
Sang perempuan tak terkejut sama sekali dengan penolakan Yakobus Yakob ini. Ia masih saya terus tersenyum ketika wujudnya perlahan hilang, tergantikan dengan sosok perempuan lain dengan rambut panjang berpilin-pilin, mengakar ke segala arah. Tubuhnya telanjang. Sepasang dadanya berganti-ganti rupa menjadi padat berisi dan panjang kendur menjuntai. Begitu pula wajahnya yang terus menerus berganti dari wajah perempuan muda rupawan ke perempuan setengah baya berwajah penyihir.
Wong Ayu berteriak keras tanpa suara. Tubuhnya perlahan ikut menghilang bersama hilangnya sosok perempuan yang ia dengar lelaki itu katakan sebagai Putri Junjung Buih.
Ia melihat dengan jelas, perempuan iblis yang menyamarkan diri sebagai Ibu Calonarang itu kembali muncul, menembus dunia asing ini. Padahal Wong Ayu yakin bahwa ia bersama ketiga rekan barunya sebagai Catur Angkara, sudah berhasil mengekangnya di dunianya sendiri. Bagaimana ia dapat keluar ke dunia lain dan menggunakan laki-laki ini sebagai alat barunya?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bandi tak sempat menembakkan pistolnya, ketika sosok laki-laki berlumpur sumber kekacauan hari ini itu menyobek tubuh anak-anak buahnya.
Tak magazin dari pistol rakitan maupun sabetan parang yang bisa menembus kulit laki-laki itu. Sebaliknya, dengan jari-jemarinya, sekejap saja anak buah Bandi yang menyerangnya sudah menjadi kantong darah yang pecah.
Darah menyembur ke segala arah, bersamaan dengan lengan yang putus, tulang yang patah dan mencuat menembus daging dan kulit, serta kepala yang lepas dan terguling.
Bandi lari sekencang-kencangnya sampai jantungnya serasa terbakar. Selama hidup, ia belum pernah merasakan ketakutan sebesar ini.
Bandi mencoba menangkap nafasnya yang terbuang habis-habisan. Jantungnya serasa ingin lepas dari rongga dimana ia menempel dan hendak jatuh ke perutnya.
Rasa ngeri berputar-putar di kepalanya, sedangkan rasa takut akan kematian sudah berada di ujung tenggorokannya.
"Sial ... Sial ... Aku tak mau mati hari ini! Aku sudah meraih pencapaian setinggi ini. Aku sudah memiliki anak buah, cukup dihormati, disegani dan ditakuti. Sudah banyak pengorbanan yang aku lakukan untuk berada di posisi ini. Aku tak mau mati konyol!" jerit Bandi dalam hati.
Ia sudah masuk ke dalam sebuah gudang yang luas serta langsung mengunci pintu bajanya. Gudang itu tidak benar-benar berisi barang yang perlu disimpan, hanya tumpukan kardus di pojokan, serta lemari-lemari kayu yang ia hampir tak tahu apa gunanya.
Bandi duduk bersandar di salah satu lemari kayu tersebut. Keringat dingin mengalir tiada henti. Pegangan pistol di tangannya menjadi licin oleh peluh.
__ADS_1
Tak lama pintu baja digedor keras. Bunyi pintu baja yang dibenturkan oleh kekuatan tertentu itu menggema ke seantero ruangan gudang.
Bandi tersentak. Ia tak tahu lagi harus bagaimana ketika tak membutuhkan waktu lama pintu berat itu terpental, terlepas dari engselnya dan menimbulkan suara nyaring nan berisik ketika terseret bergesekan dengan lantai.
Insting bertahannyalah yang kini mengambil alih. Ia mengosongkan magazin dari pistolnya ke arah pintu yang terpental tanpa tahu apa dan siapa targetnya. Bunyi ledakan menggema dan membuat telinga Bandi sendiri sakit.
Bohlam lampu memercikkan pijaran listrik, memudar dan menerang, memudar menerang, kemudian padam.
Gelap gulita.
Bunyi 'ceklik, ceklik, ceklik,' ketika Bandi terus menekan pelatuk pistol yang sudah kehabisan isinya.
Keringat Bandi jatuh bagai air terjun, menempelkan bajunya ke tubuh saking basahnya.
Tiba-tiba ruangan itu terang benderang. Lampu-lampu berpijar bagai baru saja dibeli.
Sosok itu adalah seorang gadis muda dengan rambut hitam lurus panjang yang bergoyang-goyang seakan diterpa angin walau tak ada angin sesepoi itu bisa masuk ke gudang ini.
Sepasang matanya lentik berpasangan dengan hidung mancung dan bibir tipis merah merekah, polos sekaligus menggairahkan.
Sosok gadis muda itu tak berbusana. Sepasang dadanya yang padat dengan puncak yang berdiri menantang sama sekali tak tertutup. Kulitnya seputih siang hari, mengalahkan terangnya lampu yang tiba-tiba hidup kembali.
Kedua lengannya ramping, melekuk indah di bagian ketiak sampai pinggul. Perutnya rata, terus sampai bagian gelap di bawahnya. Paha dan betisnya kecil, seakan mustahil menopang tubuhnya yang indah itu.
Tubuh itu sama sekali tak tertutup apa-apa, bugil bagai bayi yang baru dilahirkan.
__ADS_1
Masalah perempuan, Bandi bukan penggila, tidak seperti temannya dahulu, yaitu Kardiman. Bagi Bandi, perempuan adalah masalah. Sudah banyak bukti, penjahat kelas kakap, atau laki-laki kuat seperti apapun akan jatuh hancur berderai ketika berurusan dengan perempuan.
Sangkuriang yang sakti, menjadi begitu bodoh ketika jatuh cinta kepada ibu kandungnya sendiri, Dayang Sumbi. Sama halnya dengan Bandung Bandawasa yang melakukan segala hal demi mendapatkan cinta Roro Jonggrang. Ia bahkan menjadi budak keinginan material si perempuan. Kedua orang sakti ini memang tak mampus di tangan perempuan, tapi harga diri mereka yang tak bermakna.
Bandi bertekad tak mau asal main perempuan seperti itu; memberikan semua demi perempuan hanya untuk menikmati kesemuan berahi saja.
Bukan berarti ia tak suka perempuan. Ia pergi ke tempat jajan kadang-kadang. Namun sama seperti makan, itu hanya kebutuhan belaka. Ia tak memuja perempuan sampai-sampai hilang fokus dan tujuan hidup sebenarnya, yaitu kekuasaan. Perempuan hanyalah perihal kecil dalam kehidupannya, bahkan hampir tak ada bedanya dengan buang air, tidur atau mandi.
Tapi, sosok perempuan muda yang muncul secara misterius ini sama sekali berbeda. Bandi merasakan suatu ekstasi yang tak bisa digambarkan.
Ia mendapatkan dorongan untuk memuja dan memberikan semuanya bagi perempuan itu, termasuk nyawa dan harga dirinya, sesuatu yang menjadi kebalikan karena sudah ia tekadkan sedari awal.
Bukan hanya pesona badaniah, tubuh polos yang terpahat begitu sempurna; bukan hanya kecantikan rupa yang membelainya sampai kehilangan kewarasan; namun ada sebuah hal yang dimiliki sosok ini yang sudah lama ia sendiri rindukan: kekuatan dan kekuasaan.
"Seberapa besar kau menginginkan kekuasaan, Bandi?" ujar sang sosok. Suaranya keluar dari sela-sela bibirnya dengan halus. Suara menggoda itu sejalan dengan kharismanya yang luar biasa.
Bandi merasa lidahnya kelu. Tak ada satu katapun yang lolos dari mulutnya.
Sang sosok berjalan mendekat. Gerakan tungkainya, pinggulnya, gesekan kedua paha bagian dalam pada bagian tengah yang gelap itu tak mungkin lepas dari pandangan Bandi.
Si perempuan menunduk di atas Bandi. Dadanya jatuh bebas, membentuk pemandangan yang menggelapkan pandangan laki-laki manapun.
Ia membuka mulut, menjilat moncong pistol Bandi.
Bandi melepaskan pegangannya pada pistolnya yang jatuh ke lantai semen gudang. Ia sontak berdiri, kemudian sadar dan malu bahwa ada anggota tubuhnya yang lain ikut berdiri bersamanya.
__ADS_1
Sang sosok perempuan juga ikut bangun berdiri.
Keduanya berhadap-hadapan sangat dekat. Bandi mencium aroma bebungaan yang harum semerbak dari tubuh tak berbusana itu. Ketika sang sosok kembali berbicara, ababnya jauh lebih harum dan memabukkan. "Seberapa besar keinginanmu untuk berkuasa, Bandi?" Sebuah pertanyaan yang sama, hanya dengan kalimat yang berbeda.