Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon – Suluk Keduapuluh Lima Kusuma Dewi


__ADS_3

Ada alasan yang logis mengapa para preman, penjahat, dan pembunuh bayaran bergaya stereotip, yaitu  mengenakan baju berwarna hitam atau gelap, kaca mata yang juga hitam hitam, rambut panjang dan banyak juga yang bercambang serta kumis tebal. Ketiga orang-orang bayaran Pak Guru Johan juga bergaya seperti itu. Pada misi malam mereka ini, ketiganya sempat secara bersamaan langsung mengenakan kacamata hitam.


Ini sesungguhnya alasannya adalah agar semua orang yang menjadi saksi dan melihat apa yang mereka lakukan, akhirnya akan melaporkan ciri-ciri yang stereotip pula. Dalam hal ini, ketiga orang bayaran Pak Guru Johan tersebut akan menjadi susah untuk dikenali secara mendetil karena mengaburkan penggambaran oleh para saksi.


Keributan di kamar apartemen Anggalarang tentu seperti diduga memancing beberapa penghuni lain untuk keluar dari kamar mereka untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Satu preman yang sengaja memainkan revolver enam pelurunya, berdiri di depan pintu, memandang dengan penuh ancaman ke arah beberapa penghuni yang mau tahu. Mereka meninggalkan tempat kejadian perkara, bahkan termasuk kamar mereka sendiri, berbondong-bondong pergi dengan rasa takut dan kepanikan.


Polisi akan segera datang karena mendapatkan laporan dari para penghuni apartemen, pikir sang preman. Tapi ia bergeming. Dua rekannya yang memegang dan mengunci Anggalarang menyeret tubuh laki-laki yang mereka pastikan sedang meregang nyawa itudan melemparkannya ke sisi tempat tidur.


Darah membanjiri lantai, meluncur keluar dari rekahan luka tusuk di sisi lambung Anggalarang yang menganga lebar. Pandangan sang laki-laki muda itu berkunang-kunang dan kabur, ditimpali oleh percikan rasa sakit yang menyengat setiap syarafnya. Ia berusaha menggapai tempat tidur tetapi gagal. Anggalarang hanya dapat setengah tertelungkup tak berdaya, menghadapi kematiannya sendiri, melihat Kusuma Dewi dijambak, ditarik dan diseretoleh laki-laki yang tak dikenalnya itu.


Teriakan protes dan amarahpun tak mampu keluar dari kerongongan Anggalarang.


"Kau tak pantas mati di atas ranjang, Kusuma Dewi. Istriku mati kehabisan darah di depan pintu kamar kami. Wajahnya terbenam darahnya sendiri yang keluar dari luka di kepalanya yang pecah. Ah, kau sudah tahu detilnya, bukan?" ujar Pak Guru Johan. Ia menyeret Kusuma Dewi dengan cara menjambak rambut kemerahannya itu, persis seperti yang dilihat Anggalarang.


Kusuma Dewi tak mampu meronta. Ia hanya berteriak kesakitan sembari memegang tangan Pak Guru Johan dan sebisa mungkin mengikuti arah tarikannya agar rasa sakit di kulit kepalanya tak semakin parah. Ia bahkan tak sempat memanggil nama sang kekasih, apalagi melihat keadaannya.


Pak Guru Johan melemparkan tubuh molek Kusuma Dewi tertelungkup di dekat pintu kamar apartemen Anggalarang.

__ADS_1


"Bang, para penghuni sudah mengetahui kejadian ini. Sebentar lagi polisi atau warga lebih banyak akan datang," ujar preman yang berdiri di depan pintu menjaga dengan revolvernyakepada Pak Guru Johan.


Laporan ini adalah sebuah pernyataan meminta Pak Guru Johan untuk segera menyelesaikan perkaranya.


"Tenang, ini tak akan butuh waktu lama. Andai sundal ini perempuan biasa, aku sudah berikan kepada kalian untuk dinikmati. Tapi, percaya padaku, dia pantas untuk segera dibunuh. Perempuaniblis penuh muslihat ini akan aku habisi segera," ujar Pak Guru Johan gemetar penuh dendam kesumat.


Sang preman tak paham apa maksud laki-laki yang mempekerjakan mereka tersebut, dan sekali lagi, ia tak peduli. Maka ia bergeming dan melihat apa yang akan dilakukan laki-laki tersebutdengan pandangan sedingin es.


Pak Guru Johan kembali menjambak rambut kemerahan Kusuma Dewi kemudian menariknya sehingga membuatnya mendongak ke arah wajahnya. "Kau lihat dia, sepupumu sendiri, Kusuma Dewi?"


Hantu Ratih sang Belibis berjalan jongkok di depan wajah Kusuma Dewi mendekat. Tanah kering, debu, kerikil dan pasir berjatuhan dari tubuhnya. Pandangan matanya kosong, namun terpusat pada Kusuma Dewi.


Kusuma Dewi terbelalak ngeri. Ia kini dapat melihatnya dengan jelas.


Dua preman lainnya berkacak pinggang menikmati pemandangan Anggalarang yang sekarat karena mulai kehabisan darah. Salah satu hal menarik yang kerap mereka tunggu-tunggu di dalam pekerjaan mereka ini adalah salah satunya, melihat orang yang menjadi korban tercabut nyawanya. Ini merupakan seni tertinggi dari profesi kejam mereka tersebut.


Anggalarang benar-benar hampir mati. Kesadarannya mulai hilang. Beragam mimpi dan penglihatan silih berganti dengan cepat di otaknya, membentuk serangkaian jalan cerita yang tak jelas. Masa lalu, masa kini dan masa yang tak dapat didefinisikan saling taut menaut dan menimpa.


Anggalarang bahkan kini sedang berada di sebuah hutan, berdiri gamang bagai orang bodoh.

__ADS_1


Ada suara Kusuma Dewi membayang di sana. Ia sedang kesakitan. Ia sedang terancam nyawanya. Anggalarang tak mau ini terjadi. Maka ketika ia melihat kelebatan bayangan putih di sela-sela pepohonan ramping namun tinggi dan berdaun lebat, ia segera mengejarnya.


"Maung ... Maung ... Berhenti! Aku membutuhkanmu," seru Anggalarang sembari terus berusaha mengejar sosok harimau putih yang dilihat dari kecepatannya nampaknya terlalu mustahil untuk dapat dicapai. Namun,Anggalarang terus berlari, terus mengejar.


Tak lama, kini tubuhnya berlari bersama sang Maung di sampingnya, sama cepat dan gesitnya.


Anggalarang tahu bahwa Maung si harimau putih tak mungkin berbicara. Struktur mulut dan rahang harimau tak memungkinkannya untuk mampu melafalkan kata-kata yang biasa diutarakan manusia. Namun, Maung berbicara jua. Ia melontarkan kata, frasa dan kalimat melakui udara, batin dan energi.


"Ternyata engkau masih membutuhkanku, Anggalarang," ujar Maung, masih berlari berdampingan dengan Anggalarang.


"Maung, Maung ... Akhirnya aku dapat melihatmu lagi. Kemana saja kau selama ini, aku memerlukanmu. Tolong bantu aku, Maung."


Maung menggeram, mewakili sebuah kekehan, "Setahuku kau tak terlalu membutuhkanku akhir-akhir ini. Perempuan itulah penyebabnya, bukan? Dia menjadi pusat duniamu. Kau sudah lupa asal dan akarmu, bagaimana pribadimu dibentuk, bagaimana dan siapa sejatimu, Anggalarang. Ah, aku tak menyalahkanmu. Manusia memang hanya dapat berpikir untuk melulu kepentingannya sendiri."


"Aku tahu aku telah tidak mengacuhkanmu, dan malah membuatmu menghilang, Maung. Itu kesalahan terbesarku. Aku merasa bahwa ketika keinginan dan mauku terpenuhi, maka tiada hal lain yang dapat menggangguku. Tapi, kali ini aku tak bisa berdiam diri. Aku sekarat, Maung."


Salah satu preman yang berkacak pinggang di dekat tubuh setengah tertelungkup Anggalarang yang sedang sekarat kehabisan darah itu mendadak merasa melihat sesuatu, atau mendengar sesuatu. Ada geraman binatang keluar dari mulut korban pekerjaannya tersebut.


"Engkau yakin,Anggalarang? Karena ketika aku keluar, aku yang akan memegang kendali lebih banyak. Aku akan kembali berperan sebagai pelindungmu, seperti yang seharusnya. Engkau tak boleh mempertanyakan segala tindak tandukku diluar tubuhmu, pun tak pula menyangsikanku," tegas Maung.

__ADS_1


Anggalarang mendengar gaung suara lirih pedih Kusuma Dewi datang bagai kabut melingkupinya. "Maung, lakukanlah. Lakukanlah," respon Anggalarang tegas dan mantap.


Tak lama Anggalarang melihat dirinya berlari begitu kencang, lebih cepat dari sebelumnya, dan jauh lebih gesit dari yang pernah ada. Bedanya, kini ia berlari tidak menggunakan kedua kakinya, melainkan empat.


__ADS_2