
Ketika anggota kepolisian sampai di tempat kejadian perkara, keadaan yang karut marut ini jelas bukan sebuah hal yang gampang dijelaskan.
Alasan histeria massa kembali muncul selain alasan kepanikan. Ditengarai, tiga preman yang dipimpin oleh seorang laki-laki bernama Johan adalah pusat permasalahannya.
Kelak, berita mengenai kejadian heboh ini diberitakan oleh banyak stasiun televisi maupun portal berita online. Erika Dermawan, membawakan acara liputan khusus, sebuah acara investigasi yang lumayan populer, mengenai kasus ini di dalam acara televisinya.
Pendek kata diceritakan mengenai Johan, seorang laki-laki dari sebuah tempat bernama Dusun Pon, berangkat dengan rencana tersusun dan terukur ke kompleks apartemen mewah di sisi pusat kota. Ia sudah menyewa tiga orang preman yang juga teridentifikasi sebagai tokoh-tokoh yang malang melintang dalam perkara ancam-mengancam bahkan pembunuhan.
Motif, sayangnya kurang diketahui dengan baik. Johan sendiri dikenal sebagai seorang aparatur negara, seorang guru sekolah negeri, yang nampaknya mengabaikan tanggung jawabnya untuk pergi ke kota, meninggalkan dua anak kandungnya untum melaksanakan rencana jahatnya.
Latar belakang Johan yang menyedihkan dan miris memang membuat siapapun prihatin dan iba. Sebelumnya, sang istri tewas mengenaskan di rumah mereka karena terjatuh dari tempat tidur dan mengalami pendarahan parah di kepala. Entah apa yang sebenarnya terjadi, namun diduga Johan memiliki dendam kesumat dengan sepupu sang istri, Kusuma Dewi, yang mungkin dituduh menjadi penyebab kematian sang istri. Kebetulan ketika sang istri meregang nyawa, sepupu perempuannya tersebut ada di sana.
Maka, dengan menyewa preman dan penjahat profesional, Johan mendatangi kompleks apartemen yang ditinggali Anggalarang, kekasih dari Kusuma Dewi, dengan tujuan menuntut balas atas kematian sang istri.
Kekacauan terjadi.
Besar kemungkinan, para preman yang jumlahnya tiga orang itu mengonsumsi narkoba dan minuman beralkohol sehingga berdampak pada kewarasan pikiran mereka. Rencana kacau. Anggota preman saling serang. Dua terbunuh. Malangnya, Kusuma Dewi juga tewas, kemungkinan oleh sobekan keris Johan sebelum laki-laki itusendiri bunuh diri dengan menusuk matanya sampai tembus ke otak.
Paling tidak secara umum begitulah penggambaran berita di acara televisi yang dibawakan oleh Erika Dermawan tersebut. Namun, pembahasan di media-media lain memang terus berlanjut, termasuk mempertimbangkan aspek-aspek gaib dan klenik dalam kasus ini.
Erika Dermawan sendiri tak dapat berhenti memikirkan nama Anggalarang. Laki-laki itu dikenal baik olehnya melalui sahabat perempuannya, Jenar Keswari, sang Queenie yang masih berada dalam keadaan tidak baik. Mentalnya terganggu oleh sesuatu yang bahkan sebagai sahabatnya sendiri, Erika Dermawan belum bisa mengetahuinya.
__ADS_1
Bagi polisi, mereka tak dapat menemukan jawaban yang tepat pula. Mereka tak bisa membuktikan bahwa Anggalarang terlibat dalam kejadian berdarah ini. Anggalarang berminggu-minggu menjadi pusat perhatian para penyidik yang terus-terusan mencoba membongkar informasi dari pemuda yang terlihat frustasi itu. Ia bahkan berkata, "Aku yang membunuh Kusuma Dewi dengan cakarku," ujarnya.
Ketimbang menghabiskan waktu mencoba membuktikan ucapan Anggalarang yang jelas stres berat karena kekasihnya tewas di pelukannya, polisi menetapkan satu orang preman yang masih hidup sebagai tersangka.
Pengakuan saksi dari para penghuni apartemen yang ada pada saat kejadian ternyata tak bisa dipercaya dan diandalkan. Mereka nampaknya menderita kepanikan massal. Mereka mengaku melihat sosok harimau putih dan ular raksana yang saling menyerang, bertempur. Ada juga beragam penampakan yang muncul di sudut-sudut apartemen.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua pemuda itu sudah tak terlalu berbau keringat nafsu dan berahi lagi, meski syahwat mereka tetap terjaga dengan baik. Sudah lebih dari setahun mereka meninggalkan Dusun Pon terutama ketika didapati dua rekan mereka tewas sedangkan mereka sendiri harus terpincang-pincang untuk sekian lama karena cidera, patah tulang tangan dan kaki.
Keluarga Girinata sudah terpuruk ke dalam jurang kemalangan yang dalam dan kelam. Kemana lagi mereka harus berbakti untuk kejayaan mereka sendiri? Dusun itu kini sudah berubah. Sudah ada sinyal internet yang masuk. Banyak orang datang dan menjadikan dusun itu sebagai salah satu tujuan wisata, terutama wisata spiritual Pancajiwa. Itu yang mereka dengar.
Tak ada cara lain selain meninggalkan dusun tersebut. Para warga yang menjadi saksi kehebohan yang dibuat oleh Girinata, Marni istrinya dan Wardhani anak perempuan mereka, memaksa para tetua dusun melakukan semacam 'pembersihan'. Mereka mengusut kejadian-kejadian yang mengarah ke dosa keluarga Girinata pada dusun tersebut.
Keduanya menyatukan dan membungkus benda-benda itu di dalam sebuah kantong kain berwarna merah dan membawanya pergi bersama meninggalkan dusun yang dahulu terpencil itu.
Insting kejahatan yang didukung oleh nafsu dan ambisi kedua orang tersebut membawa mereka ke tempat ini, pinggiran kota. Selama tinggal di area ini, mereka kompak mengasah kemampuan jahat mereka dengan merampok, mencuri, menjambret dan beragam tindak kejahatan lain.
Entah bagaimana mereka bisa percaya bahwa remah-remah Pancajiwa dapat membantu mereka melaksanakan segala misi untuk mendapatkan kejayaan seperti mimpi mereka sewaktu mengabdi kepada keluarga Girinata.
Dan, memang benar adanya.
__ADS_1
Siapapun dari keduanya yang membawa kantong kain berisi bagian-bagian dari Pancajiwa yang dicampur dan disatukan itu selalu saja sukses ketika sedang beraksi. Polisi tak dapat mengejar mereka, warga tak dapat melihat mereka, para pesaing tak dapat menyerang mereka. Pada intinya, dengan Pancajiwa, mereka dilindungi.
Keduanya tinggal di sebuah rumah kontrakan yang tersembunyi di balik benteng rumah-rumah padat lain beratap campuran seng baja dan genting tanah. Di rumah itu mereka menimbun uang hasil kerja keras mereka yang digunakan hanya untuk makan, membeli pakaian dan barang-barang seperlunya, serta membayar jasa para wanita penghibur.
Untuk hal terakhir ini, keduanya malah cukup royal. Ke berbagai tempat pelacuran secara reguler adalah hobi mereka. Keinginan yang terlalu besar untuk menikmati tubuh Wardhani menjadi semacam kerinduan yang hanya bisa sedikit ditaklukkan dengan menggasak para wanita penghibur beragam bentuk dan harga dengan berahi yang meleber keluar bagai lahar. Saat masih di Dusun Pon, mereka mendengar kabar-kabar yang mengatakan bahwa Wardhani menghilang ke dalam dunia gaib bersama para hantu dan jin.
Penantian yang lama itu pun akhirnya berujung manis.
Malam itu, di saat yang sama dimana Chandranaya sang kuntilanak merah mendorong Wardhai keluar dari tubuh sang preman inangnya di sebuah kompleks apartemen mewah tak begitu jauh dari rumah kontrakan mereka, keduanya terbangun hampir bersamaan.
Dua wanita penghibur terbaring bugil bersama mereka di lantai beralas karpet bulu setelah habis-habisan dibantai berahi kedua laki-laki muda yang perlahan mulai mendapatkan kelelakian mereka itu.
Keduanya mendapatkan mimpi sama yang aneh, bagai sebuah pertanda yang terlalu jelas: Wardhani, tak berbusana, kulit gelap indahnya dengan pucuk dada merekah semerah darah menantang sedang berjalan ke arah keduanya. Bibirnya yang merangsang itu membuka dan melahirkan sebuah kata sederhana yang mereka kenal baik. Kata itu begitu jelas dan tidak menyaru dengan bunyi deru detak jantung mereka yang berpacu bagai mesin kereta api. Wardhani berkata, "Pancajiwa."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Para pembaca yang budiman, bab ini mengakhiri Kitab Pon. Selanjutnya cerita akan bergulir ke Kitab selanjutnya, yaitu Kitab Tri Deshi yang akan melanjutkan petualangan dan pengalaman Soemantri Soekrasa yang bersilang takdir dengan Anggalarang, Sarti dan Wong Ayu.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang Pancajiwa, Wardhani, siluman ular hijau betina prajurit Nyi Blorong, silahkan baca novel saya yang lain, berjudul NALA di aplikasi ini. NALA akan memaparkan sisi lain takdir yang kelak juga akan bersinggungan dengan Soemantri Soekrasa dan rekan-rekannya
__ADS_1
Terimakasih dan Selamat Menikmati.