
Sarti berjongkok di atas sebuah bangunan pertokoan bertingkat tiga. Pandangan matanya yang tajam memperhatikan gerak-gerik Satria Piningit dari jauh.
Sayangnya, wajah Satria Piningit tersembunyi di sebuah sudut yang gelap sehingga Sarti tak tahu apakah Satria Piningit sedang berbicara dengan seseorang atau sedang melakukan kegiatan yang lain.
Ratusan tahun kehidupannya membuatnya terus belajar mengenai sifat dan tabiat manusia. Ia tidak mudah memercayai orang, namun juga cukup baik dalam menilai seseorang. Ia tahu laki-laki seperti apa yang cabul, penipu, ambisius, kejam, atau sekadar bodoh.
Satria Piningit bukan salah satu lelaki yang bodoh.
Lalu, orang macam apa sebenarnya dia? Itu yang Sarti ingin cari tahu.
Sialnya, meski ia putri satu-satunya seorang perempuan sakti bernama Calonarang, yang dikenal sejarah sebagai nenek sihir ratu ilmu leak, ia tidak diberkahi dengan kemampuan sihir atau ilmu gaib.
Semua jelas karena kesalahpahaman manusia di dunia berikutnya, dunia yang diciptakan oleh para lelaki.
Kekuatan yang dimiliki sang ibu tak lain dan tak bukan adalah kekuatan kehidupan, kekuatan yang dianugerahkan untuk menghadapi keburukan dan kejahatan di bumi.
Sang ibu, Rangda Calonarang, adalah seorang janda yang begitu cantik. Tapi, selain cantik, sang ibu juga sangat mandiri dan kuat. Masalahnya, ia benar-benar kuat dalam arti sebenarnya, sakti, karena sangat akrab dengan olah kanuragan.
Kehidupan seorang perempuan janda nan sakti dengan banyak pengikut atau murid, perempuan pula, tentu membuat gerah kaum laki-laki yang merasa minder sekaligus iri dengan posisi sang ibu.
Kemampuan ibunya dalam ilmu gaib nan mengerikan hanyalah digunakan sebagai bentuk pertahanan diri dari serangan kepungan patriarki.
Sarti, sebagai Ratna Manggali, baru benar-benar sadar tujuannya di muka bumi ini. Mengapa harus ia yang dilahirkan kembali berkali-kali, hanya untuk mati dan dibangkitkan?
__ADS_1
Pertemuannya dengan Wong Ayu dan kedua rekan barunya, menyadarkan bahwa mahluk dari dunia lain yang dipanggil ibu kandungnya ratusan tahun yang lalu, ternyata masih berkeliaran di dunia. Sang ibu juga masih terjebak di dalam dunia tersebut.
Wong Ayu, entah korban yang keberapa dari mahluk-mahluk mengerikan dengan bujuk rayu dan kelicikannya, menunjukkan bahwa Ratna Manggali harus hidup terus, mengembalikan semua mahluk jahat yang terlepas akibat tindakan sang ibu. Mahluk-mahluk itu terus hidup dari jaman ke jaman sejak dilepaskan oleh Calonarang dengan memakan rasa takut, sedih, benci, amarah dan dendam, sang angkara murka.
Sarti sang Ratna Manggali harus bertanggung jawab atas dosa-dosa sang ibu, yang ironisnya, dilakukan atas dasar cinta. Kasih sayang sang ibu terhadap dirinya, menjaganya agar tak dilecehkan kaum pria, agar tak didikte oleh penguasa.
Ia harus dapat menyelesaikan misi ini dan membebaskan ibunya, agar keduanya kembali bersatu. Ia harus mengalami segala intrik tipu licik dan politik manusia. Segala kekuatan gaib dan supranatural, segala keterlibatan jin, hantu, iblis atau Kanjeng Ratu Kidul harus ia terima dan jalankan.
Ia tak peduli bila semuanya memiliki misi-misi tersendiri dengan menggunakan dirinya. Ia hanya harus berjalan di koridor yang disediakan takdir untuknya.
Kali ini, ia benar-benar menginginkan kehadiran Wong Ayu dan Soemantri Soekrasana untuk melihat apa yang dilakukan Satria Piningit di balik kegelapan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Baiklah, apa yang ingin kau ceritakan? Aku masih punya waktu sebelum aku akan enyah dari tempat ini. Tapi, berjanjilah, kau akan berhenti mengikutiku setelah maksud dan tujuanmu tercapai," ujar Satria Piningit kepada sang figur yang masih berdiri menjulang di depannya.
Sang sosok tertawa. Sebenarnya, Satria Piningit tidak yakin bahwa sosok itu sedang benar-benar tertawa. Ia hanya menyimpulkan dari bebunyian yang dihasilkan dari mulutnya dengan aneh.
"Aku bisa saja berhenti mengikutiku, Satria Piningit. Tapi ceritaku nanti tidak akan benar-benar bisa lepas dari pikiranmu," balas sang figur misterius tersebut.
Satria Piningit menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan keras.
"Baiklah, apa ceritamu? Kita lihat nanti apa benar ceritamu bisa berdampak sesuatu pada diriku. Aku hanya ingin pergi segera dari tempat brengsek ini," ujar Satria Piningit.
__ADS_1
Kata-kata Satria Piningit tak mewakili perasaannya. Bukan tanpa sebab ia mau kembali ke desa Obong, tempat ia tumbuh saat remaja. Mengapa ia harus repot-repot mengunjungi desa itu, bila tak ada hal penting yang menjadi perhatiannya di sana?
Dengan menyebut nama sang kakek, mbah kakung Carik Darwen, jelas membuat darahnya berdesir. Sang kakek sudah wafat lama. Ia memiliki porsi yang begitu besar dalam pengalaman hidupnya sewaktu ia masih tinggal di desa itu.
Jadi jelas, Satria Piningit akan memberikan kesempatan figur misterius ini untuk bercerita kepadanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Entah sudah berapa lama aku dipekerjakan keluarga ini sebagai penjaga keamanan merangkap penjaga rumah. Sepertinya memang sudah terlalu lama. Aku melihat tuan muda-tuan muda kecil menjadi dewasa bahkan menua. Aku sudah melihat banyak kematian menghiasi sejarah hidup rumah dan keluarga ini. Aku sudah melihat kayu lapuk, beton tergerus, bangunan lama menggantikan bangunan baru yang meremaja kembali. Aku menjadi saksi jaman berubah menjadi lebih baik maupun lebih buruk.
“Tapi bila kau pikir aku sudah tua dan renta, itu adalah kesalahan pertamamu. Memang aku bisa dikatakan sudah tua, berumur. Tapi tidak renta dan lemah. Tidak sama sekali! Bahkan mungkin aku masih merasa bisa hidup selamanya.
“Sudah banyak jasa yang tak terbilang dan tercatat dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabku. Tidak hanya harta keluarga yang selalu berhasil kujaga dengan baik dari niat dan ancaman para pencuri dan perampok keji, namun juga harga diri serta martabat yang membawa kebesaran keluarga ini yang selalu aku panggul di bahuku.
“Para perampok pontang-panting melihat sosok dan sepak terjangku. Mereka terbirit-birit berlari menjauhi rumah ini demi merasakan hawa wibawa dan amarahku. Tidak hanya itu, orang-orang yang ingin mencelakakan anggota keluarga dengan ilmu gaib, ilmu nujum, atau ilmu hitam lainnya juga kuhadang dengan jantan. Ketika mereka mengirimkan teluh melalui bola-bola api yang beterbangan ke atap rumah, aku dengan sigap menghadangnya, menghancurkan bola-bola api penuh dengan dendam dan kebencian itu sampai menjadi butiran debu halus.
“Keluarga ini sudah menjadi bagian hidupku. Sudah kuabdikan nyawa dan jiwaku untuk membuat anggota keluarga tetap merasa aman dan tentram. Aku sudah melakukan pekerjaanku ini dengan baik bahkan sempurna.
“Sampai perempuan itu datang.
“Namanya Maryam.
“Aku dapat membaui harum semerbak tubuhnya yang beterbangan dan bertaburan di udara ketika ia mengibaskan rambut dan keliman pakaiannya. Sepasang matanya memancarkan keteduhan yang luar biasa. Bisa kurasakan juga hawa keibuan yang mengalir keluar dari pori-pori kulitnya setiap kali ia menyapa dan memperhatikan sang kemenakan suaminya yang masih remaja, Satria Piningit.
__ADS_1