
Tiga buah helikopter terbang berputar-putar bergiliran di atas kubah kabut yang melingkupi wilayah Kampung Pendekar dan sekitarnya bagai selimut tebal Bumi. Tiada apa yang sempat dipikirkan para penerbang dan personil petugas yang memantau dan melaporkan keadaan ini kepada Pusat ketika sebuah benda misterius meluncur terlalu cepat ke arah salah satu helikopter dan menubruknya keras.
Teriakan "Mayday, Mayday, Mayday ...," bersahutan dari dalam kokpit selagi benda besi terbang itu bergoyang hebat hilang keseimbangan dan langsung jatuh menerobos kabut, menabraki dan memotongi pepohonan sawit dengan lempengan kipas bajanya. Ekornya patah terlempar, sedangkan bagian kepala helikopter beserta kipas yang tersisa separuhnya itu masih terseret dan menggelinding tak jauh dari dimana Yakobus Yakob, Satria Piningit dan para anggota Catur Angkara berdiri.
Benda misterius yang menabrak helikopter pertama itu menggunakan momentum untuk memantul laju ke arah helikopter lainnya yang walau sang pilot terkejut dengan sangat masih bisa membanting kendali sehingga tak langsung tertubruk. Namun, tetap saja nahas baginya, helikopter itu berputar-putar doyong di udara tak seimbang.
Salah satu personil hampir terlempar keluar. Helikopter tersebut terus berputar, merendah, meluncur jatuh ke sisi yang lain, tak jauh dari Kampung Pendekar.
Helikopter ketiga lah yang paling beruntung karena segera merespon kejadian aneh nan mengejutkan ini dengan berputar pergi sejauh mungkin dari area tubrukan.
Benda yang tadi meluncur menubruki dua buah helikopter tersebut, kini telah meluncur turun, menghujam bumi, kembali masuk ke balik kabut.
Ia berdiri tegap, sosok itu bukanlah sebuah benda. Tanah di sekitarnya lebur. Tubuhnya sendiri melesak masuk ke dalam tanah, menciptakan semacam lubang besar akibat hantaman badannya.
Sepuluh pendekar yang kembali hidup dan bersembunyi di balik bangunan dan pepohonan di Kampung Pendekar, tak dapat menutupi keterkejutan dan kekaguman mereka. Begitu pula Bandi yang sempat terluka: jiwa dan raga, fisik dan hati, kini melihat dengan jelas kehebatan dan keagungan Affandi.
***
"Kalian tahu apa yang harus dilakukan, bukan? Perubahan rencana. Aku, Satria Piningit dan Yakobus Yakob akan di sini, mencoba menolong orang-orang dari helikopter itu. Semoga mereka masih bisa diselamatkan. Kalian, pergi ke helikopter satunya," perintah Wong Ayu pendek menggunakan komunikasi batin kepada semua anggota Catur Angkara maupun Satria Piningit dan Yakobus Yakob.
__ADS_1
Tak perlu menunggu lama, Sarti melesat bagai kilat berwarna merah. Soemantri Soekrasana tak sempat berkata apa-apa lagi, ketika Anggalarang menggeram dan meraung oleh sang Maung. Sebelum tubuh siluman harimau putih yang muncul dari dalam Anggalarang itu melesat menjejakkan kedua kaki dan kedua tangan serupa kaki depan itu ke tanah, Soemantri Soekrasana sudah melompat naik ke punggungnya.
"Kau tetap di sini," seru Soemantri Soekrasana memberi perintah pada Chandranaya sebelum sosoknya hilang bersama Sarti dan Maung.
***
Sepuluh pendekar masa lampau leluhur Kampung Pendekar: Datuk Mayang Merah, Pak Sulung Hitam, Pak Tengah Kuning, Pak Kecik Putih, Datuk Rajawali Tua, Si Bajing Laut, Elang Timur, Elang Barat, Wan dan Banteng Amuk, berjalan keluar dari tebalnya kabut, mendekati bangkai helikopter yang masih berasap. Secara ajaib, semua orang di dalamnya selamat, walau terluka di beberapa tempat. Mereka sudah berhasil merangkak keluar dengan secepat yang mereka bisa: lima orang jumlahnya.
Hanya saja, sekarang nasib mereka berada di tangan sosok-sosok yang bisa dikatakan telah kehilangan kemanusiaannya ratusan tahun yang lalu itu.
Sepuluh orang pendekar dengan jiwa yang kelam itu memandang aneh pada benda terbang yang jatuh dari langit tersebut. Mungkin kah benda yang jatuh itu adalah seekor burung berbentuk aneh dan bertubuh raksasa? Lalu, mengapa ketika jatuh, benda itu berasap dan mengeluarkan api? Mereka sudah terlalu lama berada dalam alam kematian sehingga pikiran mereka terus membentuk pertanyaan tentang apa saja yang ada di keliling mereka. Bukan hanya jagoan-jagoan baru seperti Bandi atau Affandi, atau kemunculan beragam jenis mahluk gaib, akan tetapi juga hal-hal nyeleneh yang tak pernah mereka lihat di masa sewaktu mereka masih hidup seperti bentuk rumah, lampu-lampunya, kendaraan bermotor, bahkan pepohonan pun dirasa berbeda.
Hawa membunuh semakin mengental seiring kaki-kaki telanjang mereka yang mendekat ke arah para korban.
Kelima personil yang bergelimpangan perlahan menyadari bahwa ada sekumpulan orang dengan niat yang jahat berjalan ke arah mereka. Atmosfir bahaya mengambang di udara. Rasa sakit yang mereka rasakan menyengat, namun tak sekuat rasa awas dan waswas mereka. Kelimanya berpandangan dengan teror.
Cahaya kilat berwarna merah menyeruak dari balik pepohonan, disusul sosok raksasa mengaum, menggeram, berdiri di depan kelima korban helikopter, menahan laju jalan sepuluh pendekar yang bangkit dari kuburan tersebut.
Kelima orang personil langsung menegang, tak percaya yang mereka lihat. Seorang perempuan berbaju merah yang datang secepat kilat, seekor mahluk sebentuk harimau berwarna putih dengan tubuh laki-laki dewasa di punggungnya jelas bukan sebuah pemandangan biasa.
__ADS_1
Lain halnya dengan kesepuluh pendekar dari kuburan yang saling pandang, mereka tersenyum lebar demi melihat siapa yang datang menantang.
"Bangsat! Aku kenal mereka," ujar Sarti kepada Maung dan Soemantri Soekrasana yang menghela nafas panjang.
Tak lama, di belakang sosok sepuluh pendekar masa lampau tersebut, muncullah sang iblis perempuan. Melayang, dengan tubuh berbentuk sulur-sulur dan lembaran kain bergumul, berkelim-kelim, berkibaran di udara.
"Kita bertemu kembali, anak-anakku," ujar sang sosok dengan nada menggetarkan sanubari.
"Kau lagi, kau lagi. Sudah kuduga. Kau tak punya kekuatan nyata di sini, iblis. Darimana caranya kau dapatkan budak-budak itu?" ujar Soemantri Soekrasana ketika mengetahui siapa gerangan yang hadir.
"Ah, rencana hanya milik manusia. Mahluk seperti kami tak mengenal apa itu kegagalan, apalagi rencana. Kami selalu sampai pada tujuan, bagaimanapun juga. Itu karena kami melakukan apa yang kalian manusia sebut sebagai 'menghalalkan segala cara'?"
Jejeran sepuluh orang pendekar tersibak. Sosok bugil Wardhani muncul dari belakang mereka. Kikikan tawa sang iblis betina dalam rupa roh perempuan tua mengerikan itu menemani perubahan bentuknya menjadi kabut yang perlahan merasuk masuk ke dalam tubuh Wardhani melalui pori-pori kulitnya yang gelap.
"Sudah terlalu lama kita tak bertemu, Mas Soemantri. Dan terlalu lama pula terakhir kali aku merasakan kehangatanmu, Anggalarang," ujar Wardhani pelan.
Sarti menyipitkan mata dan memandang Soemantri Soekrasana dan Maung dengan heran dan selidik.
Soemantri Soekrasana melompat turun dari Maung yang perlahan berubah menjadi Anggalarang - kembali mengejutkan lima personil helikopter.
__ADS_1
"Kau kenal dia?" gumam Soemantri Soekrasana dan Anggalarang berbarengan.