
William Tanata tak pernah habis pikir betapa beruntungnya ia memiliki seorang Jessica Wu. Bahkan setelah empat tahun berpacaran dan hari ini mereka akan merayakan hari jadi pernikahan yang pertama, William Tanata masih tak kunjung berhenti mengagumi gadis tersebut.
Lengan dan tungkai kaki Jessica Wu yang jenjang, kulitnya yang putih bersih sehingga urat-urat kebiruan terlihat jelas bagai aliran sungai Yangtze terlihat dari udara, merupakan lukisan semesta yang membuatnya merasa selalu terbang melayang. Gerai rambut gadis itu sekelam malam lurus terjun bagai Niagara. Lekuk tubuhnya terlukis selalu di pelupuk mata William Tanata. Cara Jessica Wu menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga atau mengangkat kedua tangannya memamerkan lengan bawah dan ketiak ketika mengikatkan surai-surai indah yang beberapa tertinggal kawanannya di belakang tengkuknya yang sehalus pualam tersebut, membayang hingga menempel erat di otak William Tanata.
Wajah Jessica Wu sebenarnya dingin, tanpa ekspresi dan emosi. Cantik yang ada di wajah itu terkesan mahal, mewah, megah, elegan sekaligus jemawa, tapi toh tetap cantik. Tunggu ... William Tanata lebih memilih kata 'menawan' dibanding 'cantik'.
Senyum gadis itu terlalu pelit, dan bukan itu senjata pesonanya, akan tetapi pada kerlingan dan tatapan tajam kedua matanya yang tanpa lipatan kelopak. Dari kedua mata itulah Jessica Wu berbicara, memancarkan segala daya pikat dan keindahan.
Sepasang mata itu akan mengerjap-ngerjap nikmat ketika Jessica Wu berada di bawah tubuh William Tanata yang menimpanya, atau menyipit sayu ketika tubuh William Tanata bergoyang-goyang di atas tubuhnya.
Kata seksi dan sensual terlalu biasa untuk menggambarkan tubuh langsing nan jenjang yang polos tanpa penutup di setiap malam-malam William Tanata yang selalu membara di atas ranjang. Tak ada kata yang terlalu tepat untuk menjelaskan keajaiban tersebut.
Di luar, Jessica Wu tampak dingin dan tak acuh. Namun, berkebalikan dengan di dalam kamar, perempuan itu menjelma menjadi api yang panas bergejolak penuh gairah yang meledak-ledak bagai letupan lava di permukaan kawah.
Tak heran ketika istrinya sudah berganti pakaian dengan dress bergaya cheongsam atau qipao merah menyala tanpa lengan melekat erat menegaskan lekukan tubuhnya untuk perayaan hari jadi pernikahan pertama mereka ini, William Tanata merasakan dadanya bergemuruh bagai baru pertama melihat kecantikan sang istri.
"Kamu kenapa, Sayang?" ujar Jessica Wu dengan wajah dingin. Namun sepasang matanya mengatakan yang sebaliknya, penuh tantangan kenakalan dan cinta menggebu-gebu pada sang suami. Ia menikmati setiap jilatan pandangan sang suami pada tonjolan dadanya, bahu telanjangnya, belahan cheongsam di paha yang memanjang, dan sepasang kakinya yang jenjang.
"Kamu cantik," respon William Tanata.
"Aku tahu ...," jawab sang istri singkat dengan menengadahkan kepalanya bergaya angkuh. Membuat darah William Tanata berdesir penuh berahi.
Keduanya kemudian berada di dalam mobil melaju malam itu ke sebuah restoran langganan mereka di kota, melewati jembatan tol.
William Tanata menyelipkan tangan kirinya ke belahan paha cheongsam Jessica Wu. Telapak tangannya menyusuri permukaan halus kulit sang istri yang sebenarnya telah ratusan kali ia lakukan namun tak pernah merasa jenuh.
__ADS_1
"Sayang ... Kalau tahu seperti ini, mending kita di rumah saja," jawab Jessica Wu dingin. Tapi lirikannya penuh makna.
William Tanata belum sempat membalas ketika mobil mereka terpelanting dan berputar di jalan tiga kali sebelum berhenti tertelungkup di tepi jalan. William Tanata membanting stir ketika tiba-tiba empat orang pemuda berada di tengah jalan. Mereka adalah anak-anak muda Kampung Pendekar yang dalam keadaan mabuk berat berusaha menyebrang jalan.
Hal terakhir yang William Tanata lihat sebelum ia tak sadarkan diri adalah tubuh istrinya yang melengkung aneh di sampingnya. Sepasang matanya setengah terbuka sayu, tanpa kehidupan. Sedangkan seluruh tubuhnya berwarna merah, semerah cheongsam yang dikenakannya.
Kejadian itu sudah empat tahun berlalu, namun William Tanata masih dapat mengingat aroma tubuh sang istri ketika bangun tidur, atau bau sabun yang meruap setelah ia mandi, atau bebauan pelembab kulit sebelum tidur.
Tepat hari ini adalah hari jadi pernikahan mereka yang keempat, bila Jessica Wu masih hidup.
Sudah tiga tahun berturut-turut, William Tanata akan duduk di meja makan dengan potret istrinya yang berbingkai diletakkan di depannya. Wajah memesona tanpa emosi itu memandang lurus ke dalam hatinya.
"Harusnya kita memang lebih baik di rumah, Sayang," ujarnya kepada foto itu setiap tahun. "Happy anniversary, honey," ujarnya pula, setiap tahun.
Air mata menitik dari satu matanya. Rasa nyeri di salah satu pahanya akibat kecelakaan itu masih kerap terasa, kumat di pagi hari.
Jessica Wu sang istri berdiri di depannya.
William Tanata terkesiap. Hatinya mencelos. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa. Kegilaannya telah semakin menjadi-jadi. Sekarang ia melihat sang istri yang telah mati berdiri di hadapannya. Kecantikannya sempurna, kemolekan tubuhnya merajalela.
William Tanata tersenyum geli sendiri. Ternyata ia begitu merindukan Jessica Wu sampai-sampai melihat sosok sang istri kembali hidup.
Tapi, sosok itu masih ada di depan sana. Mengenakan cheongsam merah menyala, kulitnya bercahaya, wajahnya merona, tubuhnya bersahaja, membuat jiwanya meronta-ronta semakin nelangsa.
Jessica Wu yang telah tewas tiga tahun yang lalu di hari jadi pernikahan mereka yang pertama kini terlihat begitu hidup. Wajah tanpa ekspresi itu tetap dingin, namun kedua matanya mengalirkan makna.
__ADS_1
"Halo, Sayang," ujar sepasang mata itu.
Bibirnya yang tipis namun bergincu tebal dan sengaja dibuat bervolume itu tak bergerak sama sekali, namun William Tanata yakin sosok itu sedang berbicara dengannya.
"Sayang ... Apakah ini benar kamu?" ujar William Tanata setengah berbisik.
Ia merasa aneh dan benar-benar-benar bagai orang gila menyadari bahwa mungkin sekali ia berbicara dengan halusinasi.
"Kamu tak perlu melakukan ini lagi, Sayang. Sudah saatnya kamu melupakan aku dan pergi sekarang," sepasang mata tanpa lipatan kelopak itu kembali berbicara.
Masa bodoh, pikir William Tanata. Ia tak peduli bila sosok indah di depannya itu halusinasi belaka.
Ia berdiri. Rasa nyeri di pahanya kembali menyerang.
"Kamu pikir mudah melupakan kamu, sayang? Aku masih ingat semua hal tentang kamu, sampai ke hal terkecil. Itu karena aku cinta sama kamu. Aku tak bisa melupakan kamu, Sayang," ujar William Tanata setengah berteriak.
"@)7 #7$@- ?@58," balas sosok Jessica Wu.
William Tanata mengerutkan keningnya. Ia tak bisa mendengar jelas ucapan sosok itu yang terdistorsi.
"Kamu bilang apa tadi, Sayang?"
"@)7 #7$@- ?@58," ulang sosok itu.
William Tanata menggeleng-gelengkan kepalanya. Suara sang sosok bagai berbicara dalam bahasa lain. Ia juga mengucek kedua matanya. Sosok berbaju merah di depannya memudar.
__ADS_1
"Sayang ...?!" seru William Tanata.
"AKU SUDAH MATI!" seru sosok yang tiba-tiba sudah berada sejengkal di depan wajah William Tanata.