Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Duapuluh Delapan


__ADS_3

Sosok itu adalah perempuan dengan rambut setengah tersanggul setengahnya lagi acak-acakan, jatuh menjurai ke bawah.


Wajahnya menghadap ke bawah, dengan kedua mata mengalirkan darah.


"Bangsat! Kuntilanak sialan!" sumpah Anggalarang.


Soemantri Soekrasana menahan amarahnya. Ia sudah terlalu sering dikejutkan dengan kemunculan kuntilanak merah itu. Meski kali ini keterkejutannya berlapis karena ia sama sekali tak tahu bahwa sang kuntilanak akan tetap bisa turut serta dirinya ke tanah Kalimantan, menyebrangi lautan.


Wong Ayu tertawa, "Kau tak akan bisa lepas darinya, Soemantri. Lagipula, bukannya kau rindu sosok itu?"


Soemantri Soekrasana terlihat sebal namun tak berkata apa-apa. Sedangkan Sarti sudah membuka indra keenamnya agar dapat melihat segala sesuatu yang tak kasat mata. Ia tak bereaksi apapun ketika melihat sosok hantu perempuan itu muncul di langit-langit kamar hotel mereka. Sebaliknya ia terlihat begitu berkonsetrasi pada suatu hal.


"Wong Ayu. Kau benar. Laki-laki itu sudah ada di sini," ujarnya perlahan namun dengan raut wajah sungguh-sungguh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sarti dengan baju merah kebesarannya berdiri di atap hotel dimana mereka tinggal sementara ini sesampainya di Kalimantan. Ia mengatakan kepada yang lain bahwa ia akan memperhatikan keadaan dari atas sini, mencoba mengendus kedatangan sang iblis bersama peliharaan barunya.


Angin malam berhembus gerah, walau Sarti berada di luar, di bawah atap langit yang cerah.


Sosok itu berdiri mengambang di depan Sarti. Kakinya yang tak menjejak tanah meneteskan darah. Ia menatap Sarti dengan sepasang mata mengerikan yang penuh dengan kepedihan. Mulutnya serasa ingin membuka dan berkata-kata, namun yang keluar adalah kikikan mengerikan.

__ADS_1


Sepasang mata Sarti berkaca-kaca. Ada larik-larik ingatan yang berseliweran di atas kepalanya, bagai ribuan bintang jatuh menubruk bumi.


Sarti lupa kapan tepatnya, ratusan tahun yang lalu yang jelas, sewaktu ia menjadi emban atau pembantu di sebuah rumah pejabat desa. Di rumah besar itu ia mengurusi beragam keperluan dasar rumah tangga keluarga Pak Carik.


Meski mungkin ia lupa tepatnya kapan, namun ia tak bisa melupakan nama desa itu, Ngalimunan. Bertahun-tahun kemudian, desa itu berganti nama menjadi desa Obong. Namun itu terjadi jauh setelah Sarti kembali mati.


Chandranaya, nama perempuan desa yang terlalu berani untuk statusnya yang bukan berasal dari darah ningrat, orang kaya, atau pejabat desa. Kedua orangtuanya mungkin dahulu memiliki ambisi menjadikan sang puteri benar-benar seorang putri.


Di masa itu, warga bawah yang tunduk pada aturan kerajaan, cenderung menamai anak-anak mereka dengan nama-nama yang sederhana karena merasa sebagai orang rendah, kawula. Maka mereka menamai anak perempuan mereka dengan nama-nama hari dalam penanggalan Jawa seperti Ponirah, Wagiyem, atau Legimah.


Tidak dengan Chandranaya. Gadis itu sudah cantik sejak orok. Lirikan mata bayinya nakal. Ketika berumur delapan tahun, tubuhnya sudah terbentuk bagai anak gadis. Umur empat belas, usia matang bagi perempuan di masa itu untuk menikah, Chandranaya sudah sempurna, bagai mangga matang yang siap dipetik.


Chandranaya, didukung keluarganya yang hidup di pondok reot, masih memimpikan dikawini pangeran kerajaan. Pak Lurah dan Pak Carik terlalu menjijikkan bagi gadis itu. Masak ia mau dijadikan istri ketiga atau keempat? Pikirnya.


Walau pak Carik adalah generasi sekian dari keluarga Ngalimun yang terhormat di desa yang nama keluarganya saja digunakan sebagai nama desa, orangnya sangat licik dan pengabdi ilmu gaib, teluh dan yang jelas, sesat. Chandranaya makin jijik dibuatnya.


Sialnya, Pak Carik Ngalimun lah yang paling ngebet ingin menikmati kemolekan tubuh, kemulusan kulit dan keayuan wajah gadis itu. Pandangan matanya saja sudah menerobos masuk ke setiap sela pakaiannya. Hanya diperhatikan saja oleh Pak Carik, Chandranaya sudah merasa ditelanjangi.


Sarti maklum dengan rasa risih Chandranaya yang kerap ia saksikan sendiri. Selain itu, Chandranaya bukan satu-satunya perempuan yang dijadikan obsesi oleh si Carik cabul beristri tiga itu.


Sebagai seorang pembantu, Sarti yang berumur enam belas tahun saat itu, juga menjadi sasaran nafsu bejat sang juragan. Namun, suatu waktu ketika Pak Carik Ngalimun nekad ingin menjajal tubuh ramping Sarti alias Ratna Manggali itu di dapur, dengan mudah Sarti menempelkan pisau dapur berkarat ke kejantanannya dan mengancam akan memotong benda itu menjadi empat bagian ... secara perlahan.

__ADS_1


Sejak saat itu, Pak Carik tak berani menyentuhnya lagi. Sialnya, tuannya itu juga tak berani memecatnya, karena Sarti adalah emban favorit istri kedua Pak Carik yang terkenal memiliki pengaruh kuat di desa. Maklum, ia adalah puteri satu-satunya juragan beras di desa tetangga, desa Pancasona namanya. Istri kedua Pak Carik, walau membiarkan suaminya untuk terus kawin-mawin - asal jangan coba-coba menceraikannya - bagaimanapun merasa jengah dengan niat sang suami untuk mengawini Chandranaya. Padahal bisa saja ia mengawini anak dua belas tahun dari desa Prajuritan atau perempuan manapun yang ia bisa dengan mudah.


Sang istri kedua Pak Carik itu merasa sang perempuan dapat membawa petaka di desa. Ia memberitahukan kecemasannya ini kepada Sarti. Bukan mengapa, perempuan cantik namun bergaya sok berkasta tinggi itu bahkan menarik perhatian anak pertama suaminya dari istri pertama yang juga bernama sama dengan suaminya, Ngalimun, sesuai budaya keluarga, yang masih sangat muda itu.


Benar pula apa yang dikhawatirkan sang istri kedua.


Saat itu hari Selasa Pon, malam hari, tak lama setelah matahari terbenam, Chandranaya sedang berjalan seorang diri menyusuri tepian kali yang digunakan sebagai saluran irigasi yang bersumber dari sungai Pratama.


Gadis itu mengenakan kebaya merah menyala, sanggul yang indah dan kain jarit membalut tubuh bagian bawahnya. Ia menembang di gelap malam itu. Sebuah hobi yang sudah digelutinya dari kecil.


Gaya berbusananya yang selalu habis-habisan bagai keturunan priyayi itu sudah menjadi ciri khasnya. Semua orang di desa sudah maklum. Namun berahi Pak Carik tak bisa memakluminya lagi malam itu.


Pak Carik sebenarnya baru saja selesai buang air besar ketika didapatinya suara merdu tembang di malam itu oleh tubuh molek nan menggairahkan Chandranaya terlihat jelas di kedua bola matanya.


Kejantanannya tak bisa menunggu lagi. Ia menarik sang gadis ke bawah rerimbunan pohon pisang, menjambak rambutnya, dan merudapaksanya habis-habisan.


Teriakan Chandranaya tak sempat terdengar karena Pak Carik mencekik lehernya sampai darah keluar dari kedua mata, bahkan hidung dan mulutnya.


Chandranaya tewas di bawah pohon pisang.


Pak Carik pulang ke rumah setelah sebelumnya berpapasan di jalan dengan Sarti. Laki-laki itu langsung ngacir menghindari perempuan berbahaya itu. Namun Sarti sempat melihat bercak darah di pakaian dan kain jarit Pak Carik.

__ADS_1


__ADS_2