
Marsudi merasakan dadanya tertekan keras ketika Affandi melompat dan menduduki dadanya.
"Kau membunuh Kardiman dengan keji, Bang Marsudi. Kami bukan lagi hanya teman bagimu. Kami berdua sudah menyatakan diri sebagai saudara muda yang siap mati untukmu. Tapi bukan berarti harus mati di tanganmu!"
Marsudi membelalak namun kemudian tertawa, "Affandi ... Kau bangkit kembali dari kematian! Bagaimana rasanya? Luar biasa, bukan?"
"Ya, dan kali ini kau yang akan membayar semuanya tunai, Bang," balas Affandi dengan pandangan penuh dendam.
"Kau ingin menyiksaku? Silahkan bila kau punya waktu. Aku tak menyangka rawarontek akhirnya berpihak padamu. Perempuan iblis itu luar biasa. Ia bermain-main dengan keinginan dan nafsu terdalam manusia."
"Bangsat! Diam kau, Bang! Aku akan memastikan kau tak akan tenang di alam baka sana," jawab Affandi geram.
Marsudi tertawa. "Bagaimana lagi caranya, Af? Aku sudah tak ingin apa-apa. Matipun sudah bukan perkara besar bagiku."
Affandi mengambil sebilah pisau dapur yang ia beli di minimarket dalam perjalanan ke rumah sakit bagi para tahanan ini.
"Kau lihat baik-baik, Bang!" ujar Affandi sembari menusukkan pisau baru itu ke lehernya sendiri. Darah menyembur dan menciprati wajah Marsudi yang terkejut luar biasa.
Affandi memegang wajah Marsudi dan memaksanya menghadap wajahnya. "Lihat baik-baik. Rawarontek yang kau pelajari hampir sepanjang usiamu bukanlah apa-apa dibandingkan kekuatan dan kesaktian yang aku kuasai sekarang."
Sepasang mata Marsudi membelalak lebar di balik darah yang menggenangi wajahnya. Luka tusuk di leher Affandi menutup dengan begitu cepat.
"Dan, aku tak merasakan sakit sedikitpun," lanjut Affandi.
__ADS_1
Affandi kemudian menggorok lehernya sendiri berkali-kali, tetapi kali ini tak ada sesuatupun yang terjadi. Lehernya tetap mulus tanpa tanda-tanda terluka. "Aku juga dapat membuat kulitku tak tersentuh oleh senjata apapun. Ilmu kebal atau kesembuhan kilat hanyalah permainan bagiku."
Melihat pemandangan ini, Marsudi tak dapat berkata apa-apa. Hatinya perih dan pedih, sakit yang luar biasa merasuk di dalam kalbunya. Bertahun-tahun ia mendedikasikan hidupnya, mengabdikan jiwanya untuk kesaktian semacam ini. Sekarang segalanya terenggut darinya dan malah rekannya sendiri yang kini menguasainya dengan sempurna.
"Aku ingin kau membawa ingatan ini di saat kau mati sebentar lagi, Bang!" Affandi menutup mulut Marsudi kemudian menusukkan pisau itu ke perut, dada dan leher sang abang angkatnya itu berkali-kali. Ia melakukannya dengan menatap mata Marsudi yang serasa ingin meloncat keluar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul enam pagi di Kampung Pendekar. Api yang membakar berbagai bangunan sudah padam dan menyisakan kepulan asap yang memedihkan mata.
Ada rasa yang bercampur aduk bagi warga ketika melihat puluhan pemuda yang merupakan anak, saudara dan teman mereka hidup kembali dari kematian.
Tubuh mereka kembali seperti semua, bahkan ada raut wajah kepuasan dan kepercayaan diri yang menyala-nyala.
"Benarkah ini kau, Yud?" jawab sang ibu tak percaya.
Ada rasa bahagia sekaligus bangga yang aneh. Perasaan abnormal ini bagai gelombang yang menyapu seluruh kampung, semua warga merasakannya. Mereka senang ketika orang-orang yang mati semalam, pagi ini bangkit lagi dengan misteri kekuatan yang berlipat. Seakan-akan melihat mereka bangkit dari kematian dan menjadi lebih kuat adalah puncak dari keberhasilan keluarga mereka.
"Kau harus ikut aku, Mak. Semua warga Kampung Pendekar juga harus mendukung dan mengabdi pada pemimpin kita. Dia datang dari dunia lain, memberikan kita kekuatan dan kekuasaan yang tak pernah bisa kita bayangkan!" ujar Yudi bersemangat.
Bagai seekor kerbau yang dicucuk hidungnya, Mak Yudi memandang terpesona dan takjub pada sang putra. Ia mengikuti ke mana arah anaknya pergi. Begitu juga dengan puluhan bahkan ratusan warga kampung. Semuanya meninggalkan pekerjaan mereka yang semalam sibuk meredakan api atau merawat yang terluka dan tewas. Perlahan tapi pasti, semua orang berjalan mendaki perbukitan di sisi lain kampung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Para petugas kepolisian yang berjaga di pos menarik nafas lega. Salah satunya berkata, "Syukurlah kita tak perlu berurusan dengan mereka. Kebakaran sudah reda, bahkan tak ada laporan sama sekali mengenai perihal kebakaran itu. Kalau memang mereka mampu mengurus daerah sendiri, biarlah, itu bagus juga buat kita."
Pernyataan ini diamini anggota Polisi lainnya yang disusul dengan senyum lebar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan rambut acak-acakan, tetapi tak mengurangi kecantikan wajahnya, sang istri melihat wajah Satria Piningit yang suntuk dan terlihat lelah. "Kenapa, sayang? Ada apa, sih?" tanyanya curiga melihat gelagat suaminya di pagi ini. Seakan Satria Piningit tak tidur semalaman.
"Siapkan pakaianmu seadanya, juga pakaian dan keperluan Ngalimun dan Priyambada. Kita harus pergi dari rumah dan menginap di hotel di seberang jembatan tol. Jangan banyak tanya, aku akan jelaskan nanti," ujar Satria Piningit tanpa memandang wajah istrinya.
Wajah cantik sang istri menunjukkan bahwa ia paham. Bertahun menikah dengan Satria Piningit, ia sudah merasa mengenal tabiat pasangannya itu lebih dari cukup. Kepercayaan terhadap sang suami tak terbantahkan. Ia segera bangun ketika kebetulan dua anak kembar mereka juga mulai menggeliat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ketiga orang petugas kepolisian yang sebentar lagi menyelesaikan tugasnya di hari itu telah tewas mengenaskan.
Pos polisi penuh dengan noda darah yang menghiasai dinding, lantai, bahkan langit-langit. Lima hantu Mariaban berpesta. Mulut mereka menguyah badan jasad para anggota polisi untuk menyesap habis darah mereka. Bulu-bulu gelap dan kasar mahluk-mahluk itu diwarnai merah kental.
Di sisi lain, sebelas pemuda Kampung Pendekar yang telah bangkit dari kematian merayapi bawah kolong jembatan tol yang melayang di atas sungai. Segala kemampuan mereka merakit peledak akhirnya digunakan juga. Dulu kesebelas pemuda ini mempelajari ilmu merangkai bom untuk merampok bank kecil dan kantor-kantor secara mandiri dan terpisah-pisah sebagai bagian dari kemampuan 'profesional' kejahatan mereka. Kini, Bandi, sang pemimpin baru, berhasil membawa mereka bersatu demi tujuan yang lebih besar, yang lebih mulia, yang lebih berwibawa.
Sejenak lagi, sore nanti, jembatan tol akan diledakkan, meluluhlantakkan bangunan besi baja tersebut dan memutuskan hubungan antara Kampung Pendekar dan dunia. Sisa warga yang tinggal di sekitar kampung itu hanya punya dua pilihan: mengabdi kepada Bandi sang pemimpin baru kejahatan atau dijadikan umpan hantu-hantu Mariaban.
Tidak ada yang akan benar-benar peduli dengan apa yang terjadi. Kampung Pendekar sudah hidup sendiri bertahun-tahun lamanya, mereka sendiri yang memutuskan hubungan dengan dunia luar. Daerah-daerah lain yang tak sehati dengan mereka hanya merasakan ketakutan yang disebarkan oleh para warga Desa Pendekar, dimanapun mereka berada.
__ADS_1
Kalau toh ada tindakan yang kelak dilakukan oleh para aparat, maka itu karena keingintahuan warga internet dan penonton berita di televisi serta tugas para jurnalis yang selalu haus informasi. Sisanya mungkin bersyukur bisa lepas dari warga kampung yang sok berkuasa tersebut.