Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Duapuluh Dua


__ADS_3

Tiga orang petugas kepolisian melihat asap hitam membumbung ke angkasa. Langit temaram, pukul tiga lewat duapuluh menit di pagi buta. Maka kerlap-kerlip api dan asapnya sebenarnya cukup terlihat.


Ketiga orang anggota kepolisian tersebut sedang bertugas di pos mereka di persimpangan jalan tepat setelah jembatan tol yang menyeberangi sungai. Ketiganya saling berpandangan. Belum ada laporan yang datang kepada mereka atas kejadian yang kemungkinan besar adalah sebuah kebakaran tersebut.


Mereka bertiga paham bahwa api yang menyalak-nyalak di kejauhan tersebut dengan asap hitam yang mengangkasa, menciptakan semacam gradasi warna gelap di langit pagi, sedang terjadi di Kampung Pendekar.


Semua juga tahu bahwa warga kampung itu benci Polisi, begitu juga sebaliknya, para petugas juga tak menyukai mereka. Jelas bahwasanya ketiganya berharap laporan tetap tak akan datang. Toh sejak dahulu kampung itu seakan berdiri sendiri, memiliki dunia dan pemerintahan mandiri. Semacam negara di dalam negara.


Ketiga petugas itu masuk kembali ke dalam pos mereka, berdoa semoga api semakin membesar dengan rakus sedangkan pecutan kilat dan angin yang berhembus kuat secara tiba-tiba ini tak mampu membawa serta hujan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satria Piningit kembali terbangun. Rasa-rasanya ia sempat tertidur lama sebelum terkejut menyadari bahwa layar ponsel pintarnya menunjukkan pukul tiga lewat duapuluh menit. Berarti baru beberapa menit semenjak ia dan istrinya kembali dari kamar mandi.


Ia menoleh kembali ke arah istri dan dua anak kembarnya. Kilat yang merangkak cepat di langit memberikan sinarnya, masuk ke dalam kamar tidur. Sang istri bergerak sedikit berganti posisi. Selain itu, tak ada tanda-tanda ia akan kembali terbangun.


Satria Piningit sendiri memutuskan untuk kembali bangun. Tadi ia belum sempat minum sekembalinya dari buang air kecil.


Angin berhembus kencang, menggetarkan atap rumahnya yang terbuat dari seng. Baja tipis itu saling bergesekan membuat bunyi tamparan logam yang khas.


Kerap dikatakan oleh orang-orang di Kalimantan, bahwa bila angin terlalu keras, walau udara dingin dan petir bersahutan, kemungkinan besar hujan malah tidak akan turun. Penjelasan mendasarnya adalah bahwa awan mendung didorong angin untuk jatuh di tempat lain.


Setelah meneguk satu setengah gelas air dingin, Satria Piningit sudah hendak kembali ke kamar tidurnya ketika ia mendengar suara itu lagi.


"Haus darah ...."


Satria Piningit memandang jam hiasan di dekat meja makan: pukul tiga lewat tiga puluh menit.


Suara misterius itu mengalir ke telinganya melewati hawa dingin yang dihempaskan angin di luar sana, yang menembus pori-pori dinding rumahnya.


Satria Piningit merasakan buku kuduknya meremang. Suara itu begitu adikodrati dan membuat siapa saja menjadi takut.

__ADS_1


Namun, Satria Piningit sudah terlalu sering melihat penampakan. Jadi ini jelas bukan hal baru lagi baginya. Namun bagaimanapun juga, sisi manusianya yang penuh dengan rasa takut dan pertanyaan tentang hidup, mati dan rahasia semesta membuat ketakutannya tetap terpelihara.


Kedua matanya menjadi awas. Rasa mengantuk hilang dari peredaran. Langkah kakinya tanpa disuruh memerintahkan Satria Piningit untuk berjalan ke ruang tamu.


Petir kembali berkelebatan. Sinar petir menyinari ruangan dan di sanalah mahluk itu berada.


Pecahan cahaya dari petir yang sampai ke ruang tamu Satria Piningit menangkap kemunculan mahluk mengerikan di pojok ruangan.


Seorang perempuan dengan rambut sebagian disanggul sebagian acak-acakan. Sepasang matanya mengucurkan darah. Ia mengenakan baju sejenis kebaya berwarna merah. Bibirnya menyunggingkan senyum yang membuat bulu kuduk merinding.


Kuntilanak merah itu berkata tanpa membuka mulut, "Haus daraahh ...."


Satria Piningit kaku beku di tempatnya berdiri. Ia akrab sekali dengan mahluk ini, akan tetapi tak pernah bisa biasa melihatnya.


"Apa maksudmu sebenarnya? Apa yang kau maksud dengan haus darah?" ujar Satria Piningit memberanikan diri bertanya. Pertanyaan demi pertanyaan menumpuk di kepalanya, apalagi karena setahunya, si kuntilanak merah yang muncul ketika ia kecil di desa Obong itu kembali ditemukannya sudah bersama Soemantri Soekrasana beberapa waktu yang lalu di pulau Jawa.


Lalu mengapa ia ada di sini? Di pulau Kalimantan. Apakah Soemantri Soekrasana dan rombongan, termasuk Wong Ayu ikut bersamanya?


Sosoknya hilang.


... dan tiba-tiba muncul di depan wajah Satria Piningit!


Satria Piningit begitu terkejut sehingga jatuh tersandung ke belakang. Ia tak sadarkan diri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satria Piningit megap-megap.


Ia terbangun dengan peluh bercucuran dari dahinya. Ia ada di atas tempat tidur. Kedua matanya memandang keatas, ke arah remang-remang kegelapan. Petir di luar menyalak-nyalak.


Mimpi buruk, pikirnya.

__ADS_1


Ia kemudian meraba ponsel pintarnya di atas meja di samping tempat tidurnya. Ia tekan tombol di samping ponselnya tersebut, cahaya lemah bersinar.


Terlihat di layar sentuhnya: pukul tiga lewat duapuluh menit!


Ah, mimpi selalu bisa memberikan kebingungan yang hakiki. Mimpi selalu berada di tepian kesadaran, membuat si pemimpi tak sadar sedang berada di kenyataan atau masih tertidur.


Tadi di dalam mimpi, samar-samar ia masih bisa mengingat bahwa ia bangun pukul tiga lewat duapuluh menit juga. Apakah ini mimpi di dalam mimpi? Dimana mimpi yang kedua ini masih merupakan rangkaian mimpi yang pertama?


Untuk memastikannya, Satria Piningit menggeleng-gelengkan kepalanya dan memukul-mukul pipinya. Terasa nyata. Untuk menyempurnakannya, ia mencubit lengannya sendiri. Sakit.


Satria Piningit memandang kedua anak kembarnya yang tidur berderet di tengah-tengah tempat tidur, diantara ia dan istrinya. Sang istri juga terlihat masih berbaring dan nampaknya lelap dengan sempurna.


Satria Piningit bangun, kemudian beranjak ke belakang, ke dapur, membuka kulkas dan mengguyur air dingin ke kerongkongannya.


Ia memasang telinga baik-baik. Tidak ada suara lain selain suara guntur yang berdentam pelan, merayap di udara.


Satria Piningit menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Dengan mengumpulkan keberanian, ia berjalan ke ruang tamu.


Ia menghidupkan lampu.


Sinar terang mengejutkan dan memedihkan matanya.


Satria Piningit memandangi semua dengan mendetail; sofa, meja, tirai dan jendela di baliknya, pintu. Tak terlihat apa-apa, mahluk itu tak memunculkan dirinya kembali.


Tiba-tiba kilat meloncat turun dari langit, membuat dunia terang selama sepersekian detik.


Satria Piningit berjalan ke arah jendela, membuka tirainya. Petir mencelat kembali, memberikannya waktu untuk melihat nyala api dan asap membumbung dari satu tempat. Satria Piningit yakin itu adalah sebuah kebakaran.


Dari posisinya, Satria Piningit menduga bahwa kebakaran tersebut kemungkinan besar terjadi di daerah Kampung Pendekar.


Ada nyala kelap-kelip api di sana, yang bisa dikatakan tak terlalu jauh dari perumahan di mana ia tinggali ini.

__ADS_1


Tak lama Satria Piningit sadar bahwa bukan ia saja yang terbangun di pagi yang masih gulita ini, beberapa pintu rumah tetangganya terbuka. Para penghuni keluar rumah, saling melihat ke sekeliling kemudian sama-sama melihat ke arah api dan asap yang bergejolak tersebut.


__ADS_2