
Semenjak meninggalkan desa Obong saat itu, Satria Piningit sama sekali tak pernah menginjakkan kaki di desa asal ayahnya itu lagi. Ia melanjutkan pendidikan, berkuliah, lulus, kemudian lanjut bekerja dengan normal dan biasa-biasa saja. Mungkin di dasar hatinya, semua perkara mengenai Priyam dan desa Obong dikubur dalam-dalam, disembunyikan di alam bawah sadarnya. Bahkan memori apapun yang berhubungan dengan desa itu tak pernah ia ceritakan dengan gamblang kepada siapapun.
Sekali dua Satria Piningitmasih dapat melihat hantu.
Ada kuntilanak yang berayun-ayun di atas pohon rambutan di belakang rumahnya di Kalimantan. Ada sosok perempuan dengan rambut bagai akar tanaman menjuntai dari atas lemari pakaian di rumahnya, sedang duduk atau berbaring menyamping. Sepasang matanya berlubang dan hanya kegelapan yang bisa terlihat di sana.
Ada pula seorang remaja perempuan, masih mengenakan baju sekolah menengahnya sedang menangis di dapur yang tak terpakai lagi di indekosnya sewaktu ia berkuliah, ketika Satria Piningit memutuskan untuk tinggal jauh dari mbah dan pakliknya, agar mandiri, begitu alasannya. Satria Piningit selalu mencoba meninggalkan dan tidak
mengacuhkan sosok tersebut serta terus mencoba setengah mati tak peduli. Ia bahkan kerap berpindah dari satu indekos ke indekos lainnya.
Ada juga penampakan laki-laki setengah baya yang bentuk badannya tak utuh lagi sedang merayap, menempel, di atas dinding toilet di kantornya ketika ia sudah mulai bekerja. Masih tak ia hiraukan. Sebagai hasilnya, ia juga lumayan sering berpindah tempat kerja. Penampakan demi penampakan sedari awal selalu membuatnya gugup, terkejut dan ketakutan. Namun, ia yang notabene pernah berteman dan barsahabat baik dengan hantu, perlahan mulai dapat menguasai rasa takut dan cenderung tidak mengacuhkannya.
Tak lama, ia bahkan memutuskan kembali ke Kalimantan dan meninggalkan pulau Jawa selama-lamanya.
__ADS_1
Satria Piningit bukannya hilang kabar dengan keluarga ayahnya di pulau tersebut, tetapi alasan demi alasan sengaja ia buat bertahun-tahun untuk sedapat mungkin menghindari pertemuan, komunikasi dan bersinggungan dengan apapun dan siapapun yang berhubungan dengan desa Obong. Ia sendiri sepertinya sudah merasa kehilangan rasa percaya.
Kekecewaan yang begitu besar dikerubungi dengan rasa takut dan kengerian luar biasa terhadap apa yang sudah ia alami, membuat Satria Piningit berjuang mati-matian untuk tumbuh dan menjadi dewasa. Dapat melihat hantu bukanlah perkara utama, meski tak jarang ia sendiri ketakutan dan risih. Namun, permasalahan utama adalah bagaimana ia membentuk dirinya sendiri. Bagaimana sifat, perilaku dan pola pikir yang harus ia gunakan dalam menghadapi hidup. Ingin jadi seperti apa dirinya kelak.
Perjuangan Satria Piningit tersebut perlahan menunjukkan hasilnya. Ia kemudian bekerja di sebuah perusahaan sawit yang lumayan terkemuka di pulau ini. Ia juga bertemu seorang gadis dimana ia juga berhasil menemukan rasa itu padanya. Anggraeni namanya. Hubungan yang mereka jalani terbilang cukup lancar. Anggraeni adalah seorang perempuan berjenis hidden gem, dalam artian bahwasanya kecantikannya tersembunyi, tetapi begitu agung. Satria Piningit bagai seorang pengembara yang berhasil menemukan harta tersebut.
Tidak hanya cantik, gadis introvert dan pendiam itu nyatanya tidak banyak syarat dan aturan untuk dapat dipinang oleh Satria Piningit. Maka, dalam waktu dua tahun berpacaran, Satria Piningit menikahi Anggraeni.
Setelah menikah, Satria Piningit perlahan membuka pikiran. Ia sadar bahwa ia tak membuat perbedaan mendasar tentang pulau Jawa dan Kalimantan. Dua-duanya memiliki tempat di hatinya sampai saat ini.Percuma menghindari sebuah tempat hanya karena ia memberikan memori dan sejarah buruk di satu titik. Toh, hidupnya sekarang sudah jauh lebih baik dari rasa takutnya sendiri. Ia tidak hanya menerima kenyataan ini, melainkan memeluk dan menggandengnya sebagai satu kesatuan dalam perjalanan takdir dan hidupnya.
Bila dipikir-pikir, di Kalimantan, tanah lahirnya ini, terhitung mungkin hanya beberapa kali saja Satria Piningit mengalami penampakan. Salah satunya adalah sesosokhantu pegawai pabrik yang tewas mengenaskan dan tangannya terputus lepas dari badannya. Pabrik yang sudah berumur belasan mungkin puluhan tahun bukanlah perkara sederhana. Segala energi di masa lalu menempel di sana.
Sekuat tenaga sebelumnya Satria Piningit berusaha melarikan diri dari memori dan kenangan masa lalu, malah tak jarang ia yang diperlihatkan masa lalu hantu dan sosok lain.
Namun selain penampakan semacam itu, hidupnya biasa-biasa saja, cenderung aman.
__ADS_1
Sialnya, beberapa tahun kemudian, Satria Piningit jadi merasa kasian dengan dua anak kembarnya yang berumur lima tahun. Hari itu, semalaman mereka tidak dapat tidur, gelisah dan sekali dua menangis. Ketika ditanya, kedua anak kembarnya itu hanya menggeleng. Mereka mengatakan bahwa mereka mencium bau terbakar yang kuar di dalam kamar mereka saat itu. Namun, aroma api dan asap itu bukan yang utama. Selain ruangan yang terasa
memang cukup panas, seperti ada kehadiran sosok tak kasat mata di dalam kamar mereka.
Sang ibu, Anggraeni, juga sudah susah payah menemani, membacakan cerita dan membantu menenangkan kedua anaknya.
Anggraeni dan kedua anak kembarnya itu tidak tahu bahwa ada sosok anak laki-laki dengan luka terbakar di sekujur tubuhnya dan luka-luka melepuh kemerahan berdiri di pojokan kamar memperhatikan mereka bermain. Salah satu mata sosok tersebut seperti akan keluar dari lobangnya, tetapibibirnya yang tidak utuh lagi seperti menyunggingkan senyum sembari mengusap-usap gelang akar bahar yang kedodoran di lengannya yang kurus.
Satria Piningit tersentak kaget. Bukan karena ketakutan – meski ia juga kerap merasa ngeri ketika melihat penampakan, tetapi karena menyadari siapa yang hadir di tempat itu.
Priyam!
Bagaimana ceritanya, sosok yang terpisah lautan itu bisa sampai ke tempatnya, mengunjunginya? Satria Piningit yakin sosok yang telah terlalu lama tak ia lihat tersebut sungguh adalah Priyam, Priyambada sang sahabat masa remajanya. Sosok hantu itu hadir di dalam kamar kedua anak kembarnya dalam wujud sejatinya.
Satria Piningit tak marah, tak kesal bahkan tak takut dan ngeri. Ia hanya terkejut karena mendadak Priyam muncul, bahkan ketika ia sadar bahwa ia sudah berada jauh dari kampung asal ayahnya itu. Ada apa gerangan mengapa Priyam sampai datang ke tempat ini?
__ADS_1
Semua salahnya pula, pikir Satria Piningit. Mengapa ia menamai kedua anak kembarnya itu dengan nama Ngalimun dan Priyambada?