
Bagi Irawan, pemuda sembilan belas tahun yang kikuk membawa parang panjang disamping keempat rekannya tersebut, giliran jaga malam ini menjadi ronda yang paling mencekam. Bagaimana tidak, sudah lima orang tewas mengenaskan di desa ini. Memang kata 'tewas' sepertinya yang paling cocok digunakan untuk meninggalnya warga dengan kondisi sangat memprihatinkan dan juga tidak wajar itu.
Kelima warga tersebut tewas hanya selang dua hari dimana sebelumnya mereka muntah-muntah, tubuh gatal-gatal parah dan memecahkan nanah. Tiga orang warga menggelepar di tegalan sawah, dua lagi di teras rumah mereka sendiri, salah satu dari warga yang tewas tersebut adalah kepala desa.
"Namamu itu Bambang Irawan putra Raden Arjuna yang gagah perkara dan berani orangnya. Kok ndak malu punya nama seperti itu, jaga malam seperti ini saja takut," ujar Lutfi, teman dekatnya yang dua tahun lebih tua.
"Itu salah bapakku yang menamaiku. Lagipula, ini 'kan ronda khusus, mengapa hanya kita berempat yang berjaga malam ini? Harusnya sekalian sekampung," ujarnya.
Lutfi membetulkan posisi sarung yang diikatkan melingkari pinggangnya. Di sarung itu pula ia menyelipkan golok pendek bergagang kayu galih asem, "Kita berlima saja cukup. Warga sudah diperingatkan akan bencana ini. Mereka semua berjaga-jaga di rumah masing-masing. Ini malah lebih bagus dibanding semua laki-laki berduyun-duyun keluar rumah untuk menjaga desa dari hal yang belum jelas."
Beberapa tahun yang lalu, desa Kaliabang juga pernah mendapatkan musibah luar biasa. Beberapa orang tewas mengenaskan, diduga dibunuh dengan ilmu santet dari desa sebelah, desa Obong. Orang-orang Desa Obong dikenal sangat akrab dengan ilmu hitam dan mengamalkannya untuk mendapatkan keuntungan bagi mereka sendiri, baik dari segi kekayaan, umur dan demi ilmu hitam itu sendiri.
Selain itu, ratusan tahun sebelumnya, pernah terjadi pembantaian yang luar biasa yang dilakukan oleh para perampok dan begal. Tubuh dan darah para korban mengambang di sungai Pratama yang mengalir dari gunung, terus turun ke desa di bawahnya, desa Obong. Oleh sebab itu desa ini diberi nama Kaliabang yang berarti sungai merah, oleh darah.
__ADS_1
Kejadian tak biasa ini kemudian muncul kembali setelah sekian lama. Warga bahkan sudah merasakan ada yang salah di desa ini sejak bulan lalu. Banyak kodok yang mati di sawah, ratusan jumlahnya. Sebelas ekor ular sawah juga ditemukan mati bergelimpangan di tegalan. Tanaman padi banyak yang sudah busuk sebelum berkembang. Puncaknya, kematian warga dengan tiba-tiba, padahal tidak menunjukkan ciri atau gejala tertentu sebelumnya. Kepala desa yang pertama menunjukkan kecurigaannya juga mendadak meninggal tiga hari setelah ia menyampaikan kecurigaannya kepada tetua dan tokoh desa.
Malam ini, Irawan dan Lutfi di bawah pimpinan Pakde Narto beserta dua orang pemuda lain berumur duapuluhan; Marwan dan Handoko, mendapatkan giliran berjaga malam. Tugas mereka adalah menjaga desa dari semua hal yang mencurigakan. Orang asing, fenomena bahkan kalau memungkinkan, mahluk halus.
Pakde Narto yang berusia empat puluh empat tahun, walau perutnya sedikit buncit, tapi memiliki otot tubuh yang liat dan gerakannya sangat gesit. Ia adalah guru silat anak-anak dan remaja desa. Jadi tak heran ia yang diminta memimpin empat pemuda yang salah satunya terlihat sekali gentarnya.
"Kamu tidak perlu sebegitu khawatir, Irawan. Tugasmu hanya memperhatikan apapun yang mencurigakan dan melaporkan kepadaku, atau berlari ke balai desa, menyampaikan kepada para tetua yang bergadang di sana," ujar Pakde Narto.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kita memang harus lewat kuburan ini ya, Pakde?" Marwan menyeletuk.
"Lah, bukannya kalian tadi yang mengejek Irawan karena dia yang kalian anggap paling takut? Kok ternyata kamu juga takut?"
__ADS_1
"Wah, siapa bilang saya takut, Pakde? Saya cuma tanya kok," Marwan beralasan.
Sang Pakde hanya tersenyum. Semua diam-diam paham bahwa beronda di malam ini mungkin adalah sebuah kesalahan besar. Bukan Irawan saja yang jadi penakut, hanya saja dia yang paling jujur.
Tapi Pakde Narto bukan orang sembarangan. Ia dihormati jelas bukan tanpa alasan. Sebilah pedang bergaya Inggris abad kesembilanbelas menggantung di pinggangnya. Pedang panjang dengan pelindung jemari itu kabarnya adalah bekas milik seorang tentara Sepoy yang menyerang kraton Yogyakarta pada tahun seribu delapan ratus duabelas, lebih dari dua ratus tahun yang lampau. Dikabarkan, pedang itu memiliki kekuatan magis yang bisa menebas orang dengan ilmu kebal. Pedang itu bahkan bisa melukai jin dan mahluk gaib lainnya. Jadi, sedikit banyak, keempat pemuda itu merasa aman.
Pakde Narto sudah mencium gelagat tak mengenakkan di desanya ini. Dua malam berturut-turut di hutan belakang rumahnya, burung gagak berbunyi bersahutan di tengah malam. Bau busuk membuat istrinya gelisah tak bisa tidur dengan tenang. Wati, istri ketiganya yang masih berumur dua puluh enam tahun itu memunggunginya, baru saja bisa terlelap. Kain jaritnya tersibak menunjukkan sekelumit kulit pahanya yang putih bersih. Tapi Pakde Narto tidak sedang ingin bercinta. Selain ia kasihan juga dengan istri mudanya ini karena baru saja bisa tertidur pulas, ia juga penasaran dengan bau busuk sialan yang mengganggunya ini. Sekarang, ia yang tak bisa tidur.
Udara malam ini juga terasa panas, gerah luar biasa, bagai pinggiran neraka, pikirnya. Pasti dinding neraka retak dan beberapa mahluk jahanam keluar ke dunia. Ia saja sampai bertelanjang dada saking sumuknya. Pakde Narto mengencangkan sarungnya dan mengambil pedang panjang yang menempel di dinding kamarnya. Pedang itu peninggalan ayah dan kakeknya. Pedang bertuah yang membuat hidupnya penuh dengan keberuntungan, keamanan dan keselamatan. Dari kecil ia sudah mencintai silat dan beladiri. Keluarga besarnya sendiri memang merupakan keluarga pesilat yang konon selama ratusan tahun menjaga desa Kaliabang dari perampok dan begal, serta orang-orang jahat yang ingin merugikan desa serta segala macam kekuatan supranatural yang mengancam.
Itulah sebabnya ia menjadi orang yang sangat dihormati di desa. Berkat nama besar keluarganya, ia diberikan tanggung jawab menjaga desa, menjadi pelatih silat bagi anak-anak dan pemuda desa. Walau tak kaya raya, ia memiliki pekerjaan dan penghasilan yang tetap. Membuatnya mampu memiliki dan membiayai tiga istri. Bahkan bila semuanya lancar sesuai rencananya, ia akan meminang lagi seorang gadis berumur dua puluh tahun bernama Yani sebagai pelengkap istri keempatnya tahun depan. Perempuan molek itu tak bisa menolak pinangannya, bukan karena terpaksa atau dipaksa, tetapi begini-begini, Pakde Narto tetap memiliki pesona yang terpancar dari status dan kewibawaannya.
Pakde Narto tersenyum, menarik nafas panjang, merasa bahagia dan bangga atas semua hal baik yang terjadi padanya selama hidup sampai berumur kepala empat ini. Ia memandang ke kegelapan malam dan tiba-tiba mencium bau busuk itu kembali. Dahinya mengkerut. Ia genggam gagang pedangnya erat.
__ADS_1