mencegah kedatangan iblis perempuan yang sudah menguasai Obong dan Kaliabang. Ia didukung warga Obong yang memiliki beragam kesaktian, termasuk ilmu kebal karena rajah Kalacakra. Dengan adanya Maung, aku bisa melawan pesuruh-pesuruh perempuan setan itu. Di desa Kaliabang, aku sempat berhadapan dengannya dan tak sengaja dibantu satu sosok perempuan yang berilmu tinggi. Ia yang meminjamiku tombak Baru Klinthing ini."
Soemantri Soekrasana terkejut mendengar nama tombak legendaris itu. Ia tak bisa menolak untuk melototi tombak pendek yang digenggam Anggalarang.
"Sewaktu bertarung, rupa-rupanya Maung berhasil dipenjara sehingga nyawaku juga terancam. Perempuan berbaju merah itu, namanya Sarti kalau tidak salah, yang memutuskan untuk menolongku dari kekuatan Wong Ayu. Aku tahu nama Sarti juga dari Wong Ayu. Ia seperti tahu segalanya tentang kami," tutup Anggalarang.
"Wong Ayu, katamu?" Soemantri Soekrasana terperanjat.
"Ya. Perempuan iblis itu bernama Wong Ayu. Ia digelari Durga. Sepak terjangnya sudah lama kudengar. Setahuku ia membunuhi dukun-dukun santet dan cabul di seluruh Nusantara. Tapi aku tak menyangka ia akan bertindak sejauh ini."
Soemantri Soekrasana menyipitkan kedua matanya, "Bagaimana kau bisa yakin perempuan itu adalah Wong Ayu?"
__ADS_1
"Aku melihatnya berubah menjadi seorang perempuan. Cantik. Berambut ikal panjang. Ia juga memperkenalkan dirinya," jawab Anggalarang.
Otak Soemantri Soekrasana berputar. Ia menutup mata kemudian tertawa. Anggalarang yang kini menjadi bingung.