Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Enampuluh


__ADS_3

Soemantri Soekrasana mendengar suara Wong Ayu di kepalanya. Ia merasa konyol karena malu Wong Ayu memasuki isi pikirannya, tetapi ia sama sekali tidak terkejut dengan kemampuan Wong Ayu yang satu ini sehingga Soemantri Soekrasana segera berbicara dengan serius.


"Kuncinya adalah para hantu, Yu. Satria bersama bala bantuan astral menjelaskan kepadaku. Si kuntilanak merah juga ternyata tak terpengaruh oleh kekuatan dari kampung sebelah. Ini karena ia yang memutuskannya begitu," balas Soemantri Soekrasana.


"Tunggu, Satria katamu, Soemantri? Satri Piningit?"


"Ya, Yu. Satria Piningit. Teman masa kecilmu, Yu. Yang kita ketemui di ...."


"Aku tahu. Kenapa ia di sini? Dia bersamamu sekarang?" potong Wong Ayu.


"Nanti saja aku menjelaskannya. Intinya Yu harus fokus pada para hantu. Aku juga baru kali ini mendapatkan bahwa para hantu memiliki keinginan sendiri. Gila, bukan? Mereka sama persis dengan para pemuda yang bangkit dari kematian itu. Mereka diiming-imingi kekuatan, kesaktian dan kekuasaan yang berlimpah ruah. Apa yang lebih mahal dari uang, Yu? Ya ... Kekuasaan!"


"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Sarti sedang menghadapi para pemuda yang sepertinya enggan untuk kembali tewas. Mereka terus menerus utuh dan bangkit kembali dari kematian," balas Wong Ayu.


"Satria datang bersama bala bantuan. Rupa-rupanya hanya hantu yang dapat melawan hantu. Mahluk-mahluk gaib itu berkumpul disini menembus dimensi dan tirai batasan. Satu-satunya cara, Yu harus menggunakan kekuatan yang serupa untuk melawan mereka. Percuma melawan para pemuda, bila hantu-hantu tak kehilangan kuasa. Aku masih belum paham cara kerjanya, tapi Satria menjelaskan bahwa kuncinya adalah pada mahluk-mahluk gaib tersebut," ujar Soemantri Soekrasana.


Nama Satria Piningit berulang diucapkan, membuat Wong Ayu menjadi sangat penasaran. Dimana peran laki-laki itu di dalam cerita mereka ini? Apakah Satria Piningit memang telah digariskan bersilangan dan berkaitan dengan Catur Angkara?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pertempuran gaib sama sekali tak seperti apapun yang bisa dibayangkan, apalagi dibandingkan dengan pertempuran antar manusia dengan senjata tradisional ataupun modern.

__ADS_1


Para warga perumahan elit itu hanya melihat kelebatan di balik kabut, warna-warna aneh menjalar dan meletup di sana sini. Beberapa detik mereka akan melihat wajah pucat dan mengerikan menerobos udara dan membuat hati mereka kembali mencelos.


Namun secara visual batin Soemantri Soekrasana, yang ia lihat cukup jelas dan gamblang:


Jin Obong, sosok astral besar berbulu, bermata merah darah, berkuku tajam hitam dan bertaring lancip mencuat keluar dari mulutnya melompat dan bergelantungan di tubuh sosok raksasa jangkung. Keduanya bergulat dan saling cakar dan gigit. Tubuh astral mereka menembusi bangunan.


Chandranaya si kuntilanak merah mengambang, berteriak melengking. Segala jenis kuntilanak dan sundel bolong merayap dan mengambang ikut berteriak. Tapi teriakan mereka adalah teriakan pilu dan takut.


Ya, perempuan-perempuan hantu itu sedang diintimidasi oleh sang kuntilanak merah.


Para siluman setengah hewan setengah manusia dipapapras oleh pedang dan ditusuk tombak gaib hantu prajurit Mataram tanpa kepala. Mereka bergelung, berguling, menggelinding, menghindari tebasan senjata gaib mahluk yang juga gaib tersebut.


Priyam si hantu anak remaja yang tubuhnya terbakar serta adiknya, Tarini, hantu nenek-nenek dengan punggung dan bagian kepala berlubang, berdiri di samping kiri dan kanan Satria Piningit. Tatapan mata ketiganya berebenturan dengan pandangan Soemantri Soekrasana.


"Baik ... Segeralah. Perumahan itu adalah dimana aku tinggal. Tolong bantu selamatkan warga yang ada," balas Satria Piningit juga dengan suara yang keras mengingat mereka masih berada di dua bangunan yang bersebrangan.


Soemantri Soekrasana melihat Maung yang masih bergerak cepat dan liar, melawan musuh-musuh yang hampir bisa dikatakan tak mungkin terkalahkan dalam kondisi seperti ini. Ia turun ke bawah, mengingat ada sebuah motor sport terparkirkan di garasi bersama dua mobil mewah lain.


Memang ini ‘kan kompleks perumahan elit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Anggalarang terkesiap, terperanjat di dalam tubuh Sang Maung. Mata batinnya bekerja seutuhnya. Bukan gugusan hantu bertebaran yang ia perhatikan, bukan sepak terjang Yakobus Yakob yang menghilang dan memecah serta memadat menggempur empat pemuda yang nampaknya tak mau lebur, bukan pula Satria Piningit yang berdiri di lantai atas sebuah rumah bagai komandan pasukam dan panglima perang memerintahkan sosok jin berkuku tajam bertubuh penuh bulu serta kuntilanak merah sobat karib Soemantri Soekrasana berteriak-teriak memilukan membuka rongga mulutnya yang berjubelan darah kental, tetapi pada sebuah penglihatan yang meluncur masuk ke dalam otaknya dalam rupa putaran gambaran penuh dan utuh.


Sang Maung berhenti mencoba menyerang empat pemuda yang sibuk mati dan bangkit, hancur dan kembali utuh, pecah dan kembali ke asal. Penglihatan itu membuatnya terkungkung dalam sebuah tontonan yang jelas nan apik. Ia seakan duduk berdampingan dengan Maung di dalam sebuah ruang bioskop dengan layar yang tidak hanya berada di depannya, akan tetapi di sekelilingnya pula.


Ada anjing-anjing gaib berbulu hitam dan abu-abu kasar menggeram menunjukkan gigi dan taring mencuat dengan tetesan liur. Puluhan tubuh mereka yang sebesar kerbau dewasa itu berbaris membentuk pagar pertahanan di tepi laut dengan tungkai kaki menancap di balik ilalang setinggi manusia yang terus bergoyang gemerisik tertiup angin. Anjing-anjing siluman itu adalah bahutai.


Tersebar pula di balik pepohonan kelapa dan rumput, ratusan sosok serupa manusia memerah mata, meruncing taring, melancip kuku, bergarang wajah, bersenjatakan mandau gaib dan berbaukan kematian: prajurit tak kasat mata.


Ombak yang keperakan disinari cahaya bulan purnama bulat sempurna memecah liar di pantai. Berdiri di garis depan tentara mahluk halus tersebut, sosok Amin Kelaru, pemimpin pasukan mahluk adikodrati. Bertubuh manusia namun berhawa dewata. Tubuhnya terselimuti segala macam sihir dan energi. Membelit dan membentuk kepala, lengan, dada, dan kaki, utuh namun serasa maya.


Angin tak menggetarkan bulu-bulu burung yang mencuat dari penutup kepalanya.


Angin adalah duniawi, sedangkan ia adalah adikodrati.


Ombak mendadak terbelah menjadi beberapa bagian. Larik-larik air menjadi rongga. Ombak mendadak menjadi berkelim-kelim berwarna hijau sepanjang pantai. Pasukan perempuan dengan busana perang, senada daun dan lumut, bertombak, berkeris, bermahkota mutu manikam, bermata mutiara, berniat seganas segara, muncul menyembul dari lautan ratusan jumlahnya.


Ketika para pasukan perempuan mencapai pasir pantai, di belakang mereka menyusul beragam binatang melata yang juga bertubuh raksasa menghijaui lautan. Buaya dan ular bergelung-gelung merayapi pantai.


Tubuh Nyimas Dewi Anggatri dibungkus kemben hijau menyala yang menyambung dengan kain jarit bernada sama serta tambahan kilau keemasan dan keperakan yang saling timpa. Kain jarit yang menutupi bagian bawah tubuh perempuan tersebut berkelim-kelim begitu panjang dan lebar, mengambang di atas ombak menutupi sebagian ekor ularnya yang bersisik hijau. Ombak tak membasahi rambut Nyi Blorong.


__ADS_1


Air adalah duniawi dan ia adalah adikodrati.


Kandita, Nyi Roro Kidul, dengan kecantikannya yang menyedot alam, muncul dengan kereta kencana bergemerincing membelah lautan. Tubuh moleknya dan padatnya bergoyang di atas kereta kencana dengan kuda-kuda bersurai panjang bermata membara.


__ADS_2