
Wong Ayu tak menyangka ia mendapatkan lawan yang setimpal. Sialnya ia juga tak memperhatikan bahwa lawannya ini tidak hanya mampu melawannya, akan tetapi juga sudah menghajar kedua rekannya yang bukan orang-orang biasa pula.
Itulah sebabnya mengapa tubuh Wong Ayu akhirnya tak lama kemudian juga terhempas menubruk meja bar, memecahkan segala jenis gelas dan botol kaca.
Aroma alkohol yang kuat menyeruak dari tempat Wong Ayu terlempar. Tiga pecahan kaca menyobek jubah dan menggores punggungnya.
Ia hendak bangun dengan kesal dan kembali menyerang sebelum serupa seperti Sarti, tubuhnya terangkat dari lantai. Yakobus Yakob tiba-tiba sudah mencekik lehernya dengan jari-jari bertaburan rajah itu.
Akibatnya begitu luar biasa. Semua ilmu sihir Wong Ayu serasa lenyap ditelan bumi. Api tak mampu keluar dari tangan dan mulutnya. Tubuhnya pun berkelap-kelip seperti lampu yang hendak padam ketika ia mencoba menghilang dan berteleportasi.
Melihat kesempatan ini, tiga penjahat yang masih sok-sokan berani memutuskan menembaki Sarti, Maung serta Yakobus Yakob yang masih mencekik Wong Ayu. Mereka tidak peduli mahluk-mahluk berilmu tangguh itu berada di posisi dan sisi mana. Yang jelas, mereka berpikir mumpung para perusuh sedang saling tarung, mereka menggunakan kesempatan itu untuk menghabisi mereka.
Sarti berkelebat menghindar, sedangkan Maung tersentak ketika mimis timah bersarang di tubuhnya: melukai namun tak semudah itu dapat membunuhnya.
Yakobus Yakob bergeming. Punggungnya memantulkan serangan. Ia masih menikmati rasa ketika jari-jarinya mencoba melesak masuk mematahkan leher jenjang dibalik kulit mulus Wong Ayu.
"Penyihir perempuan yang ikut berpesta rupanya," desis Yakobus Yakob.
Wong Ayu menggenggam tangan sekeras baja Yakobus Yakob dan berusaha setengah mati untuk berbicara. Suara yang terdengar masih dapat dipahami walau putus-putus. "Bajingan seperti kau dibayar berapa banyak untuk membela penjahat-penjahat seperti mereka?!" begitu ujar Wong Ayu.
Yakobus Yakob mengerutkan keningnya, tak paham apa yang dimaksud Wong Ayu. Ia menarik tubuh Wong Ayu yang masih tercekik mendekat ke wajahnya. "Aku tak peduli siapa kalian sesungguhnya, adan apa kepentingan kalian di tempat ini. Kalian lah yang datang kemari menggangguku dengan membantai orang-orang yang seharusnya aku sendiri lakukan. Tapi khusus untuk Herman, hanya aku yang berhak mencabut nyawanya," tegas Yakobus Yakob.
"Persetan denganmu! Aku tak kenal siapa itu Herman," balas Wong Ayu, masih dengan kemampuannya yang dipaksa untuk dapat berbicara.
Soemantri Soekrasana masuk melalui tempat dimana seharusnya pintu berada. Ia menunduk menyaksikan tembakan demi tembakan berseliweran. Otaknya berputar cepat, perutnya hampir mual melihat mayat dan potongan tubuh berhamburan dimana-mana. Ia lebih terkejut lagi ketika mendapatkan Wong Ayu sedang tak kuasa melawan sosok yang sekelam malam yang nampaknya lebih kuat darinya.
__ADS_1
Soemantri Soekrasana langsung paham apa yang harus ia lakukan.
Soemantri Soekrasana merogoh ke dalam tas selempangnya, mengambil beras merah dan putih, melemparkannya ke lantai. Ia kemudian menggigit ujung jari telunjuknya dengan kuat, kemudian meremasnya. Beberapa tetes darah jatuh mengenai butiran beras merah dan putih.
Ia segera merapal mantra jampi-jampi dalam bahasa dayak Iban, "Totak alu tumang alu. Aku towu somor pialu. Urang jorah utan tanah arai. Parek sitan iblis tanah arai. Lokas ku somor lokas boyek. Dalam pansang luar melayang ...."
Lampu disko padam. Ruangan memekat gelap dalam satu kedipan. Kemudian terang lembut seperti senja muncul tiba-tiba.
Para penembak berhenti dari aksinya. Ada sosok-sosok astral memenuhi ruangan dan tak mungkin tak diacuhkan.
Bila sebelumnya para begundal itu masih dapat memberanikan diri memberikan perlawan pada musuh-musuh mereka yang penuh kekuatan gaib itu, kali ini mereka tak mungkin dapat melawan apa yang mereka saksikan sendiri.
Herman sang bos, yang awalnya berhasil menunjukkan contoh keberanian dan kewibawaan seorang pemimpin kelompok penjahat, kini jatuh berlutur melihat tubuh-tubuh pucat laki-laki dan perempuan telanjang bulat tiba-tiba muncul memenuhi ruangan. Dada perempuan-perempuan itu jatuh menjuntai, sedangkan alat kejantanan para pria menggantung bebas.
"Lepaskan perempuan itu, saudaraku. Tidakkah kau lihat korban ratusan tahun ini? Mereka ingin menjerit untuk menyadarkan bahwa semua nafsu ini sia-sia belaka," ujar Soemantri Soekrasana melalui suara yang dikirimkan dengan gaib.
"Kau tahu apa mengenaiku?!" tuduh Yakobus Yakob. Ia membalas Soemantri Soekrasana dengan seruan yang menggelegar.
Namun ia tetap melepaskan cengkramannya atas Wong Ayu dan mundur beberapa langkah.
Wong Ayu memegang lehernya, terbatuk-batuk dan jatuh berlutut.
"Yu, berikan Mpu Gandring kepadaku, segera!" Kali ini Soemantri Soekrasana mengirimkan suaranya dengan frekuensi gaib berbeda kepada Wong Ayu.
Sadar bahwa kekuatan sihir dan gaibnya telah kembali, tanpa menunggu lagi, Wong Ayu menciptakan riak gelombang di udara di atas kepala Soemantri Soekrasana. Sebuah portal terbuka, menjatuhkan keris Mpu Gandring tepat ke tangan dukun muda itu.
__ADS_1
Yakobus Yakob melihat Wong Ayu melakukan sesuatu dan hendak mencegahnya, tetapi ia terlambat.
Para mahluk korban pembunuhan dengan pemotongan kepala ratusan tahun yang lalu di tanah Kalimantan itu bergerak-gerak dengan panik ketika Mpu Gandring tergenggam di tangan Soemantri Soekrasana.
Sinar gelombang energi berkecipak bagai air kolam di ruangan ini. Soemantri Soekrasana mengangkat kerisnya tinggi-tinggi dan melepaskan energi tersebut.
Ombak tenaga menyapu ruangan. Yakobus Yakob terlempar menghajar dinding, Wong Ayu terseret menjauh, Sarti menutup kepalanya, sedangkan Maung menggeram ketika rubuhnya ringsek, singset, mengecil dan perlahan menghilang kembali ke inangnya.
Para begundal berhamburan lari keluar ruangan bagai anak-anak kecil berlarian pulang di tengah hujan berpetir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hotel itu biasa saja, bukan tempat menginap yang berisi fasilitas kelas atas, toh mereka tak memerlukannya subuh ini. Satria Piningit terlihat cukup tenang, jauh berbeda dengan keadaannya sepanjang jalan tadi, terutama ketika belum melewati jembatan tol.
Anggraeni, sang istri, sudah kembali menidurkan kembali si kembar setelah sempat terbangun tadi. Hari ini, kedua anak kembarnya dan Satria Piningit itu sangat tenang, tidak rewel apalagi merepotkan. Anggraeni bersyukur karena itu. Apalagi sang suami sedang dalam keadaan yang sangat mencemaskan.
Ia sudah bermengganti pakaian dengan daster, membersihkan diri dan mencuci muka. Tinggal beberapa jam menuju pagi, tapi cukup untuk memaksa memejamkan mata.
Sekeluarnya Anggraeni dari kamar mandi hotel, ia melihat sang suami duduk di tepi jendela kaca besar yang ditutupi tirai. Satria Piningit membuka tirainya sedikit, cukup untuknya melihat ke luar, ke arah jembatan tol serta kerlap-kerlip lampu kendaraan yang masih hilir mudik di jalanan di bawahnya.
Anggraeni menarik nafas. Masih merasa prihatin dengan keadaan suaminya. "Sayang belum mau tidur?" tanyanya perlahan.
Satria Piningit melihat ke arahnya, kemudian tersenyum. Anggraeni bukan jenis perempuan yang dapat dilihat kecantikan nya dalam sekali pandang. Butuh dua tiga kali memperhatikannya baru ketahuan dimana letak kerupawanannya.
__ADS_1