Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Enampuluh Lima


__ADS_3

Affandi berdiri di depan gapura jalan masuk Kampung Pendekar. Ia melihat jalan beraspal yang ia injak, bangunan di sekitar: kiri dan kanan, langit yang tertutup helaian kabut dan manusia-manusia yang kini berduyun-duyun - puluhan jumlahnya - menghalangi jalannya. Dari sudut mata batinnya, terlihat pula beragam jenis mahluk gaib merangkak melata, mengambang melayang terbang, dan berguling menggelinding.


Affandi tersenyum.


Para pemuda yang masih segar bugar di depannya adalah para manusia baru, para pendekar yang merasa jiwa mereka telah dimurnikan, dikembalikan ke bumi dengan kekuatan luar biasa besar. Mereka adalah agen perubahan, para tokoh utama dalam sebuah jalan cerita. Paling tidak itu yang sudah mereka percaya.


Orang-orang yang sudah tua, warga Kampung Pendekar lain yang 'tak terpilih', kini berkerumun di makam sepuluh pendekar pendiri desa, melihat keajaiban demi keajaiban yang ditunjukkan dengan takjub, khusuk, khidmat dan taat bagai kumpulan umat.


Mereka membiarkan generasi muda: anak, cucu, kemenakan atau adik-adik mereka, memimpin dunia, membuncahkan rasa bangga yang meletup-letup di hati mereka.


Parang panjang, linggis, senjata api rakitan, pisau komando yang dirampas dari anggota tentara, badik dan keris Melayu, dan pentungan berpaku, adalah beberapa dari senjata yang umum digenggam para pemuda pendekar tak takut - dan tak bisa - mati dari Kampung Pendekar ini.


Affandi semakin membuka lebar senyumannya. Bahkan perlahan tubuhnya berguncang karena tertawa bergelak.


Para pemuda mulai gusar. Wajah mereka yang tanpa emosi sebenarnya tak mewakili perasaan dan pikiran mereka: siapa pria manusia rendah yang berani datang ke Kampung Pendekar seorang diri ini? Tanpa rasa takut dan sempat tak terdeteksi pula? Orang 'berisi', musuh, kawan, atau hantu?


Para pemuda mendekat. Parang dan segala jenis gaman digenggam lebih erat untuk dijajalkan dan dijejalkan pada sosok laki-laki misterius tersebut.


Affandi kini benar-benar tertawa, keras. Ia merentangkan tangannya seakan mengumpankan tubuhnya bagi para pemuda untuk dicincang.

__ADS_1


Namun beberapa langkah sebelum massa menggeruduk badan Affandi, ia berteriak kencang membuat kumpulan para pemuda tersebut terbelah bagai air dicambuk. Tubuh-tubuh mereka terlempar bagai bidak catur yang tumpah karena meja digebrak.


Jalan beraspal Kampung Pendekar terbuka, karena para pemuda yang berdiri di atasnya telah dibersihkan bagai debu membandel yang ditiup.


Ada Bandi berdiri di sana.


Tonjolan sebesar kepala bayi itu menyembul timbul dan tenggelam menyelam di kulit tubuhnya. Ia menyeringai, seringai yang dipinjam dari sosok perempuan muda nan memanjakan berahi yang melayang di belakangnya. Sosok perempuan yang memamerkan sepasang pay*udara padat menegang itu merenggangkan kedua tangannya, menunjukkan lekukan lengan dan ketiak yang indah tanpa cela.


Para pemuda yang terlempar - tentu saja tanpa terluka. Bila terluka karena menubruk bangunan atau terhempas ke aspal pun, sudah pulih kembali - dan telah kembali bangun sontak bersujud, beberapa bahkan meratakan tubuhnya dengan tanah, ketika melihat siapa yang muncul di hadapan mereka.


"Muncullah, tunjukkan dirimu, yang mulia tuan putri!" desis perempuan gaib yang mengambang separuh telanjang itu melalui bibir Bandi.


Kecantikannya yang agung, magis dan jelas tidak berasal dari dunia ini mengimpit setiap dada. Bahkan para pemuda pendekar laskar Bandi dan perempuan iblis yang merasa tak memiliki emosi dan perasaan, tak bisa menahan getaran berahi di jantung mereka melihat keanggunan dan keagungannya.


Kain jarit hijau berkelim-kelim melayang-layang di udara bagai udara itu sendiri, memenuhi kampung dengan percikan warna hijau mentereng. Sedangkan ekor ular raksasanya yang panjang berkelok-kelok secara ajaib di segala sudut.


"Nyi Blorong yang hamba hormati," ujar Bandi sembari berlutut khidmat.


Sosok perempuan di belakangnya ikut merendahkan diri dengan menurunkan pandangan walau kedua bibirnya menyunggingkan senyum tipis.

__ADS_1


Nyi Blorong mengangkat kedua tangannya, semerbak bau wangi bebungaan menyebar ke seantero kampung. Tak ada yang mampu menandingi kekuatan dan kekuasaan sang ratu siluman ular dari laut Selatan tersebut.


Pembicaraan antar dua mahluk gaib bukanlah sebuah percakapan yang hendak didengar manusia normal. Suara berlapis-lapis menyerempet relung kalbu, seakan mendengar suara dalam alam mimpi, sama sekali tak nyata dan manusiawi. Sang perempuan iblis berkata-kata bagai mengambang di bawah sadar, begitu pula balasan dari sang ratu ular, Nyi Blorong.


"Selamat datang ke tanah penuh keagungan ini, sang ratu. Akhirnya kita bisa bertatap muka dalam artian yang sebenar-benarnya," ujar sang ratu iblis dalam rupa gadis molek setengah telanjang melayang di udara.


Setiap kata-katanya diulang oleh Bandi seakan ia adalah suara kedua dalam sebuah tatanan paduan suara.


Berbagai mahluk gaib sekarang berdiam membeku kaku bagai batu. Setiap bulu kuduk akan meremang walau hanya merasakan angin yang berhembus di sekitar Kampung Pendekar. Bila manusia biasa berada di tempat ini dan menyaksikan segala kekuatan magis dan mahluk-mahluk mengerikan tersebut, maka jiwanya sudah pasti tersiksa tak nyaman, trans kerasukan tak kuat akan beban kekuatan alam lain tersebut.


Nyi Blorong menggerakkan ekornya yang akbar, membuat lempengan sisik-sisik hijaunya memantulkan sinar keemasan berpendaran lemah di selipan carutan kabut. Tubuhnya terangkat ke udara, tinggi menembus pecahan asap putih itu seakan ia sedang berusaha menunjukkan kekuasaan di depan mahluk gaib betina lainnya itu.


"Kau sadar sedang berbicara dengan siapa, setan wadon rendah?" tubuh Nyi Blorong semakin menjulang tinggi. Kelebatan kainnya memenuhi atmosfir bagai oksigen. "Kau pikir bisa berbicara denganku seakan kita setara, mahluk hina?!" serunya kembali.


Segala hantu pocong dan kuntilanak, jin, siluman, gendruwo, wewe gombel, dan mahluk-mahluk gaib lainya yang semula mematung kini kalut. Mereka beterbangan, berdesir bagai pasir mengisi udara dengan hawa panas nan bising.


Para pemuda Kampung Pendekar yang semula dingin, tak berperasaan dan merasa percaya diri menyundul langit kini bagai ban tanpa udara, kempes. Nyali mereka yang sebelumnya mereka pikir sudah tak diproduksi lagi setelah mereka terbangun bangkit dari kematian, ternyata perlahan merangkak muncul kembali ... tetapi dengan ciut.


"Aku memang memiliki kekuatan terbatas di tanah ini, namun bukan karena terpenjara macam dirimu, iblis laknat. Kau boleh menjadi licik memperdaya manusia-manusia berdaging darah dengan meniru wujud Calonarang agar dapat keluar ke dunia fana ini, namun aku ... Aku datang dan selalu hadir dalam bentuk yang kumau. Aku punya hidupku sendiri!" suara Nyi Blorong membekukan setiap aliran nadi mahluk hidup.

__ADS_1


Seekor kucing belang abu-abu dan hitam mendadak mati tercekik. Tikus dan cecurut bergelimpangan mati. Dua ekor kelelawar yang bingung akan hari mendadak muncul dan menubrukkan tubuh mereka sampai hancur di gerbang kampung. Burung-burung yang lewat di atas Kampung Pendekar berputar-putar lalu menujamkan diri ke bangunan perumahan yang berdempetan.


__ADS_2