Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Delapanbelas


__ADS_3

Kuntilanak merah melayang di pojokan kamar apartemen Anggalarang. Soemantri Soekrasana sedang memandanginya. "Aku tak yakin sosokmu dapat terbawa pergi bila aku ke Kalimantan. Kita akan menyebrangi lautan. Banyak gerbang dan benteng penghalang gaib tersebar di samudra."


Sang kuntilanak terkikik. Soemantri Soekrasana tak pernah paham mengapa kuntilanak harus selalu tertawa dalam merespon sesuatu atau mencoba berkomunikasi. Mungkin kepedihan yang berlipat ganda diejawantahkan dalam bentuk tawa kegilaan.


Ah, ia sudah menjadi pakar psikologi mahluk halus, pikir Soemantri Soekrasana sendiri.


Namun, bukan itu masalah utama baginya. Bukan perihal itu yang menyulitkan tidurnya. Toh, jujur, ia senang bisa lepas barang beberapa hari saja dari sosok kuntilanak yang mengintil terus pada dirinya. Ia akan senang sekali bisa bebas dari kutukan ini walau sejenak.


Tapi pemikiran yang mengganggu jiwanya adalah fakta bahwa Wong Ayu akan mungkin bertemu Satria Piningit lagi. Pada dasarnya, mereka akan menyusul Satria Piningit di Kalimantan.


Hatinya dibakar rasa tak senang yang aneh. Mungkin bila mau sedikit jujur, Soemantri Soekrasana harusnya mengakui saja bahwa ia sedang cemburu.


Soemantri Soekrasana menarik nafas dan menghembuskannya keras-keras dan berpura-pura mengeluh kepada Anggalarang, "Kapan Wong Ayu kembali untuk melapor ke tempat kerjanya? Aku sudah mulai bosan. Mengapa kita tidak langsung bertemu dengannya di pelabuhan saja?"


Anggalarang mengangkat kedua bahunya santai, malas melogikakan rencana mereka. Toh ia tahu bahwa Soemantri Soekrasana sedang dilanda kegundahan sekaligus rindu kepada Wong Ayu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah menyeberangi sungai dengan sebuah jembatan tol berdiri melengkung di atasnya, jalan akan menjadi sedikit lebih gelap. Pepohonan besar ada di kiri-kanan jalan dengan lampu penerangan yang tak sanggup menghilangkan kesan angker dan rawan di daerah tersebut.


Lucunya, hanya dalam tujuh sepuluh menit perjalanan dengan kendaraan bermotor terlihatlah sebuah daerah dengan kehidupan malam yang begitu meriah dan mengagetkan, seperti memasuki sebuah portal dunia lain.

__ADS_1


Terletak di sepanjang tepian sungai, dengan gertak kayu atau jalan setapak dengan titian dari papan dibangun sepanjang area tersebut, Kampung Pendekar adalah daerah yang seakan bukan bagian dari daerah lain di sekitarnya.


Wilayah ini menambah kesan uniknya karena seakan self-sustainable, alias bisa berdiri sendiri. Kegiatan perekonomiannya saling bantu antar warga karena ada pasar dengan tambak ikan dan ladang tanaman sendiri. Ada pula pertokoan dan pusat perdagangan lain.


Sudah ratusan tahun, seperti namanya, Kampung Pendekar adalah sebuah daerah yang memiliki kebanggaan pada dirinya. Konon, kampung ini didirikan oleh sepuluh orang pendekar yang malang melintang di seantero kesultanan dan kerajaan di pesisir Kalimantan, sekitar akhir abad ketujuhbelas dan awal abad kedelapanbelas Masehi.


Kebanggaan atas falsafah kependekaran ini terus dijaga, dipelihara dan dijadikan bagian dari kewajiban penduduk Kampung Pendekar.


Sebuah hal yang patut dibanggakan? Ya, bila yang berbicara adalah warga Kampung Pendekar sendiri.


Warga kampung ini dikenal menguasai ladang pekerjaan yang menuntut *machoisme *dan perihal adu fisik. Mereka adalah para security atau satpam, tukang pukul dan bodyguard, tukang parkir dan penguasa pasar, penyedia jasa keamanan dan demonstrasi bayaran, bandar judi ilegal dan pelaku bisnis narkoba.


Untuk yang terakhir, Kampung Pendekar adalah jagonya industri obat-obatan haram tersebut.


Setiap kegiatan di dalam dinding sungai dan perbukitan panjang yang melingkari kampung Pendekar, akan dilindungi mati-matian oleh para penghuninya. Bahkan aparat penegak hukum tak bisa menembus benteng mereka. Selama sejarah, sudah enam kali adegan berdarah tercatat ketika polisi menggebrek dan mencoba masuk ke dalam kampung itu demi menangkap salah satu bandar narkoba penting.


Serangan terakhir pasukan polisi ke kampung itu, yaitu sekitar dua tahun yang lalu, mengakibatkan belasan orang tewas, rata-rata adalah anak-anak muda murid dua padepokan silat legendaris di kampung itu. Sedangkan polisi kehilangan satu nyawa dan anggota lainnya terluka.


Kejadian ini membuat geger.


Media mempertanyakan urgensi penyerangan, hak asasi manusia, belum lagi masalah protokol dan sebagainya. Menangkap satu gembong narkoba memang penting, namun bila yang menentang adalah segenap penduduk kampung termasuk anak-anak, remaja, perempuan dan ibu-ibu, bahkan para manula, jelas memperkuat kesan bahwa Kampung Pendekar tak bisa dan tak boleh disentuh.

__ADS_1


Bila seorang warga Kampung Pendekar mendapatkan masalah di luar, misalnya kecelakaan dan menyerempet kendaraan lain, ia sekadar mengatakan "Kamu harus ganti rugi," atau "Kamu harus tanggung jawab," karena "Saya orang Kampung Pendekar!" Dipastikan ini membuat ciut nyali orang lain. Para penduduk sangat solid, saling menjaga, saling peduli dan sama-sama bangga dengan identitas 'keras' mereka.


Namun, bukan berarti mereka tak memiliki aturan. Karena code of conduct atau moral code mereka yang sangat sederhana, para warga akan saling terlindungi. Mereka diharuskan mengikuti code 'Apapun masalah yang kau hadapi, jangan sampai merugikan keseluruhan kampung.'


Ini berarti masing-masing warga bebas melakukan apapun, dengan syarat, ia harus berani menanggung resikonya.


Misalnya, seseorang bermasalah dengan orang dari daerah lain, warga lain yang tak keberatan membantu, tidak akan sungkan-sungkan membantu seratus persen. Namun, bila kebanyakan warga merasa orang tersebut tak pantas dibantu, maka ia dianggap tak pantas untuk menjadi bagian dari Kampung Pendekar.


Oleh sebab itu, seberapa keras dan bermasalah pun warga, mereka sangat dilarang untuk memakai narkoba dan mabuk-mabukan. Bahkan orang yang merokok pun bisa dihitung.


Ini mungkin karena mereka hidup dalam landasan falsafah kependekaran yang mana kekuatan fisik, mental dan keberanian seseorang lah yang dipuja dan dihormati. Mabuk dan gelek adalah tindakan tak terpuji karena membuat mereka tak sadar diri serta lengah. Segala keputusan berasal dari keberanian semu. Menjual narkoba, bukan berarti harus menggunakannya sendiri.


Tempat tinggal Satria Piningit berada tepat di belakang Kampung Pendekar. Ada sekitar enam atau tujuh perumahan yang dibangun di sana.


Muncullah pertanyaan. Mengapa ada perusahaan properti yang mau-maunya membangun perumahan di dekat Kampung Pendekar.


Ada beberapa keuntungan bagi konsumen untuk tinggal di balik benteng itu. Yang jelas jarang ada orang yang mencari masalah dengannya ketika mengetahui bahwa ia tinggal di daerah yang sangat dekar dengan wilayah yang sistem sosial dan politik kriminalitasnya serupa dengan mafia atau Yakuza. Harga tanah pun cenderung murah dan hidup mereka hampir dipastikan ‘damai-damai’ saja.


Supir mobil ojeg online yang membawa Satria Piningit pulang dari bandara terlihat kikuk dan gemetaran ketika melewati Kampung Pendekar. Di bagian masuk wilayah ini, didirikan sebuah gapura jalan besar dengan tulisan tercetak tebal: 'Kampung Pendekar, Kampung Sejarah, Dimana Para Pemberani Pernah dan Akan Selalu Hidup.'


Satria Piningit tersenyum. "Tidak apa-apa pak, saya tinggal di belakang kampung ini sudah lama. Kalau ada masalah, tinggal bilang saja kalau bapak sehabis mengantarkan warga komplek sebelah pulang dari Jawa. Mereka pasti paham."

__ADS_1


Ucapan Satria Piningit sebenarnya tak melegakan sang driver. Malah lebih membuat sang driver hatinya kecut. Memangnya bakal ada masalah nanti? Pikirnya. Namun, mau bagaimana lagi. Bekerja mencari uang memang tidak selalu gampang.


__ADS_2