Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Empapuluh Empat


__ADS_3

Celurit Sarti sompel di beberapa bagian dan bilahnya juga bengkok. Sarti tak memiliki pilihan selain membuangnya ke tanah. Senjata dengan bentuk seperti ini jelas sudah tidak efektif lagi dalam sebuah perkelahian. Apalagi yang dihadapi bukan manusia-manusia biasa.


Perempuan berumur ratusan tahun itu sudah berhasil membunuh dua orang laki-laki berilmu kebal dengan tombak Baru Klinthing yang dapat menembus ilmu gaib dan kekuatan supranatural apapun. Celuritnya tadi ia gunakan untuk menyerang ke arah mata musuh yang rentan serta sebagai pengalih perhatian sebelum Baru Klinthing menembus dada lawan.


Namun, nampaknya ia pun mulai lelah. Musuh-musuhnya tidak hanya kebal, tetapi juga memiliki ilmu silat yang mumpuni. Gerakan mereka terukur dan lumayan berbahaya, bahkan bagi Sarti yang malang melintang selama ratusan tahun kehidupannya sekalipun.


Dalam keadaan itu, Sarti melihat Wong Ayu yang perlahan pulih dari lelahnya sedang melayang turun dari angkasa dan berdiri tepat di sampingnya. Keduanya saling bertatapan sejenak untuk kemudian sama-sama melihat empat orang musuh sudah tewas.


Masih ada beberapa yang lain, mungkin sepuluhan orang.


Kedua perempuan sakti ini sudah siap untuk melanjutkan pertarungan ketika para penyerangnya malah mendadak membalikkan tubuh mereka dan melompat turun bagai kumpulan tupai.


Mereka meninggalkan Sarti dan Wong Ayu yang kebigungan dengan tindakan mereka tersebut.


"Sial! Rencana apa yang sebenarnya mereka lakukan?" semprot Wong Ayu.


"Maung dan Soemantri juga sudah berada di bawah. Aku tak bisa menggunakan ilmu berpindah lagi dalam waktu dekat," lanjutnya kepada Sarti.


"Tak perlu. Kita hanya harus melompat turun seperti mereka. Kita akan kehilangan banyak waktu dan kesempatan bila tak berhasil mengejar mereka," balas Sarti.


Namun, Sarti kemudian memandang ke arah Wong Ayu.


"Kau masih mampu untuk melakukan ini?" tanya Sarti kepada perempuan penyihir yang cantik itu dan benar-benar menunjukkan rasa kepeduliannya kali ini.


Wong Ayu menggeleng, "Aku tak apa. Kita harus mengejar mereka," ujarnya kemudian.

__ADS_1


Wong Ayu tak ingin membuat Sarti berpikir terlalu lama sehingga kekhawatirannya seakan menjadi berlebihan. Toh, ia baru saja mampu membunuh dua orang penyerang dalam sekali hajar.


Di satu sisi, Wong Ayu masih merasa menjadi jagoan terbaik saat ini meski di sisi lain, bukanlah menjadi urusan utama untuk menunjukkan siapa yang terbaik, terutama di depan 'teman-teman' barunya.


Saat ini memang ia harus berani mengakui bahwa hanya empat orang yang entah bagaimana terhubung secara gaib ini yang bisa diharapkan untuk melawan iblis perempuan yang luar biasa kuat dan mengerikan tersebut.


Mereka berempat lah yang dihubungkan oleh garis dan lengkung takdir untuk bahu-membahu saling bantu.


Tatapan Sarti, orang yang baru dikenal Wong Ayu, yang bahkan juga sempat ingin membunuhnya, kini menunjukkan perhatian yang tulus. Sarti juga merasakan rasa khawatir ketika Soemantri Soekrasana mencelat terbang ke bawah mengejar para hantu, atau si Maung yang terluka dan jatuh dan hilang juga di bawah sana.


Hal ini pula yang membuat hati Wong Ayu menjadi galau.


Bagaimana tidak, masalah ini sesungguhnya berasal dari dirinya, dari perbuatannya, sedangkan orang lain yang harus ikut menanggung dan menyelesaikan hal ini. Ia lah yang membuka pintu dunia gaib sehingga menyebabkan mahluk berbahaya itu - yang tanpa sengaja ia ciptakan - keluar dengan bebas.


Nafsu hampir selalu menang


Sarti pun mengikuti arah pandangan Wong Ayu dan ikut bergabung bersamanya. Keduanya bergegas melihat kondisi laki-laki berambut kribo itu.


Nafas Fadlan putus-putus. Darah keluar dari salah satu lubang hidungnya. Salah satu kakinya juga berada dalam posisi yang aneh, patah, begitu juga salah satu tulang rusuknya.


Wong Ayu merapat mantra penyembuh dan menempelkan kedua telapak tangannya si atas kepala Fadlan. Sesungguhnya mengobati seserang bukanlah permasalahan bagianya. Wong Ayu saja mampu membangkitkan orang mati.


Namun, Sarti melihat ini dengan perasaan cemas. Ini berarti Wong Ayu kembali mengeluarkan tenaganya lagi untuk menyelamatkan warga yang sedang sekarat tersebut. Tapi, ia pun akan melakukan hal yang sama bila dikaruniai kemampuan tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Fadlan membuka mata. Warga mengelilinginya. Ia bangun dan menarik nafas panjang.


"Aku harus turun membantu orang-orang sakti itu menyelamatkan teman-teman kita di bawah sana. Aku sudah disembuhkan oleh salah satu dari mereka, bukan? Tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini," ujarnya.


"Kau hebat, Mas," Lutfi berkata. "Maaf aku tak sempat membantumu tadi. Aku harus membantu beberapa warga yang kerasukan. Untung sekarang mereka sudah pulih, dan aku ikut senang kau sudah pulih pula. Sudah saatnya kita ikut membantu rekan-rekan di bawah sana seperti yang kau katakan tadi, Mas," lanjutnya.


Fadlan mengangguk.


Lutfi mengambil parang yang tergeletak di tanah dan memberikannya kepada Fadlan, yang kemudian meraihnya dan menggenggam erat. Keduanya mengangguk kepada para warga dan meminta mereka kembali ke dalam desa. Tak lama keduanya berlari turun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Soemantri Soekrasana tak sempat lagi mencegah 'rekan-rekannya' untuk membunuh para preman dengan senjata api tersebut. Mereka tidak sekadar menargetkan keempat anggota Catur Angkara, melainkan siapa saja yang menghalanginya.


Satu warga tewas dengan tercacah mimis timah panas karena berada di lintasan tembak ketika mereka hendak menyerang si Maung. Dua orang lagi sepertinya luka berat. Keduanya mungkin saja tewas saat itu bila Maung yang terluka tak melompat menanamkan kuku-kukunya di kepala satu preman dan menggigit putus kepala satu preman lagi.


Hantu-hantu di dalam tubuh kedua preman yang tewas itu menjerit dan keluar; hantu laki-laki yang berjalan kayang dengan kepala terbalik menghadap tanah dan hantu perempuan berjubah putih dengan lubang menganga di punggungnya penuh dengan belatung: sosok sundal bolong.


Saat itu pulalah Sarti membenamkan tombak Baru Klinthing ke kedua tubuh astral itu, membuat keduanya terbakar, berteriak-teriak ketika badan mereka perlahan hangus dan menghilang, menempel di dinding neraka selamanya.


Api berkobar dari beragam bangunan karena tembakan beruntun dan membabibuta para preman yang kerasukan membakar gardu listrik dan tong-tong berisi bahan bakar, membuat malam itu serasa seterang dini hari. Belum lagi ulah para banaspati yang terus melayang-layang mengintimidasi.


Soemantri Soekrasana sendiri sudah habis-habisan menangani para hantu yang beterbangan, melata, merayap, merangkak, berjongkok, berlompatan, bergulingan atau muncul dan menghilang serta merasuki tubuh-tubuh acak para warga laki-laki. Ia meludah ke tanah berkali-kali karena mulutnya sibuk komat-kamit merapal mantra.


Kembang sudah habis lama, di dalam tas selempangnya hanya ada potongan kemenyan, kertas mantra, dan sedikit 'senjata' yang bisa digunakan untuk melawan para mahluk gaib ini. Si kuntilanak merah masih ada di dalam tubuhnya, membuatnya kerap terkikik sendiri, mengikuti kebiasaan sang hantu perempuan.

__ADS_1


Marsudi melihat usaha Soemantri Soekrasana ini dan tidak bisa membiarkan rencananya terganggu. Maka ia melesat ke arah dukun muda yang terus berjuang itu.


Untunglah, Wong Ayu menyambar Marsudi, mencegahnya menyerang Soemantri Soekrasana. Marsudi mundur jauh dan mendarat di tanah beraspal yang tergenang air. Ia kemudian menolakkan tubuhnya ke udara kembali menyambut Wong Ayu. Keduanya bertempur di udara bagai dua petir yang saling melecut, energi membakar yang penuh amarah.


__ADS_2