
Soemantri Soekrasana mundur dan merapal mantra Lembu Sekilan ketika di saat yang sama sepasang tungkai kaki Anggalarang memanjang dan menekuk dengan gaib. Begitu juga kedua lengannya yang memanjang berubah menjadi lebih sebagai kaki depan seekor mahluk macan putih jadi-jadian dibandingkan kedua tangan seorang Anggalarang.
Tubuh Anggalarang yang sudah sepenuhnya menjadi siluman macan putih itu mendengus. Dadanya naik turun dengan mulut yang memamerkan gigi-gigi tajam bak susunan pisau siap ditancapkan pada tubuh musuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wong Ayu muncul tiba-tiba di ruangan berbentuk aula besar penuh dengan tubuh-tubuh berkeringat yang bergoyang-goyang mengikuti irama musik yang berdentum.
Tubuh berjubahnya melayang di udara.
Tak mungkin tak ada yang melihat sosok itu tersinari lampu disko dan lampu sorot yang berkelap-kelip berwarna-warni.
Teriakan teror bergemuruh, bersama kepanikan para remaja dan pemuda-pemudi yang sedang berpesta malam itu. Musik yang masih diputarkan melalui perangkat DJ menjadi semacam soundtrack kepanikan malam itu.
Mata Wong Ayu nyalang melotot dan memerah. Ia melihat dan memindai mangsa bagai seekor elang meninting kelinci di darat dan siap menukik menyerangnya.
Di beberapa ujung, bagian VIP, dengan kursi sofa setengah lingkaran atau ruangan kaca khusus, para bos kriminal kelas tinggi sedang membahas bisnis haram dan gerakan melanggar hukum mereka. Dengan kejadian ini, sontak para pengawal dan anak buah merogoh pistol karena teriakan keterkejutan dan kepanikan tuan mereka.
Kemunculan sosok di langit-langit aula pesta ini jelas merupakan sebuah keterkejutan yang luar biasa bagi semua pengunjung dengan beberapa alasan. Pertama, rasa takut paling primitif manusia ketika melihat sesuatu yang tak pada tempatnya terjadi. Jelas tak sering orang-orang melihat sosok misterius muncul secara tiba-tiba dan melayang di atas kepala mereka.
Kedua, bangunan berlantai tiga, tak terlihat menarik di luar, bahkan dirambati tanaman di satu sisi dinding itu dijadikan pertemuan para anggota pelaku kejahatan dan kriminal. Sepasukan polisi jelas membuat mereka awas nan waspada, tetapi sosok lain dengan kemunculannya yang menghebohkan, akan lebih membuat mereka lebih defensif. Hal serupa yang membuat mereka awas adalah insting menghadapi lawan atau saingan. Dalam hal ini, sosok misterius nan mengerikan Wong Ayu tentu langsung membuat insting pertarungan mereka langsung terjaga.
Ketiga, para ketua para begundal dan penjahat adalah orang-orang paling terbuka pada informasi apapun. Bahkan sesungguhnya, informasi adalah salah satu aset bisnis mereka. Berita sepak terjang sosok misterius dengan gelar Durga mungkin sudah sampai lebih dahulu di telinga mereka. Sama seperti polisi, penjahat juga selalu mempertimbangkan siapa yang mereka hadapai, atau kemungkin seperti apa yang bakal mereka temui di depan.
__ADS_1
Oleh sebab itu, tak heran, setiap pojok area VIP sudah ada tiga empat orang yang mengarahkan pistol mereka ke arah sosok melayang itu.
Para penjahat adalah orang-orang yang berani tetapi bekerja di balik hukum dan kekuasaan. Maka hukum dan kekuasaan selalu membuat mereka takut. Mereka sembunyi bagai tikus got dari radar para aparat. Mereka mencoba ratusan cara untuk membeli hukum dan kekuasaan dengan menyogok polisi, membayar orang-orang penting atau bermain kasar, menekan, mengancam dan membunuh agar terhindar dari palu kuasa yang dapat menghantam mereka.
Jadi tak butuh waktu lama bagi para bos memerintahkan anak buah mereka memberondong sosok aneh yang membuat mereka panik dan tak nyaman di dalam lubang persembunyian dan kegiatan bawah tanah mereka.
Rentetan tembakan bersahutan, meledakkan langit-langit, lampu-lampu pecah berantakan, menciptakan hujan beling halus. Musik masih menyala, sang DJ sudah terkencing-kencing melarikan diri.
Wong Ayu muncul di balik seorang penembak, kemudian mematahkan kepalanya dari belakang. Tindakan ini dilakukan dalam gelap dimana larik-larik sinar hanya berasal dari muntahan longsongan pe*luru serta penerangan yang sekarat.
Aula pesta mendadak menjadi terang. Dua pengawal bersenjata melihat semburan api tepat di depan mereka. Terang itu bertahan, bersama dengan teriakan dua pengaawal tadi yang tubuhnya terbakar.
Teriakan perintah yang diucapkan silih berganti menghiasi ruangan itu. Kepanikan, rasa takut, penasaran serta amarah bertebaran dalam kalimat caci maki, cabul dan kotor.
Kaum penikmat pesta yang hampir semua merupakan klien dan pelanggam pembeli narkoba para bos ini menjadi saksi sebuah pembantaian ghaib.
Orang-orang di area VIP rubuh satu persatu dalam gelap - walau sekarang menjadi terang karena bahan bakar dua mayat yang terpanggang dan api masih menjilati apapun yang masih tersisa di tubuh mereka - dengan keadaan yang terlalu mengerikan untuk dapat mereka gambarkan
Darah menggenang di lantai, mereka berteriak histeris.
Para tamu yang tersisa di ruangan sebab kaki mereka terlalu beku karena rasa takut yang menjalar di tulang punggung mereka kini menjadi korban tembakan panik membabi buta para penjahat yang panik. Mereka menunduk, tengkurap rata dengan lantai, menangis takut mati. Mereka yang sial rubuh dengan lubang mimis timah panas di tubuh, entah mati entah terluka parah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Dua kelompok preman ini berhasil keluar dari lahan pembantaian. Mereka berdelapan, berlari menyusuri koridor secepat yang mereka bisa.
Sosok hitam ada di depan mereka. Mereka tak berhenti, malah menembaki sosok di tengah lorong tersebut.
Mimis timah panas mereka tak ada yang nampaknya bisa melukai bayangan itu.
Yakobus Yakob menerima setiap tembakan dengan senyuman. Energi di dalam tubuhnya serasa penuh.
Dengan gerakan secepat bajing, nyawa musuh menjadi permainannya.
Ia menghempaskan ke dinding, lantai dan langit-langit. Ia menginjak, menyobek, menembus tubuh dengan jemari. Ia membelah dan memotong. Ia menggigit!
Potongan tubuh memenuhi koridor dengan darah menjadi lukisan dinding dan kolam di lantai. Kesemua delapan preman itu tak ada yang selamat. Yakobus Yakob dengan ketelitian tingkat tinggi membunuh dengan sadis dan berdarah dingin, para penjahat yang memang pernah melakukan kejahatan luar biasa.
Kedelapan preman ini dua tahun lalu terlibat dalam misi pembakaran hutan di pedalaman, pencurian satwa langka, pembunuhan pejabat daerah; keluarga; serta beberapa penjaga hutan karena menolak dan mencoba menggagalkan kegiatan mereka. Dua kelompok penjahat ini pantas mendapatkan ganjarannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Teriakan panik, teror dan horor membludak di seluruh lantai. Kempulan manusia yang berlari bagai kesetanan, kemasukan rasa takut itu membelah bagai air menubruk bebatuan ketika mereka mendapatkan sosok hewani yang berdiri di depan dengan keempat kakinya itu.
Sosok serupa harimau jadi-jadian berbulu putih dengan taring mencuat keluar dari mulutnya yang sama sekali tak manusiawi lagi. Moncongnya naik, mengendus mencoba mencari bau tengik pedofil yang ada diantara para pengunjung.
Tempat ini benar-benar tempat berpesta, pikir Maung. Sarti dan Wong Ayu sedang menari-nari dengan musik dari cipratan darah di lantai tiga. Ia sendiri sudah mengincar dua orang predator **** yang khusus bekerja mencari mangsanya di perempatan jalan, menawarkan bantuan kepada para pengamen cilik, merayu mereka untuk mengajak mereka makan di restoran yang seumur hidup belum pernah mereka masuki. Setelah itu, jelas tidak sulit untuk membekap dan menggauli anak-anak itu dengan bejat.
__ADS_1
Maung mengaung. Dibalas dengan teriakan ketakutan para pengunjung yang menempelkan tubuh mereka ke dinding.