Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Limapuluh Sembilan


__ADS_3

Mahluk halus yang menghinggapi bangunan berkedip-kedip muncul ke permukaan. Wujud mereka samar sesamar kabut bila dilihat dengan mata telanjang.


Soemantri Soekrasana terkejut. "Mereka berbeda. Aku salah! Aku pikir mereka ada di sini karena dipaksa dan diperbudak oleh kekuatan iblis itu. Nyatanya, mereka sama halnya dengan manusia-manusia bangkit itu. Para mahluk halus dibujuk, ditawarkan keindahan, diiming-imingi kekuatan dan kekuasaan," matanya membelalak. "Kekuatan macam apa ini?!"


Ia mengambil sejumput kembang dari tas selempangnya. Menaburkannya ke lantai, mengambil botol air mineral dan menyemburkan isinya. Tak cukup, ia menggigit ujung jari telunjuknya sampai berdarah dan memerasnya agar darah lebih banyak keluar.


Dengan darah sebagai tinta, ia menulis mantra dengan angkara Jawa hanacaraka di lantai sembari membacakan mantra yang ia tulis itu,


꧋ꦱꦏꦺꦃꦭꦫꦲꦥꦤ꧀ꦱꦩꦾꦧꦭꦶ꧈ꦱꦏꦺꦃꦲꦩꦥꦤ꧀ꦱꦩꦾꦩꦶꦫꦸꦢ꧈ꦮꦼꦭꦱ꧀ꦲꦱꦶꦃꦥꦤ꧀ꦢꦸꦭꦸꦤꦺ꧈ꦱꦏꦺꦃꦲꦶꦁꦧꦿꦗꦭꦸꦥꦸꦠ꧀ꦏꦢꦶꦏꦥꦸꦏ꧀ꦠꦶꦧꦤꦶꦁꦮꦼꦱꦶ꧈ꦱꦏꦺꦃꦲꦶꦁꦮꦶꦱꦠꦮ꧈ꦱꦠꦺꦴꦒꦭꦏ꧀ꦠꦸꦠꦸꦠ꧀ꦏꦪꦸꦲꦲꦺꦁꦊꦩꦃꦱꦔꦂ꧈ꦱꦺꦴꦁꦔꦶꦁꦭꦤ꧀ꦝꦏ꧀ꦒꦸꦮꦤꦶꦁꦮꦺꦴꦁꦊꦩꦃꦩꦶꦫꦶꦁ꧈ꦩꦾꦁꦥꦏꦶꦥꦺꦴꦤ꧀ꦤꦶꦁꦩꦼꦫꦏ꧀꧈


Sakèh lara apan samya bali | sakèh ama pan samya miruda | welas-asih panduluné | sakèhing braja luput | kadi kapuk tibaning wesi | sakèhing wisa tawa | sato galak tutut | kayu aèng lemah sangar | songing landhak guwaning wong lemah miring | myang pakiponing merak ||


Para mahluk halus berteriak-teriak, mendesis, menangis, menggeram penuh amarah. Soemantri Soekrasana merasakan dengan indra keenamnya bahwa semua mahluk halus itu melihat dan mengincarnya.


Japa-Mantra-nya ternyata tak cukup kuat. Mahluk-mahluk itu semakin beringas.


Ia meraba tas selempangnya kembali, merasakan liuk keris Mpu Gandring.


"Jangan! Kau akan kehabisan tenaga percuma. Pasukan mahluk gaib ini hanya pembuka jalan. Bagaimana nanti kau akan bahu-membahu membantu Wong Ayu dan Sarti melawan kekuatan yang sebenarnya?" seru seseorang.


Soemantri Soekrasana menengadah mencari sumber suara yang rasanya tak begitu asing itu.

__ADS_1


Satria Piningit ada di bangunan seberang.


Soemantri Soekrasana melihat sosok laki-laki yang belum lama dikenalnya itu berdiri di sana. Di sekelilingnya terlihat sosok-sosok gaib berpendar dan berkedip-kedip. Sosok-sosok hantu itu adalah anak laki-laki dengan luka bakar di seluruh tubuh dan salah satu matanya seakan mencelat keluar, jin bertubuh besar dengan bulu memenuhi tubuh serta cakar hitam mencuat di jari-jarinya, sosok nenek-nenek bungkuk berwajah pucat, sosok berbusana prajurit Jawa kuno lengkap dengan pedang terhunus tetapi tak berkepala, dan ... kuntilanak merah mengambang dengan mata mengalirkan air mata darah.


***


Belasan pemuda berparang panjang, separuh bilahnya berkarat, beberapa bertelanjang dada, beberapa tak urus dengan pakaiannya, merogoh paksa menderu masuk ke sebuah kompleks perumahan kelas menengah.


Para penghuni perumahan kelas menengah ini sama nasibnya dengan kompleks elit sebelah, bercucuran keringat dingin, kehabisan tenaga dan nyali bahkan semangat hidup karena diteror dengan segala jenis mahluk gaib berbentuk menjijikkan dan menakutkan. Mereka semua keluar dari rumah masing-masing bagai ikan berenang ke jala menuju ke para pemuda dari neraka bermata nyalang menyala.


Kelebatan merah mencoret udara di sela-sela keliman kabut. Sarti sang pembunuh tak berjiwa karena semua emosinya disembunyikan di balik topeng Panji yang pucat tak berperasaan, mencelat berkelebat membabat dengan celurit melengkung bagai beraksi di atas sebuah panggung.


Dua orang pemuda berparang mendadak terbacok di tubuh mereka, kulit dan daging membuka lebar bagai tas beresleting.


Parang-parang menahan gempuran cabikan calurit Sarti yang menderu-deru. Percikan bagai kembang api tertatar begitu rupa bagai nada-nada berirama kematian.


Sarti menjejak kakinya di tanah, mencelat tinggi dan mendarat berjongkok di atap. Semua warga melihat kejadian ini tak percaya. Sosok merah di atas sana terlihat misterius, menakutkan namun di saat bersamaan juga agung di balik serat-serat putih kabut. Bukankah sosok tersebut adalah seorang adiwira, yang harusnya mereka harapkan sedang memberikan pertolongan dan bantuan?


Dua tubuh pemuda yang sobek dan menumpahkan literan darah kembali pulih dalam waktu yang terlalu singkat, menyambung, menutup bagai tak pernah terjadi.


Bunyi "Uuhh..." panjang keluar dari mulut para warga yang berdiri setengah menunduk, seakan bakal ditabrak reruntuhan langit.

__ADS_1


Bunyi tersebut mendadak berubah menjadi "Aaakkhhh ...," yang tinggi dan bertaburan, ketika Yudi mengangkat parangnya dan lebih dahulu berteriak, memerintahkan segala bentuk pocong putih hitam merah, kuntilanak putih hitam merah, serta siluman berbagai bentuk bertaring putih berbulu hitam bermata merah untuk menyerang.


Para warga seakan berenang di alam mimpi. Mahluk-mahluk mengerikan itu seperti tak nyata tetapi jelas ada. Tanah yang mereka pijak, udara yang mereka hirup bahkan tubuh yang mereka miliki bagai berubah menjadi hal yang asing.


Mereka bertubrukan, jatuh, merangkak, mencoba berlari tanpa daya, hanya lebih banyak berteriak histeris ketika kuntilanak Lastri yang merangkak kayang bergerak cepat ke arah mereka, atau sundel bolong menempel di punggung mereka. Enam hantu anak-anak berwajah pucat berbaju tidur kuyup oleh darah berguling-guling di hadapan mereka.


Para pemuda tersenyum melihat ini, termasuk dua orang yang tadi dibacok oleh Sarti dan kini kembali sejahtera. Mereka mengangkat parang mereka, melirik ke arah Sarti yang masih berjongkok di atas atap, kemudian berlari maju ke arah warga yang serupa ikan berkecipak di dalam tali jala.


***


Wong Ayu membuka mata batinnya. Mahluk astral, adikodrati berseliweran. Ia menutup mata dan menyengatkan sinyal komunikasi batin kepada Sarti.


"Apa yang kau lihat, Sarti?" ujar Wong Ayu di kepala Sarti sang Ratna Manggali.


Perempuan berumur seribuan tahun itu tersentak. "Wong Ayu, kau berbicara di kepalaku?"


"Ya. Kau tahu telepati? Persepsi ekstra-Sensory?" ujar Wong Ayu.


Sarti mendengus. "Kau sungguh-sungguh akan membahas ini sekarang, Wong Ayu? Aku jauh lebih tua dari siapapun di muka bumi ini, tentu saja aku tahu apa itu telepati. Yang kutanyakan, sedang apa kau masuk ke dalam pikiranku tanpa ijin?" balas Sarti sedikit membentak.


"Baik, baik. Maafkan aku, Sarti. Tapi aku harus segera menghubungimu. Aku melihat banyak hantu dan setan gentayangan berseliweran, sama seperti yang kita perkirakan. Mereka diatur bagai boneka oleh kekuatan yang lebih besar. Perempuan iblis yang menyamar menjadi ibundamu, Calonarang, pastilah entah bagaimana berhasil menggunakan orang lagi sebagai pion utamanya," ujar Wong Ayu.

__ADS_1


"Aku tak yakin itu, Wong Ayu. Aku melihat hal yang sedikit berbeda pada perilaku hantu-hantu ini. Coba tanyakan Soemantri," jawab Sarti masih melalui telepati. "Sedangkan pemuda-pemuda dari kampung sebelah itu memiliki ilmu yang juga tak biasa. Bukan ilmu kebal semacam rawarontek atau pancasona. Mereka memiliki kemampuan penyembuhan diri yang luar biasa cepat dan nyaris sempurna, praktis mereka tak bisa mati. Segera hubungi Soemantri, mungkin ia tahu sesuatu. Aku harus menahan laju mereka sebelum ada korban," ujar Sarti. Dengan kemampuan yang tak diketahui Wong Ayu, dengan mengejutkan, Sarti memutuskan telepati Wong Ayu dan mencelat turun.


__ADS_2